Bacaterus / Misteri Bali / Misteri Gunung Agung Bali yang Penting Untuk Diketahui

Misteri Gunung Agung Bali yang Penting Untuk Diketahui

Ditulis oleh - Diperbaharui 5 Februari 2020

Mustahil rasanya kalau ada orang Indonesia yang nggak mengenal Bali. Pulau di Indonesia bagian tengah itu bukan hanya terkenal bagi orang Indonesia, tapi sudah mendunia. Oleh karena itu banyak wisatawan asing dan lokal yang datang ke Pulau Dewata untuk liburan karena menyajikan berbagai keindahan alam.

misteri gunung agung bali

Walau dikenal dengan banyak pantai yang eksotis, Bali juga mempunyai destinasi wisata yang menarik di area pedesaan bahkan gunung. Gunung Agung adalah salah satu destinasi favorit bagi para wisatawan. Banyak tempat yang bisa dikunjungi di sekitar areanya yang menyajikan hal-hal menarik. Di balik keindahannya, Gunung Agung juga menyimpan misteri.

Sosok Kera Putih sebagai Pembawa Kabar

Sosok Kera Putih sebagai Pembawa Kabar

Dalam cerita umat Hindu, kera putih diidentikkan dengan sosok Hanoman. Ia adalah sosok pelayan setia untuk Dewa Rama yang dikenal karena kesaktiannya. Ia adalah putra dari Batara Bayu dan Anjani yang mampu terbang dan dijuluki sebagai dewa pelindung. Selain itu, ia juga dipercaya sebagai pembawa kabar baik.

Kera putih bagi orang Bali disebut sang wenara petak atau bojong putih. Bagi masyarakat sekitar, ia dianggap sebagai mahluk yang sakral karena menjaga keutuhan Gunung Agung. Ia akan datang pada hari-hari besar seperti ritual karya pujawali di Pura Pasar Agung yang diadakan sekali tiap tahun. Selain menjadi pembawa baik, kera putih juga menjadi pembawa pesan bahaya.

Ketika gunung akan meletus, ia akan menampakkan diri pada masyarakat sekitar sebagai peringatan bahaya. Kabarnya ia mengetahui kapan gunung akan meletus. Menurut Pamangku pura pasar Agung, ada 3 kera putih yang menghuni wilayah itu. Seekor jantan dan dua ekor betina tapi mereka nggak berkembang biak.

Anjing Penunjuk Jalan

Anjing Penunjuk Jalan

Bagi sebagian orang, anjing bukanlah mahluk yang bersahabat sehingga takut pada binatang tersebut. Padahal nggak semua anjing harus ditakuti, seperti anjing-anjing yang berada di Gunung Agung. Para pendaki yang pernah mendaki Gunung Agung, kebanyakan pernah melihat sekelompok anjing yang biasanya mengikuti dan mereka bukan tipikal anjing yang jahat.

Sekelompok anjing kerap muncul setelah melewati Pura Besakih. Mereka konon bisa menolong para pendaki yang kehilangan arah. Untuk yang nggak tahu rute menuju puncak Gunung Agung, anjing ini bisa memandu para pendaki. Ada dua anjing yang terkenal, yang berwarna putih dikenal dengan nama Jojo, sedangkan yang hitam dikenal dengan nama Joni.

Ada cerita tentang seorang pendaki yang tersesat saat mendaki. Dia nggak tahu ke mana arah untuk keluar, apalagi dia sendirian dan buta akan jalur tersebut. Dia lalu mengikuti arah Jojo dan Joni sampai akhirnya menuju ke puncak dan kembali ke jalur keluar. Kabarnya selama kita memiliki niat baik, maka mereka akan menolong kita.

Pendaki Harus Ditemani Orang Suci

Pendaki Harus Ditemani Orang Suci

Gunung bukanlah tempat sembarangan untuk dikunjungi. Dengan sebagian besar wilayahnya yang masih berupa hutan dan nggak padat penduduk seperti di kota, resiko kita tersesat sangatlah besar. Belum lagi dengan adanya mitos dan berbagai cerita rakyat yang membuat gunung seperti sebuah tempat mistis.

Oleh masyarakat, Gunung Agung dianggap sebagai tempat yang suci. Jadi nggak sembarang orang boleh mendaki. Kalau berani mendaki tanpa ijin atau bertindak serampangan, maka kita akan mendapat malapetaka. Oleh karena itu, para pendaki harus ditemani oleh orang suci atau orang tertentu yang dianggap suci oleh masyarakat sekitar supaya bisa mendaki dengan selamat.

Makanan Berjumlah Genap

Makanan Berjumlah Genap

Untuk beberapa kasus, angka ganjil biasanya dikaitkan dengan hal-hal mistis. Misalnya, sebagian lantai gedung nggak menampilkan lantai 13, melainkan diganti dengan angka 12a atau menghilangkannya dengan langsung ke lantai 14. Sementara untuk gunung, ada aturan untuk para pendaki ke Gunung Lawu yang nggak membolehkan para pendakinya berjumlah ganjil.

Beberapa masyarakat setempat mempercayai bahwa membawa makanan ke Gunung Agung harus berjumlah genap. Konon dengan membawa makanan ganjil maka salah satu makanannya akan hilang. Ada juga yang menyebut bahwa kita akan mengundang mahluk halus. Belum diketahui alasan spesifik mitos ini, tapi demi keselamatan nggak ada salahnya kalau kita menurutinya, bukan?

Larangan Membawa Daging Sapi

Larangan Membawa Daging Sapi

Bagi penganut agama Hindu, sapi adalah hewan mulia dan suci. Hewan tersebut dianggap sebagai lambang kesejahteraan semua mahluk hidup. Ada ajaran dewa Krisna yang membuat masyarakat pantang menyembelih dan memakan daging sapi. Bali yang mayoritas penduduknya beragama Hindu tentu melaksanakan aturan tersebut.

Gunung Agung dianggap sebagai tempat yang suci. Membawa makanan yang terbuat dari daging sapi sama saja dengan melakukan pantangan. Konon mahluk gaib di wilayah gunung akan marah pada para pendaki atau wisatawan yang membawa makanan dari daging sapi. Kemarahan mereka dipercayai dapat mencelakakan siapa pun yang melawan pantangan.

Larangan Mendaki Saat Ada Upacara Keagamaan

Larangan Mendaki Saat Ada Upacara Keagamaan

Upacara keagamaan adalah ritual yang sakral bagi para penganut agama tertentu. Pada saat itu, mereka percaya bahwa mereka sedang melakukan hubungan spiritual dengan entitas tertinggi di alam semesta. Apalagi di Bali banyak ritual upacara keagamaan yang harus dihormati bahkan banyak mengundang minat wisatawan untuk menyaksikannya.

Ada Pura Besakih di wilayah Gunung Agung. Pura itu merupakan salah satu pura terbesar di Bali. Pada saat ada upacara keagamaan, para pendaki dilarang untuk mendaki gunung karena nggak boleh ada orang yang posisinya lebih tinggi dari Pura Besakih. Selain itu, ada larangan untuk berdiri atau menduduki tempat yang lebih tinggi daripada palinggih pura yang berlaku di semua pura.

Larangan Menggunakan Emas

Larangan Menggunakan Emas

Bagi sebagian orang, penggunaan aksesori adalah sesuatu yang perlu bahkan nggak sedikit yang menganggapnya sebagai sesuatu yang penting atau wajib. Menggunakan aksesoris seperti emas dipercaya bisa membuat penampilan seseorang terlihat menarik. Terutama wanita yang gemar menggunakan aksesoris berupa perhiasan terutama yang terbuat dari emas.

Ada sebuah larangan bagi yang ingin mendaki atau datang ke Gunung Agung yaitu dilarang menggunakan emas. Konon larangan itu berasal dari Ida Bhatara Lingsir. Ada sebuah cerita pendaki yang naik menggunakan perhiasan yang terbuat dari emas. Dia merasa tubuhnya seperti lumpuh dan nggak bisa bergerak. Selain itu wanita yang sedang haid nggak diperbolehkan untuk mendaki.

Larangan Menggunakan Baju Merah atau Hijau

Larangan Menggunakan Baju Merah atau Hijau

Di berbagai wilayah laut selatan, warna hijau adalah sesuatu yang dilarang untuk dipakai. Kalau melanggar, konon petaka akan menghampiri kita. Mitos itu dipercaya oleh masyarakat yang mendatangi pantai di wilayah tersebut yang sangat akrab dengan sosok bernama Nyi Roro Kidul yang sangat menyukai warna hijau.

Di Gunung Agung ada larangan menggunakan warna baju tertentu. Bukan hanya hijau tapi juga baju berwarna merah. Warna hijau sangat akrab dengan Nyi Roro Kidul yang disimbolkan dengan laut sebagai istri, sementara warna merah yang disimbolkan dengan gunung mempunyai arti sebagai suami. Agar nggak menyentuh pasangan itu, maka dua warna itu dilarangan.

Larangan Mendaki Saat Baru Ditinggal Orang Terdekat

Larangan Mendaki Saat Baru Ditinggal Orang Terdekat

Di Gunung Agung ada sebuah larangan mendaki bagi yang baru saja ditinggal orang terdekat. Bagi yang anaknya meninggal, perlu waktu selama 42 hari kalau sang anak meninggal karena bunuh diri sejak anaknya dikubur. Sementara kalau meninggal dengan cara biasa, perlu waktu 21 hari baru boleh mendaki. Sementara kalau kehilangan orang tua, butuh 11 hari.

Larangan ini muncul karena seorang pendaki akan berada dalam periode kesedihan setelah ditinggal orang yang disayangi. Menurut Koordinator Pemandu Pendakian bernama Komang Kayun, kalau ada yang berani mendaki sementara waktu bersedihnya belum diikuti, maka orang itu akan mendapat hal-hal mistis.

Mata Air Suci

Mata Air Suci

Mata air suci berada di jalur pendakian Gunung Agung dari Pura Besakih. Airnya sangatlah jernih dan dianggap suci oleh masyarakat setempat. Dalam ajaran agama Hindu, air mendapatkan penghormatan yang tinggi, yaitu sebagai sumber kehidupan di bumi yang nggak dapat digantikan oleh apa pun.

Gunung merupakan tempat yang disucikan oleh penganut agama Hindu, termasuk Gunung Agung. Mata air suci yang berada di wilayah itu pun demikian. Bagi siapa saja yang ingin meminumnya, maka dia harus ikut sembahyang dalam ajaran agama Hindu. Kalau berani langsung meneguknya, dipercayai orang-orang akan mendapat kesialan seperti terkena penyakit.

Misteri-misteri yang tersimpan di Gunung Agung Bali mungkin terdengar nggak masuk akal untuk sebagian orang yang skeptis pada hal-hal mistis. Namun, sebagai manusia yang beradab, nggak ada salahnya kalau kita menghormati budaya setempat. Ada yang pernah ke Gunung Agung Bali? Ceritakan pengalamanmu di kolom komentar, yuk!

Topik Terkait:
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on pinterest
Pinterest
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Baca Juga

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *