Bacaterus / Kelinci / Yuk, Berkenalan dengan Jenis Kelinci Lokal Indonesia Ini

Yuk, Berkenalan dengan Jenis Kelinci Lokal Indonesia Ini

Ditulis oleh - Diperbaharui 18 Februari 2021

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Lucu dan menggemaskan. Itulah kesan yang kamu dapatkan ketika melihat seekor kelinci. Mamalia bertubuh kecil dan gempal serta bertelinga panjang ini banyak ditemukan di hampir seluruh wilayah Nusantara. Kelinci yang ada di Indonesia terdiri dari berbagai ras dan jenis. Ada jenis kelinci impor dan ada juga jenis kelinci asli Indonesia.

Asal Usul Kelinci di Indonesia

* sumber: www.pdsa.org.uk

Pada masa ini kita mengenal kelinci sebagai binatang peliharaan atau hiasan atau binatang yang diambil dagingnya untuk dijadikan makanan. Karakteristik kelinci tersebut berbeda-beda. Kelinci-kelinci tersebut jinak dan mudah akrab dengan manusia.

Namun, tahukah kamu bahwa di negeri asalnya, Afrika dan daratan Eropa, kelinci adalah binatang liar yang berkeliaran di alam bebas? Binatang yang berasal dari famili Leporidae ini baru masuk ke Indonesia sejak masa kolonial Belanda.

Berdasarkan catatan sejarah, kelinci mulai dibawa oleh orang Belanda yang ditugaskan di Indonesia. Kata “kelinci” pun diambil dari bahasa Belanda “konijntje” yang artinya anak kecil. Saat itu kelinci dijadikan sebagai binatang ternak hias.

Kelinci Lokal Indonesia

Banyak sekali pengkategorian kelinci berdasarkan kelas-kelas tertentu. Ada yang berdasarkan ras, tempat tinggalnya, jenis bulu dan fungsi kelinci. Di Indonesia sendiri terdapat banyak jenis kelinci yang menjadi peliharaan para pecinta kelinci.

Namun, Indonesia ternyata punya loh kelinci lokal yang pamor dan cirinya tidak kalah menarik dibanding kelinci impor yang dibawa dari negara lain. Ini lah kelinci-kelinci lokal Indonesia yang tak kalah lucu dan menggemaskan.

1. Kelinci Jawa

* sumber: www.republika.co.id

Jenis kelinci lokal yang pertama adalah kelinci jawa. Kelinci ini diperkirakan masih berada di hutan-hutan di wilayah Pulau Jawa seperti di hutan Jawa Barat. Kelinci ini merupakan satu-satunya kelinci yang hidup di dataran tinggi berbatu.

Berbulu lembut, gigi depan yang lucu dan telinga panjang yang menarik membuat kelinci jawa ini tampak sebagai binatang peliharaan yang dapat kalian rawat sebagai teman bermain di rumah.

Ciri dan Karakteristik

Kelinci jawa mempunyai warna bulu coklat perunggu kehitaman dan dominan warna abu-abu, serta bulu kekuningan.Bulu kelinci jawa tergolong pendek. Bulu pada ekor kelinci berwarna jingga dan hitam pada bagian ujungnya.

Kelinci jawa termasuk kelinci dengan dengan bentuk tubuh ramping, namun kelinci jawa dewasa dapat mencapai bobot 6 kg dan panjangnya bisa mencapai 40 cm. Kelinci jenis ini mempunyai umur yang panjang. Ia dapat hidup selama 5-10 tahun.

Kelinci jawa adalah binatang dengan daya tahan yang bagus. Hewan ini kuat dan tidak rentan sakit. Tidak seperti jenis kelinci dari jenis lainnya, kelinci jawa tidak memerlukan perawatan yang intensif.

Makanan utama kelinci ini adalah wortel, akan tetapi kelinci ini juga dapat diberi makan rerumputan dan daun-daunan, seperti daun turi, daun kangkung, bayam, lamtoro bahkan nasi. Makanan lain yang berfungsi sebagai penguat adalah bekatul.

Binatang mamalia dengan nama latin Lepus nigricollis ini tahan terhadap cuaca dengan iklim tropis di Indonesia. Oleh karena itu kelinci jawa ini dapat dikembang biakan dengan mudah di sini.

Perkembangbiakan Kelinci Jawa

Kelinci jawa termasuk kelinci yang subur. Dalam satu tahun ia bisa melahirkan 7 kali anak kelinci. Dalam satu kali melahirkan kelinci jawa dapat lahir 6-8 ekor anak kelinci.

Kelinci jawa dapat dikawinkan setelah hewan ini berusia 5-6 bulan. Pada usia tersebut kelinci sudah menunjukan tanda-tanda berahi pada betinanya. Tanda-tanda tersebut adalah nafsu makan berkurang, gelisah dan sering menggosokan dagu pada dinding kandang.

Tanda lainnya adalah ketika betina tidak menghindar saat didekatkan dengan jantan. Jika tanda tersebut sudah mulai terlihat, kamu bisa memasukan betina ke dalam kandang jantannya.

Masa hamil kelinci jawa berlangsung sekitar 29-33 hari. Selama masa tersebut kelinci betina sebaiknya ditempatkan dalam kandang dengan kotak khusus untuk melahirkan nantinya.

Harga Kelinci Jawa

Harga kelinci jawa bervariasi. Bentuk fisik, ras, umur dan daerah asal kelinci mempengaruhi harga jual beli kelinci jawa. Kelinci yang terawat dapat juga dihargai sangat mahal.

Sebelum membeli kelinci sebaiknya kamu tanyakan terlebih dahulu apakah kelinci tersebut sudah pernah beranak atau belum. Ada baiknya juga kalau kamu membeli kelinci di peternak langsung sebab kelinci peternakan biasanya mendapat perawatan yang baik.

Harga kelinci jawa dewasa berkisar Rp120.000 – Rp150.000 per ekornya. Sedangkan harga anak kelinci yang berusia 2-3 bulan mencapai Rp25.000 – Rp35.000.

2. Kelinci Sumatera

* sumber: www.satuharapan.com

Kelinci sumatera mungkin tidak sepopuler binatang endemik lain yang berasal dari Sumatera, seperti gajah, harimau, badak dan siamang kerdil. Spesies asli dari Indonesia ini jago bersembunyi sehingga sulit sekali ditemui.

Kelinci sumatera atau Nesolagus netscheri hanya terdapat di hutan-hutan tertentu di Taman Nasional Bukit Barisan, Taman Nasional Gunung Kerinci, dan Taman Nasional Gunung Leuser. Yang unik dari kelinci ini adalah sosoknya yang masih misterius.

Mahluk ini jarang terlihat namun, terancam punah karena habitatnya yang semakin berkurang setiap hari. Berkurangnya habitat kelinci belang ini disebabkan oleh pembalakan liar dan penebangan hutan untuk dijadikan lahan industri.

Ciri dan Karakter Kelinci Sumatera

Yang paling unik dari kelinci sumatera adalah motif belang yang terdapat pada bulunya. Belang hitam pada kulitnya terlihat cantik. Ada corak pada tubuhnya yang berwarna putih, selain itu terdapat warna merah pada bagian belakang kelinci ini.

Kelinci sumatera mempunyai telinga yang pendek, tidak seperti kelinci pada umumnya yang bertelinga tinggi dan panjang. Hewan ini memakan biji-bijian dan pucuk daun muda yang berukuran pendek.

Kelinci pemalu yang keberadaannya tidak banyak diketahui orang ini mulai dikenal sejak tahun 1880. Bahkan warga lokal sendiri jarang yang pernah melihat dan tahu mengenai kelinci ini.

Sayangnya, meskipun populasi kelinci sumatera sudah termasuk ke dalam kategori rentan yang bisa punah kapan saja, belum banyak riset dan penelitian mengenai spesies ini. Baru segelintir orang saja yang berminat menggali lebih banyak mengenai kelinci sumatera.

Salah satunya adalah seorang mahasiswa doktoral dari Universitas Massachusetts Amherst, Jennifer McCarthy. Dia mengumpulkan informasi terbaru dari spesies unik ini. Menurutnya kelinci sumatera bukanlah makhluk nokturnal seperti yang ditulis pada buku-buku lainnya.

Sebab dalam survey yang dilakukannya, ia melihat kelinci sumatera tersebut aktif di siang hari. Ia juga menuliskan bahwa kelinci sumatera tidak tinggal di dalam hutan lebat dengan ketinggian 1600 mdpl, sebab kelinci ini terlihat berkeliaran di daerah rendah pula.

Di samping itu ia juga mengidentifikasi bahwa kelinci sumatera tidak hanya dapat hidup di hutan lebat saja, melainkan spesies ini dapat bertahan pada hutan yang pernah ditebang.

Kelinci Sumatera dan Resiko Kepunahan yang Mengancam

Faktor utama penyebab menurunnya populasi kelinci sumatera adalah semakin berkurangnya hutan yang menjadi habitat asli kelinci liar ini. Kita semua tahu bahwa Sumatera telah kehilangan sebagian besar hutannya sejak puluhan tahun ke belakang.

Untuk menyelamatkan kelinci belang asli Sumatera ini dari ancaman kepunahan, Mccarthy berkata bahwa satu-satunya jalan adalah dengan cara konservasi hutan sebagai tempat tinggal kelinci belang dan meningkatkan perlindungan baginya.

Saat ini kelinci belang sumatera termasuk ke dalam daftar merah ‘renta’ dalam daftar IUCN, International Union for Conservation of Nature. Hal ini menunjukan bahwa kita bisa saja kehilangan spesies langka ini tanpa kita tahu di mana mereka hidup.

McCarthy juga menegaskan bahwa untuk melindungi hewan yang termasuk langka ini maka pihak-pihak seperti lembaga dan pengelola TN Bukit Barisan dan TN Kerinci Seblat berupaya menekan usaha-usaha perambahan hutan yang setiap hari merongrong kawasan Sumatera.

Wah menarik sekali bukan? Ternyata Indonesia juga punya kelinci endemik yang tidak terdapat di daerah lain. Keberadaan kelinci lokal asli Indonesia ini dapat memperkaya khazanah fauna Indonesia yang semakin hari makin menyusut jumlahnya. Maka dari itu, keberadaan mereka sebaiknya dijaga agar tidak hilang dari muka bumi.

Topik Terkait:

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *