Bacaterus / Misteri Dunia / Misteri Manuskrip Voynich dan Bahasanya yang Sudah Punah

Misteri Manuskrip Voynich dan Bahasanya yang Sudah Punah

Ditulis oleh - Diperbaharui 29 Mei 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Bahasa merupakan komponen penting dalam sebuah peradaban. Keberadaannya bisa membuat manusia berkomunikasi antara satu dengan yang lain. Komunikasi kemudian menjadi pondasi untuk membentuk berbagai hal dari mulai norma, perilaku sampai teknologi. Dengan kata lain, hidup kita dimudahkan dengan adanya bahasa.

Di era modern, bahasa sudah ditetapkan sebagai bagian dari budaya dan peradaban yang menjadi identitas sebuah kelompok manusia. Sebelum masuk ke periode itu, bahasa sudah ada dan berkembang sebagaimana kehidupan manusia. Sayangnya tidak sedikit bahasa yang punah. Kepunahan bahasa ditandai dengan ditemukannya manuskrip dengan bahasa yang sangat asing.

Salah satu manuskrip yang berisikan bahasa asing adalah Manuskrip Voynich. Ketika diteliti, banyak ahli kebingungan karena penggunaan bahasa di dalam manuskrip tersebut. Ditambah adanya ilustrasi yang juga harus dipecahkan. Kita akan membahas lebih dalam tentang misteri Manuskrip Voynich.

Sejarah Manuskrip Voynich

Manuskrip Voynich

* sumber: ff-65a4.kxcdn.com

Keberadaan Manuskrip Voynich memiliki sejarah panjang tentang kepemilikannya. Seorang ahli kimia asal Praha yang bernama Georg Baresch disebut-sebut sebagai pemilik pertamanya. Belum ada keterangan pasti dari mana dia mendapatkannya. Hanya saja dia diketahui sudah bertahun-tahun mencoba mengartikan kata-kata di manuskrip tersebut.

Athanasius Kircher, seorang jesuit dari Collegio Romano merilis sebuah kamus Mesir Kuno. Baresch yang mengetahui hal itu, mengirim sampel manuskrip yang ditelitinya pada Kircher. Kircher merasa tertarik dan ingin membelinya tapi Baresch enggan menyetujui permintaan Kircher dan memilih untuk menyimpannya.

Setelah Baresch meninggal, manuskrip itu dimiliki oleh temannya yang bernama Jan Marek Marci. Dia adalah rektor Charles University di Praha. Di sampulnya dia menemukan tulisan Latin yang menyebutkan bahwa manuskrip itu dimiliki oleh Kaisar Rudolph II yang diprediksi sekitar abad ke-16. Marci memberikan manuskrip itu pada sahabatnya yang tidak lain adalah Kircher.

Kesulitan ekonomi yang menimpa Collegio Romano, membuat mereka menjual beberapa barang yang sekiranya bisa menghasilkan uang. Pada 1912, seorang pria yang berprofesi sebagai penjual buku dan kolektor barang antik membeli 30 manuskrip dari Collegio Romano. Nama pria itu adalah Wilfrid Voynich.

Ada sebuah manuskrip yang belum bisa dipecahkan di antara buku lain yang dibelinya. Akhirnya manuskrip itu diberi nama Manuskrip Voynich, diambil dari nama akhir pemiliknya. Sampai sekarang, manuskrip itu dikenal sebagai Manuskrip Voynich.

Bentuk Fisik Manuskrip Voynich

Bentuk Fisik Manuskrip Voynich

* sumber: cdn.vox-cdn.com

Manuskrip Voynich merupakan sebuah codex yang berisi tulisan tangan dengan cara penulisan yang belum diketahui. Lembarannya yang sudah menggunakan teknologi carbon-dated (sebuah cara untuk dapat mengetahui usia kertas) diprediksi berasal dari abad ke-15. Penulisan manuskrip itu diperkirakan dilakukan di Italia pada masa Renaissance.

Manuskrip Voynich berisi 240 halaman dan diyakini beberapa halamannya hilang. Teksnya ditulis dari kiri ke kanan yang berarti memang sudah masuk cara penulisan aksara Latin. Kebanyakan halamannya memuat ilustrasi atau diagram. Beberapa dari halamannya bahkan bisa dilipat. Ukurannya 23,5 cm ke 16,2 cm dengan ketebalan 5 cm.

Isi Manuskrip Voynich

Isi Manuskrip Voynich

* sumber: i.ytimg.com

Banyak yang menganggap Manuskrip Voynich merupakan manuskrip yang spesial. Alasannya adalah tulisan-tulisan di manuskrip tersebut sulit untuk dipecahkan tetapi di dalamnya terdapat ilustrasi-ilustrasi yang dapat dimengerti. Dengan sebagian besar halaman memuat ilustrasi, kita bisa membagi isi Manuskrip Voynich menjadi:

  • 11 halaman berisi ilustrasi tentang gambar herbal, setiap halaman menunjukkan satu atau dua buah tanaman dan beberapa paragraf tulisan.
  • 21 halaman berisi ilustrasi tentang astronomi dengan diagram. Sebuah seri diagram memuat ilustrasi lengkap dari 12 zodiak. Masing-masing ilustrasi itu dilengkapi dengan ilustrasi wanita-wanita yang sedang telanjang membentuk simbol zodiak atau bintang. Akuarius dan Capricorn tidak ditemukan, sehingga para peneliti menduga ada halaman yang hilang.
  • 20 halaman berisi ilustrasi tentang biologi. Di gambar di halaman yang dilipat dan kalau dibuka saling berhubungan satu sama lain. Ilustrasi di halaman tersebut kebanyakan adalah wanita-wanita telanjang, beberapa menggunakan mahkota sedang berenang atau mandi.
  • 13 halaman berisi ilustrasi tentang kosmologi, berisi diagram-diagram yang membentuk lingkaran dan menciptakan sebuah ilustrasi alam yang janggal. Ada halaman yang kalau dibuka akan menjadi enam halaman yang memuat berbagai hal dari mulai peta pulau-pulau yang terhubung oleh sebuah jalan bebas hambatan, ilustrasi istana dan gunung.
  • 34 halaman berisi ilustrasi tentang farmasi. Memuat tanaman-tanaman yang disimpan di tempat tertutup yang kemudian digambarkan bisa menjadi semacam obat herbal. Di sekitar ilutrasi disertai dengan beberapa paragraf tulisan.
  • 22 halaman berisi ilustrasi tentang resep. Halaman-halaman yang dipecah menjadi paragraf-paragraf pendek semuanya dilengkapi dengan logo bintang di sebelah kirinya.
  • 5 halaman hanya berisi teks
  • 28 halaman hilang

Penelitian Manuskrip Voynich

Penelitian Manuskrip Voynich

* sumber: www.thevintagenews.com

Banyaknya ilustrasi disertai teks yang tidak dimengerti membuat banyak orang ingin meneliti apa isi sebenarnya dari Manuskrip Voynich. Bukan hanya berasal dari kalangan profesional yang terdiri dari pemecah kode, kriptologis, ahli sejarah, bahkan banyak juga orang-orang awam yang ingin ikut memecahkan misterinya.

Greg Hogins yang bekerja di Departemen Fisika University of Arizona bekerja sama dengan School of Anthropology of Arizona untuk meneliti Manuskrip Voynich. Hodgins melakukan penelitian dengan menganalisis radiokarbon di manuskrip itu. Hasilnya mereka memprediksi bahwa manuskrip itu dibuat sekitar tahun 1404 – 1438.

Hal berbeda dinyatakan oleh seorang profesor bernama William Newbold dari Universitas Pennsylvania. Dia yang sudah melakukan penelitian memberi kesimpulan bahwa manuskrip Voynich dibuat pada abad ke-13 yang artinya lebih lama dibandingkan hasil penelitian Hogins. Bahkan dia percaya kalau Voynich dibuat oleh Roger Bacon.

Stephen Bax, profesor linguistik dari University of Bedfordshire, Inggris yang meneliti manuskrip Voynich berhasil menguraikan 14 karakter. Dia menemukan cara menulis ketumbar di halaman manuskrip serta Taurus yang ditulis di samping ilustrasi gugus bintang di rasi Taurus bernama Pleiades. Dia menggunakan metode yang sama dengan cara pemecahan hieroglif Mesir.

Di tahun 1987, ahli fisika bernama Leo Lavitov mengeluarkan pernyataan dari hasil penelitiannya. Dia mengatakan bahwa manuskrip tersebut berasal dari sebuah sekte sesat di Perancis yang bernama Cathar. Sekte itu berkembang di abad pertengahan dan menggunakan manuskrip sebagai acuan melakukan ritual dan menjalani kegiatan dalam hidup para pengikutnya.

Dr. Gerald Cheshire dari University of Bristol baru saja menggemparkan dunia dengan pernyataannya dalam sebuah jurnal bernama Romance Studies. Dia mengatakan sudah menganalisis Manuskrip Voynich dengan menggunakan kombinasi pemikiran lateral dan kecerdikan. Dia berhasil mengungkap bahasa photo-romans di dalamnya.

Dia menyimpulkan bahwa tulisan dalam manuskrip menggunakan bahasa yang sudah punah. Dia juga berhasil memecahkan sebuah ilustrasi dalam dua halaman yang terlipat dan kalau dibuka akan menghasilkan enam halaman yang hanya berisi ilustrasi.

Halaman-halaman itu menceritakan bagaimana gunung berapi yang meletus dan membentuk sebuah pulau baru di atas laut yang kemudian bergabung dengan pulau lain. Dengan cara seperti itu bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun ke depan, dengan dukungan dari yang mumpuni, misteri Manuskrip Voynich dapat dipecahkan.

Demikianlah misteri Manuskrip Voynich dan bahasanya yang sudah punah. Menurut kamu, mungkinkah akan ada bahasa yang hidup kembali ketika manuskrip itu berhasil dipecahkan? Kalau mau ikut menambahkan, sudah ada kolom komentar yang disediakan.

Topik Terkait:

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *