Bacaterus / Sapi / Inilah 10 Jenis Sapi Perah dari Berbagai Negara di Dunia

Inilah 10 Jenis Sapi Perah dari Berbagai Negara di Dunia

Ditulis oleh - Diperbaharui 10 Agustus 2019

Sapi adalah salah satu hewan ternak yang paling populer di mata masyarakat. Kepopuleran itu bukan hanya di Indonesia, melainkan juga di dunia. Bahkan, sebelum sapi ramai dikembangbiakkan di Indonesia, di luar negeri peternakan sapi justru jauh lebih maju.

Kepopuleran sapi tidak bisa dilepaskan dari banyaknya manfaat yang bisa diambil dari hewan tersebut. Dalam waktu yang relatif singkat, sapi dapat menghasilkan daging dalam volume yang banyak sehingga dapat memenuhi kebutuhan makanan orang banyak. Kulit sapi juga bisa dimanfaatkan untuk banyak hal, seperti bahan pakaian, tas, sepatu, bahkan alat musik.

Namun, selain untuk dipotong dan dipanen dagingnya, sapi juga bisa dipelihara untuk waktu yang lebih lama apabila sapi tersebut dijadikan sapi perah. Sapi perah adalah kelompok sapi yang sengaja dikembangbiakkan untuk diambil susunya.

Selain untuk diminum langsung, susu sapi segar juga bisa menjadi bahan baku untuk makanan lainnya, seperti keju dan yoghurt. Maka dari itu, tidak sedikit peternakan di Indonesia maupun di dunia memilih mengembangbiakkan sapi perah.

Perbedaan umum di antara sapi perah dengan sapi pedaging yang bisa dilihat sekilas dari penampakan fisiknya adalah adanya puting susu yang berukuran lebih besar daripada sapi pedaging. Selain itu, sapi perah juga cenderung memiliki massa otot dan volume daging yang lebih sedikit daripada sapi perah. Sapi perah tidak harus tampak kurus, namun yang jelas penampakan sapi pedaging tentu lebih berisi daripada sapi perah.

Sapi-sapi yang digunakan sebagai sapi perah ada berbagai jenis. Beberapa di antaranya juga merupakan jenis sapi potong, namun ada pula yang memang khusus sebagai sapi perah. Berikut ini Bacaterus telah merangkum beberapa jenis sapi perah yang bisa ditemukan di Indonesia maupun di dunia.

1. Frisian Holstein

Frisian Holstein

* sumber: i.ytimg.com

Sapi frisian holstein atau sering disingkat FH mungkin menjadi sapi perah yang paling ikonik sehingga mudah dikenal. Sapi FH adalah keturunan sapi Eropa (Bos taurus).

Diperkirakan bahwa sapi ini adalah jenis sapi perah tertua dan terbanyak di dunia karena tersebar luas di berbagai belahan dunia, baik itu wilayah subtropis maupun tropis, mudah beradaptasi dengan lingkungan dan iklim alam yang baru, serta memiliki watak yang jinak dan mudah ditangani (Akoso, 2012). Bahkan di Indonesia sendiri, kita bisa menemukan banyak sapi FH di peternakan susu.

Sapi FH berasal dari Provinsi Frielsand Barat dan Hollandia Utara di negeri Belanda. Jenis sapi ini dikenal sebagai penghasil susu terbanyak di dunia, karena mampu menghasilkan sampai 53 liter susu per hari jika dirawat dengan baik. Namun begitu, sapi FH harus diberi pakan dengan baik karena sulit beradaptasi dengan rumput berkualitas rendah.

Selain untuk perah, sapi ini juga bisa dijadikan sapi potong karena bobotnya cukup bagus. Sapi betina bisa tumbuh sampai 675 kg sedangkan yang jantan sampai 900—1.000 kg.

2. Brown Swiss

Brown Swiss

* sumber: nasna.com.au

Sapi cokelat swis adalah salah satu sapi yang memang khusus dibiakkan dan dibudidayakan sebagai sapi perah. Sapi Brown Swiss atau juga disebut American Brown Swiss adalah jenis sapi yang jenisnya diturunkan dari braunvieh yaitu sapi pribumi Swiss yang banyak ditemukan di daerah Pegunungan Alpin.

Braunvieh sendiri sebenarnya merupakan sapi serbaguna: digunakan sebagai sapi kerja, sapi perah, dan sapi potong. Namun sapi cokelat swiss yang kini tersebar di peternakan seluruh dunia telah dibiakkan secara selektif demi kualitas dan kuantitas susunya bisa melimpah.

Akan tetapi, dengan mengorbankan kualitas dan volume daging. Maka dari itu, sapi cokelat swiss sekarang menjadi sapi khusus untuk perah dan tidak cocok sebagai sapi pedaging, apalagi sapi kerja.

Sapi cokelat swiss sekarang menjadi sapi penghasil susu terbanyak kedua di dunia. Ini berarti sapi cokelat swiss hanya terpaut satu tingkat di bawah Frisian Holstein. Porter et. al. (2016) menyebutkan bahwa pada 2013, volume susu yang dihasilkan oleh sapi cokelat swiss adalah 10.231 kg per tahun. Dalam satu hari, sapi ini bisa menghasilkan sampai 30 liter susu per ekor. Selain itu, susu yang dihasilkan sangat cocok untuk membuat keju.

3. Normande

Normande

* sumber: www.thatsfarming.com

Sapi normande adalah jenis sapi perah yang berasal dari daerah Normandia di barat-laut Prancis. Sapi Normande pertama kali dibiakkan pada abad kesembilan belas, sebagai hasil dari kawin silang antara berbagai jenis sapi lokal Normandia dengan sapi Durham (yang kini menurunkan sapi jenis Shorthorn). Sapi-sapi Durham itu sendiri diimpor dari Inggris.

Saat ini, sapi Normande adalah jenis yang cukup mudah ditemukan di Prancis. Sebuah studi dari Bureau des Ressources Genetiques menyebutkan bahwa pada 2005, ada sekitar 2,1 juta ekor sapi Normande di Prancis.

Sapi Normande bertubuh besar dan bobotnya bisa mencapai 700-800 kg untuk betina, sedangkan jantan sampai 1,1 ton. Umurnya cukup panjang dan bisa berkembang biak dengan mudah.

Produksi susunya memang tidak terlalu banyak, hanya sekitar 18 liter per hari, namun mengandung lemak yang tinggi sehingga bagus untuk dijadikan bahan baku susu atau mentega. Selain untuk susunya, sapi Normande juga cocok dijadikan sapi potong karena mampu menghasilkan daging yang banyak dan berkualitas.

4. Shorthorn

Shorthorn

* sumber: www.flickr.com

Sapi shorthorn adalah sapi yang berasal dari daerah Durham, Northumberland, dan Yorkshire di timur laut Inggris. Seperti namanya, sapi shorthorn bisa dikenali dari ukuran tanduknya yang kecil. Tubuhnya diliputi kulit berwarna merah, merah dengan bercak putih, putih, atau merah tua.

Sejatinya sapi shorthorn adalah jenis sapi potong karena mampu menghasilkan daging yang banyak dan berkualitas. Murtidjo (1992) menyebutkan bahwa sapi ini mampu tumbuh sampai berbobot 850 kg untuk betina dan 1,1 ton untuk jantan. Namun begitu, sapi ini tidak kalah dalam produksi susu karena mampu menghasilkan setidaknya 22 liter per hari. Maka dari itu, sapi shorthorn termasuk jenis yang cukup berharga di kalangan peternak.

5. Canadienne

Canadienne

* sumber: alchetron.com

Sapi Canadienne adalah jenis sapi yang berasal dari Kanada. Sapi ini dibiakkan pertama kali pada abad 16 di Kanada, ketika para pendatang dari Prancis membawa sapi mereka ke Kanada. Maka dari itu, sapi ini juga dikenal sebagai french canadienne, black canadienne, atau black jersey.

Sampai abad ke-19 sapi ini sebenarnya umum ditemukan di Kanada, namun perlahan keberadaannya digantikan dengan jenis sapi lain yang lebih unggul dalam produksi daging dan susu.

Sapi ini terkenal bukan karena volume susunya yang melimpah atau volume dagingnya yang banyak, namun karena perannya dalam sejarah dan kelangkaannya. Secara umum, sapi ini mampu menghasilkan rata-rata 10 liter susu per hari sehingga tergolong cukup produktif. Selain itu, susu yang dihasilkan mengandung lemak yang tinggi sehingga cocok sebagai bahan baku keju. Daging yang dihasilkan dari sapi canadienne juga lembut dan bagus.

6. Ayrshire

Ayrshire

* sumber: www.thatsfarming.com

Salah satu jenis sapi perah yang populer di dunia adalah Ayrshire. Sapi jenis ini berasal dari daerah Ayrshire di Skotlandia dan baru muncul sesudah tahun 1750 sehingga terbilang terlambat Sudono, Rosdiana, & Setiawan (2005).

Ukuran sapi ayrshire lebih besar daripada jersey dengan warna kulit variasi merah dan putih sampai coklat-putih. Kelebihan sapi ayrshire adalah mampu mengonsumsi pakan kualitas rendah dan tahan terhadap cuaca. Produksi susu ayrshire bisa mencapai 3500 liter per satu masa laktasi.

7. Norwegian Red

Norwegian Red

* sumber: www.desicomments.com

Salah satu jenis sapi yang berkualitas dan dihargai tinggi oleh peternak adalah Norwegian Red atau Norsk rødt fe. Sapi ini berasal dari Norwegia dan pertama kali dibiakkan pada 1935. Keunggulan utama dari Norwegian Red adalah potensi produksinya yang bagus serta tingkat kesehatan dan kesuburannya yang tinggi.

Sapi ini mampu menghasilkan rata-rata 18 liter susu per hari. Tidak sebanyak sapi FH atau Swiss, namun memiliki tingkat kesehatan yang tinggi. Maka dari itu, sapi ini sering dijadikan bakalan untuk dikawinsilangkan dengan sapi FH atau Swiss. Tujuannya tentu untuk meningkatkan kesehatan dan kesuburan sapi FH sambil mempertahankan produksi susu yang tinggi.

8. Jersey

Jersey

Sapi jersey adalah salah satu jenis sapi perah populer lainnya. Sapi ini berasal dari Pulau Jersey di selatan Inggris. Sapi ini sudah dibiakkan sejak enam ratus tahun yang lalu dan disukai karena mampu menghasilkan sapi berlemak tinggi dalam jumlah yang banyak sehingga cocok untuk membuat mentega dan keju. Sebagai sapi perah, sapi jersey adalah salah satu jenis yang tertua.

Secara fisik, penampilan sapi jersey cukup beragam karena warnanya bisa kelabu, putih, coklat muda, cokelat kekuningan, sampai warna merah gelap. Bulu ekornya berwarna hitam. Dari sisi psikologis, jersey dikenal agak sensitif karena mudah gugup, kurang tenang, gelisah, sehingga harus ditangani dengan lembut.

9. Sahiwal

Sahiwal

* sumber: wallpaperplay.com

Berbeda dari kebanyakan jenis sapi yang disebut sebelumnya, sapi sahiwal adalah jenis sapi perah tropis. Sapi sahiwal berasa dari Pakistan dan bisa ditemukan di daerah Punjab, Haryana, Delhi, dan Bihar. Sapi ini adalah jenis sapi perah terbaik di Pakistan dan India (Akoso, 2012). Meskipun berasal dari dataran Asia Minor, sapi ini sudah banyak dibiakkan di Australia.

Sapi sahiwal adalah keturunan dari bangsa sapi zebu (Bos indicus) dengan ukuran badan lebih besar dari jenis keturunan zebu lainnya. Sahiwal jantan dewasa bisa tumbuh sampai 450—600 kg sedangkan yang betina sampai 400—500 kg.

Di antara sapi tropis lain, sapi ini cukup produksi karena mampu menghasilkan susu 2.500-3500 liter per masa laktasi. Akoso (2012) menyebutkanb bahwa produksinya bahkan bisa mencapai 4.100 kg per masa laktasi jika diseleksi dengan baik.

10. Grati

Grati

* sumber: www.pasuruankab.go.id

Akoso (2012) menjelaskan bahwa tidak ada sapi perah asli dari Indonesia sehingga pemerintah zaman Hindia Belanda pernah mengembangkan sapi perah dari persilangan antara sapi FH jantan dengan sapi jawa dan sapi madura betina yang bukan tipe perah. Hasilnya adalah sapi Grati; dinamakan demikian karena pengembanganan ini dilakukan di Grati, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.

Sapi ini dikembangkan untuk meningkatkan sapi lokal agar bisa menghasilkan susu produktif. Sapi grati kini sudah lama berkembang di peternakan di Jawa Timur dan terbukti cocok untuk daerah tropis. Akoso (2012) menyebutkan bahwa produksi sapi grati bisa menghasilkan susu 15 liter per hari. Namun sayangnya sapi ini tidak dikembangkan lebih jauh sehingga produksinya dan populasinya pun menurun.

Baca juga artikel jenis sapi lokal ini untuk mengetahui berbagai jenis sapi yang berasal dari Indonesia.

Topik Terkait:
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on pinterest
Pinterest
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan komentar