bacaterus web banner retina

Mengenal Metode Hisab dan Rukyat, Penentu Dimulainya Puasa

Ditulis oleh Desi Puji Lestari - Diperbaharui 26 Maret 2021

Setiap tahunnya, pada saat menjelang atau akan memasuki bulan Ramadhan, pemerintah yang diwakili Kementrian Agama sibuk dengan sidang isbat yang diselenggarakan guna menentukan awal bulan Ramadhan itu sendiri. Pelaksanaan sidang isbat diselenggarakan guna memutuskan hasil pengamatan gerak bulan terhadap Bumi.

Menentukan awal bulan Ramadhan merupakan salah satu agenda penting bagi pemerintah sebagai penyelenggara kehidupan bernegara. Sebagai negara dengan mayoritas umat Muslim, agenda tersebut ditunggu-tunggu karena menentukan kapan puasa Ramadhan dimulai.

Selama ini kita kerap mendengar metode hisab dan rukyat selama sidang isbat berlangsung. Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan dua metode tersebut? Bagaimana dan berdasarkan apa para ulama memutuskan waktu pelaksanaan puasa Ramadhan di Indonesia? Ingin tahu lebih lanjut mengenai hal itu? Anda bisa mendapatkan informasinya melalui artikel di bawah ini. Simak yuk!

Mengenal Metode Hisab

Sumber: kalsel.kemenag.go.id

Secara sederhana, metode Hisab merupakan metode yang dilakukan guna menghitung posisi matahari dan bulan. Hisab sendiri bermakna perhitungan (‘adda). Metode ini berarti juga mengukur (qaddara). Sesuatu yang dihitung di sini adalah pergerakan posisi hilal menjelang akhir bulan dan awal bulan, terutama saat memasuki awal Ramadhan.

Para ahli ilmu astronomi atau dalam dunia Islam disebut ahli falak punya tanggungjawab besar setiap menjelang Ramadhan. Perhitungan hisab yang dilakukan oleh mereka selalu ditunggu dan diandalkan karena para ahli falak tersebut dapat memperkirakan posisi bulan dan matahari terhadap bumi secara akurat.

Benarkah Banyak ulama kontemporer pada akhirnya menggunakan metode yang digunakan para ahli astronomi ini. Di sisi lain, beberapa ulama berpendapat dan menganggap bahwa metode hisab secara murni, dinilai sebagai bid’ah. Terutama jika metode ini tidak diimbangi atau disertai dengan hasil dari metode Rukyat. Lalu apa yang dimaksud dengan metode Hisab Murni?

1. Metode Hisab Murni/Hakiki

Sumber: ayobandung.com

Metode Hisab murni dimaknai sebagai sebuah metode yang menafsirkan keberadaan hilal menggunakan ilmu. Artinya, mereka yang menggunakan metode Hisab murni tidak perlu melihat wujud hilal itu sendiri tapi yakin dan bisa memprediksi bahwa hilal sudah tampak meskipun sesungguhnya tidak atau belum terlihat.

Setidaknya ada tiga kriteria yang harus dipenuhi dalam penghitungan metode Hisab murni, yaitu ada Ijtimak atau konjungsi, Ijtimak terjadi sebelum matahari tenggelam, dan saat matahari tenggelam, piringan atas bulan ada di atas ufuk yang artinya bulan baru telah mewujud. Apabila ada satu kriteria yang tidak terpenuhi, maka belum terhitung masuk bulan baru.

2. Elemen Penting dalam Metode Hisab

Sumber: hijup.com

Dalam metode Hisab, posisi keberadaan matahari adalah salah satu hal penting karena ia menjadi patokan dalam menentukan waktu-waktu dalam beribadah, seperti shalat. Sementara itu, posisi bulan juga tidak kalah penting karena digunakan untuk memperkirakan penanda masuknya bulan baru di dalam sistem kalender Hijaiyah. Artinya ia menjadi penentu dimulainya Ramadhan, Syawal (Idulfitri), Dzulhijjah atau saat jamaah haji melakukan wukuf di Arafah dan Iduladha.

Pelaksanaan ibadah dalam Islam mengandalkan dan terkait langsung dengan posisi benda langit. Oleh karena itu, sejak awal, peradaban Islam punya perhatian khusus terhadap ilmu astronomi. Beberapa Astronom muslim terkenal yang mengembangkan metode Hisab modern antara lain Al Biruni, Al Khawarizmi, Ibnu Tariq, Habash dan Al Batani.

Perkembangan zaman membuat pelaksanaan metode Hisab semakin canggih, yaitu dengan memanfaatkan komputer yang telah dilengkapi dengan software sehingga hasilnya pun akurat dan presisi. Setelah metode Hisab memperlihatkan hasil, metode Rukyat digunakan setelahnya. Lalu apa itu metode Rukyat?

Baca juga: Tips Agar Tetap Semangat Kerja Selama Bulan Puasa

Mengenal Metode Rukyat

Sumber: bingar.id

Sebelum memasuki penjelasan yang lebih teknis, secara sederhana metode Rukyat bisa dipahami sebagai upaya mengamati penampakan hilal sesaat setelah matahari tenggelam menjelang awal Ramadhan. Hilal sendiri artinya adalah bulan sabit muda pertama atau The First Visible Crescent.

Di zaman Nabi Muhammad Saw disebutkan bahwa metode penentuan bulan baru dilakukan dengan cukup sederhana. Mereka hanya perlu menantikan peristiwa tenggelamnya matahari di hari ke 29 kemudian cari kemunculan hilal. Jika setidaknya ada dua orang yang melihat hilal, maka dipastikan sudah menginjak bulan baru.

Sebagai informasi, dalam kalender Hijriyah perhitungan hari dihitung saat matahari tenggelam. Ini berkaitan dengan peredaran bulan mengelilingi Bumi. Setiap pergantian bulan, selalu diawali dengan penampakan hilal di kaki langit saat matahari tenggelam. Seperti yang kita tahu waktu yang dibutuhkan bulan untuk mengelilingi Bumi adalah sekitar 29,531 hari.  Itulah mengapa penghitungan awal bulan (pemeriksaan hilal) selalu dilakukan setiap tanggal 29.

Setiap harinya, kita yang berada di Bumi melihat penampakan bulan terus berubah.  Perubahan tersebut mengakibatkan wajah bulan ikut berubah. Ketika posisinya semakin jauh dari matahari, cahaya bulan akan lebih luas atau besar. Perubahan ini sekaligus memperlihatkan bahwa bulan sabit adalah penanda akhir atau awal bulan baru, sementara bulan purnama penanda kita semua berada di tengah-tengah bulan (tanggal 15).

Berdasarkan perubahan wajah bulan, lahir sebuah metode yang dikenal dengan nama rukyatulhilal. Secara bahasa, rukyatulhilal dipisahkan menjadi Rukyat  (melihat) dan Hilal (bulan sabit), bila digabungkan maknanya kurang lebih melihat hilal atau upaya melihat bulan sabit baru saat matahari tenggelam, baik menggunakan alat atau mata telanjang.

Kendala dalam Melaksanakan Hisab dan Rukyat

Sumber: infoastronomy.org

Metode Hisab dan Rukyat yang digunakan untuk menentukan awal Ramadhan kerap terkendala kondisi cuaca, terutama apabila langit masih terang sekalipun matahari sudah tenggelam. Jika sudah demikian, Hilal akan sulit dilacak keberadaannya, entah karena samar atau sama sekali tidak terlihat. Kendala ini juga berlaku apabila langit dalam keadaan mendung saat matahari tenggelam.   

Selain itu kemunculan Hilal juga tidak pernah lama. Bulan sabit tersebut biasanya hanya menampakkan diri selama 15 menit hingga 60 menit. Setelahnya, ia akan ikut tenggelam bersama matahari. Hal ini disebabkan oleh pergerakan rotasi Bumi yang lebih cepat daripada revolusi bulan.

Bila Anda melihat Bumi dari ufuk barat, matahari, Hilal, serta cakrawala membentuk segitiga. Horison (garis pertemuan antara langit dan Bumi) sebagai garis di bagian bawah, Hilal sebagai titik atas dan matahari sebagai titik bawah. Perlu diketahui bahwa jarak antara bulan dengan horizon dikenal dengan istilah sudut azimut, sementara garis antara bulan dan matahari dikenal dengan nama elongasi.

Agar Hilal dapat terlihat, setidaknya ia harus berada pada sudut azimut lebih 2 derajat dari matahari. Ringkasnya, bulan sabit tersebut posisinya harus berada di atas matahari. Jika tidak berada pada posisi itu, bulan akan terlihat berada pada satu jajar dengan matahari. Hasilnya, Hilal segera ikut tenggelam saat langit sedikit gelap.  Posisi tersebut dinamakan juga dengan Ijtimak.

Untuk dapat melihat Hilal tanpa alat bantu, atau dengan mata telanjang, setidaknya ia harus berada pada posisi 7 derajat. Apabila kurang dari posisi itu, Anda perlu bantuan teleskop untuk melihatnya. Sementara itu, teleskop sendiri bisa melihat Hilal saat ia berada pada posisi 3 derajat. Kurang dari itu, Hilal tidak terlihat sebab berjarak terlalu dekat dengan matahari.

Dua Metode Penentuan Ramadhan yang Saling Terkait

Sumber: siedoo.com

Dilihat lalu disimpulkan, kita bisa memahami bahwa metode Hisab dan Rukyat merupakan dua metode saling terkait yang digunakan ulama untuk menentukan awal Ramadhan. Dalam metode Hijab, para ulama melihat pola, membaca kriteria sesuai rumus lalu memprediksi posisi Hilal, sementara metode Rukyat mempercayakan pada pengalaman melihat tanda kehadiran Hilal. Sederhananya, Hisab menghitung serta mengukur keberadaan Hilal dan Rukyat mengonfirmasinya.

Lalu, bagaimana dengan perbedaan waktu pelaksanaan Ramadhan yang beberapa kali pernah terjadi di Indonesia? Semuanya disebabkan oleh metode dalam penentuan kriteria awal bulan yang berbeda-beda. Apakah sudah sedikit tercerahkan seperti apa dan bagaimana metode Hisab dan Rukyat digunakan dalam menentukan awal Ramadhan? Semoga informasi pada artikel ini dapat menambah wawasan Anda ya dan tidak bingung lagi oleh perbedaan waktu pelaksanaan puasa yang terjadi di masyarakat.

Tag: 
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram