Bacaterus / Parenting / 8 Cara Menghadapi Anak yang Mulai Memasuki Masa Pubertas

8 Cara Menghadapi Anak yang Mulai Memasuki Masa Pubertas

Ditulis oleh - Diperbaharui 21 Maret 2019

Masa pubertas merupakan masa-masa yang pernah dialami oleh hampir semua orang. Masa-masa ini biasanya terjadi pada usia remaja yaitu 8-16 tahun. Pada masa pubertas ini, para remaja akan mulai memiliki ketertarikan terhadap lawan jenis dan mulai mengenal percintaan atau yang lebih kita kenal sebagai “Cinta monyet”.

Masa pubertas adalah masa yang sangat menyenangkan karena remaja yang mengalami masa ini biasanya akan memiliki tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi. Akan tetapi, masa pubertas juga merupakan masa yang harus diawasi oleh para orang tua agar anak-anak yang sedang mengalami masa pubertas ini dapat terarahkan sebagaimana mestinya.

Tingkat kekhawatiran orang tua biasanya meningkat ketika para anak-anaknya mulai memasuki masa pubertas. Namun masa pubertas ini tak dapat ditolak atau dihentikan, akan tetapi sebagai orang tua yang baik, kita harus membimbing para anak kita yang mulai memasuki usia puber dengan cara memperhatikannya agar tidak menyalah artikan masa pubernya.

Lalu bagaimana cara menghadapi anak yang mulai memasuki masa puber agar mudah diterima oleh sang anak dengan baik tanpa salah arti? Simak cara-cara dari Bacaterus ini.

10 Cara Menghadapi Anak yang Memasuki Pubertas

1. Beri Pengetahuan Seputar Masa Puber

Beri Pengetahuan Seputar Masa Puber

* sumber: www.today.com

Seperti yang telah dikatakan di atas, bahwa masa puber merupakan masa yang tak bisa kita sebagai orang tua hindari. Masa puber bisa membawa dampak positif bagi pertumbuhan anak, akan tetapi juga dapat menjerumuskan anak pada dunia yang “hitam” maka dari itu, solusinya adalah memberikan pengetahuan seputar masa puber.

Berikanlah pemahaman mengenai dampak positif serta negatif dari masa puber agar anak mampu memfilter berbagai hal yang terjadi pada masa pubernya. Dengan demikian, anak akan merasa terarahkan karena mendapat perhatian khusus dari orang tua dan terhindar dari berbagai hal yang tidak diinginkan.

2. Luangkan Waktu Ngobrol Bersama Anak

Luangkan Waktu Ngobrol Bersama Anak

* sumber: www.suicideinfo.ca

Beberapa kasus menjadi bukti bahwa salah satu penyebab kenakalan remaja adalah kurangnya perhatian serta kasih sayang orang tua. Maka dari itu, peranan orang tua dalam meluangkan waktu untuk mengajak para buah hatinya mengobrol ringan hingga serius sangat diperlukan.

Ajaklah sang buah hati mengobrol tentang kesenangannya kemudian bicarakan hal-hal serius namun dengan cara yang baik. Berikan perhatian sebanyak mungkin pada sang anak agar anak merasa lebih nyaman dan tak haus akan kasih sayang. Sesibuk apapun pekerjaan para orang tua, hubungan sosial dengan keluarga terutama anak jangan pernah terputus.

3. Beri Pemahaman Mengenai Seks dan Narkoba

Beri Pemahaman Mengenai Seks dan Narkoba

* sumber: www.videoblocks.com

Narkoba atau obat-obatan terlarang tak lagi hanya digunakan oleh para orang dewasa, tetapi juga para remaja yang mulai memasuki masa puber bahkan hingga anak-anak di bawah umur. Narkoba juga menjadi masalah besar bagi bangsa Indonesia karena peredarannya yang sulit dikendalikan.

Bukan hanya narkoba yang menjadi masalah besar di negeri ini, seks bebas juga menjadi hal besar yang sudah marak terjadi dan harus kita perangi semaksimal mungkin. Beberapa kasus mengenai seks bebas terjadi di Indonesia dengan akhir yang sangat tragis yaitu menggugurkan janin dalam kandungan hingga membunuh bayi hasil hubungan terlarang.

Mirisnya, kebanyakan pelaku dari kedua hal negatif tersebut adalah remaja dengan usia pubertas. Untuk itu, kita sebagai orang tua harus memberikan pemahaman mengenai narkoba dan seks bebas agar sang buah hati terhindar dari kedua hal negatif tersebut.

4. Ketahui Aktivitas Anak Di Luar Rumah

Ketahui Aktivitas Anak Di Luar Rumah

* sumber: www.coachup.com

Bukan hanya memberikan pengetahuan mengenai masa puber bersama dampak positif dan negatifnya, tetapi kita sebagai orang tua harus terjun secara langsung dalam mengontrol aktivitas anak di luar rumah. Jangan sampai kita dibuat kecewa karena sifat anak yang kita nilai baik di dalam rumah tetapi bertolak belakang dengan ia di luar rumah.

Sebagai orang tua, kita harus mengontrol dan mengetahui apa saja yang dilakukan anak dimulai dari bangun tidur hingga ia kembali tidur. Pergi kemana sang anak seharian? Dengan siapa ia pergi? Dan hal lain sebagainya. Namun perlu menjadi catatan bahwa mengontrol anak bukan berarti harus mengekangnya agar tidak pergi kemana pun, ya.

5. Ajar untuk Tidak Terlibat dengan Kenakalan Remaja

Ajar untuk Tidak Terlibat dengan Kenakalan Remaja

* sumber: www.parenttoolkit.com

Kenakalan remaja bukan hanya tentang narkoba dan seks bebas saja, lebih jauh dari itu kenakalan remaja sangat luas cakupannya dimulai dari hal terkecil di sekeliling kita. Kenakalan remaja tersebut dapat berupa perkumpulan seperti geng atau kelompok yang melakukan aktivitas tak sewajarnya seperti “geng motor”

Untuk itu, ajarkanlah anak kita mengenai bahayanya pergaulan bebas. Selain itu, pastikan anak kita tak ikut serta dengan pergaulan bebas yang membawa pengaruh negatif terhadap kesehatan mental serta perkembangan masa remajanya.

6. Nasihati Anak

Nasehati Anak

* sumber: www.videoblocks.com

Memberikan pemahaman serta bimbingan mengenai masa puber pada buah hati agar tidak terjerumus pada kenakalan remaja merupakan tugas orang tua. Namun tak hanya disitu, para orang tua juga harus memberikan nasehat positif pada anak ketika sang anak membuat suatu kesalahan.

Nasehat yang dimaksudkan dapat berupa teguran atau tindakan tegas asalkan dengan catatan bahwa nasehat tersebut berisi didikan yang cerdas dan tegas agar sang anak menyadari kesalahannya serta tidak melakukan kesalahan yang sama di lain waktu.

7. Tidak Berbicara dengan Keras dan Berlebihan

Tidak Berbicara dengan Keras dan Berlebihan

* sumber: www.careleader.org

Memberikan pemahaman dan menasihati anak dilarang dengan cara yang salah. Yang dimaksud dengan cara yang salah adalah waktu saat menyampaikan nasihat, bahasa yang digunakan, intonasi yang dikeluarkan, serta gerak tubuh tidak tepat sesuai porsinya. hal tersebut harus selalu diperhatikan agar penyampaian nasehat dapat berjalan baik.

Para orang tua harus pandai memilih suasana yang tepat untuk menasihati sang anak dimana kondisi sang anak harus sedang baik pula. selain itu tempat menasihati sang anak juga harus diperhatikan, jangan sampai menasihati sang anak di keramaian karena hal tersebut akan membuat sang anak merasa malu.

Suasana yang tepat harus dipilih agar proses penyampaian nasihat dapat berjalan dengan baik dan lancar tanpa adanya kesalahpahaman anak dalam menangkap nasihat.

8. Ajak Anak untuk Melakukan Aktivitas Positif

Ajak Anak untuk Melakukan Aktivitas Positif

* sumber: www.guideposts.org

Selain mengawasi anak yang tengah memasuki masa pubertas dengan suasana hati yang masih labil, peran orang tua selanjutnya yaitu mengarahkan sang anak pada kegiatan lain yang lebih positif dan meninggalkan kegiatan yang dirasa kurang bermanfaat agar sang anak dapat menikmati masa pubertasnya dengan baik dan positif.

Beberapa kegiatan positif dapat dipilih orang tua untuk anaknya seperti misalnya kegiatan keagamaan yang bermanfaat dan lebih mendekatkan diri pada Tuhan. Bukan hanya itu, masih banyak lagi kegiatan positif yang bisa dipilih agar sang anak menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan terhindar dari segala hal yang tidak diinginkan.

Itu dia beberapa hal yang harus para orang tua lakukan dalam menghadapi anak yang tengah memasuki masa pubertas agar para anak tidak menyalah artikan masa pubertas tersebut. mengingatkan kembali bahwasannya kita sebagai orang tua tidak bisa menghindari masa pubertas yang dialami oleh para buah hati akan tetapi kita bisa membimbingnya agar tak terjerumus pada jalan yang salah.

Semoga informasi mengenai cara menghadapi anak yang mulai memasuki masa pubertas sebagaimana yang telah kami paparkan di atas dapat bermanfaat bagi kita semua khususnya para orang tua yang selalu khawatir terhadap sang buah hati yang tengah memasuki masa pubertas.

Untuk semua saran dan masukkannya silahkan tulis pada kolom komentar di bawah ini. Sampai jumpa di artikel-artikel selanjutnya!

Topik Terkait:
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on pinterest
Pinterest
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Baca Juga

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *