Bacaterus / Sapi / Yuk, Mari Mengenal 6 Jenis Sapi Lokal yang Ada di Indonesia

Yuk, Mari Mengenal 6 Jenis Sapi Lokal yang Ada di Indonesia

Ditulis oleh - Diperbaharui 10 Agustus 2019

Salah satu hewan yang lazim untuk diternakkan di Indonesia adalah sapi. Sapi bukan hanya hewan ternak yang marak di Indonesia tetapi juga di negara lain. Sapi adalah hewan ternak yang memberi banyak manfaat kepada manusia.

Sapi perah menghasilkan susu. Sapi pedaging menghasilkan daging dan kulit. Bahkan tulang sapi bernilai ekonomi karena kerap dicari oleh pedagang bakso untuk membuat kuah yang sedap. Maka dari itulah peternakan sapi cukup banyak ditemukan di seantero Indonesia.

Di peternakan-peternakan yang berdiri dan beroperasi di Indonesia, terdapat dua kelompok sapi yang diperuntukkan untuk sapi potong: sapi lokal dan sapi impor.

Susilawati (2017) mendefinisikan, “Sapi lokal Indonesia adalah sapi yang sejak dahulu kala sudah terdapat di Indonesia dan sapi yang berasal dari luar Indonesia tetapi sudah berkembang biak dan dibudidayakan lama sekali di Indonesia sehingga telah mempunyai ciri khas tertentu”. Dalam artikel ini, Bacaterus akan membahas tentang sapi-sapi lokal Indonesia.

1. Banteng

Banteng

Banteng atau tembadau adalah sebutan masyarakat lokal untuk ras sapi yang bernama ilmiah Bos sondaicus atau Bos javanicus. Dalam lingkup tertentu, istilah banteng digantikan juga dengan nama sapi jawa.

Banteng atau sapi jawa diklasifikasi berbeda dari jenis sapi lain di dunia karena memiliki ciri khas dalam penampilannya. Tubuh sapi jawa berukuran tinggi 1,55 sampai 1,65 meter dan panjang 2,45 sampai 3,5 meter (termasuk ekornya sekitar 60 cm). Bobot sapi jawa berkisar 400—900 kilogram.

Banteng jantan dewasa berkulit warna hitam kebiruan atau cokelat gelap, sedangkan yang betina berkulit cokelat kemerahan dan memiliki garis kehitaman di bagian punggung. Banteng betina maupun jantan memiliki corak putih di bagian kaki, pantat, punuk, moncong, dan di sekitar mata. Banteng jantan memiliki tanduk panjang yang melengkung ke atas, sedangkan yang betina bertanduk pendek.

Di alam liar, banteng hidup berkelompok di hutan yang pepohonannya tidak padat. Mereka memakan rumput, bambu, dedaunan, buah, atau kadang ranting yang muda. Di jawa sendiri, akibat adanya kebijakan ongolisasi di zaman Hindia Belanda, populasi banteng tidak lagi banyak. Bahkan, oleh IUCN, banteng liar kini diklasifikasikan sebagai spesies terancam.

Namun begitu, untungnya berkat penyebaran ras sapi ini ke berbagai wilayah lain di Indonesia, kita bisa menemukan populasi banteng yang cukup di luar jawa. Kita bisa menemukan banteng di Kalimantan dan Sulawesi, misalnya, namun sebagai hewan ternak, bukan sebagai hewan liar.

2. Sapi Ongole (Sumba Ongole)

Sapi Ongole

* sumber: sarangsapi.blogspot.com

Sapi ongole adalah jenis sapi yang berasal dari India sehingga dikenal juga dengan nama ilmiah Bos indicus. Di negeri Belanda, sapi ongole dikenal dengan istilah sapi zebu, sedangkan di Jawa dikenal juga dengan sebutan benggala (Siregar, 2013, h. 25).

Meskipun berasal dari luar Indonesia, sapi ongole dikategorikan sebagai sapi lokal karena sapi ini sudah sejak lama sekali dibudidayakan di Indonesia. Siregar (2013) menyebut bahwa sapi ini sudah dibawa ke Indonesia sejak zaman kerajaan Hindu sampai tahun 1897.

Dari gambar di atas, kita bisa amati ciri khas dari sapi ongole. Ciri khas tersebut antara lain warna kulit keputih-putihan, dengan bagian kepala, leher, dan lutut yang berwarna gelap (terutama jantan). Kulit di sekeliling mata, bulu mata, moncong, kuku, dan ekor berwarna hitam. Tanduknya pendek, tubuhnya besar, memiliki punuk, dan gelambir longgar yang menggelantung.

Selain sebagai sapi potong, sapi ongole digunakan sebagai sapi potong dan sapi kerja karena memiliki tenaga yang bagus. Di Indonesia sendiri, mayoritas sapi ongole sudah dikawinsilangkan untuk menghasilkan sapi PO atau peranakan ongole. Namun begitu, di Sumba, sampi ini masih dikembangbiakkan secara murni, dan dikenal juga sebagai sapi sumba ongole.

3. Sapi Peranakan Ongole (PO)

Sapi Peranakan Ongole

* sumber: uptvetsulteng.wordpress.com

Dari namanya, kita bisa menebak bahwa sapi ini merupakan sapi yang dihasilkan dari pengawinsilangan sapi ongole dengan ras lain. Sapi PO adalah jenis sapi yang populer di Indonesia sebagai sapi pedaging.

Susilawati (2017) menceritakan bahwa pada zaman Belanda, sapi ongole yang dibawa dari Belanda (disebut sapi zebu), dikawinsilangkan dengan sapi jawa. Sapi PO yang dihasilkan dari kawin silang itu rupanya memiliki sifat yang lebih unggul daripada sapi lokal murni.

Sapi PO memiliki daya tahan tinggi terhadap panas, lembap, dan perubahan cuaca iklim tropis, serta tahan terhadap gangguan parasit seperti gigitan nyamuk dan caplak. Sapi PO juga toleran terhadap serat kasar (Astuti dalam Susilawati, 2017:84).

Sebagai hasil kawin silang, beberapa sapi PO masih mewarisi ciri-ciri sapi ongole murni seperti kulitnya yang berwarna putih, punuknya yang besar, dan kulitnya yang menggelambir. Namun begitu ada pula sapi PO yang menunjukkan ciri-ciri hasil persilangan, seperti berwarna kulit cokelat dan ukuran lebih kecil daripada ongole murni.

4. Sapi Aceh

Sapi Aceh

* sumber: nad.litbang.pertanian.go.id

Siregar (2013) menyebutkan bahwa sapi aceh adalah hasil dari grading-up sapi ongole dengan sapi lokal. Ciri hasil kawin persilangan itu tampak jelas pada gambar contoh di atas. Sapi berukuran cukup besar, dengan bobot sapi dewasa sekitar 300—400 kg sedangkan yang betina berkisar 200—300 kg.

Dengan teknik keraman, sapi aceh bisa tumbuh sampai 450 kg. Tubuhnya berwarna cokelat gelap, dengan punuk besar, dan kulit gelambir yang menggelantung, seperti halnya sapi ongole.

5. Sapi Bali

Sapi Bali

* sumber: fpattiselanno.wordpress.com

Siregar (2013) menjelaskan bahwa sapi bali merupakan hasil domestikasi banteng (Bos sondaicus) selama ratusan tahun sehingga ukurannya menjadi lebih kecil daripada banteng liar. Sapi bali jantan yang dewasa dapat mencapai tinggi badan 130 cm dengan bobot 350-400 kg. Betina dewasa ukurannya sedikit lebih kecil dengan berat 250-300 kg. Akan tetapi dengan asupan pakan yang bagus, sapi bali jantan bisa mencapai bobot 450 kg.

Ciri lain dari sapi bali yang mudah dikenal adalah tekstur dan warna kulitnya. Kulit sapi bali berbulu halus dan pendek, serta dari jauh tampak mengilap. Pada umumnya sapi bali betina berwarna merah cokelat atau kuning cokelat, sedangkan sapi jantan berwarna hitam. Ada bercak putih di kaki dan perut sebelah bawah.

Khusus di Pulau Bali sendiri, sapi bali biasanya diternakkan secara murni. Dengan kata lain, sapi bali tidak dipersilangkan dengan jenis sapi lain, kecuali di daerah luar Pulau Bali.

6. Sapi Madura

Sapi Madura

* sumber: web.bptukdi.info

Djarijah (1996:15) menyebutkan bahwa sapi madura berasal dari persilangan antara sapi jawa (Bos sondaicus) dengan sapi zebu (Bos indicus). Seperti yang disebutkan di bagian sebelumnya, sapi zebu adalah nama lain dari sapi ongole. Jadi, Sapi Madura bisa dibilang salah satu jenis peranakan ongole. Namun begitu, Sapi Madura dikhususkan sebagai kategori sendiri karena adanya upaya penyeragaman ras di Madura sejak tahun 1910 (Susilawati, :53).

Sapi Madura adalah sapi multifungsi. Sapi ini bisa dijadikan sapi kerja dan sapi potong, atau sebagai alat transportasi. Selain itu, menurut Susilawati (2017:52), Sapi Madura adalah salah satu sapi terbaik di dunia (urutan ketiga). Ini didukung dengan ukuran tubuhnya yang bagus, daging yang bagus, dan kulit yang juga berkualitas.

Selain sapi-sapi di atas, sebenarnya ada banyak jenis sapi lain yang juga bisa ditemukan di peternakan-peternakan Indonesia. Namun begitu, sisanya kebanyakan termasuk jenis sapi impor. Artinya, sapi tersebut sapi yang didatangkan dari luar negeri dan baru-baru ini saja dibudidayakan di Tanah Air.

Nah, adakah jenis sapi lain yang Anda tahu, namun belum dimasukkan ke dalam daftar di atas? Coba sisipkan di dalam kolom komentar!

Topik Terkait:
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on pinterest
Pinterest
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan komentar