Bacaterus / Misteri Jawa Barat / Mitos Pantai Sawarna, Surga Tersembunyi di Sudut Banten

Mitos Pantai Sawarna, Surga Tersembunyi di Sudut Banten

Ditulis oleh - Diperbaharui 29 Mei 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Dengan padatnya rutinitas sehari-hari, tentu sering muncul pikiran dan keinginan untuk berlibur ke suatu tempat. Bisa pergi ke tempat wisata di dalam kota, gunung atau pantai. Kebetulan dua pilihan terakhir menyajikan banyak pilihan karena negara kita memang punya banyak gunung dan pantai yang menyajikan berbagai keindahan dan sejenak bisa melupakan rasa penat.

Pemilihan pantai sebagai destinasi wisata bukan tanpa alasan. Pantai lebih simpel dibanding naik gunung yang butuh energi lebih. Cukup dengan berkendara kita sudah bisa menikmati deburan ombak dan angin pantai.

mitos pantai sawarna

Salah satu pantai yang beberapa tahun ini menjadi favorit orang-orang adalah Pantai Sawarna yang disebut-sebut sebagai surga tersembunyi di Banten. Namun, di balik keindahannya itu ada beberapa mitos yang bisa menambah pengetahuan kita supaya lebih mawas diri. Apa saja mitos Pantai Sawarna? Mari kita bahas lebih jauh di sini.

Pengenalan Pantai Sawarna

Pengenalan Pantai Sawarna

Pantai Sawarna merupakan pantai yang terletak di Desa Sawarna, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Banten. Pantai itu mulai mendapat banyak perhatian baik dari wisatawan lokal maupun mancanegara karena keindahannya. Bahkan banyak yang menyebutnya sebagai surga tersembunyi karena beberapa waktu yang lalu belum begitu diketahui orang-orang.

Pantai Sawarna mempunyai wilayah seluas 2.500 hektar dengan hamparan pantai sepanjang 65 km. Saking luasnya ia mempunyai delapan pantai wisata yaitu Ciantir, Tanjung layar, Karang Teraje, Karang Beureum, Teluk Lagon Pari, Pulo Manuk, Cariang dan Goa Langir. Bagi wisatawan asing pantai Sawarna menjadi tujuan menarik karena ombaknya bisa digunakan untuk berselancar.

Mitos Penamaan Pantai Sawarna oleh Van Gogh

Mitos Penamaan Pantai Sawarna oleh Van Gogh

Van Gogh adalah seorang pelukis terkenal asal Belanda yang mencoba peruntungannya di Indonesia dengan menjadi pengusaha. Pada tahun 1907, dia membuka sebuah perkebunan kelapa seluas 54 ha di pinggir Pantai Ciantir dan Tanjung Layar. Dengan wilayah yang masih banyak berupa hutan belantara, dia memerlukan banyak pekerja untuk mengubahnya menjadi perkebunan.

Van Gogh kemudian mempekerjakan banyak orang yang berasal dari kalangan pribumi. Mereka datang dari berbagai daerah dari Pulau Jawa. Semakin lama, hubungan mereka semakin erat dan mulai membentuk sebuah komunitas penduduk yang diberi nama Swarna.

Perbedaan logat di antara mereka memungkinkan terciptanya kesalahan pengucapan yang awalnya Sorana dalam bahasa Sunda yang artinya suaranya menjadi sawarna. Perkebunan kelapa itu akhirnya terbentuk sesuai dengan keinginan Van Gogh. Seiring dengan itu para pekerjanya mulai tinggal di sekitar pantai.

Begitu juga dengan Von Gogh yang meninggal di wilayah tersebut dan makamnya ditemukan pada tahun 2000 di desa Sawarna. Makamnya khas seperti makam orang Belanda yang terlihat mewah dan bertinggi 1 m, hanya saja dipenuhi lumut ketika ditemukan.

Mitos Penamaan Pantai Sawarna dari Swarna

Mitos Penamaan Pantai Sawarna dari Swarna

Konon pada awal tahun 1900-an, ada seorang pria bernama Sawarna yang merupakan tetua dan menjadi orang pertama yang menjadi kepala desa di desa Sawarna. Secara harfiah, Sawarna berasal dari bahasa Sunda yang mempunyai arti satu warna.

Karena dianggap memiliki kecocokan dengan nama sang tetua, maka masyarakat memilih penggunaan nama Sawarna. Pemberian nama Sawarna ditujukan sebagai penanda bahwa penduduk di lokasi itu satu warna yaitu masyarakat Sunda Banten.

Jean Louis yang datang ke wilayah Sawarna untuk membuka perkebunan kelapa, menghargai pemberian nama tersebut. Pertambahan penduduk nggak bisa dihindari, Louis mulai mempunyai keyakinan bahwa tempat itu akan terkenal dalam beberapa generasi. Keyakinan itu juga dimiliki oleh penduduk sekitarnya dan terbukti pada saat ini.

Mitos Belut Penunggu Goa

Mitos Belut Penunggu Goa

Salah satu destinasi di Pantai Sawarna adalah sebuah goa yang letaknya nggak begitu jauh dari pantai. Goa itu diberi nama Goa Lalay oleh penduduk sekitar. Penamaan itu merujuk pada banyaknya kelelawar yang tinggal di dalam goa. Secara harfiah, lalay merupakan kata yang berasal dari bahasa Sunda yang mempunyai arti kelelawar.

Goa Lalay memiki kedalaman sekita dua meter. Para wsiatawan yang akan berkunjung disarankan untuk ditemani pemandu karena kondisi yang gelap. Pemandu juga bisa menunjukkan beberapa titiknya yang istimewa.

Konon di dalamnya ada sebuah mahluk mistis yang menjadi penunggunya. Mahluk itu berupa belut yang menurut sebagian orang berukuran sebesar drum, tapi ada juga yang mengatakan bahwa ukurannya sebesar tumbukan padi.

Belut di Goa Lalay meskipun terdengar menyeramkan, tapi ia nggak pernah mengganggu pengunjung. Ia hanya muncul pada saat menjelang petang. Itu pun yang muncul hanyalah bagian kepalanya saja dan nggak pernah menunjukkan fisiknya secara keseluruhan ke permukaan. Jadi nggak perlu takut ya berkunjung ke Goa Lalay.

Mitos Tiga Hari Hilangnya Korban yang Terseret Arus

Mitos Tiga Hari Hilangnya Korban yang Terseret Arus

Keadaan pantai nggak selalu indah, dalam beberapa kesempatan pantai bisa menjadi tempat yang menyeramkan. Terutama ketika air pasang, wilayah yang tadinya bisa digunakan berenang akan tergeser. Begitu juga dengan para nelayan yang harus lebih berhati-hati, bahkan bisa dilarang untuk berlayar.

Berbicara tentang pantai nggak bisa terlepas dari kejadian nggak menyenangkan di wilayahnya. Banyak kejadian orang yang hilang atau terseret arus ombak di pantai. Nggak terkecuali di Pantai Sawarna. Kebanyakan orang yang hanyut akan tenggelam dan mayatnya baru akan ditemukan dalam waktu tiga hari dalam keadaan mengambang dan tubuhnya mulai membiru.

Mitos Lawang Saketeng

Mitos Lawang Saketeng

Lawang Saketeng berada di sebelah timur wilayah Pulo Manuk. Letaknya berada di sekitar kedalaman 100 m hutan di belakang Pulo Manuk atau 50 m dari hulu muara. Lawang sendiri dalam bahasa Sunda berarti gerbang. Lawang Saketeng berbentuk batu yang disebut-sebut sebagai gerbang alam gaib.

Menurut kepercayaan masyarakat sekitar, Lawang Saketeng merupakan tempat keluar-masuknya kasuniatan atau alam gaib mahluk harimau Padjajaran Siliwangi. Ki Buyut Sitareh dan Raden Kencring dipercaya merupakan penunggunya. Nggak banyak yang mengunjungi wilayah ini, bukan hanya karena mitosnya tapi juga karena lokasinya yang jauh dan masih berupa hutan lebat.

Mitos Layar Perahu Sangkuriang

Mitos Layar Perahu Sangkuriang

Pantai Tanjung Layar sempat disebut dalam Babad Sunda dan legenda dongeng pesisir selatan. Karang Dua merupakan jelmaan dari dua kekuatan yang akan dijadikan layarnya perahu Sangkuriang. Perahu itu akan digunakan untuk mengarungi samudera selatan setelah dia melangsungkan pernikahan dengan ibunya sendiri, Dayang Sumbi.

Sang Masa Kuasa nggak mengijinkan keinginan Sangkuriang. Karena nggak terima, dia kemudian membongkar semua peralatan perahu termasuk layarnya. Konon perahu itu kemudian ditendang ke sebelah bagian utara yang menjadi Gunung Tangkuban Perahu dan layar-layarnya terdampar di wilayah Pantai Sawarna dan menjadi Pantai Tanjung Layar.

Mitos Peti Emas

Mitos Peti Emas

Di wilayah Pantai Sawarna, konon ada sebuah peti berisikan emas dan harta karun lain tapi belum jelas keberadaannya di mana. Pastinya hal tersebut menarik minat sebagian orang yang gemar berburu harta karun. Ada sebuah cerita yang terkenal di kalangan masyarakat di Sawarna. Cerita itu tentang tiga orang yang sedang menjala bada salat magrib.

Karena air muara terhitung rendah, mereka menyusuri muara sambil menjala ikan. Tiba-tiba terlihat balok kayu persegi panjang seperti peti muncul ke permukaan, ketika didekati peti itu malah hilang entah kemana.

Kejadian lain yang berhubungan dengan peti emas adalah beberapa orang yang menggali di lokasi yang diduga tempat tersimpannya peti emas sedang menyelesaikan galiannya. Mereka kemudian didatangi penduduk dan menjelaskan niat mereka. Ketika melihat ke arah galian, galian itu sudah tertutup rapat.

Mitos-mitos seperti ini memang kerap mewarnai cerita dari sebuah tempat. Mungkin kamu akan mendengar mitos Pantai Sawarna yang lain dari sumber yang lain pula. Terutama kalau kamu mengunjunginya langsung, pasti akan banyak cerita baru yang kamu dengar dari warga sekitar. Ada yang pernah ke sana? Kalau mau berbagi pengalaman bisa dituliskan di kolom komentar, ya!

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *