Bacaterus / Misteri Jawa Tengah / Misteri Gunung Dieng, Lokasi Hilangnya Sebuah Desa

Misteri Gunung Dieng, Lokasi Hilangnya Sebuah Desa

Ditulis oleh - Diperbaharui 29 Mei 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Berencana untuk backpacker ke Dieng dalam waktu dekat? Anda pasti sudah mempersiapkan berbagai kebutuhan yang akan dibawa selama perjalanan liburan ke Dieng, bukan? Namun, sudahkah Anda tahu bahwa ada sejumlah misteri Gunung Dieng yang membuat kawasan pegunungan cantik ini mendapat predikat sebagai pegunungan “berbahaya”?

Rangkaian peristiwa membuat Dieng dianggap sebagai tempat yang cantik sekaligus membahayakan. Bacaterus akan mengajak Anda untuk menelusuri lebih dalam lagi seputar misteri Gunung Dieng. Konon, ada sebuah desa di Gunung Dieng yang lenyap dalam waktu semalam saja, lho!

Kawah beracun yang mematikan

Kawah beracun yang mematikan Misteri Gunung Dieng

* sumber: anekatempatwisata.com

Misteri Gunung Dieng yang membuat nama dataran tinggi ini menjadi populer sangat lekat hubungannya dengan Tragedi Sinila di tahun 1979. Sekedar informasi, Sinila adalah satu dari delapan kawah yang ada di Gunung Dieng. Banyaknya kawah di gunung ini memang membuatnya semakin terlihat cantik dan menjadi daya tarik bagi pengunjung. Sayangnya, beberapa kawah mengeluarkan gas beracun yang mematikan.

Traged Sinila diawali dengan letusan dari kawah yang menimbulkan gempa. Warga yang tinggal di sekitar Gunung Dieng tentu saja langsung lari berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri. Alih-alih selamat, warga yang tinggal di sekitar tersebut justru lemas, kehilangan kesadaran diri dan berujung pada kematian.

Sekitar 149 orang dinyatakan meninggal setelah menghirup gas beraun CO2 yang keluar dari Kawah Timbang. Letusan dari Kawan Sinila menyebabkan keluarga gas beracun dari Kawah Timbang bereaksi mengeluarkan gas beracun.

Tragedi Sinila

* sumber: www.pilkita.com

Kejadian ini disaksikan langsung oleh Riyanto, salah satu warga desa yang turut mengalamai tragedi tersebut. Kala itu, gempa terjadi setiap 15 menit sekali dan membuat warna panik. Menjelang subuh, Riyanto bersama warga desa lainnya bergerak menuju ke Kawah Sinila untuk meninjau langsung seberapa bahaya hal yang mereka timbulkan.

Namun, di tengah perjalanan Riyanto dan warga lainnya menyaksikan sendiri ratusan jenazah manusia tergeletak di pinggir jalan. Jenazah itu adalah jenazah warga desa yang tewas karena menghirup gas beracun saat hendak mencari tempat yang aman.

Letusan Kawah Sileri yang memakan banyak korban jiwa

Letusan Kawah Sileri yang memakan banyak korban jiwa

Bukan hanya kawah Sinila saja yang berbahaya, tapi ternyata ada kawah yang jauh lebih berbahaya, yakni Kawah Sileri. Sejak tahun 1943, aktivitas dari kawah ini memang sudah tampak jelas. Akan tetapi, aktivitas Kawah Sileri yang merenggut korban jiwa baru terjadi di tahun 1944.

Letusan kawah Sileri yang begitu dahsyat itu menewaskan hingga 114 orang. Material batu yang dihasilkan oleh letusan ini bisa mencapai 2 KM jaraknya dan melontarkan batu yang beratnya bisa mencapai 1,5 kilogram

Letusan Kawah Sileri ini merupakan salah satu misteri Gunung Dieng yang cukup memilukan. Tragedi Sinila dan letusan Kawah Sileri yang menewaskan ratusan jiwa ini membuat Gunung Dieng dicap sebagai gunung yang cantik tapi sangat berbahaya.

Hilangnya sebuah desa dalam semalam

Hilangnya sebuah desa dalam semalam

Bencana seolah sangat akrab bagi gunung yang satu ini. Setelah diterror dengan keberadaan kawah yang mengeluarkan gas beracun, masyarakat yang tinggal di sekitar Gunung Dieng juga selalu was-was dengan terjadinya longsor. Pasalnya, di tahun 1955 bencana longsor di gunung ini melenyapkan sebuah desa yang memang berada di sekitar gunung.

Adalah Desa Legetang yang “hilang” hanya dalam waktu semalam akibat tertimbun longsor. Bencana tersebut tidak hanya menimbun desa, tapi juga 351 penduduk desa tersebut dan 19 penduduk desa tetangga. Desa Legetang jaraknya hanya 3 KM saja dari lereng Gunung Dieng.

Mengingat pada tahun 1955 masih sangat minim alat pengangkut berat, maka desa yang hilang tersebut dibiarkan saja tertimbun tanah longsor.

Peristiwa tentang hilangnya Desa Legentang ini juga sering dikaitkan dengan sebuah mitos. Konon, desa ini dulunya sangat subur sehingga dapat menghasilkan panen yang melimpah. Namun, penduduk desa ini tidak pernah bersyukur dan terus menerus berbuat hal yang tidak baik. Akhirnya, Desa Legentang ini mendapatkan ganjaran akibat kemarahan alam.

Candi Pandawa Lima di Gunung Dieng

Candi Pandawa Lima di Gunung Dieng

* sumber: lifeofjeane.blogspot.co.id

Sudah menjadi rahasia umum jika Gunung Dieng dikenal sebagai dataran tinggi yang memiliki beberapa candi. Namun, yang masih menjadi misteri Gunung Dieng adalah keberadaan candi Pandawa Lima yang berdiri kokoh di gunung ini.

Banyak desas-desus yang menyatakan bahwa candi tersebut dibuat pada tahun 732 M. Candi itu difungsikan sebagai pemakaman jenazah raja, ksatria, dan lima anggota Pandawa Lima, yakni Arjuna, Werkudara, Puntadewa, Nakula, dan Sadewa.

Tak ada yang bisa membuktikan apakah ini benar-benar candi Pandawa Lima atau tidak, tetapi candi ini memang dibuat untuk menghormati toko-tokoh ksatria yang tergabung pada Pandawa Lima.

Angker karena banyak memakan korban jiwa

Angker karena banyak memakan korban jiwa

* sumber: lifeofjeane.blogspot.co.id

Sebagai gunung yang cantik, Anda pasti tidak menyangka bahwa Gunung Dieng termasuk salah satu tempat yang angker. Pasalnya, ratusan jiwa yang meregang nyawa di gunung ini tentu saja tidak dapat meninggalkan dunia dengan tenang karena mereka belum mempersiapkan diri untuk kematian.

Pun begitu dengan kawah Sileri dan Sinila yang pernah menewaskan ratusan orang. Di sekitar kawah ini dipercaya menjadi tempat bagi arwah penduduk desa yang tewas karena terpapar oleh gas beracun. Jika tidak ingin terjadi sesuatu pada teman atau orang lain, maka Anda harus menjaga sikap dan perilaku selama beraktivitas di Gunung Dieng atau gunung lainnya.

Anak berambut gimbal di Dieng

Anak berambut gimbal di Dieng

Sebuah misteri Gunung Dieng yang sampai saat ini masih menjadi tanda tanya besar di masyarakat adalah fenomena anak-anak berambut gimbal di Gunung Dieng. Hanya ada beberapa anak berambut gimbal di Dataran Tinggi Dieng. Masyarakat sekitar percaya bahwa anak-anak berambut gimbal adalah titipan dari Kyai Kolo Dete, punggawa pada zaman Mataram Islam di abad ke-14.

Suatu hari Kyai Kolo Dete dan istrinya mendapat wahyu dari Kanjeng Ratu Kidul penguasa laut selatan untuk membawa masyarakat Dieng menuju kesejahteraan. Tolak ukur kesejahteraan masyarakat Dieng ditandai dengan anak-anak di Dieng yang rambutnya berubah menjadi gimbal. Semakin banyak ditemukan anak-anak berambut gimbal di Dieng, maka semakin sejahteralah masyarakat Dieng dan sekitarnya.

Rambut gimbal ini tidak tumbuh sejak lahir, melainkan baru tumbuh ketika seorang anak yang usianya belum mencapai 3 tahun. Tumbuhnya rambut gimbal ditandai dengan suhu tubuh anak yang panas hingga berhari-hari, lalu pada pagi harinya suhu tubuh kembali normal dan ditandai dengan munculnya rambut gimbal.

Pemotongan rambut gimbal harus melalui prosesi adat dan harus dilakukan oleh kemauan anak yang berambut gimbal tersebut. Sebelum menjalani prosesi, biasanya si anak gimbal akan meminta sesuatu kepada orang tuanya dan keinginan itu harus dipenuhi. Apa jadinya jika rambut gimbal tidak dipotong melalui prosesi? Akan ada bencana dalam keluarga si anak dan rambut gimbal tersebut terus tumbuh kembali.

Misteri Gunung Dieng memang tidak terlalu didominasi dengan gangguan mahluk astral. Namun, peristiwa kawah yang mengeluarkan gas beracun hingga menewaskan ratusan orang tersebut mau tidak mau membuat kita sedikit was-was jika berkunjung ke sana.

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *