Bacaterus / Misteri Jawa Tengah / Misteri yang Tersimpan di Balik Keindahan Gunung Prau

Misteri yang Tersimpan di Balik Keindahan Gunung Prau

Ditulis oleh - Diperbaharui 29 Mei 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Ada sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa manusia hidup di dunia bukan hanya bersama mahluk hidup yang bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Ada mahluk-mahluk yang nggak kasat mata hidup bersama kita di dunia ini. Hanya saja, perbedaan dimensi membuat adanya keterbatasan untuk berinteraksi dengan mereka.

Keberadaan mahluk nggak kasat mata atau mahluk astral konon sama seperti manusia yaitu menempati tempat-tempat tertentu. Rumah, sekolah ataupun kantor pasti mempunyai penghuni lain selain kita. Dari berbagai tempat yang ada, gunung merupakan salah satu tempat yang disebut-sebut dihuni oleh banyak mahluk astral.

Gunung Prau

Gunung merupakan tempat yang nggak banyak dihuni oleh orang. Di beberapa bagiannya masih berupa hutan atau hamparan tanah luas. Tempat yang nggak ditempati manusia katanya sering ditempati oleh mahluk astral. Nggak terkecuali Gunung Prau yang mempunyai daya tarik sendiri bagi para pendaki. Seperti apa misteri Gunung Prau? Akan kita bahas lebih dalam di sini.

Keindahan Gunung Prau

Keindahan Gunung Prau

Gunung Prau merupakan gunung yang terletak di Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah. Tepatnya di perbatasan Kabupaten Kendal dan Wonosobo. Kawasan Dieng sendiri mempunyai daerah-daerah perbukitan dan pegunungan yang menjadi magnet bagi wisatawan. Berbagai keindahan alam bisa menjadi pemandangan yang bisa langsung dilihat di depan mata kita sendiri.

Gunung Prau menjadi salah satu destinasi favorit di Kawasan Dieng. Dengan tinggi 2.590 mdpl, Prau mempunyai pesona yang luar bisa. Penyebab paling utamanya adalah kita bisa melihat matahari terbit dan tenggelam dari atas gunung yang pastinya memukau. Belum lagi adanya pemadangan galaksi bimasakti pada malam hari.

Puncak keindahan Gunung Prau terjadi pada bulan Juli sampai Agustus yang merupakan periode musim panas. Walaupun berada di musim panas, suhu di Gunung Prau tetap dingin. Bahkan kalau nggak sedang hujan, udara di sana bisa mencapai tujuh derajat celcius. Nggak heran kalau banyak wisatawan yang ingin menghabiskan waktu di sana, apalagi di akhir pekan.

Salah satu hal yang membuat Gunung Prau unik adalah gunung itu termasuk gunung yang ramah bagi wisatawan yang belum pernah mendaki. Cukup dengan waktu selama 2 sampai 2,5 jam maka kita bisa mencapai puncak apabila mengambil jalur Patak Banteng. Selain jalur itu, ada juga jalur Desa Dieng, Kali Lembu, Dieng Kulon, Campurejo dan Wates.

Dalam perjalanan menuju puncak Gunung Prau kita bisa melihat banyak keindahan yang lain. Kita bisa melihat kawasan Dieng dari ketinggian. Pemandangan itu berupa pegunungan dengan hamparan sawah di lerengnya yang diselingi kabut. Kemudian kita bisa melihat akar cinta, yang akar-akar di wilayah itu saling bertaut seperti cinta manusia.

Semakin jauh perjalanan ke puncak Gunung Prau, kita bisa melihat pemandangan yang terdiri dari barisan pegunungan. Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing terlihat dengan jelas, belum lagi pemandangan awan yang berserak semakin menambah daya tarik wilayah itu. Kita bisa melanjutkan perjalanan ke Telaga Wurung yang bisa dijadikan tempat untuk berkemah.

Gunung Prau akan ditutup tiap awal tahun. Dari Januari hingga April nggak boleh ada yang mendaki sebagai upaya untuk pemulihan gunung. Hal tersebut justru menarik minat wisatawan untuk menghabiskan waktu di gunung pada periode Natal sampai malam pergantian tahun. Perlu diingat kalau mendaki gunung saat statusnya ditutup, kita bisa-bisa dikenai sanksi.

Sebutan Gunung Mayit

Sebutan Gunung Mayit

Berbagai keindahan yang ditawarkan Gunung Prau akan selalu menarik minat wisatawan. Orang-orang yang pernah mendaki bahkan menyebut bahwa pemandangan di sana nggak pernah mengecewakan. Apalagi Gunung Prau masih memiliki vegetasi pepohonan yang lebat dan menjadi daya tarik tersendiri.

Di balik keindahannya, Gunung Prau menyimpan misteri. Salah satunya adalah tentang namanya. Asal-usul nama Gunung Prau yang paling umum dikatakan adalah nama itu diambil karena bentuknya yang menyerupai perahu, lembah-lembah di sekelilingnya seperti berbentuk ombak. Lalu penyebutan perahu itu berubah menjadi prau yang akhirnya lebih dikenal dengan nama itu.

Nama Gunung Prau selain dikarenakan bentuknya juga disebabkan oleh mitos di dalam gunung itu terdapat sumber air yang melimpah. Mitos itu muncul karena di Kawasan Dieng membang benar ditemukan banyak telaga dan sumber air. Dengan bentuk mirip perahu dan banyaknya sumber air tentu pemilihan nama Gunung Prau dirasa paling tepat oleh masyarakat.

Selain bentuk yang mirip dengan perahu, ada pula cerita yang mengatakan bahwa nama awal Gunung Prau bukanlah yang kita ketahui sekarang. Gunung itu sempat diberi nama Gunung Mayit. Mayit dalam bahasa Indonesia mengambil dari kata mayat atau tubuh orang yang sudah meninggal. Bentuk gunung konon mirip dengan mayat yang sedang terlentang.

Pintu Gaib, Oyot Rimpang

Pintu Gaib, Oyot Rimpang

Ketika akan memasuki sebuah tempat, kita biasanya terbatasi oleh pintu. Pintu itu berfungsi sebagai penanda bahwa kita akan berpindah tempat. Selain itu, ia juga berfungsi sebagai batas, baik itu penghalang untuk sebuah ruangan dan juga bisa berfungsi sebagai akses kita untuk masuk dan keluar dari sebuah tempat.

Di Gunung Prau konon ada sebuah pintu. Berbeda dengan pintu yang biasa kita temui di rumah atau tempat lain karena pintu di Prau adalah pintu gaib. Ketika mendaki lewat jalur Dieng, kita akan menuju tower yang dalam perjalanannya dihiasi oleh vegetasi rumput dan bunga daisy.

Di salah satu padang bunda daisy, ada empat sampai lima pohon yang tumbuh berdekatan dan seperti membentuk kotak yang disebut sebagai oyot rimpang. Bentuk persegi di antara pepohonan itu dianggap masyarakat sebagai pintu gaib. Pintu gaib merupakan istilah untuk menggambarkan perpindahan kita ke dimensi berbeda.

Siapa saja yang memasuki wilayah antara pepohonan konon akan berjalan berputar dan kesulitan mencari jalan keluar. Kalau sudah begitu, nggak ada yang tahu akan berakhir seperti apa. Makanya, kalau kita pergi ke gunung, sangat penting untuk menjaga sikap supaya para penghuni di sana nggak merasa terganggu akan kehadiran kita karena bagaimanapun kita adalah tamu.

Tempat Persemayaman Dewa

Tempat Persemayaman Dewa

Ada yang menyebut bahwa nama Dataran Tinggi Dieng berasal dari Bahasa Kawi. Dieng berasal dari dua suku kata yaitu di yang artinya tempat atau gunung, dan hyang artinya dewa. Ada juga yang menyebut Dieng berasal dari Bahasa Sunda tapi secara harfiah artinya sama dengan Bahasa Kawi.

Jadi bila digabung Dieng berarti tempat atau gunung persemayaman dewa. Gunung Prau adalah salah satu gunung yang berada di Dataran Tinggi Dieng dan disebut-sebut menjadi salah satu tempat persemayaman dewa.

Warga di sekitar Dataran Tinggi Dieng mempercayai bahwa dewa dan mahluk-mahluk penunggu Dieng masih bersemayam di pegunungan-pegunungan yang mengelilinya, termasuk Gunung Prau.

Konon Candi Arjuna menjadi tempat para dewa dan penunggu kawasan Dieng berkumpul pada waktu tertentu. Khususnya ketika ada ritual potong rambut gimbal yang diadakan pada setiap tanggal 1 Suro. Saat ini ritual itu sudah menjadi agenda dalam Dieng Culture Festival yang menjadi daya tarik bagi para wisatawan.

Misteri pasti akan selalu ada mengiringi setiap tempat. Seperti manusia, setiap tempat juga punya sejarah dan cerita yang tersimpan. Kita bisa menjadikan itu sebagai pengetahuan dan bekal untuk tetap menjaga sikap di mana pun kita berada. Ada yang pernah mengunjungi Gunung Prau? Kamu bisa membagikan pengalaman kamu di kolom komentar yang sudah disediakan.

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *