Ditulis oleh - Diperbaharui 16 Januari 2019

Banyak budaya di dunia yang menghubungkan terjadinya gerhana bulan dengan bahaya dan kekacauan. Iblis yang berkeliaran, binatang pembunuh, dan macan liar sering disalahkan sebagai penyebab hilangnya bulan saat terjadi gerhana.

Di zaman milenial seperti sekarang, banyak orang yang menantikan fenomena langit yang jarang. Bahkan, untuk mendapatkan momen tersebut, banyak orang yang rela pergi ke tempat di mana mereka dapat melihat fenomena langit yang jarang terjadi tersebut dengan lebih jelas. Walaupun begitu, gerhana bulan tidak selalu menjadi momen yang banyak dinantikan.

Uniknya, kebudayaan kuno justru melihat fenomena ini dari sudut pandang yang berbeda. Kebudayaan-kebudayaan kuno ini menganggap bahwa gerhana bulan menjadi suatu pertanda terhadap suatu kejadian.

Mitos yang berhubungan dengan gerhana bulan ini biasanya dapat dikelompokkan ke dalam 2 jenis, yakni cerita yang menjelaskan makna dari gerhana bulan, dan mitos yang menggambarkan alasan terjadinya gerhana bulan. Beberapa kepercayaan yang muncul tentang gerhana bulan antara lain sebagai berikut.

8 Mitos Kuno Tentang Gerhana Bulan

1. Lolongan pada Sang Bulan

* sumber: news.nationalgeographic.com

Bangsa Inca tidak menganggap bahwa gerhana bulan bukanlah pertanda yang baik. Berdasarkan bukti tulisan para penduduk Spanyol, yang diteliti oleh David Dearborn, peneliti di Lawrence Livermore National Laboratory, California, bangsa Inca melakukan berbagai ritual yang berhubungan dengan gerhana bulan.

Salah satu mitos yang dipercayai bangsa Inca pada saat gerhana bulan, adalah seekor jaguar sedang menyerang bulan. Karena serangan tersebut, bulan terluka dan berdarah sehingga bulan terlihat berwarna merah saat gerhana terjadi.

Bangsa Inca takut jika jaguar tersebut akan menyerang bumi dan memakan orang-orang setelah menyerang bulan. Untuk mencegahnya, bangsa Inca akan membuat suara berisik untuk mengusir jaguar tersebut dengan cara menggoyang-goyang tombak atau bahkan memukuli anjing agar menggonggong keras.

2. Raja Pengganti

* sumber: www.inverse.com

Dalam kepercayaan Mesopotamia kuno dipercaya bahwa gerhana bulan terjadi karena adanya serangan pada sang bulan oleh 7 iblis. Karena sang raja dianggap mewakili bumi, maka serangan ketujuh iblis itu juga dianggap mengancam keselamatan raja mereka.

Dengan kemampuannya yang tinggi dalam memprediksi terjadinya gerhana bulan, bangsa Mesopotamia memiliki ritual untuk menjaga keselamatan raja mereka. Sebelum terjadinya gerhana, biasanya sang raja akan ditukar dengan seorang pengganti. Pengganti ini berfungsi untuk menyerap seluruh energi negatif selama terjadinya gerhana bulan.

Walau pengganti raja ini tidak memiliki kuasa apapun, tapi pada saat gerhana, dia akan diperlakukan seperti raja. Sementara itu, raja asli akan menyamar sebagai rakyat biasa. Setelah gerhana bulan berlalu, si pengganti raja akan menghilang. Biasanya sang pengganti raja ini akan dibunuh dengan racun.

3. Menyembuhkan Bulan

* sumber: kids.britannica.com

Mitos gerhana bulan yang dipercayai suku Hupa, sebuah suku asli Amerika di California Utara ini mungkin memiliki akhir cerita yang lebih baik daripada mitos di atas. Suku Hupa meyakini bahwa bulan memiliki 20 istri dan memelihara banyak hewan peliharaan. Kebanyakan dari hewan peliharaannya adalah singa gunung dan ular.

Saat bulan tidak memberikan cukup makanan pada peliharaannya, mereka menyerang bulan dan membuatnya berdarah. Gerhana akan selesai jika istri-istri sang bulan datang dan melindunginya, membersihkan darahnya dan menyembuhkannya.

Sedikit berbeda dengan suku Hupa, suku Luiseno di California Selatan menganggap bahwa gerhana terjadi karena bulan sedang sakit. Tugas anggota suku tersebut adalah menyembuhkan bulan dengan menyanyikan mantera dan doa untuk menyembuhkan bulan.

4. Kemurkaan Iblis

* sumber: www.amuletlove.com

Beberapa dongeng Hindu menganggap bahwa gerhana bulan terjadi karena iblis Rahu yang mencuri ramuan keabadian. Namun, sosok kembar bulan dan matahari menangkapnya dan membawanya ke hadapan dewa Wisnu. Dewa Wisnu pun menghukum Rahu dengan memenggal kepalanya. Karena ramuan keabadian, kepala Rahu yang terpenggal tetap hidup abadi.

Demi membalas dendam, kepala Rahu mengejar bulan dan matahari untuk memakannya. Jika berhasil memakan salah satu di antara keduanya, terjadilah gerhana. Saat Rahu menelan bulan, cahaya bulan akan sedikit terpancar dari leher Rahu yang terputus.

Bagi banyak orang di India, gerhana bulan memberikan pertanda buruk. Makanan dan air harus ditutup dan ritual pembersihan harus dilakukan.  Wanita hamil tidak boleh makan atau melakukan pekerjaan rumah untuk melindungi anaknya yang belum lahir.

Orang India juga percaya jika seseorang terluka saat gerhana bulan, luka tersebut akan berdarah lebih lama dan meninggalkan bekas luka seumur hidup. Tapi, mungkin sudah banyak orang yang tidak terlalu mempercayai hal ini sekarang.

5. Menangkap Bulan

Menangkap bulan

* sumber: www.deviantart.com

Berdasarkan legenda, orang Korea meyakini bahwa seorang raja memerintahkan anjing api untuk menangkap matahari yang panas atau bulan yang membeku. Walau hal tersebut adalah hal yang sia-sia, tapi gigitan anjing api dapat memadamkan cahaya matahari atau bulan untuk sesaat.

6. Pertarungan Bulan dan Matahari

* sumber: davidelliottart.com

Orang-orang Batammaliba di Togo dan Benin, Afrika yakin bahwa bulan dan matahari sedang bertarung saat terjadi gerhana. Saat gerhana terjadi adalah waktu bagi orang-orang untuk berkumpul bersama dalam damai untuk membantu bulan dan matahari berdamai.

Setiap gerhana adalah sebuah perang yang tanpa henti dan menjadi tanda tentang apa yang akan terjadi jika Anda membiarkan emosi tak terkendali. Jadi, saat gelap menyelimuti bumi, orang Batammaliba menganggapnya sebagai pengingat untuk mengubur amarahnya pada tetangganya.

7. Keseimbangan Alam Semesta

* sumber: www.pinterest.com

Suku Navajo percaya bahwa gerhana membawa keseimbangan di alam semesta. Karena itu, keluarga berkumpul bersama untuk bermain dan bernyanyi serta bercermin pada perilakunya sebelumnya. Mereka juga bahkan berpuasa saat terjadinya gerhana.

Suku Navajo juga melarang wanita hamil untuk melihat gerhana secara langsung karena dapat memberikan pengaruh jelek. Ilmu pengetahuan pun mendukung hal ini namun dengan alasan yang berbeda. Melihat gerhana langsung dengan mata telanjang memang dapat membahayakan mata namun tidak ada pengaruhnya pada kehamilan.

8. Sebuah Gigitan

* sumber: comicbook.com

Dalam tradisi Hispanik dipercaya bahwa wanita hamil tidak boleh melihat gerhana bulan. Jika wanita hamil tersebut melakukannya, anaknya akan terlahir dengan bibir sumbing. Kepercayaan ini berakar dari bangsa Aztec yang percaya bahwa gerhana adalah gigitan bulan di wajah seseorang.

Itulah beberapa mitos mengenai gerhana bulan yang dipercaya di beberapa wilayah di dunia. Anda boleh percaya atau tidak dengan cerita yang telah disebutkan di atas. Tapi, Anda juga harus melihat fenomena langka ini dari sudut pandang ilmiah juga.

Walaupun masyarakat dulu menganggap gerhana bulan sebagai suatu pertanda, Anda tidak perlu terlalu percaya dengan cerita yang disampaikan. Yang sebaiknya Anda lakukan adalah melihat pelajaran di balik cerita tersebut.

Misalnya dalam kepercayaan Hispanik, perempuan hamil tidak diperbolehkan untuk melihat matahari saat gerhana berlangsung.  Ilmu pengetahuan pun mengganggap hal tersebut jangan dilakukan karena dapat merusak mata.

Apakah Anda memiliki cerita lain tentang gerhana bulan? Mitos apa yang ada di daerah Anda tentang gerhana bulan? Bagikan cerita Anda di kolom komentar, ya.

Selain mitos mengenai fenomena alam gerhana bulan yang mendekati mistis, beberapa orang juga percaya dengan mitos-mitos lain yang menyenggol sisi mistis, seperti halnya dengan rumah tusuk sate. Ingin tahu selengkapnya? Anda bisa baca artikel Mitos Tentang Rumah Tusuk Sate ini.

Baca juga artikel lainnya tentang atau tulisan menarik lainnya dari .