Bacaterus / Parenting / 10 Manfaat Positif dalam Membuat Kesepakatan dengan Anak

10 Manfaat Positif dalam Membuat Kesepakatan dengan Anak

Ditulis oleh - Diperbaharui 29 Januari 2019

Pernahkah Ayah Bunda melihat atau mengalami Anak yang ngambek atau tantrum saat berbelanja bersama karena dia belum boleh membeli sesuatu yang dia inginkan? Bagaimana perasaan Ayah Bunda? Malu, kesal, marah sedih?

Tak jarang kita sebagai orang tua melakukan hal yang di luar kesadaran kita seperti marah, berteriak, menarik mereka, atau menyerah pada anak dan pada akhirnya memberikan Anak Anda apa yang mereka inginkan karena malu dilihat orang. Pernahkah bingung menghadapi anak dalam kondisi demikian?

Sebelum menyalahkan anak, kita sebagai orang tua bisa mengintrospeksi cara kita menghadapi anak, karena anak adalah cermin diri kita. Salah satu yang menyebabkan anak mudah ngambek adalah karena kita sebagai orang tua lupa atau malas membiasakan membuat kesepakatan dengan anak. Malas mengantisipasi hal terburuk yang kita hadapi dalam mendidik anak.

Kesepakatan berbeda dengan aturan. Aturan biasanya dibuat secara sepihak dari orang tua sifatnya memaksa, sementara kesepakatan adalah hasil musyawarah dan bersama-sama ditaati sebagai tanggung jawab bersama yang harus dijalankan. Aturan biasanya melahirkan keterpaksaan, sementara kesepakatan melahirkan rasa merdeka dan tanggung jawab di dalam diri anak.

Lalu apa saja manfaat membuat kesepakatan dengan anak selain menghindarkan anak dari tantrum yang tidak perlu? Simak berikut ulasannya di Bacaterus.

10 Manfaat Membuat Kesepakatan dengan Anak

1. Membuat Anak Anda Lebih Mandiri

* sumber: nakita.grid.id

Saat membuat kesepakatan dengan anak, secara tidak sadar anak berlatih untuk menjadi mandiri. Di saat kita, sebagai orang tuanya tidak ada, anak sudah tahu apa yang akan dia lakukan dan tidak boleh dia lakukan di suatu tempat yang sudah disepakati sebelumnya. Misalnya, saat dia dititipkan di rumah nenek/kakeknya atau sekolahnya.

2. Anak Belajar Menentukan Apa yang Akan Dia Kerjakan (Planning)

Anak Belajar Menentukan Apa yang Akan Dia Kerjakan (Planning)

* sumber: cantik.tempo.co

Membuat kesepakatan dengan anak juga melatih pikiran antisipatif pada anak untuk merencanakan apa yang akan dia kerjakan nanti. Hal ini sangat penting karena kemampuan planning sangat bermanfaat di masa yang akan datang di mana dia akan memilih apa yang akan dia pelajari dan tekuni di kemudian hari.

3. Anak Lebih Konsekuen dan Berintegritas

Anak Lebih Konsekuen dan Berintegritas

* sumber: attheintersectionblog.com

Integritas secara sederhana dapat diartikan dengan melakukan apa yang dikatakan dan mengatakan apa yang dilakukan. Keselarasan antara perbuatan dan perkataan. Dengan berlatih membuat kesepakatan maka anak berlatih untuk melakukan apa yang telah disepakati bersama dan tidak mudah menyalahkan orang lain.

Sedangkan Konsekuen artinya bertanggung jawab dan siap menerima konsekuensi dengan kesepakatan atau poin persetujuan yang dibuat.

4. Melatih Kemampuan Komunikasi dan Negosiasi

* sumber: www.kidslink.co.nz

Pada saat membuat kesepakatan dengan anak, secara tidak langsung anak berlatih mengemukakan idenya atau berlatih kemampuan komunikasi. Di saat idenya ditantang dengan ide lain dari orang tuanya, anak juga berlatih untuk bernegosiasi dan menemukan win win solution.

Anak juga belajar bahwa selain idenya, ada ide orang lain juga yang perlu didengarkan. Dalam hal ini, kemampuan mendengar sebagai bagian dari proses komunikasi menjadi lebih terasah. Kemampuan komunikasi dan negosiasi ini penting sekali bagi anak kelak di kemudian hari di bidang apapun dia bergelut.

5. Mengurangi Stress di Saat yang Tidak Seharusnya

Mengurangi Stress di Saat yang Tidak Seharusnya

* sumber: nolabelme.org

Kondisi anak marah-marah di tempat umum adalah salah satu yang membuat orang tua stress, padahal di saat tersebut kita berharap anak kita menunjukkan sikap yang kooperatif. Anak kadang-kadang memanfaatkan celah tersebut untuk menguji kita sebagai orang tuanya apakah kita tetap menerapkan aturan di rumah saat berada di luar.

Dengan membuat kesepakatan, anak akan lebih mudah diajak berkomunikasi di saat sedang berada di tempat umum atau di luar rumah. Tugas kita menjadi lebih ringan. Kita hanya cukup mengingatkan tentang poin yang disepakati (jika diperlukan kita dapat menunjukkan kesepakatan yang tertulis yang dibuat bersama).

Hal ini akan membuat kita lebih siap dengan kondisi anak yang emosinya sedang naik turun, bukan jadi malah akhirnya marah bersama.

6. Membuat Anak Lebih Merasa Dihargai Pendapatnya dan Menumbuhkan Inisiatif

* sumber: www.additudemag.com

Jika keluarga kita menerapkan pola komunikasi dengan kesepakatan, anak akan merasa bahwa pendapatnya dan dirinya dihargai. Mengemukakan pendapat bagi sebagian anak adalah hal yang sulit dilakukan jika orang tua bersifat otoriter dan pada akhirnya anak malas atau takut mengemukakan ide dan pendapatnya.

Berlatih membuat kesepakatan juga melahirkan inisiatif di dalam diri anak. Anak tidak perlu selalu harus didorong dan dipaksa untuk mengerjakan hal yang baik bagi kehidupannya, karena dia diperkenalkan konsekuensi dari perbuatan.

7. Membuat Anda Lebih Percaya Diri dan Rileks sebagai Orang Tua

* sumber: www.additudemag.com

Sebagai orang tua, tentu kita tidak ingin menjadi orang tua yang selalu harus menjadi satpam bagi anak-anak kita, bukan? Kita pun sebagai orang tua memerlukan waktu untuk pasangan dan diri sendiri.

Dengan membuat kesepakatan, kita tidak hanya mengurangi teriakan yang tidak perlu untuk mengingatkan anak tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, namun juga membuat kita lebih percaya diri dan percaya kepada anak bahwa dia mampu melakukan apa yang telah disepakati.

8. Mendidik Kesabaran

Mendidik Kesabaran

* sumber: people.howstuffworks.com

Di saat idenya diterima dan dihargai, anak perlu tahu bahwa kesepakatan mengandung konsekuensi yang perlu dijalankan jika kesepakatan yang sudah dibuat bersama dilanggar. Anak tentu akan belajar bersabar dan mengendalikan dirinya untuk menerima apa yang sudah dia sepakati sebagai konsekuensi pelanggaran.

9. Mengenalkan Fairness (Keadilan)

Mengenalkan Fairness (Keadilan)

* sumber: www.sciencenews.org

Dengan membuat kesepakatan, anak merasa tidak selalu menjadi korban kehendak orang tua. Dia akan menyadari bahwa sebagai anak dia diperlakukan fair. Dia akan merasa egonya tidak dikebiri namun juga tidak serta merta dibebaskan sepenuhnya karena, jika kesepakatan dilanggar, baik oleh orang tua maupun anak, keduanya harus menerima dan fair dalam menanggung beban kesepakatan.

10. Mendidik Anak Bahwa Setiap Perbuatan Perlu Perjuangan dan Mengandung Konsekuensi

* sumber: www.brisbanekids.com.au

Tidak ada perbuatan anak maupun orang tua yang tidak menghasilkan konsekuensi atau akibat dari perbuatannya, apakah itu perbuatan baik ataupun buruk. Misalnya, anak bersepakat akan merapikan tempat tidurnya untuk mendapatkan sesuatu yang dia minta.

Anak akan sadar bahwa orang tua tidak akan pernah memberikan yang dia inginkan sebelum menjalankan apa yang disepakati. Dan sebaliknya, dia belajar untuk berjuang bahwa jika dia berjuang dia pasti akan mendapatkan sesuatu yang dia inginkan.

Berlatih membuat kesepakatan memang tidak mudah dan perlu kesabaran dari kita sebagai orang tua. Perlu kesediaan orang tua untuk meluangkan waktu untuk diskusi dan negosiasi. Ini tentu tidak mudah, apalagi bagi tipe orangtua yang sibuk dan sering terburu-buru.

Di samping itu, orang tua pun harus menjalankan kesepakatan dan menerima konsekuensi jika melanggar kesepakatan yang telah dibuat. Namun, dengan mengetahui manfaatnya, kita akan lebih bersemangat menjalankannya. Kerja keras itu tentu lebih baik, dan tindakan preventif lebih baik daripada kuratif.

Apakah Ayah Bunda memiliki pengalaman menarik saat membuat kesepakatan dan menjalankannya dengan anak? Silakan tulis di komentar, ya.

Topik Terkait:
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on pinterest
Pinterest
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan komentar