bacaterus web banner retina
Cari kata/istilah

Menter

Dalam bahasa Jawa, "menter" memiliki makna yang positif dan penuh dengan kebajikan. "Menter" berarti tegar, sabar, dan tabah. Seseorang yang digambarkan sebagai "menter" adalah individu yang mampu menghadapi berbagai masalah, ujian, dan cobaan dengan ketenangan dan kekuatan hati.

Orang yang menter menunjukkan ketahanan mental yang kuat, tidak mudah goyah oleh situasi sulit, dan memiliki kemampuan untuk tetap tenang di tengah badai kehidupan. Ini adalah sifat yang sangat dihargai dalam budaya Jawa, di mana keteguhan hati dan kesabaran dianggap sebagai kebajikan penting.

Asal Muasal Istilah Menter

Istilah “menter” sebenarnya memiliki arti yang berbeda-beda, tergantung pada asal daerahnya. Jika dalam bahasa Jawa “menter” berasal dari kata yang menggambarkan sifat atau keadaan seseorang yang tegar, sabar, dan tabah.

Istilah ini digunakan untuk memuji seseorang yang mampu menghadapi berbagai tantangan hidup dengan tenang dan kuat. Seorang yang disebut "menter" adalah individu yang memiliki ketahanan mental dan emosional yang luar biasa, tidak mudah goyah oleh masalah atau cobaan yang datang.

Sebaliknya, dalam bahasa Sunda, kata "menter" memiliki arti yang sangat berbeda dan jauh dari makna dalam bahasa Jawa. Dalam bahasa Sunda, "menter" berarti mulai timbul rasa birahi. Kata ini digunakan untuk menggambarkan munculnya perasaan atau dorongan seksual.

Contoh Penggunaan Istilah Menter

Berikut adalah dua contoh percakapan sehari-hari yang menggunakan istilah “menter” dalam Bahasa Jawa dan Bahasa Sunda:

Dialog 1: Dalam Bahasa Jawa

Ani: "Pakdhe, aku salut banget karo Mas Rudi. Dheweke pancen menter tenan."

(Ani: "Paman, saya sangat kagum dengan Mas Rudi. Dia benar-benar tegar sekali.")

Pakdhe: "Iya, Ani. Mas Rudi iku memang wong sing sabar lan tabah. Mbiyen, waktu keluargane kena musibah, dheweke tetep kuat lan ora gampang menyerah."

(Pakdhe: "Iya, Ani. Mas Rudi itu memang orang yang sabar dan tabah. Dulu, saat keluarganya terkena musibah, dia tetap kuat dan tidak mudah menyerah.")

Ani: "Aku pengin iso dadi wong sing menter kaya Mas Rudi."

(Ani: "Aku ingin bisa menjadi orang yang tegar seperti Mas Rudi.")

Dialog 2: Dalam Bahasa Sunda

Dedi: "Aduh, Tedi, kumaha ieu teh? Abdi mimiti menter ka Siti."

(Dedi: "Aduh, Tedi, bagaimana ini? Aku mulai tertarik secara seksual sama Siti.")

Tedi: "Wah, Dedi, ulah buru-buru kitu. Anu penting, sing serius jeung bertanggung jawab."

(Tedi: "Wah, Dedi, jangan buru-buru begitu. Yang penting, harus serius dan bertanggung jawab.")

Dedi: "Muhun, tapi hampura, abdi hoyong pisan ngadeukeutan anjeunna."

(Dedi: "Iya, tapi maaf, aku sangat ingin mendekatinya.")

cross