Bacaterus / Misteri Dunia / 5 Mitos Manusia Salju di Tibet yang Menarik Untuk Diketahui

5 Mitos Manusia Salju di Tibet yang Menarik Untuk Diketahui

Ditulis oleh - Diperbaharui 27 November 2019

Setiap tempat pasti mempunyai cerita, legenda bahkan mitos yang sudah hidup lama beriringan dengan keberadaan masyarakat di sekitarnya. Semua itu kemudian melekat dalam kepercayaan masyarakat hingga diyakini sebagai sesuatu yang nyata. Bahkan hal itu juga diturunkan kepada generasi-generasi selanjutnya.

Meskipun dunia sudah modern, tetapi cerita rakyat, legenda atau mitos tetap hidup di tengah masyarakat dan nilai-nilainya tetap dipegang oleh sebagian orang. Kita boleh percaya juga boleh tidak. Tetapi yang lebih penting daripada itu adalah kita bisa menambah wawasan dengan mengetahui cerita-cerita itu.

Di Tibet misalnya, ada cerita yang berkembang tentang manusa salju. Mereka diyakini masih hidup hingga saat ini, tetapi terpisah dari manusia pada umumnya. Tidak hanya itu, mereka juga menyembunyikan diri dan jumlahnya semakin sedikit dari waktu ke waktu sehingga sulit untuk ditemukan.

Itu membuat keberadaan mereka menjadi mitos. Walau banyak yang menganggapnya sebagai beruang karena kemiripan bentuknya, tetap saja masih banyak yang percaya bahwa manusia salju bukanlah beruang.

Fisik manusia salju juga disebutkan menyerupai primata yang lebih tinggi daripada manusia biasa. Hal demikian pastinya membuat banyak orang bertanya-tanya apakah mahluk seperti itu benar-benar ada?

Beberapa bukti sempat ditemukan dan diberitahukan kepada publik, mulai dari bayangannya, fisiknya hingga jejak kakinya. Petunjuk samar-samar itu membuat mitos ini tetap menjadi misteri.

Semua itu tidak cukup membuat orang puas karena masih ada yang tidak percaya bahwa mahluk seperti itu nyata dan menganggapnya hanya mitos belaka. Walaupun begitu, tidak ada salahnya kalau kita menyimak mitos manusia salju di Tibet berikut ini.

1. Berbagai Nama Manusia Salju

Yeti

* sumber: pixabay.com

Keberadaan manusia salju yang hidup di kaki Gunung Himalaya dipercaya oleh masyarakat Nepal dan Tibet. Mereka menyebutnya “yeti” yang juga digunakan secara internasional. Ada beberapa nama lainnya yang dipakai untuk menyebut makhluk tersebut, seperti bonmanche yang artinya manusia liar dan kanchajunga rachyyas yang artinya iblis kanchajunga.

Dalam mitologi Buddha, Yeti digambarkan sebagai makhluk yang tenang dan pemalu yang hidup di gua bersalju di India. Ada pula terminologi lain, seperti miche dari bahasa Tibet yang berarti manusia beruang atau bun banchi dari bahasa Nepal yang artinya manusia hutan.

Seiring dengan banyaknya nama untuk menggambarkan manusia salju, ada pula yang menyebutnya sebagai big foot karena kemiripan ciri-cirinya. Nama-nama itu mempunyai satu kesamaan, yakni tetap merujuk pada makhluk yang menyerupai manusia salju yang keberadaannya masih dipertanyakan.

2. Legenda Manusia Salju

Legenda Manusia Salju

* sumber: commons.wikimedia.org

Legenda mengenai manusia salju dipercaya berawal dari Tibet. Mereka disebut-sebut dikirim melintasi Himalaya oleh biksu Buddha yang sedang mengembara. Dalam naskah Buddha Tibet Kuno, diceritakan bahwa manusia salju ini merupakan binatang berbulu yang menyembelih ternak, berdiri seperti seorang lelaki dan menciptakan suara siulan yang menakutkan.

Manusia salju diyakini hidup di sepanjang Pegunungan Himalaya yang membentang dari Tibet sampai Nepal. Orang-Orang Lepcha Tibet disebut-sebut menyembah makhluk salju yang dimanfestasikan sebagai dewa berburu.

Agama Bon yang dianut di daerah itu percaya bahwa darah “mirgod” atau yang dianggap sebagai manusia salju yang kejam diperlukan untuk ritual-ritual magis. Manusia salju dianggap memenuhi ciri-ciri tersebut dikarenakan fisiknya yang menyerupai monyet tapi ukurannya lebih besar.

3. Asal Muasal Ditemukannya Manusia Salju

Manusia Salju

* sumber: en.wikipedia.org

Istilah manusia salju pertama kali muncul pada sebuah jurnal yang diterbitkan pada tahun 1832. Seorang penjelajah Inggris menemukan makhluk yang sekujur badannya dipenuhi bulu yang dia temui di Himalaya. Bentuknya yang menyerupai primata dan tinggi yang jauh berada di atas tinggi rata-rata manusia membuatnya menjadi perbincangan hangat sejak saat itu.

Penemuan manusia salju selanjutnya terjadi pada tahun 1921. Letnan Kolonel Charles Howard-Bury yang memimpin ekspedisi menemukan sebuah jejak kaki saat melintasi timur laut Himalaya. Dia percaya kalau itu jejak serigala berukuran besar. Asumsi itu tidak terbukti, sehingga sebagian orang percaya kalau yang ditemukan adalah jejak manusa salju.

Pada tahun 1925, seorang fotografer bernama N.A. Tombazi menceritakan bahwa dia melihat makhluk besar saat dia berada di ketinggian sekitar 4.500 meter di atas permukaan laut. Dia juga kemudian menemukan jejak kaki manusia salju yang disebutnya lebih panjang 17,8 cm daripada kaki manusia dan 10,1 cm lebih lebar.

Pemberitaan mengenai manusia salju menuju puncaknya pada tahun 50-an. Beragam penelitian dilakukan untuk mencari tahu makhluk apa sebetulnya manusia salju tersebut. Apakah dia termasuk hewan atau manusia? Beberapa peneliti menyimpulkan bahwa manusia salju adalah hewan sejenis beruang, tapi pendapat itu tidak diterima begitu saja oleh masyarakat yang percaya.

4. Bentuk Fisik Manusia Salju di Tibet

Manusia Salju di Tibet

* sumber: pixabay.com

Manusia salju di Tibet konon sudah hidup sejak tahun 6 Masehi. Dia digambarkan memiliki tinggi 2,4 sampai 3,2 meter dan berbulu gelap, kemerahan bahkan ada yang putih. Namun yang paling sering ditemui adalah yang berwarna gelap karena warnanya yang kontras dengan keadaan di Himalaya yang dipenuhi oleh salju yang putih. Beratnya diprediksi mencapai angka 171 kilogram.

Beberapa saksi mata mengungkapkan bahwa manusia salju mempunyai wajah yang datar dan itu membuatnya berbeda dibandingkan dengan beruang. Ada pula peneliti yang menyamakan makhluk salju itu dengan kera raksasa yang berjalan dengan tangan dan kaki seperti gorila. Namun, manusia salju juga digambarkan berjalan dengan kaki saja sebagaimana manusia pada umumnya.

Keberadaan manusia salju yang digambarkan bertubuh besar didukung oleh kesaksian orang-orang yang menyatakan pernah sekilas melihat atau mendengar makhluk tersebut. Di antara mereka ada yang melihat manusia salju sedang berjalan di antara rerimbunan pohon di hutan yang tengah diselimuti salju. Ada juga yang pernah mendengar suara hentakan langkah kaki makhluk tersebut.

5. Ekspedisi Menemukan Manusia Salju

Ekspedisi Menemukan Manusia Salju

* sumber: en.wikipedia.org

Banyak orang yang ingin mengetahui kebenaran manusia salju di Tibet sampai-sampai mereka rela mengeluarkan uang sendiri untuk memuaskan rasa ingin tahu mereka. Salah satunya adalah Tom Slick, seorang jutawan asal Amerika yang mendanai sebuah ekspedisi untuk membawa bukti fisik keberadaan manusia salju.

Setahun ekspedisi berlangsung, seorang penjelajah bernama Peter Byrne mendapat informasi dari warga tentang keberadaan tangan manusia salju yang diawetkan di sebuah biara. Dia berangkat menuju biara tersebut meski jaraknya sangat jauh dan medannya berbahaya. Dia akhirnya menemukan tangan manusia salju yang dia gambarkan diselimuti oleh kulit hitam yang sudah rusak.

Berbagai ekspedisi dan penelitian dilakukan, dimulai dari menyelidiki rambut yang dianggap sebagai bulu manusia salju sampai potongan tangan. Kebanyakan dari penelitian itu menyimpulkan bahwa manusia salju itu merupakan hewan. Beberapa berpendapat bahwa manusia salju itu merupakan sejenis beruang yang telah berevolusi.

Banyaknya perbedaan pendapat tidak menghentikan kepercayaan masyarakat sekitar bahkan warga dunia terhadap keberadaan manusia salju. Kita memang dibebaskan untuk berpendapat dan meyakini apa yang ingin diyakini, karena dengan perbedaan itulah kita akan menjadi manusia yang berkembang.

Demikian ulasan tentang mitos manusia salju di Tibet. Karena cerita tentang makhluk ini cukup populer, banyak sineas Hollywood yang telah membuat film bertemakan manusia salju atau yeti. Salah satunya adalah film Abominable yang dirilis pada bulan Oktober 2019 di Indonesia.

Topik Terkait:
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on pinterest
Pinterest
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Baca Juga

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *