bacaterus web banner retina
Bacaterus / Review Film / Sinopsis dan Review Film Indonesia Mariposa (2020)

Sinopsis dan Review Film Indonesia Mariposa (2020)

Ditulis oleh Desi Puji Lestari - Diperbaharui 1 Juni 2021

Sukses beradu akting dalam film Dua Garis Biru, Angga Yunanda dan Adhisty Zara kembali dipertemukan dalam film Mariposa produksi Falcon Pictures. Cerita yang diangkat dari novel laris karya Luluk HF ini resmi dirilis di bioskop pada 12 Maret 2020 lalu. Namun, saat ini ia bisa disaksikan di Netflix.

Mariposa bercerita tentang seorang siswi cantik dan pintar bernama Acha yang jatuh cinta pada siswa berhati dingin dan sulit didekati bernama Iqbal. Berada satu tim untuk mengikuti Olimpiade Sains, keduanya semakin dekat, tapi apa mungkin hal tersebut bisa mencairkan gunung es di hati Iqbal? Jika penasaran, Anda bisa langsung menontonnya, tapi  menyimak ulasan dan sinopsisnya lebih dulu pada artikel di bawah ini juga tidak salah, kan? Berikut informasinya!

Sinopsis

Sinopsis
  • Tanggal/Tahun Rilis: 12 Maret 2020
  • Genre:  Remaja, Cinta, Sekolah, Komedi
  • Produksi: Falcon Pictures, Kharisma Starvision Plus
  • Sutradara: Fajar Bustomi
  • Pemeran: Angga Yunanda, Adhisty Zara, Dannia Salsabilla, Abun Sungkar

Natasha Kay Loovy (Adhisty Zara) adalah murid baru di SMA Arwana. Dia siswi yang pintar, cantik dan supel. Sejak kepindahannya ke sekolah tersebut dia naksir dengan seorang siswa ambis bernama Iqbal Guanna Freedy (Angga Yunanda). Iqbal terkenal karena sifatnya yang dingin terhadap wanita. Kesehariannya selalu diisi dengan belajar dan hanya memikirkan itu.

Tanpa malu dan kode-kode, Natasha atau dipanggil Acha langsung memperlihatkan kesukaannya pada Iqbal. Dia tidak segan mengutarakan perasaan dan langsung meminta nomor telepon lelaki pujaannya tersebut. Reaksi Iqbal? Tentu saja dingin seperti es.

Acha sudah diingatkan oleh Amanda (Dannia Salsabilla) bahwa Iqbal sangat sulit didekati. Namun gadis itu tidak pantang menyerah dan optimis dengan kemungkinan terbaik. Suatu hari mereka berada dalam satu tim yang sama untuk maju ke Olimpiade Sains. Acha meraih nilai tertinggi untuk Kimia sedangkan Iqbal tidak tertandingi di mata pelajaran Fisika, sementara Juna (Syakir Daulay) jago untuk mata pelajaran Matematika.

Acha merasa kesempatannya untuk dekat dengan Iqbal semakin terbuka lebar. Namun, perjuangan Acha tampaknya masih cukup panjang. Hingga gadis itu memberanikan diri untuk nembak pun, Iqbal tetap tidak membalas perasaannya dan menunjukkan ketertarikan.

Iqbal yang sensitif terhadap sinar matahari pagi, suatu hari tidak mengikuti upacara dan memilih berdiam di UKS sambil membaca buku. Acha yang mengetahuinya segera menyusul. Sejurus kemudian, Acha mengunci pintu agar Iqbal tidak bisa meninggalkannya nyerocos sendirian. Tak lama, seorang guru datang dan melihat dua remaja tersebut berada dalam UKS yang terkunci. Acha mengaku bahwa mereka sedang berpacaran.

Akibat hal impulsif yang dilakukan Acha, keduanya dihukum membersihkan pinggir kolam renang. Acha lalu pura-pura tercebur dan tenggelam. Iqbal yang semula tidak mau menolong karena mengira itu hanya akal-akalan mulai terpancing dan masuk perangkap saat Acha tidak segera kembali ke permukaan. Iqbal marah lalu giliran dia yang tenggelam.

Acha berubah panik, dia lantas menyelamatkan Iqbal dengan memberi napas buatan. Di rumah, Acha demam sementara Iqbal harus masuk rumah sakit. Alih-alih diperhatikan, sang ayah, Pak Bov (Ariyo Wahab) justru menyalahkannya karena terlalu banyak bermain dan mengambil handphone milik Iqbal. Bov lantas meminta sang putra untuk membaca buku dan meninggalkan anaknya di rumah sakit sendirian.

Bov berambisi untuk membentuk anaknya menjadi berprestasi di segala bidang. Dia iri dengan pencapaian orang lain yang bisa membuat anaknya mendapat beasiswa ke universitas bergengsi. Tak lama Acha menelepon dan secara kebetulan dijawab oleh Bov.

Hal yang terjadi selanjutnya adalah Bov melarang Acha mendekati Iqbal. Setelah diberi peringatan, Acha tidak mundur, gadis itu malah berpikir bahwa Iqbal menyukainya. Di sisi lain, Iqbal panik karena di grup sekolah, gosip antara dirinya dan Acha berciuman tersebar.

Usaha Acha mendapatkan Iqbal tidak kenal menyerah. Hingga Iqbal mulai terganggu dan menegaskan bahwa dia tidak menyukainya. Mereka bagai air dan minyak yang tidak mungkin bersatu. Acha terlihat sedih tapi dia masih mau berjuang. Amanda akhirnya menyarankan temannya itu untuk bersikap cuek selama tujuh hari. Setelah tujuh hari, lihat reaksi Iqbal, jika lelaki itu semakin menjauh, maka lupakan.

Acha baru melakukan rencana tersebut selama empat hari tapi tampaknya sudah mulai berhasil karena Iqbal berbalik menunjukkan perhatian kecil. Amanda menyarankan Acha untuk terus tahan menyelesaikan rencananya hingga hari ke tujuh. Di hari ke lima, Acha tiba-tiba mimisan dan oleh Pak Bambang (Iszur Muchtar), Iqbal diminta mengantarnya pulang.

Selama di perjalanan pulang, Acha benar-benar melupakan rencananya untuk tetap dingin terhadap Iqbal. Gadis itu kembali ke sifatnya yang cerewet, heboh sendiri dan jujur. Di rumah keadaan Iqbal dan sang ayah tetap tegang. Kondisi semakin buruk karena Acha spam chat dan diketahui oleh ayah Iqbal.

Keesokan harinya di sekolah, untuk ke sekian kalinya, Iqbal menegaskan dan meminta Acha untuk berhenti bersikap seolah-olah mereka berdua adalah pasangan. Iqbal yang sudah sangat geram mengeluarkan kata-kata kasar dan menyebut gadis itu sebagai murahan. Apakah dengan sikap yang kasar, Acha mau bberhenti dari mengejar Iqbal?

Color Grading yang Lembut dan Manis

Color Grading yang Lembut dan Manis

Film yang dibuat berdasarkan cerita novel laris berjudul Mariposa karya Luluk HF ini punya tone warna atau color grading yang lembut dan manis. Sejak menit pertama, warna-warna pastel mendominasi layar. Pemilihan warna baju seragam pun disesuaikan dengan tone-nya, yaitu baby pink dan baby blue. Belum lagi aneka pernak-pernik atau set furniture yang sama-sama berwarna demikian.

Dengan tampilan warna seperti itu film Mariposa sangat pas dan satu tema dengan premisnya. Ia mendukung jalan cerita yang ceria, penuh cinta, semangat, perasaan sendu dan romantis. Mariposa memanjakan mata para pencinta warna-warna tenang melalui pemilihan tone warnanya tersebut.

Kisah Cinta Remaja yang Ringan dan Punya Pesan

Kisah Cinta Remaja yang Ringan dan Punya Pesan

Tidak ada yang berat dari konflik yang ada dalam cerita film Mariposa. Semuanya berputar di kehidupan Acha, seorang siswi yang cantik, pintar, ceria, pantang menyerah, dan jujur terhadap perasaannya. Dilihat secara sekilas, hidup Acha serba mulus, tidak ada konflik berat yang membuatnya frustasi sebagai seorang remaja. Acha tidak kekurangan materi atau pun kasih sayang dan dukungan dari keluarganya.

Masalah dalam hidup Acha ‘mentok’ di kisah cintanya. Acha naksir seorang siswa sejak pertama bertemu. Dia terbiasa mengejar apa pun yang dia inginkan, sehingga Acha tidak pantang menyerah mendapatkan cowok incarannya itu. Walau diperlakukan dingin hingga dihina dengan kata kasar, Acha tidak berhenti menyukainya.

Walau cukup ringan dan alurnya tidak membuat kepala pusing karena ikut berpikir, Mariposa punya pesan yang disampaikan melalui karakter-karakternya. Lewat karakter Acha yang selalu jujur terhadap perasaannya atau Iqbal yang pada akhirnya berani menyampaikan keinginannya. Selepas menonton film ini, Anda akan dapat ‘sesuatu’. Terutama mengenai keberanian, kejujuran dan kegigihan terhadap perasaan dan keinginan diri sendiri. 

Premis Tidak Ada yang Berbeda

Premis Tidak Ada yang Berbeda

Mariposa yang berarti Kupu-kupu dalam bahasa Spanyol sebenarnya punya premis yang biasa saja. Tidak ada yang berbeda dari ide cerita film ini. Penggunaan istilah kupu-kupu merujuk pada karakter Iqbal yang sulit didekati, sama seperti kupu-kupu. Selebihnya, Mariposa mengalir seperti film-film televisi untuk remaja kebanyakan. Akhir cerita menjadi sangat mudah ditebak dan tak ada kejutan yang berarti.

Namun, lagi-lagi film semacam ini punya daya tariknya tersendiri. Jalan cerita yang receh dalam film Mariposa nyatanya bisa menghibur banyak orang. Novelnya pun sudah dinikmati oleh belasan ribu pembaca. Sesuatu yang sederhana seperti ini bisa terasa sangat menghibur di saat yang tepat.   

Jika Anda sedang butuh tontonan yang ringan, gemas, manis sekaligus punya moral value, film Mariposa karya Fajar Bustomi bisa masuk dalam pilihan. Walau tentu saja film ini masih banyak kekurangan di sana-sini, terutama dari segi pengembangan karakter yang cenderung begitu saja sejak pertama, unsur komedi yang dipaksakan melalui beberapa karakternya  dan ending yang terasa buru-buru. 

Apa pun itu, film ini ada untuk menghibur. Mengajak siapa pun bersenang-senang bersama Adhisty Zara dan Angga Yunanda. Tertarik dan penasaran? Mariposa bisa Anda saksikan di Netflix saat ini juga! Selamat menonton!

Mariposa
7.5 / 10 Bacaterus.com
Rating

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram