Bacaterus / Misteri Dunia / Misteri Codex Gigas, Manuskrip yang Dijuluki Kitab Iblis

Misteri Codex Gigas, Manuskrip yang Dijuluki Kitab Iblis

Ditulis oleh - Diperbaharui 29 Mei 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Berbicara mengenai misteri nggak akan bisa lepas dari legenda. Munculnya legenda memungkinkan kita untuk belajar dari masa lalu. Legenda bisa tersebar dari mulut ke mulut sehingga menjadi semacam cerita rakyat atau bisa juga menjadi mitos. Sedikit banyak, kita sendiri pasti sering mendengar cerita tentang legenda tertentu baik dari dalam atau luar negeri.

Sebuah legenda perlu pembuktian tertentu yang menguatkan legenda tersebut. Nggak heran makanya kalau banyak orang-orang yang meneliti sebuah legenda berdasarkan barang-barang peninggalan masa lalu. Salah satunya adalah lewat manuskrip. Manuskrip dianggap sebagai bukti akurat untuk diteliti agar mengetahui kejadian di masa lalu.

Keberadaan manuskrip bisa ditelusuri lebih jauh. Bisa dilihat dari bahannya terbuat dari apa, bagaimana isinya, apa huruf yang digunakan dan sebagainya. Dari situ, para peneliti dapat menyimpulkan kapan manuskrip dibuat, di mana itu dibuat, dan apa yang ingin disampaikan dari manuskrip tersebut.

Salah satu manuskrip yang kini tersimpan dengan baik sebagai properti nasional di Swedia adalah Codex Gigas. Nama Codex Gigas mungkin nggak terlalu familiar di telinga kita. Walau sampai sekarang masih menjadi pertanyaan mengenai fakta sesungguhnya, kitab yang dijuluki sebagai kitab iblis ini masih menjadi topik yang menarik untuk diperbincangkan.

Ketika semua agama mempunyai kitab suci, keberadaan Codex Gigas jelas mengganggu nilai-nilai yang dipegang oleh manusia. Selain isinya yang menyeramkan karena berani membuat ilustrasi tentang iblis, konon itu juga dibuat dengan bantuan iblis. Konon, kitab ini dibuat pada abad ke-13 di biara Podlazice, Bohemia yang saat ini di dalam wilayah Ceko.

Sejarah Codex Gigas

Sejarah Codex Gigas

* sumber: 3.bp.blogspot.com

Berdasarkan cerita yang beredar, Codex Gigas dibuat oleh Herman the Recluse. Dia adalah seorang biarawan yang gerejanya dihancurkan dalam Bohemian War. Dia dihukum mati dengan cara dikurung hidup-hidup. Di masa kurungannya itulah dia menulis manuskrip Codex Gigas yang berisi 620 halaman dan berukuran 1 meter.

Sebuah penelitian memprediksi bahwa Codex Gigas sudah disimpan sejak tahun 1295 di sebuah biara di wilayah Bohemia. Pada tahun 1954, Rudolf II membawa kitab ini ke Praha. Pada Juli 1648 Codex Gigas ditemukan oleh tentara Swedia dalam pertempuran “Thirty Years War” saat menjarah Praha.

Codex Gigas kemudian disimpan di Perpustakaan Swedia. Sampai saat ini, kitab itu tersimpan dengan baik di Perpustakaan Nasional Swedia dan bisa dinikmati secara fisik maupun digital. Apa kamu tertarik untuk membacanya?

Konten dalam Codex Gigas

Konten dalam Codex Gigas

* sumber: cdn.yukepo.com

Codex Gigas berisikan banyak hal, namun sebagian besarnya adalah memuat Alkitab dalam bahasa Latin versi Vulgata, kecuali Kitab Kisah Para Rasul dan Wahyu kepada Yohanes yang berasal dari versi sebelum Vulgata. Semua kisah diurutkan dengan persis. Beberapa bahkan masih ditulis dalam huruf Ibrani, beberapa lagi ditulis dalam huruf Latin, Yunani dan Slavic.

Bagian dalam Codex dibagi ke beberapa bagian. Selain versi Alkitab dalam bahasa Latin, ada juga sejarah Yahudi, teori penciptaan bumi termasuk ilustrasi surga dan bumi. Nggak cukup di situ, di dalamnya juga membahas tentang doa-doa umum, formula-formula aneh, mantra-mantra gaib sampai detail mengenai kesurupan. Jadi nggak semua kitab ini berisi tentang iblis.

Untuk melengkapi kisah di dalamnya, dibuat juga ilustrasi dari kejadian-kejadian yang tertulis dalam Codex Gigas. Tinta yang digunakan nggak terlalu banyak, hanya menggunakan warna merah, biru, kuning, hijau dan emas. Bentuk ilustrasinya yang seragam membuat asumsi bahwa kitab ini dibuat dalam waktu singkat semakin menguat.

Legenda Pembuatan Codex Gigas

Legenda Pembuatan Codex Gigas

* sumber: content.wdl.org

Herman the Recluse yang disebut-sebut sebagai pembuat Codex Gigas dahulunya adalah seorang biarawan. Dia dihukum karena melanggar janji aturan bicara seorang biarawan, sehingga dia dihukum dengan cara dikurung hidup-hidup di dalam tembok. Alasan awalnya membuat Codex yaitu untuk memuliakan nama biaranya dan itu akan dia lakukan dalam waktu satu malam.

Berdasarkan cerita legenda, dia kesulitan untuk menyelesaikan kitab itu dalam satu malam sehingga harus menjual dirinya pada Lucifer. Sebagai rasa terima kasih, dia memasukkan ilustrasi tentang setan ke dalam bukunya.

Walaupun bermuatan konten yang melibatkan iblis, inkuisisi nggak memberikan larangan untuk meneliti Codex Gigas. Bahkan para ahli banyak yang mempelajari mengenai kitab tersebut. Akhirnya muncul kesimpulan bahwa kitab ini membutuhkan waktu 20 tahun untuk diselesaikan lengkap dengan ilustrasinya, dan butuh waktu 5 tahun untuk menyelesaikan bagian teksnya saja.

Ukuran Fisik Codex Gigas

Ukuran Fisik Codex Gigas

* sumber: www.3pietre.it

Sebagai sebuah manuskrip yang ditulis jaman lampau, Codex Gigas disebut-sebut membutuhkan 160 ekor kulit keledai untuk membuat tulisan dan gambar sebanyak 310 halaman (minus 10 halaman terakhirnya hilang saat ini). Untuk panjangnya hampir mencapai 1 meter dengan lebar 22 cm dan berat 74,8 kg.

Ukuran Codex Gigas yang besar membuatnya dinobatkan sebagai manuskrip kuno terbesar yang pernah ada di dunia. Dengan ukuran dan berat seperti itu, rasanya nggak masuk akal bukan kalau diciptakan dalam waktu singkat dan keadaan yang nggak mendukung? Namun, namanya juga misteri, seringkali memang nggak masuk akal.

Ilustrasi Iblis dalam Codex Gigas

Ilustrasi Iblis dalam Codex Gigas

* sumber: 2.bp.blogspot.com

Codex Gigas menjadi menyeramkan bukan cuma karena cerita iblis di dalamnya, tapi juga karena disertakan ilustrasinya. Salah satu yang paling terkenal adalah ilustrasi iblis sedang mengangkat tangannya. Itu digambar berhadapan dengan ilustrasi kota surgawi. Iblis digambarkan sebagai mahluk raksasa, sebagai perwujudan mahluk dari neraka.

Ilustrasi iblis bukanlah hal baru dalam sebuah manuskrip. Banyak manuskrip lain yang menggambarkannya dengan cara yang sama, hanya saja versi Codex Gigas ini dibuat dalam bentuk yang sangat besar. Selain itu, iblis digambarkan dengan hiasan emas yang waktu itu dikaitkan dengan kemewahan. Dengan kata lain, iblis dikatakan sebagai raja di neraka.

Di seberang ilustrasi iblis, ada sebuah ilustrasi perkotaan yang disebut sebagai kota surgawi. Ada banyak tiang yang dibatasi oleh dinding-dinding berwarna oranye. Dinding-dinding itu pula yang berdiri di samping ilustrasi iblis. Hal itu bisa diterjemahkan sebagai harapan manusia dengan kota yang indah atau surga sementara iblis menunggunya di sisi lain.

Legenda 10 Halaman Codex Gigas yang Hilang

Legenda 10 Halaman Codex Gigas yang Hilang

* sumber: img-srv0.prgrm.id

Manuskrip kuno biasanya akan dijaga keutuhannya karena diperlukan untuk diterjemahkan secara lengkap mengenai isi, tujuannya dan kapan dibuatnya. Hilangnya 10 halaman Codex Gigas sangat disayangkan oleh banyak orang. Walaupun isi mayoritasnya menyeramkan, namun sangat penting untuk melihat kitab tersebut secara utuh.

Sebuah mitos menyatakan bahwa 10 halaman dalam Codex Gigas sengaja dihilangkan. Bagian paling mengerikan dari kitab itu disebut-sebut berada di 10 halaman tersebut. Supaya nggak terjadi hal-hal yang mengerikan, maka halaman tersebut dihilangkan sehingga kita hanya bisa melihat bukti fisik Codex Gigas dengan 310 halaman.

Itulah misteri mengenai Codex Gigas, manuskrip yang dijuluki kitab iblis. Apakah kamu punya informasi lain yang belum tertulis? Kamu boleh menambahkan di kolom komentar. Atau mungkin, kamu sudah pernah membacanya? Boleh juga menuliskan pengalaman atau sudut pandang kamu di sana, pastinya informasi itu akan berguna untuk pembaca yang tertarik.

Kamu juga bisa membaca salah satu misteri dunia lainnya dalam artikel misteri Marie Celeste ini.

Topik Terkait:

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *