Bacaterus / Tokoh Misteri / George Stinney, Anak yang Meregang Nyawa di Kursi Listrik

George Stinney, Anak yang Meregang Nyawa di Kursi Listrik

Ditulis oleh - Diperbaharui 29 Mei 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Beberapa tahun lalu tanah air pernah digemparkan dengan kasus salah tangkap polisi terhadap seorang pemuda. Nah, ternyata di daratan Amerika terdapat kasus serupa yang cukup memilukan telah terjadi, tepatnya di South Carolina. Parahnya, anak yang menjadi korban salah tangkap itu pun harus meregang nyawa karena hukuman mati saat usianya baru 14 tahun.

Kisah yang menimpa seorang anak keturunan Afrika-Amerika ini memang cukup menarik perhatian masyarakat dunia. Peristiwa pilu yang terjadi pada anak ini pun kemudian menjadi kasus hukum terburuk yang pernah ada.

Bila kamu penasaran dengan anak malang yang menjadi korban kekejaman penegak keadilan. Berikut Bacaterus telah rangkum misteri George Stinney, anak tidak berdosa yang meregang nyawa di kursi listrik.

Pembunuhan Misterius di Alcolu

Pembunuhan Misterius di Alcolu

*

Diskriminasi ras yang terjadi di Amerika memang sudah berlangsung cukup lama. Masalah rasial di Amerika bukan lagi sebuah barang baru. Hampir beberapa dekade Amerika memang sering diguncang isu perbedaan warna kulit.

Diskriminasi semacam ini pun bisa dirasakan hampir di semua wilayah yang ada di Amerika, termasuk satu wilayah dimana seorang anak bernama George Stinney tinggal yaitu, Alcolu, Carolina Selatan. Di Alcolu, semua fasilitas umum yang ada seperti gereja dan sekolah dibuat secara terpisah berdasarkan warna kulit.

Mendapatkan perlakuan yang berbeda semacam ini memang sering dirasakan oleh orang-orang kulit hitam yang ada di Amerika kala itu. George Stinney sendiri adalah anak seorang tukang kayu keturunan Amerika-Afrika yang hidup dalam ekonomi rendah. Pada tanggal 24 Maret 1944 ketika musim semi, George bertemu dengan dua anak perempuan kulit putih di pekarangan rumahnya.

Kala itu, Betty June Dinnicker yang berusia 11 tahun dan Marry Emma Thames yang berusia 8 tahun sedang mencari bunga Maypops di perkampungan kulit hitam menggunakan sepeda. Mereka kemudian bertanya perihal keberadaan bunga tersebut pada George dan Aime adiknya.

George pun lantas memberitahukan lokasi keberadaan bunga yang dimaksud kepada kedua anak tersebut. Namun, naasnya sampai hari menjelang sore kedua anak tersebut tak pernah kembali ke rumah. Kedua anak perempuan tadi dinyatakan hilang.

Ratusan sukarelawan pun dikerahkan dalam pencarian, termasuk ayah George yang ikut mencari kedua anak malang tersebut. Keesokan harinya sekitar pukul 07.30 kedua anak perempuan itu ditemukan dalam sebuah parit berlumpur dengan kondisi sangat mengenaskan.

Setelah dilakukan pemeriksaan oleh ahli forensik bernama A.C Bozard. Ia pun menyimpulkan bahwa kedua anak perempuan tersebut diketahui tewas karena mengalami keretakan di bagian kepala akibat pukulan benda tumpul yang diduga mirip sebuah palu.

Petugas kepolisian Claredon County kemudian melakukan penyelidikan terhadap kasus pembunuhan kedua anak perempuan tersebut. Hasil investigasi mereka pun mengarah pada George Stinney yang terakhir bertemu dengan kedua anak perempuan tersebut.

George dan sang kakak bernama Johny kemudian ditangkap kepolisian. Keduanya diinterogasi tanpa didampingi seorang pengacara. Setelah pemeriksaan Johny kemudian dibebaskan sementara George masih dalam pemeriksaan.

Divonis Bersalah oleh Juri dalam Pengadilan

Divonis Bersalah oleh Juri dalam Pengadilan

George Junius Stinney Jr lahir pada 21 Oktober 1929 di Alcolu, South Carolina. George adalah putra dari pasangan George Stinney Sr dan Aime Stinney. Ia diketahui memiliki empat orang saudara laki-laki dan satu orang perempuan.

Setelah menjalankan interogasi selama berjam-jam tanpa ada pendamping hukum. George kemudian diumumkan sebagai pelaku tunggal dalam pembunuhan setelah menjalani proses penyelidikan yang janggal. Ia kemudian dinyatakan telah mengakui segala perbuatannya. Pihak petugas kepolisian pun kemudian menjelaskan kronologis kejahatan menurut versi mereka.

Dalam pernyataannya mereka mengatakan bahwa George berusaha melakukan pelecehan seksual kepada kedua anak. Karena salah satu dari anak perempuan tersebut memberontak. George pun memukul kepala kedua perempuan tersebut dengan sebuah besi hingga keduanya meninggal.

George lalu melemparkan kedua mayat tersebut ke dalam sebuah parit untuk menghilangkan jejak. Sementara alat yang digunakan untuk membunuh keduanya di buang ke dalam sebuah parit. George Stinney pun akhirnya didakwa dengan pembunuhan tingkat pertama tanpa pernah mendapatkan proses penyelidikan lebih lanjut.

Kasus hukum George Stinney pun akhirnya sampai di pengadilan Claredon County pada tanggal 24 April 1944. Dengan menghadirkan 12 juri yang terdiri dari orang kulit putih. Sidang pembunuhan tersebut pun berlangsung hanya sekitar 10 menit. Juri pun memutuskan George bersalah dalam kasus pembunuhan tersebut tanpa ada pernyataan seorang saksi.

Pengacara yang ditunjuk bernama Charles Plowden pun tidak mengajukan keberatan atau penundaan persidangan. Sang pengacara hanya mengatakan bahwa George terlalu muda untuk mendapatkan hukuman mati.

Menurut peraturan hukum South Carolina, seseorang sudah dianggap dewasa sejak umur 14 tahun. Sehingga George Stinney pun mendapat hukuman mati. Pertanyaannya, apa George benar-benar pelakunya? Hal tersebut tentu menjadi pertanyaan mendasar. Mengingat saat proses penyelidikan sampai dengan proses persidangan George terdapat banyak kejanggalan.

Hukuman Mati Anak Tak Berdosa

Hukuman Mati Anak Tak Berdosa

*

George Stinney pun akhirnya dijatuhi hukuman mati dengan kursi listrik yang dilakukan di penjara negara bagian South Carolina pada 16 Juni 1944. Usianya baru 14 tahun ketika akan di eksekusi mati. Kursi listrik yang sebenarnya digunakan untuk orang dewasa pun tak sesuai dengan ukuran tubuhnya yang kecil.

Petugas sendiri bahkan kesulitan saat hendak mengingat tubuh George. Topeng yang terlalu besar pun menjadi masalah saat proses eksekusi. Hingga semua persiapan selesai petugas pun mulai menghidupkan mesin pembunuh tersebut.

George langsung saja menggeliat, tubuhnya mengalami kejang hebat setelah mendapat aliran listrik sebesar 2.400 volt. Topeng yang digunakan saat proses eksekusi terlepas. Sehingga membuat pandangan mengerikan bagi petugas yang melihatnya.

George dinyatakan tewas pada 07.30, yaitu 4 menit setelah kursi listrik itu dihidupkan. Anak malang itu tewas tanpa mendapatkan haknya untuk mendapatkan keadilan.

Meninjau Ulang Kasus George Stinney

Meninjau Ulang Kasus George Stinney

*

Pada tahun 2004. Seorang sejarawan yang berasal dari Alcolu bernama George Frierson melakukan penyelidikan tentang kasus George Stinney. Hak tersebut dilakukan setelah dirinya membaca kisah George Stinney melalui surat kabar. Hal tersebut kemudian pada akhirnya membuat dua pengacara bernama Steve Mckenzie dan Matt Burgess tertarik dengan kasus yang dialami George.

Dibantu pihak kejaksaan James Moon dan beberapa pengacara kemudian bergabung untuk menyelidiki kasus pembunuhan tersebut. Bersama-sama, mereka mencoba memecahkan misteri kasus pembunuhan George Stinney dengan mengumpulkan bukti dan saksi-saksi yang akan membebaskan George dari tuduhan pembunuhan.

Pada tanggal 23 Oktober 2013. Mereka pun mulai mengajukan banding pada pengadilan. Dalam pengadilan itu Johny, sang kakak dihadirkan untuk pertama kali sebagai saksi. Pria tersebut mengatakan bahwa sejak adiknya dituduh bersalah, Johny bahkan dilarang untuk memberikan kesaksian di pengadilan. Johny mengatakan pada hari itu ia bersama kedua adiknya seharian.

Sementara bukti lain didapat dari teman satu sel George bernama Wilford Hunter yang mengatakan bahwa saat di dalam sel George mengatakan bahwa ia tidak membunuh kedua anak tersebut. Seorang pendeta bernama Francois Batson juga menyatakan bahwa saat kedua korban ditemukan tak terdapat ceceran darah. Adik kandungnya, Aime pun ikut menjadi saksi di persidangan.

Sehingga membuat spekulasi bahwa kedua anak tersebut dibunuh di tempat lain sebelum akhirnya di buang ke dalam parit. Fakta lain juga menyatakan bahwa alat yang digunakan untuk membunuh kedua korban memiliki berat sekitar 20 kg. Sementara berat badan yang dimiliki bocah malang tersebut saat itu hanya 40 kg. Sehingga mustahil baginya bisa mengangkat apalagi sampai mengayunkan.

Pada tanggal 17 Desember 2014, Carmen T Mullen yang bertindak sebagai hakim akhirnya memutuskan membatalkan hukuman atas George Stinney. Ia mengatakan bahwa hukuman yang diterima George adalah sebuah kekejaman.

Mullen juga menambahkan terdapat banyak pelanggaran saat proses hukum yang diterima George pada tahun 1944. Sehingga pengadilan memutuskan bahwa George pun dinyatakan tidak bersalah setelah eksekusi mati yang diterimanya. Kisah George Stinney pun pada akhirnya menginspirasi sutradara Stephen King untuk mengangkatnya dalam sebuah film berjudul “Green Mike”.

Nah, itulah misteri George Stinney, anak tidak berdosa yang meregang nyawa di kursi listrik. Nantikan misteri lain yang lebih menarik yang akan Bacaterus bahas untuk kamu. Jangan lupa untuk turut membaca kisah kematian ratu kecantikan anak di Amerika dalam artikel misteri Jonbenet Ramsey.

Topik Terkait:

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *