Bacaterus / Review Film Barat / Review & Sinopsis Film Midsommar, Aksi Brutal di Musim Panas

Review & Sinopsis Film Midsommar, Aksi Brutal di Musim Panas

Ditulis oleh - Diperbaharui 22 September 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Musim panas adalah waktu yang menyenangkan bagi semua orang. Namun ditangan penulis sekaligus sutradara kebangsaan Amerika Serikat, Ari Aster. Musim panas berubah menjadi hari yang mengerikan.

Setelah sebelumnya berhasil membawa mimpi buruk pada penonton lewat film berjudul Hereditary pada 2018 silam. Kini ia kembali mengulang kengerian dalam kisah lain yang berjudul Midsommar.

Nah, seperti apa ketegangan yang ditawarkan oleh Midsommar? Yuk, simak ulasan menarik yang akan Bacaterus bahas mengenai film horor yang satu ini.

Sinopsis

Sinopsis

  • Tanggal rilis : 3 Juli 2019
  • Genre:  Horor, Thriller, Misteri
  • Produksi: Square Peg, B-Reel Films
  • Sutradara: Ari Aster
  • Pemeran: Florence Pugh, Jack Reynor, William Jackson Harper, Vilhelm Blomgren, Ellora Torchia, Archie Madekwe, Will Poulter.

Midsommar bercerita mengenai perjalanan Dani (Florence Pugh) bersama pacar dan rekan-rekannya ke daerah terpencil yang ada di daratan utara Eropa bernama Halsingland, Swedia. Sejak kematian saudaranya. Gadis berambut pirang tersebut memang menjalani kehidupan dengan duka yang mendalam dan juga mengalami tekanan psikologi yang cukup hebat.

Hingga suatu waktu, Pelle (Vilhelm Blomgren) mengajak Dani untuk ikut serta menghabiskan waktu musim panas di sebuah festival musim panas yang ia sebut “Midsommar” bersama sebuah komunitas yang jauh dari peradaban bernama Harga.

Bersama kekasihnya, Christian (Jack Reynor) dan kedua teman-temannya, Mark (Will Poulter), Josh (William Jackson Harper), mereka pun pada akhirnya sepakat untuk melakukan perjalanan.

Liburan yang mereka jalani memang tampak terlihat normal dan menyenangkan sebelum kemudian berubah menjadi semakin mencekam, bahkan di luar dari perkiraan mereka sebelumnya ketika sebuah ritual diadakan.

Bermula ketika seorang kakek tua yang menjatuhkan diri di atas ketinggian. Hingga akhirnya tewas dengan pukulan palu tepat di kepala. Dari sinilah keanehan demi keanehan muncul dan mulai perlahan membuka mata Dani, sang pacar dan teman-temannya yang lain bahwa keselamatan nyawa mereka sedang dipertaruhkan.

Mimpi Buruk di Musim Panas

Mimpi Buruk di Musim Panas

Midsommar merupakan sebuah karya Aster yang cukup menarik. Bila sebelumnya, Hereditary disajikan dengan nuansa gloomy dengan tone-tone pencahayaan yang gelap dimana sebagian besar kengerian terjadi di malah hari.

Midsommar sendiri tampak sebaliknya. Sebagian besar adegan mencekam ditampilkan di bawah sinar matahari yang menyorot. Menonton film ini, sang sutradara seolah mengajak para penonton untuk merubah pikiran terhadap konsep mengerikan yang bisanya terjadi di malam hari.

Sebenarnya Midsommar sendiri bukanlah satu-satunya film dengan konsep horor di siang hari. Sebut saja The Texas Chain Saw Massacre pada 1974 dan juga Hostel pada 2005. Midsommar sendiri banyak menyajikan berbagai adegan gore yang cukup mengerikan, bahkan mungkin dua kali lebih menegangkan. Mengingat setiap adegan sadis tampak diperlihatkan dengan sangat jelas.

Midsommar memang bisa memberikan sensasi mual yang teramat sangat buruk, bahkan mungkin memberi efek psikologis penonton setelah selesai menyaksikan filmnya. Aster telah berhasil membawa pengalaman penonton untuk menyaksikan berbagai kegilaan yang terjadi di musim panas yang cerah.

Mulai dari tubuh yang hancur, perilaku sex yang mungkin dianggap menjijikkan oleh orang lain, hingga visual mengerikan yang ditampilkan dengan sangat nyata bagaikan sebuah mimpi buruk.

Menyelami Kehidupan Kaum Pagan yang Brutal

Menyelami Kehidupan Kaum Pagan yang Brutal

Aster memang cukup berhasil menyajikan film berdurasi 147 menit ini dengan banyak adegan misterius melalui perilaku anggota sekte. Setelah sebelumnya berhasil memperkenalkan para penyembah iblis Paimon di film Hereditary.

Di film keduanya ini. Aster pun kembali memperkenalkan sekte lain yang lebih gila dan sadis yang menyebut diri mereka Harga. Ia memang berhasil memvisualisasikan kehidupan kaum pagan yang misterius melalui berbagai perilaku yang tak biasa. Mulai dari gerakan tari aneh hingga berbagai simbol-simbol mengerikan yang mereka tempatkan di desa tersebut.

Penonton seakan diajak untuk menyelami kehidupan anggota sekte yang jauh dari kehidupan normal. Melalui tradisi unik, kostum, hingga tindakan-tindakan di luar batas kewajaran. Secara tersirat film ini akan membuka pengetahuan penonton pada sebuah kondisi penyakit mental yang akan semakin parah ketika berada di bawah sinar matahari yang menyorot sepanjang hari.

Cara Aster merepresentasikan kehidupan kaum pagan yang mengerikan di film memang cukup ampuh menciptakan suasana horor yang mungkin belum pernah terbayang sebelumnya dipikiran para penonton.

Berbagai Aspek Menarik dalam Midsommar

Berbagai Aspek Menarik dalam Midsommar

Midsommar adalah sebuah festival untuk merayakan siang terpanjang dalam satu tahun di daratan utara Eropa. Sesuai dengan tema yang diusung. Keseluruhan adegan mengerikan yang terjadi di film ini memang terjadi pada siang hari.

Konsep inilah menjadikan Midsommar cukup berbeda dengan film horor sejenis. Di awal cerita penonton sendiri akan disuguhkan dengan bentang alam yang cukup memanjakan mata. Berlatar di sebuah desa terpencil yang dihiasi berbagai flora menakjubkan. Penonton akan dibuat terpesona dengan bunga-bunga khas musim panas yang berada diantara hamparan rumput hijau yang luas.

Semakin menarik ketika tim produksi menghadirkan bangunan-bangunan klasik yang menambah nilai estetik tersendiri. Begitu pun simbol-simbol unik yang dapat memberi kesan misterius. Bagi sebagian orang film ini mungkin akan terasa membosankan di awal. Mengingat alur cerita dalam filmnya sendiri memang cenderung berjalan lambat.

Akan tetapi secara perlahan penonton pun akan dibawa membuka tabir misteri yang terjadi di desa tersebut sehingga membuat tensi cerita semakin menarik. Meskipun tidak memiliki adegan jumpscare, namun kegilaan yang dipertontonkan dalam film ini merupakan kejutan yang sepadan.

Meskipun pada saat pemutarannya di tanah air, film yang mengandung banyak adegan sadis serta muatan seksual tersebut harus mengalami banyak potongan oleh badan sensor Indonesia. Akan tetapi Midsommar sendiri tidak kehilangan esensinya sebagai film horor.

Kualitas Para Pemain yang Baik

Kualitas Para Pemain yang Baik

Karakter Dani yang diperankan oleh Florence Pugh memang cukup memukau. Pugh dianggap berhasil memberikan jangkauan akting yang cukup maksimal dalam setiap momen melalui ekspresinya. Totalitasnya ketika memerankan sosok wanita dengan sikap depresif, tertutup, dan sulit dimengerti oleh orang-orang di sekitarnya memang patut diacungi jempol.

Pugh berhasil membawa emosi penonton dengan karakternya tanpa kehilangan sifat humanisnya. Pugh memang tampil mempesona, namun penampilan para pemeran pendukung lainnya seperti Vilhelm Blomgren, Will Poulter, William Jackson Harper dan Jack Reynor pun ikut andil dalam menghidupkan jalan cerita.

Kepiawaian Aster dalam menempatkan setiap karakter di setiap adegan memang cukup mengesankan. Meskipun pada akhirnya harus diakui kehadiran Pugh sebagai tokoh utama dalam film adalah yang paling berhasil membawa ruh dalam film ini.

Nah sekian review Midsommar, aksi brutal di musim panas. Secara keseluruhan film yang satu ini memang cukup menarik. Dengan banyaknya unsur kekerasan yang dihadirkan, film garapan Aster ini memang bisa membuat penonton menutup mata. So, bagi kamu yang menyukai film horor dengan banyak adegan berdarah. Midsommar pun bisa menjadi tontonan yang menarik.

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *