Bacaterus / Misteri Dunia / Misteri Kain Kafan Turin dan Perdebatan Seputar Sejarahnya

Misteri Kain Kafan Turin dan Perdebatan Seputar Sejarahnya

Ditulis oleh - Diperbaharui 29 Mei 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Untuk mengetahui berbagai kejadian masa lalu kita bisa mencari bukti-bukti fisik sejarah untuk memperkuat keterangan dari orang yang menjadi saksi peristiwa tersebut. Nggak heran kalau barang-barang peninggalan sejarah semacam artefak atau manuskrip diteliti. Sayangnya, nggak semua barang peninggalan yang diteliti itu bisa menjawab semua rasa ingin tahu.

Kain kafan Turin merupakan salah satu peninggalan sejarah yang sampai saat ini masih menjadi topik perbincangan. Kain itu dipercaya sebagian orang pernah digunakan untuk menutup tubuh Yesus Kristus ketika dimakamkan tapi sebagian orang nggak memercayai hal tersebut. Sampai sekarang masih banyak yang meneliti kebenaran cerita kain kafan Turin yang terkenal itu.

Awal Mula Kain Kafan Turin

Awal Mula Kain Kafan Turin

Setelah dirunut, sejarah kain kafan Turin dimulai pada tahun 1349 di  Lirey, Perancis. Seorang tentara asal Prancis bernama Geoffrey de Charny memiliki kain itu. Dia mendapatkan kain yang disebut berasal dari Yerusalem setelah sebelumnya berada di Konstantinopel. Informasi itu didapat dari sebuah dokumen bernama Hungarian Pray Manuscript yang dibuat pada tahun 1192.

Di dalam manuskrip itu juga terdapat ilustrasi penguburan Yesus dan kain kafan yang kemudian dikenal dengan nama kain kafan Turin. Kain kafan yang ada di Konstantinopel diyakini dicuri oleh tentara Perang Salib sehingga sampai di Benua Eropa. Charny yang memiliki kafan itu menyurati Paus Clement VI, dia ingin membangun gereja di kota Lirey sebagai bentuk rasa syukur.

Dia menambahkan bahwa dia memiliki kain kafan yang digunakan untuk mengubur Yesus. Di Tahun 1355, kain kafan itu dipajang agar bisa dilihat oleh orang umum di Lirey. Pada tahun 1457, kain itu dipindahkan ke Savoy. Lima tahun kemudian, kain itu hampir habis terbakar tapi berhasil diselamatkan hanya saja ada bekas hangus di sudut lipatan kain.

Setelah lama tersimpan di Savoy, pada tahun 1578 kain kafan dibawa ke Turin, Italia untuk disimpan. Karena adanya Perang Dunia II dan dikhawatirkan kain kafan akan rusak atau dicuri, maka kain itu sempat diamankan ke Napoli. Setelah keadaan mereda, kain itu dikembalikan ke Turin pada tahun 1946.

Bentuk Kain Kafan Turin

Bentuk Kain Kafan Turin

Setelah dipindahkan dan disimpan di Turin, barulah istilah kain kafan Turin menyeruak. Kalau dilihat secara sekilas, kain kafan Turin nggak terlihat sebagai suatu benda yang dianggap suci oleh banyak orang. Kain itu terbuat dari linen dengan panjang 4,36 meter dan lebar 1,1 meter dan terdapat banyak bekas becak darah.

Kain itu sekarang tersimpan di Katedral St. Yohanes, Turin, Italia dengan dibungkus sutera merah dan disimpan di sebuah peti perak. Saat ini kain itu hanya diperlihatkan ke publik pada kesempatan-kesempatan tertentu karena dianggap memiliki sejarah yang mengagumkan.

Sejak dipajang di Turin dan menarik khalayak untuk melihatnya, sudah banyak juga yang meneliti kain itu. Namun yang menggegerkan adalah penemuan yang nggak sengaja dilakukan oleh seorang fotografer amatir bernama Secondo Pia pada tahun 1898.

Ketika kain kafan dipamerkan, dia mengambil foto kain itu. Pada malamnya, dia mendapat hasil negatif foto pemajangan kain kafan Turin. Dia menemukan sebuah gambar seorang pria mirip Yesus dengan posisi tertidur layaknya seseorang yang meninggal ditutupi kafan.

Penemuan sebuah wujud dalam kain kafan Turin yang dilakukan oleh Pia langsung mendapat perhatian dunia. Surat kabar dari Vatikan bernama L’Osservatore Romano merupakan salah satu surat kabar yang berani mempublikasikan cerita tersebut. Sayangnya pihak gereja memilih bungkam, mungkin supaya nggak menimbulkan kegaduhan lebih luas.

Kontoversi Kain Kafan Turin

Kontoversi Kain Kafan Turin

Sejak dimunculkan ke publik, kain kafan Turin langsung menarik perhatian banyak orang. Peziarah yang ingin melihat kain kafan yang disebut-sebut digunakan untuk memakamkan Yesus berdatangan. Nggak semua orang mau menerima asumsi kain itu, banyak juga yang ragu dan mempertanyakan keaslian kain itu.

Pihak-pihak yang mempertanyakan bukan hanya kalangan peneliti yang biasanya skeptis atas cerita-cerita yang belum bisa mereka buktikan secara ilmiah. Sebagian dari kalangan ahli agama juga ada yang mempertanyakan kebenaran cerita kain kafan Turin itu. Seorang Uskup dari Troyes bernama Pierre d’Arcis sempat menulis memorandum yang ditujukan untuk Paus Clement VII.

Dia mempertanyakan keaslian kain kafan Turin sebagai kain yang benar-benar dipakai untuk memakamkan Yesus. Dia menambahkan bahwa dalam kitab sucinya nggak ada yang menyebut tentang keberadaan kain kafan itu. Bahkan dia berani berasumsi bahwa yang sebenarnya berada di kain kafan adalah lukisan.

Tahun 1978, sekelompok peneliti dari Amerika meneliti kain kafan Turin. Penelitian itu menghasilkan kesimpulan bahwa gambar di kain bukanlah hasil lukisan. Berselang 10 tahun, Tahta Suci memperbolehkan relik di kain kafan untuk diuji agar dapat diteliti lebih lanjut.

Tes radiokarbon itu dilakukan oleh tiga universitas secara terpisah yaitu Oxford, Arizona dan Institut Federal Swiss. Semua diberi sampel yang sama yaitu sepotong kain sebesar 1 cm dan 5,7 cm dari sudut kafan.

Hasilnya cukup mencengangkan karena kemungkinan besar kain itu berasal dari tahun 1260 sampai 1390. Masa yang disebut sebagai abad pertengahan itu merupakan masa ketika gereja bertindak absolut dan mengesampingkan berbagai penemuan ilmu pengetahuan.

Pendapat berbeda diungkapkan seorang ahli kimia bernama Raymond N. Rogers dalam sebuah jurnal ilmiah bernama Thermochimia Acta edisi Januari 2005. Dia mengatakan bahwa sampel kain untuk uji penanggalan radiokarbon nggak valid.

Dia menambahkan bahwa sampel yang seharusnya diambil berasal dari tambalan kain yang digunakan untuk memperbaiki kain kafan karena kebakaran di tahun 1532. Dia menyimpulkan bahwa kain kafan itu setidaknya berusia 1.300 tahun atau dengan kata lain berasal dari waktu yang sama dengan waktu penyaliban Yesus.

Kontoversi Kain Kafan Turin 2

Tahun 2004, sebuah jurnal mengungkap hasil penelitian bagian belakang kain yang dipotret. Giulio Fanti dan Roberto Maggiolio dari Universitas Padova mengidentifikasi gambar samar kemudian membalikkannya. Hasilnya, ada kejanggalan pada gambar tangan di kain kafan. Ada luka bekas tusukan cukup besar di telapak tangan yang menembus ke pergelangan tangan.

Tusukan di pergelangan nggak membuat posisi Yesus ketika disalib seperti yang sering kita lihat. Tubuhnya nggak akan tertahan dan tangannya sobek karena menahan berat. Sebuah rekonstruksi dilakukan dan hasilnya kemungkinan orang yang dibalut oleh kain kafan bukan Yesus karena posisinya saat dipaku horisontal.

Berbagai penelitian dan kesimpulan yang dikeluarkan para ahli sepertinya nggak akan mampu mengungkap misteri di balik kain kafan Turin. Terutama mengenai apakah benar kain itu digunakan untuk mengubur Yesus atau bukan. Perbedaan pendapat akan terus muncul di antara mereka.

Mungkin lebih bijak untuk menganggap kain kafan Turin sebagai sebuah peninggalan sejarah bukan sebagai kain yang digunakan Yesus karena banyaknya bukti yang membantah asumsi tersebut. Namun bukan berarti kita boleh mendiskreditkan mereka yang percaya bahwa kain kafan Turin merupakan kain yang digunakan untuk pemakaman Yesus.

Itulah misteri kain kafan Turin dan perdebatan seputar sejarahnya. Perbedaan pendapat memang sudah biasa terjadi sampai ditemukannya bukti-bukti ilmiah yang sulit dibantah. Kalau kamu punya informasi tambahan, kamu bisa ikut menambahkan di kolom komentar yang sudah disediakan. Kunjungi juga artikel misteri Rosalia Lombardo, si mumi cilik yang misterius.

Topik Terkait:

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *