Bacaterus / Dunia Mistis / Misteri Indonesia / Fakta dan Mitos Burung Gagak, Si Burung Penanda Kematian

Fakta dan Mitos Burung Gagak, Si Burung Penanda Kematian

Ditulis oleh - Diperbaharui 28 November 2018

Burung gagak memiliki penampilan yang terbilang menyeramkan. Bulu hitam tampak membalut seluruh bagian tubuhnya. Selain itu, gagak juga identik dengan ilmu sihir atau kematian. Masyarakat Eropa percaya bahwa gagak adalah salah satu hewan favorit yang biasa menjadi peliharaan para penyihir jahat.

Mitos burung gagak sebagai penanda kematian ini memang populer di negara-negara barat. Akan tetapi, ada saja masyarakat kita yang juga percaya terhadap mitos tersebut. Temukan kebenaran mengenai fakta dan mitos burung gagak dalam tulisan berikut ini. Bacaterus akan mengajak Anda menelusuri tentang kebenaran cerita-cerita seram mengenai burung gagak.

Mitos Burung Gagak

1. Suaranya Adalah Penanda Kematian

Suaranya Adalah Penanda Kematian Mitos Burung Gagak

Tahukah Anda bahwa mitos burung gagak sebagai penanda kematian tidak hanya dikenal di negara barat saja? Di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, juga santer terdengar mengenai suara burung gagak sebagai penanda kematian.

Usut punya usut, jika suara gagak terdengar di tempat yang biasa tidak pernah disinggahi spesies burung tersebut, maka artinya ada orang yang meninggal dunia di sekitar tempat itu. Apalagi jika Anda menemukan gagak hinggap di sebuah rumah sambil berkicau dengan lantang, bisa jadi bahwa ada orang meninggal di sekitar rumah itu.

Mitos suara burung gagak sebagai penanda kematian ini sama halnya dengan burung suwek mori atau burung sirit uncuing (kedasih) yang suaranya sering diklaim sebagai pembawa kabar kematian. Burung ini biasa berbunyi sejak menjelang maghrib sampai tengah malam.

Konon, jika suara burung ini terdengar ketika maghrib, maka yang meninggal masih berusia remaja. Sementara jika suaranya terdengar di malam hari, orang yang meninggal di sekitar tempatnya berkicau adalah orang dewasa. Kalau Anda mendengar burung ini berkicau di tengah malam, artinya ada orang berilmu tinggi yang meninggal.

2. Jelmaan Penyihir Jahat

Jelmaan Penyihir Jahat

Jika masyarakat Indonesia percaya bahwa suara gagak adalah pertanda kematian seseorang di sekitar tempatnya berkicau, lain halnya dengan mitos burung gagak yang beredar di Inggris. Masyarakat di sana percaya bahwa gagak adalah hewan peliharaan favorit para penyihir. Tak tanggung-tanggung, penyihir di zaman Inggris kuno memiliki kemampuan mengubah dirinya menjadi gagak hitam.

Alasan penyihir mengubah diri menjadi gagak hitam bilamana dirinya merasa terancam dari kejaran massa atau pemburu penyihir. Tak hanya sampai di situ saja, penyihir di zaman dulu dipercaya menggunakan gagak sebagai pembawa pesan untuk ke penyihir lainnya.

3. Firasat Bahwa Ada Masalah Besar

Indian Cherokee

Hampir setiap negara memiliki mitos burung gagak yang dipercaya oleh masyarakatnya. Lain dengan di Indonesia dan Inggris, di Amerika burung gagak dianggap sebagai sebuah firasat mengenai adanya masalah besar.

Suku Indian Cherokee di Amerika percaya bahwa kedatangan gagak hitam adalah firasat tentang adanya bencana besar. Menurut kepercayaan suku tersebut, apabila ada segerombolan gagak terbang dan singgah di wilayahnya, maka akan datang masalah besar bagi masyarakat di sekitarnya.

Mitos burung gagak sebagai firasat akan datangnya masalah besar ini hanyalah kepercayaan bagi Suku Indian Cherokee. Kita tidak perlu mempercayainya dengan sungguh-sungguh. Pasalnya, setiap orang pasti akan mendapatkan masalah dalam hidupnya. Binatang seperti burung gagak tidak memiliki kuasa untuk dapat menyampaikan firasat mengenai masalah yang akan Anda alami.

4. Perwujudan dari Dewi Kematian

Dewi Morrigan

Morrigan adalah seorang dewi yang dipercaya oleh orang Celtic di Eropa sebagai dewi kematian. Dalam mitologi Celtic, Morrigan digambarkan sebagai wanita cantik yang merupakan ratu dari segala hantu dan setan.

Di masa Eropa kuno, masyarakat Eropa percaya bahwa burung gagak adalah perwujudan dari Dewi Morrigan ini. Burung gagak yang muncul pada saat perang atau pemakaman selalu dipercaya sebagai jelmaan dari Dewi Morrigan ini. Konon, tugas dari sang dewi ini adalah menjadi perantara antara dunia manusia dan dunia roh.

Mitos burung gagak sebagai perwujudan dari dewi kematian ini tentu saja tidak benar. Burung gagak yang muncul ketika perang atau pemakaman adalah sebuah kebetulan. Perang selalu identik dengan pertumpahan darah sehingga sangat wajar jika usai perang selalu ada jiwa-jiwa yang gugur.

Fakta Unik Seputar Burung Gagak

Di balik banyaknya mitos burung gagak yang beredar luas di kalangan masyarakat, ternyata burung ini tidak seburuk yang kita kira, lho. Mitos ada tidak untuk dipercaya. Namun, jika bicara mengenai “fakta”, maka kita harus mempercayainya. Nah, inilah fakta seputar burung gagak, burung yang diklaim sebagai penanda kematian tetapi faktanya tidak seburuk itu.

1. Memiliki Sifat Solidaritas yang Tinggi

Memiliki Sifat Solidaritas yang Tinggi

Berbicara mengenai burung gagak tidak selamanya harus berkaitan dengan hal-hal buruk. Faktanya, ada satu sifat burung gagak yang bisa kita contoh untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Gagak memiliki sifat solidaritas yang tinggi terhadap sejenisnya.

Jika ada seekor burung gagak yang terluka, maka sekawanan gagak akan datang untuk menolongnya. Gagak adalah hewan yang loyal dan selalu siap untuk membantu sesamanya. Sifat solidaritas dari burung inilah yang bisa kita contoh.

2. Daya Ingat yang Tinggi

Daya Ingat yang Tinggi

Fakta unik burung gagak lainnya adalah burung ini memiliki daya ingat yang tinggi. Ketika menjumpai manusia yang berusaha menyakitinya, burung ini akan merekam wajah manusia tersebut dan mengingatnya. Di kemudian hari, jika ia bertemu dengan manusia tersebut, maka si gagak akan menjauhinya.

Tak hanya memiliki daya ingat yang tinggi, gagak juga termasuk burung yang sangat pintar. Dalam sebuah percobaan, para ilmuwan meletakkan kotak berisi makanan di depan gagak dan spesies burung lainnya. Spesies burung lain tidak mampu membuka kotak tersebut, tapi si gagak mampu melakukannya.

3. Hewan yang Setia

Hewan yang Setia

Mitos burung gagak yang beredar luar di masyarakat menggambarkan burung ini sebagai makhluk seram yang dekat dengan dunia mistis. Pada kenyataannya, gagak adalah hewan yang sangat setia kepada pasangannya. Gagak jantan hanya akan mengawini satu gagak betina yang sama dan tidak berpisah sampai salah satunya mati.

Gagak jantan hanya akan meninggalkan gagak betina ketika telurnya tidak menetas. Si jantan akan mencari gagak betina lainnya untuk dapat berkembang biak. Sifat setia buruk gagak ini mengajarkan kita untuk selalu setia kepada pasangan dan tidak meninggalkannya tanpa alasan yang kuat.

4. Saling Berbagi Informasi

Saling Berbagi Informasi

Percaya atau tidak, para peneliti menemukan fakta bahwa kawanan burung gagak selalu berkumpul setiap sore sebelum mereka pulang ke sarangnya. Saat berkumpul, gagak akan saling berbagi informasi tentang keseharian masin-masing. Bahkan, para gagak tidak segan membagi informasi mengenai tempat mencari makan.

Kalau ada gagak yang tidak mau berbagi informasi, maka ia akan mendapat hukuman yakni dipatuk dengan paruh gagak-gagak lainnya. Fakta ini mengajarkan kita untuk tidak pelit berbagi informasi terhadap sesama, ya.

Itulah fakta dan mitos burung gagak yang paling terkenal di Indonesia dan negara-negara lain. Anda boleh percaya terhadap fakta-faktanya, tapi tidak dengan mitosnya. Kalau ingin mengetahui mitos tentang burung lainnya, kunjungi artikel mitos burung perkutut.

Baca juga artikel lainnya tentang atau tulisan menarik lainnya dari .

About the Author:

Linda is a day-dreamer and a night-thinker. She has been truly in love with writing since a very young age. She started to work as a writer in 2012. Until now, Linda has created content for Unilever's brand (SariWangi, Rinso, Sunlight and Molto), Tropicana Slim, AsmaraKu, and also Carisinyal.com.

Leave A Comment