Bacaterus / Misteri Jawa Timur / Misteri Telaga Sarangan, Danau Kecil di Lereng Gunung Lawu

Misteri Telaga Sarangan, Danau Kecil di Lereng Gunung Lawu

Ditulis oleh - Diperbaharui 31 Maret 2020

Bagi Anda yang berdomisili di Jawa Timur pasti sudah akrab dengan tempat wisata alam yang bernama Telaga Sarangan. Berada di lereng Gunung Lawu pada ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut, udara di sekitar Telaga Sarangan ini terasa sejuk dan segar. Apalagi di sekitar telaga ini juga sudah banyak tersedia penginapan dan tempat makan yang enak-enak. Telaga Sarangan jaraknya hanya sekitar 16 KM dari Magetan.

Ada beragam aktivitas menarik yang bisa kita lakukan kala berkunjung ke Telaga Sarangan, mulai dari berkuda atau sampai naik speed boat mengelilingi telaga. Namun, di balik semua keceriaan yang bisa Anda dapatkan di tempat wisata ini, ternyata ada misteri Telaga Sarangan yang berkaitan dengan asal usul terbentuknya telaga ini. Konon, ada sepasang naga besar yang menjadi penghuni di telaga ini.

Misteri asal-usul Telaga Sarangan

Misteri Telaga Sarangan

Misteri Telaga Sarangan ini memang berhubungan dengan asal usul terbentuknya Telaga Sarangan atau yang biasa disebut “Telaga Pasir” oleh masyarakat setempat. Dikisahkan bahwa dahulu kala hidup sepasang suami istri bernama Kyai Pasir dan Nyai Pasir. Keduanya berprofesi sebagai petani ketika Telaga Sarangan ini belum terbentuk.

Mengingat keduanya sudah lama menikah tapi tidak kunjung mendapatkan buah hati, maka mereka memohon kepada Sang Hyang Widhi. Akhirnya,mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang bernama Joko Lelung.

Kemudian, suatu hari pasangan suami istri memohon lagi kepada Sang Hyang Widhi untuk diberikan kesehatan dan umur yang panjang. Setelah bersemedi, mereka berdua mendapatkan wangsit untuk memakan telur yang ada di sekitar ladang mereka agar keinginan mereka dapat terwujud.

Singkatnya, Kyai Pasir dan Nyai Pasir menemukan telur itu dan segera membawa pulang untuk dimasak. Mereka memasak telur tersebut dan memakannya berdua. Namun, setelah memakan telur itu keduanya merasakan gatal yang sangat hebat di sekujur tubuhnya.

Mereka terus menggaruk tubuhnya yang gatal dan terasa panas itu sehingga kulitnya menjadi lecet. Lama kelamaan wujud Kyai Pasir dan Nyai Pasir ini beruba menjadi sepasang naga berukuran besar.

Misteri asal-usul Telaga Sarangan

Sepasang naga itu terus berguling-guling di tanah sehingga bentuk tanah itu menjadi cekungan dan  mengeluarkan air yang cukup deras. Akhirnya, pasangan naga ini menyadari kemampuannya, mereka berencana untuk membuat cekungan-cekungan baru dan menenggelamkan Gunung Lawu.

Menyadari niat butuk kedua orang tuanya yang ingin menenggelamkan Gunung Lawu, Joko Lelung yang saat itu sudah cukup besar akhirnya memohon kepada Sang Hyang Widhi agar niat kedua orang tuanya itu digagalkan. Permohonan Joko Lelung dikabulkan dan sepasang naga tersebut diberi kesadaran sehingga tidak jadi melancarkan niatnya untuk menenggelamkan Gunung Lawu.

Naga Telaga Sarangan

Inilah misteri Telaga Sarangan yang berhubungan dengan asal usul telaga ini. Dengan kata lain, kedua naga tersebut berguling-guling di tanah sehingga membentuk cekungan dan mengeluarkan air. Cekungan yang lama-lama dipenuhi air itulah yang akhirnya menjadi Telaga Sarangan, sebuah danau alami berukuran tidak terlalu besar yang berada di lereng Gunung Lawu.

Mitos keberadaan 2 naga besar

Mitos keberadaan 2 naga besar

Cerita mengenai asal-usul Telaga Sarangan tersebut ternyata mempengaruhi kepercayaan masyarakat setempat. Banyak masyarakat setempat yang percaya bahwa Kyai Pasir dan Nyai Pasir yang menjadi naga besar masih mendiami Telaga Sarangan ini.

Meskipun tidak ada bukti kuat yang menunjukkan keberadaan sepasang naga besar itu, tapi mitos yang sudah turun-temurun ini akhirnya menjadi kepercayaan tersendiri bagi masyarakat sekitar.

Mitos ini menjadi semakin kuat ketika pemerintah setempat membangun dua patung naga di tepi Telaga Sarangan. Pengelola tempat wisata ini menyatakan bahwa pembangunan dua patung naga tersebut hanya untuk memperkuat ikon objek wisata tersebut yang cukup kental dengan mitos sepasang naga besar, bukan bermaksud membenarkan bahwa mitos tersebut memang benar adanya.

Telaga Sarangan kerap memakan korban jiwa

Telaga Sarangan kerap memakan korban jiwa

Di antara beberapa misteri Telaga Sarangan yang beredar di kalangan masyarakat, misteri mengenai banyaknya korban jiwa yang tenggelam di telaga ini memang masih menjadi tanda tanya besar. Ada yang mengatakan bahwa hal tersebut hanyalah kecelakaan belaka, tapi ada juga yang percaya bahwa “penunggu” Telaga Sarangan ini memang menginginkan tumbal manusia.

Ada kisah remaja yang memancing di tepi Telaga Sarangan, namun jatuh terpeleset dan tenggelam di telaga ini. Saat bantuan datang, korban tenggelam tersebut sudah dinyatakan meninggal. Tak hanya itu saja, seorang tukang perahu di Telaga Sarangan juga pernah menemukan mayat yang mengambang di belakang patung dua ekor naga. Jenazah tersebut diketahui adalah Subandi, seorang pria yang diduga bunuh diri.

Tak ada yang tahu bahwa korban yang meninggal di Telaga Sarangan ini memang murni kecelakaan dan kelalaian korbannya sendiri atau memang ulah dari “penunggu” Telaga Sarangan. Namun, jangan sampai hal-hal ini membuat Anda takut berkunjung ke telaga ini. Asalkan Anda selalu berdoa sebelum beraktivitas, tidak membiarkan pikiran kosong alias melamun, dan selalu berhati-hati tentunya keamanan Anda akan lebih terjamin.

Kecelakaan di sekitar Telaga Sarangan

Kecelakaan di sekitar Telaga Sarangan

Jalur untuk menuju ke Telaga Sarangan memang berliku-liku, sehingga membutuhkan keahlian mengemudi yang mahir untuk berkendara di jalur ini. Bukan sekedar Telaga Sarangan saja yang kerap kali menelan korban jiwa, jalur menuju Telaga Sarangan ini juga sering membuat pengendara celaka.

Kawasan Cemorosewu memiliki sebuah jalur sepanjang 35 KM dengan kondisi jalan berkelok-kelok dan tikungan tajam hingga 40 derajat. Selain itu, banyak juga tanjakan tajam untuk menuju ke Telaga Sarangan.

Terlepas dari mitos kecelakaan di jalur menuju Telaga Sarangan ini adalah perbuatan mahluk halus penunggu jalan atau tidak, medan yang harus dilalui memang cukup berat. Sebaiknya, periksa kondisi kendaraan Anda dan pastikan bahwa Anda mahir dalam jalur-jalur “maut” semacam ini sebelum Anda memutuskan untuk berkendara sendiri.

Ritual masyarakat di Telaga Sarangan

Ritual masyarakat di Telaga Sarangan

Kepercayaan mengenai keberadaan “penunggu” Telaga Sarangan membuat masyarakat setempat rutin melakukan sebuah ritual. Tradisi ritual yang sudah turun-temurun ini dilakukan pada Bulan Ruwah dalam penanggalan Jawa, tepatnya pada Jumat Pon.

Prosesi Larung Tumpeng ini merupakan ritual yang dilakukan dengan memberi sesaji kepada “penunggu” Telaga Sarangan. Hal ini dilakukan agar “penunggu” di telaga ini tidak marah. Pasalnya, masyarakat setempat percaya bahwa ritual ini mencegah hal-hal buruk terjadi, seperti mencegah bencana alam atau adanya korban jiwa.

Uniknya, ritual yang dilakukan masyarakat setempat ini didukung sepenuhnya oleh Pemerintah Kabupaten Magetan. Tradisi ini dikemas dengan semenarik mungkin sehingga banyak wisatawan yang tertarik untuk menyaksikan prosesi tersebut.

Cerita mengenai misteri Telaga Sarangan ini tidak untuk membuat Anda takut untuk mengunjungi kawasan wisata tersebut. Panorama telaga di lereng Gunung Lawu ini benar-benar mempesona. Jadi, sayang sekali bila Anda melewatkannya.

Yang paling penting, jagalah ucapan dan perilaku Anda saat berkunjung kemari agar tidak menyinggung mahluk lain yang memang hidup berdampingan dengan kita. Ingin tahu lebih banyak tempat angker di Jawa Timur? Klik di sini karena Bacaterus sudah merangkumnya untuk Anda.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on pinterest
Pinterest
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Baca Juga

Artikel Terkait

One Response

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *