Bacaterus / Misteri Dunia / Misteri Baghdad Battery, Teknologi Kuno yang Mengagumkan

Misteri Baghdad Battery, Teknologi Kuno yang Mengagumkan

Ditulis oleh - Diperbaharui 29 Mei 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Kemajuan teknologi memang mampu memberi angin segar bagi peradaban manusia. Semua itu bisa jadi berkat para ilmuan jenius dan penemuannya yang mengagumkan. Namun, sebelum teknologi modern berkembang pesat seperti sekarang, terdapat teknologi kuno yang mungkin tidak pernah terpikirkan oleh seseorang pada zaman sekarang.

Meskipun dibuat secara sederhana, akan tetapi teknologi tersebut dapat membuat para peneliti dunia terperangah. Nah, berhubung kita sedang membahas teknologi, kali ini Bacaterus telah merangkum misteri Baghdad Battery atau Baterai Baghdad, teknologi kuno yang mengagumkan sekaligus membuat bingung banyak peneliti. Berikut adalah rangkumannya.

Penemuan Mengagumkan yang Terabaikan

Baterai Baghdad

* sumber: www.iraqicivilsociety.com

Kemampuan manusia dalam menciptakan sebuah terobosan memang tak bisa terbantahkan. Berbagai peninggalan peradaban manusia dari zaman dahulu mampu membuat masyarakat dunia terkagum-kagum. Bahkan terkadang selain meninggalkan kekaguman, hal tersebut juga menimbulkan banyak pertanyaan yang akhirnya menjadikannya sebuah misteri.

Seperti pada peninggalan kuno bernama Baterai Baghdad atau Baterai Partian. Artefak tersebut pertama kali ditemukan pada saat penggalian pemakaman kuno yang berada di sebuah gua di desa Khuyut Rabbou’a yang berada di wilayah selatan Baghdad, Irak pada tahun 1936.

Pada awal penemuannya, Baterai Baghdad dianggap sebagai artefak biasa yang tidak memiliki keistimewaan. Namun itu berubah setelah mendapat perhatian dari seorang arkeolog asal Jerman bernama Wilhelm Konigh pada tahun 1938. Barulah diketahui bahwa artefak berbentuk seperti guci ini adalah sebuah sel Galvani kuno yang bisa digunakan untuk membuat baterai.

Artefak ini diketahui adalah sisa peninggalan masa Partian pada 220 SM-224 M yang diperkirakan berusia lebih dari 2000 tahun. Hal tersebut pada akhirnya telah membuat artefak yang sempat menghiasi gudang museum ini mengundang banyak perhatian peneliti yang ada di seluruh dunia.

Salah satu yang tertarik dengan artefak tersebut adalah seorang teknisi General Electric asal Massachusetts yang bernama Willard F.M Gray. Willard sendiri mulai tertarik dengan Baterai Baghdad setelah membaca jurnal yang dibuat oleh peneliti asal Jerman tersebut setelah Perang Dunia II selesai.

Ia kemudian melakukan penelitian di General Electric High Voltage Laboratory dan mendapatkan sebuah hasil yang cukup informatif. Dirinya melakukan serangkaian percobaan dengan membuat replika artefak tersebut dan hasilnya cukup menakjubkan.

Pasalnya setelah artefak tersebut diberi cairan elektrolit, alat itu mampu menghasilkan tegangan listrik sebesar 1,5-2 volt nonstop selama hampir 18 jam. Hal inilah yang akhirnya membuat Baterai Baghdad semakin dikenal dan menjadi bahan penelitian yang menimbulkan banyak pro dan kontra.

Baterai Baghdad sendiri berbentuk seperti guci yang terbuat dari tanah liat dengan tinggi sekitar 13 cm dan diameter 8 cm. Bagi sebagian orang, benda ini tentu bukanlah sesuatu hal yang menarik. Sementara bagi para peneliti, hal ini mungkin bisa menjadi jembatan penghubung bagi kemajuan teknologi di masa depan.

Teori Tentang Baterai Baghdad

Teori Baterai Baghdad

* sumber: www.smith.edu

Penemuan Baterai Baghdad tentu membawa kabar menarik meskipun pada akhirnya menimbulkan banyak spekulasi dan pertentangan di dalamnya. Benarkah artefak berbentuk seperti guci tersebut adalah sebuah baterai? Bila hal tersebut memang benar, maka untuk apa benda itu digunakan? Pertanyaan mendasar tersebut muncul seiring popularitasnya di kalangan para ahli.

Beberapa spekulasi tentang kegunaan Baterai Baghdad pun kemudian muncul dan menjadi bahan perdebatan serius para peneliti di seluruh dunia. Salah satu pernyataan kontroversi kemudian datang dari Dr. Arne Eggebrecht, direktur di Museum Roemer and Pelizaeus di Hildesheim.

Dr. Eggebrecht menyimpulkan bahwa alat tersebut digunakan pada masa itu untuk elektroplating. Hal tersebut berdasarkan percobaan elektroplating yang diklaim pernah dilakukan olehnya. Namun hal tersebut kemudian mendapat bantahan dari banyak peneliti, termasuk dari peneliti yang ada di museum yang sama bernama Dr. Bettina Schmith.

Dr. Schmith mengatakan bahwa dirinya tidak pernah menemukan catatan di mana percobaan tersebut pernah dilakukan. Ia menegaskan bahwa percobaan tersebut mungkin belum pernah dilakukan sama sekali.

Senada dengan Dr. Schmith, beberapa peneliti juga mengatakan bahwa hal tersebut mustahil dilakukan karena tegangan listrik yang dihasilkan oleh benda tersebut tidak memadai untuk proses elektroplating. Selain itu, di daerah tempat penemuan artefak tersebut tak ada peninggalan berupa benda yang dihasilkan dari proses elektroplating.

Pendapat lain kemudian muncul dan mengaitkan benda misterius tersebut dengan praktik pengobatan. Mengingat pada masa itu, praktik pengobatan kuno yang menggunakan listrik adalah hal yang biasa, baik di Yunani maupun Mesir Kuno. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan belut listrik untuk terapi kaki.

Beberapa pendapat juga mengatakan bahwa tegangan listrik yang dihasilkan oleh benda tersebut sebagai cara untuk mengurangi rasa sakit. Namun hal itu pun terbantahkan mengingat catatan sejarah lebih banyak membahas bahan-bahan seperti opium atau anggur untuk mengurangi rasa sakit yang lebih efektif.

Selain pendapat-pendapat tersebut, ada pula yang mengganggap bahwa guci tersebut hanya sebuah guci biasa yang digunakan sebagai tempat untuk penyimpanan benda yang akhirnya menyisakan residu asam di dalamnya. Hanya saja bila hal itu memang benar, maka seharusnya ada artefak lain yang bisa ditemukan. Sementara sampai saat ini tak ada artefak lain yang mirip bisa ditemukan.

Keberadaan Baterai Baghdad memang masih menyimpan misteri yang mengajak kita untuk terus berspekulasi dan menemukan jawaban yang tepat.

Sel Galvani dan Baterai

Sel Galvani

* sumber: id.wikipedia.org

Sampai hari ini memang belum ada yang bisa memastikan Baterai Baghdad sebagai sebuah baterai mengingat adanya kelemahan dari setiap sudut pandang yang dikemukakan oleh para peneliti di seluruh dunia.

Keraguan tentang Baterai Baghdad pun sempat dikemukakan oleh seorang profesor sejarah sains dan teknologi di Smith College bernama Dr. Marjorie Senechal setelah membuat replika Baterai Baghdad untuk eksperimen mahasiswanya.

Berdasarkan eksperimen yang dilakukannya, replika dari Baterai Baghdad tersebut mampu menghasilkan tegangan listrik sebanyak 0.8-2 Volt. Menurutnya tidak ada yang bisa memastikan kegunaan benda tersebut. Namun bisa saja benda tersebut adalah baterai karena memang benda tersebut bisa dipakai untuk itu.

Hal itu dapat merujuk pada penelitian Luigi Galvani pada tahun 1780. Menurutnya, aliran listrik akan tercipta bila dua logam diletakan dalam dua cairan elektrolit yang dihubungkan dengan pipa penghubung yang diisi larutan elektrolit berupa gel (salt bridge).

Maka jika Baterai Baghdad adalah sel Galvani, maka seharusnya ada artefak lain yang serupa hingga teori bahwa artefak tersebut baterai bisa menemui titik terang.

Meskipun di masa depan artefak yang serupa bisa ditemukan, namun hal tersebut pun belum bisa menjawab keseluruhan persoalan karena pada akhirnya diperlukan jembatan penghubung agar teori Galvani bisa terealisasi.

Pada akhirnya misteri Baghdad Battery pun akan terus bergulir dan tetap menjadi misteri yang mungkin memerlukan waktu untuk bisa dipecahkan.

Nah, itulah misteri Baghdad Battery, teknologi kuno yang mengagumkan di dunia. Sebagai informasi, Baghdad telah dikenal sejak lama sebagai salah satu pusat peradaban di masa lampau dan sempat menjadi kota terbesar di dunia.

Topik Terkait:

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *