Bacaterus / Misteri Laut / Misteri Sea Serpent, Naga yang Kabarnya Hidup di Samudera

Misteri Sea Serpent, Naga yang Kabarnya Hidup di Samudera

Ditulis oleh - Diperbaharui 21 Januari 2020

Sebagian besar wilayah dunia ini terdiri dari wilayah berupa perairan yang kita kenal dengan samudera dan laut. Samudera merupakan wilayah perairan yang memisahkan dua benua, sementara laut memisahkan dua pulau.

Di dalamnya banyak mahluk yang hidup baik itu hewan maupun tumbuhan. Saking luasnya, ada ungkapan bahwa hanya sedikit jumlah mahluknya yang sudah diteliti. Kita tentu pernah mendengar hewan yang menjadi perdebatan kebenarannya seperti naga.

misteri sea serpent

Banyak yang percaya bahwa ia pernah hidup di dunia ini tapi nggak sedikit juga yang meragukannya. Bagaimana di laut ternyata ada naga? Mengingat betapa luasnya perairan itu, kemungkinan adanya naga pastinya terbuka lebar.

Beberapa di antara kita mungkin belum pernah mendengar mahluk sejenis naga yang biasa disebut dengan sea serpent. Keberadaannya ini memang masih menjadi misteri yang banyak dibahas orang. Bagaimana misteri tentang sea serpent? Kalau ingin tahu lebih dalam, mari simak misteri sea serpent sampai tuntas.

Deskripsi Fisik Sea Serpent

Deskripsi Fisik Sea Serpent

Sea serpent merupakan istilah yang merujuk pada mahluk berbentuk naga yang hidup di laut. Cerita mengenai sea serpent ini bukanlah barang baru. Berbagai cerita kuno dari Yunani, Mesopotamia, Hebrew dan Nordik pernah membahas tentang keberadaannya. Selain dikenal dengan sea serpent, mahluk itu juga dikenal dengan nama sea dragon.

Sampai saat ini, ada banyak penampakan sea serpent. Bahkan karena kemunculan di tempat berbeda membuatnya seakan-akan berjumlah atau berjenis banyak. Terhitung ada 14 jenis sea serpent yang konon pernah muncul di berbagai tempat berbeda mulai dari Norwegia, Macau sampai Gloucester.

Sea serpent mempunyai fisik layaknya ular tapi ukurannya jauh lebih besar, makanya dianggap sebagai naga. Panjangnya bisa mencapai 60 meter sedangkan lebar tubuhnya bisa mencapai 6 meter. Sebagaimana fisik naga, mahluk itu juga membuat sisik, ada yang menyebut warnanya hitam ada juga yang menyebut warna lain.

Mitologi Sea Serpent

Mitologi Sea Serpent

Cerita tentang sea serpent atau naga laut sebenarnya sudah ada jauh sebelum penemuan beberapa orang yang dimulai pada abad ke-11. Dalam Alkitab dikenal sebuah mahluk air yang besar bernama Lewiatan.

Secara etimologi bahasa Ibrani, Lewiatan berari membengkokkan atau memutar. Dalam Yesaya 27:1 terdapat cerita tentang ular naga yang akan dihukum oleh Tuhan dengan pedang-Nya. Walaupun ada juga yang menginterpretasikan mahluk dalam ayat itu adalah paus atau hiu. Ayat yang menyebut naga laut juga ada pada Mazmur 74:13 – 14.

Dalam kedua ayat itu disebutkan bagaimana Tuhan akan memecahkan kepala ular-ular naga di atas muka air dan Dia akan meremukkan kepala-kepala Lewiatan dan menjadikannya makanan-makanan bagi penghuni padang belantara. Kalau diinterpretasikan secara harfiah, ular naga di atas air atau Lewiatan itu bisa jadi adalah sea serpent atau naga laut.

Selain itu ada juga Aeneis dari Yunani yang membahas tentang naga laut. Laokoon yang merupakan pendeta Poseidon di Troya memperingatkan rakyat bahwa kuda yang ditinggalkan oleh pasukan Yunani merupakan suatu tipuan yang berbahaya. Dia menentang penarikan kuda Troya ke kotanya, tapi dalam perjuangannya dia dan anak-anaknya dibunuh oleh sepasang naga laut.

Dalam mitologi Nordik, ada cerita tentang Jormungandr atau Midgarosormr yang merupakan naga laut. Bentuknya yang panjang bahkan bisa sampai mengitari dunia yang dalam istilah mereka adalah Midgard. Dalam beberapa cerita, para pelaut salah mengartikan bagian punggung tubuhnya sebagai rantai yang digunakan.

Pada abad ke-11 tepatnya tahun 1028, Saint Olaf, raja yang memerintah di wilayah Norwegia waktu itu disebut-sebut berhasil membunuh seekor ular laut di sebuah lembah bernama Valldal. Dia kemudian melemparkan bangkainya ke Gunung Syltefjellet. Jejak bangkainya itu disebut orang-orang mirip dengan deskripsi sea serpent.

Perjumpaan dengan Sea Serpent

Perjumpaan dengan Sea Serpent

Seorang kriptozoologis asal Amerika bernama Bruce Champagne sempat meneliti berbagai penampakan sea serpent. Dari seluruh dunia, dia menjumlahkan berbagai perjumpaan dengan mahluk tersebut. Hasilnya adalah ada 1.200 kali perjumpaan mahluk itu dengan manusia yang bisa ditelusuri dari kesaksian orang-orang yang melihat atau mendengarnya.

Dalam buku Historia Animalium karya Aristoteles terdapat sebuah laporan yang berhubungan dengan sea serpent. Seorang saksi mata melaporkan telah melihat mahluk yang mati di pantai utara Levant pada tahun 130 dan 51 SM. Mahluk itu seperti ular tapi panjangnya mencapai 30 m, dia mengatakan bahwa mahluk itu adalah naga dari laut.

Seorang penulis, pembuat peta dan gerejawi Katolik Swedia bernama Olaus Magnus sempat membahas tentang sea serpent. Dalam bukunya yang dirilis tahun 1555 berjudul “History of the Northern People”, dia mendeskripsikan sea serpent sebesar 60 meter dan lebarnya 6 meter. Cerita itu dia dapatkan dari para pelayar yang berdagang dan memancing di wilayah Norwegia.

Hans Egede, seorang misionaris dari Greenland menyatakan perjumpaannya dengan sea serpent. Kejadian itu terjadi pada 6 Juli 1734 saat kapalnya melintasi Greenland. Dia menceritakan bahwa kepala mahluk itu melebihi tinggi tiang kapal, tubuhnya pendek, keriput dan dia menggunakan sirip besar untuk mendorong tubuhnya ke dalam air.

Secara singkat Hans berani bilang kalau mahluk itu jauh lebih panjang daripada kapal yang ditumpanginya. Banyak laporan tentang sea serpent terjadi di wilayah perairan Gloucester, Massachusets, Amerika. Mahluk itu kemudian dinamai Gloucester Sea Serpent.

Dia disebut-sebut memiliki kepala seperti kura-kura yang dihiasi dengan tombak atau tanduk sementara tubuhnya seukuran dengan sebuah tong. Seorang analis dari Linnaean Society meneliti penemuan seekor ular hitam yang memiliki punuk, dia kemudian menyebutnya sebagai spesies baru bernama “Scoliophis Atlanticus”.

Pada Agustus 1848, awak kapal HMS Daedalus mengaku melihat penampakan Sea Serpent. Tepatnya ketika mereka dalam perjalanan ke Saint Helena di Samudera Atlantik Selatan. Mereka memperkirakan panjang mahluk itu mencapai 18 meter, lehernya bertengkuk nggak lazim saat muncul ke permukaan. Ini menjadi salah satu perjumpaan dengan sea serpent yang paling terkenal.

Pendapat Skeptis tentang Sea Serpent

Pendapat Skeptis tentang Sea Serpent

Banyaknya laporan penampakan sea serpent nggak serta-merta membuat semua orang percaya tentang keberadaannya. Nggak sedikit para peneliti yang menganggap bahwa penampakannya itu merupakan cerita karangan atau kebohongan. Hal itu mungkin terjadi karena orang-orang mengaitkannya dengan cerita di berbagai mitologi.

Penemuan Gloucester Sea Serpent yang sempat disebut sebagai spesies baru bernama Scoliphis Atlatincus mendapat perhatian seorang naturalis Charles Alexandre Lesueur. Dia kemudian meneliti mahluk yang dianggap sebagai sea serpent itu, hasilnya adalah mahluk itu hanya ular biasa yang memiliki tumor di tulang belakangnya.

Pada tahun 1819, sebuah pertunjukkan disutradarai oleh penulis drama dari Charleston bernama William Crafts. Pertunjukkan itu diberi tajuk “The Sea Serpent: or, Gloucester Hoax: A Dramatic Jeu D’esprit, in Three Acts”. Dia mengkritik berbagai laporan tentang Sea Serpent dan menganggapnya hanya hoax belaka.

Penampakan yang dilihat para awak kapal HMS Daedalus pada Agustus 1848 diteliti oleh seorang biolog terkenal asal Inggris, Sir Richard Owen. Dia berpendapat bahwa mahluk tersebut bukanlah sea serpent. Dia menambahkan bahwa kemungkinan para awak kapal salah melihat. Kemungkinan yang mereka lihat adalah gajah laut, kano yang terbalik atau cumi-cumi raksasa.

Misteri sea serpent belum menemui kesimpulan mutlak. Ada yang percaya, ada juga yang skeptis. Kita bebas memilih ada di kelompok yang mana. Namun, kita juga harus tetap terbuka dengan segala kemungkinan yang ada. Kamu punya informasi tambahan soal misteri sea serpent? Kamu bisa ikut menambahkan di kolom komentar yang sudah disediakan.

Topik Terkait:
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on pinterest
Pinterest
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Baca Juga

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *