Bacaterus / Binatang / 7 Hewan Unik yang Ada di Indonesia dan Terancam Punah

7 Hewan Unik yang Ada di Indonesia dan Terancam Punah

Ditulis oleh - Diperbaharui 27 Mei 2019

Indonesia sejak lama dikenal sebagai salah satu negara dengan keindahan alam yang luar biasa. Terletak di lokasi geografis yang sangat strategi, wilayah Indonesia yang dulu pernah dikenal sebagai Nusantara, Hindia Belanda, bahkan pernah disangka Atlantis, sejak lama berperan penting dalam sejarah peradaban dunia. Para penjelajah dari berbagai belahan dunia pernah singgah dan melewati negeri kepulauan terluas di dunia ini.

Selain untuk mengadakan hubungan dagang dan politik, para penjelajah itu tidak sedikit pula yang terpesona dengan keindahan dan kekayaan alam Nusantara. Maka dari itu sejak lama pula alam di Indonesia sudah dirambah dan dieksploitasi.

Sayangnya, kegiatan perambahan dan eksploitasi itu tidak diimbangi dengan kegiatan konservasi yang baik dan memadai. Selama lima tahun ke belakang kita banyak mendengar berita tentang pembalakan liar, pembukaan hutan dengan pembakaran hutan, dan yang lebih parah adalah perburuan hewan terlindungi sampai perdagangan hewan-hewan tersebut.

Wijaya, Juliane, dan Firmansyah (2017) menulis “kehilangan tutupan hutan di Indonesia meningkat tajam di tahun 2012, sebesar 928.000 hektar. Angka ini kemudian turun secara signifikan pada 2013 dan meningkat kembali pada 2014 dan 2015, yakni masing-masing seluas 796.500 hektar dan 735.000 hektar.”

Pemerintah sudah menerapkan moratorium izin perambahan hutan. Namun begitu, efeknya tidak begitu terasa pada perkembangan angka kehilangan tutupan hutan itu. Pangkal masalahnya sebenarnya bukan hanya pada aturan pemerintah, tetapi pada seberapa mampu masyarakat kita menjaga lingkungan itu sendiri. Pemerintah bisa membuat aturan namun selama masyarakat tidak menjaga kelestarian alamnya, tetap saja flora dan fauna unik ini lama kelamaan akan hilang.

1. Anoa

Anoa

Mungkin hanya sebagian kecil dari 250 juta masyarakat Indonesia yang pernah melihat anoa. Hal ini tidak mengherankan karena anoa memang salah satu hewan endemik Indonesia yang menurut IUCN (International Union for Conservation of Nature) kini populasinya tidak lebih dari 2.500 ekor anoa dewasa. Lebih parahnya, dengan jumlah populasi yang sedikit itu, laju penurunan populasinya diperkirakan sekitar 20%.

Dalam sistem taksonomi makhluk hidup, ada dua jenis anoa yaitu Bubalus quarlesi dan Bubalus depressicornis. Bubalus quarlesi adalah anoa dataran tinggi, sedangkan Bubalus depressicornis adalah anoa dataran rendah. Perbedaan di antaranya, selain ketinggian daerah tempat tinggalnya, Bubalus depressicornis memiliki tubuh lebih besar daripada Bubalus quarlesi (Groves, 1969).

Secara penampilan fisik, hewan ini sejenis dengan kerbau, namun dengan ukuran yang lebih kecil. Maka dari itu, beberapa orang juga menyebutnya sebagai kerbau cebol. Ciri khas lainnya adalah sepasang tanduknya yang tumbuh lurus ke atas dari bagian atas kepalanya. Ini berbeda dari kebanyakan kerbau atau sapi yang bentuknya melengkung serta tumbuh melintang ke arah samping kepala.

2. Badak Jawa

Badak Jawa

* sumber: animalsake.com

Hewan lain yang dikenal unik di Indonesia adalah badak jawa atau Rhinoceros sondaicus. Meskipun kita tahu bahwa badak banyak ditemukan bukan hanya di Indonesia, badak jawa tetap unik karena memiliki ciri fisik yang berbeda dari jenis badak lain di dunia.

Dalam sistem taksonomi makhluk hidup, badak jawa dikategorikan dalam satu genus yang sama dengan badak india (Rhinoceros unicornis). Tubuh badak jawa cenderung lebih kecil daripada jenis badak lainnya, termasuk badak india. Namun, keduanya sama-sama jenis badak bercula satu. Maka dari itu, ada juga yang menyebut badak jawa sebagai badak bercula-satu kecil untuk membedakannya dari badak india yang juga bercula satu, tetapi berukuran lebih besar.

Jadi, badak jawa unik karena berbeda dari badak afrika, badak jawa (dan badak india) hanya memiliki satu cula. Badak jawa juga unik dari badak india karena ukuran tubuhnya yang lebih kecil. Dinerstein (2003:21) menyebutkan bahwa dulunya badak jawa tidak terbatas di Indonesia, namun bisa pula ditemukan di semenanjung Asia Tenggara, India, dan Tiongkok. Namun begitu, karena banyaknya perburuan ilegal demi mendapatkan cula, hewan ini semakin habis dan langka.

Saat ini, badak jawa hanya bisa ditemukan di Taman Nasional Ujung Kulon serta Taman Nasional Cat Tien di Ho Chi Min City, Vietnam. Itupun jumlahnya tidak banyak. Estimasi paling banyak bahkan tidak sampai 100 ekor saja. Badak jawa kini dinyatakan sebagai hewan mamalia paling langka yang masih hidup.

3. Burung Cenderawasih

Burung Cenderawasih

Nama cenderawasih selalu diasosiasikan dengan Tanah Papua. Nama ini sangat lekat dengan identitas Papua. Sebuah universitas negeri di sana juga menggunakan nama burung ini. Hal ini tidak salah karena burung cenderawasih memang khas berasal dari Pulau Nugini, pulau besar yang terdapat di ujung timur Indonesia.

Pulau Nugini dihuni oleh penduduk dua negara, yaitu Papua Nugini dan Indonesia. Oleh karena itu, Indonesia bukan satu-satunya pemilik burung cenderawasih, tetapi juga Papua Nugini. Meskipun begitu, keunikan burung cenderawasih sudah tidak diragukan lagi.

Burung ini sangat dikenal dengan keindahan penampilannya, terutama bulu-bulu ekornya yang warna-warni. Keindahan dan keunikan burung ini membuatnya menjadi komoditas eksotis yang sempat digandrungi oleh orang-orang di seluruh dunia. Bahkan, bulu-bulu itu pernah menjadi dekorasi yang sangat mahal untuk topi-topi wanita di Eropa abad XVII.

Sebenarnya burung cenderawasih bukan merujuk pada satu spesies saja melainkan kepada sebuah famili atau kelompok spesies. Burung-burung yang disebut sebagai cenderawasih tergolong ke dalam famili Paradisaeidae. Di dalam famili tersebut terdapat puluhan spesies yang tentunya memiliki ciri khas dan keunikan masing-masing lagi.

4. Burung Maleo

Maleo

* sumber: www.allaboutbirds.org

Burung cenderawasih bukan satu-satunya hewan bersayap yang unik di Indonesia. Ada satu lagi burung unik dari Indonesia, khususnya berasal dari tanah Sulawesi. Burung tersebut dikenal dengan nama maleo, atau lengkapnya maleo senkawor.

Nama ilmiah burung maleo adalah Macrocephalon maleo. Maleo adalah satu-satunya spesies di dalam genus Macrocephalon. Genus ini sendiri merupakan bagian dari famili Megapodiidae dan Ordo Galliformes.

Seperti pada gambar yang tampak, tubuh burung ini ditutupi dengan bulu warna hitam di bagian atas dan berwarna putih agak merah muda di bagian bawahnya. Kulit di sekitar mata berwarna kuning. Ciri unik lainnya adalah adanya tonjolan besar di bagian atas kepala sehingga burung ini dinamai macrocephalon yang berasal dari istilah latin macro ‘besar’, cephalon ‘kepala’.

Keunikan burung maleo bukan hanya pada penampilannya, ternyata. Menurut Fauziah & Nuswantoro (2010:10), burung ini mengeluarkan telur dengan ukuran yang cukup besar. Beratnya 240–270 gram dengan ukuran rata-rata 11 cm. Uniknya, setelah menetas, anak burung maleo sudah bisa terbang.

Populasi maleo kini terbatas di wilayah beriklim hutan tropis dataran rendah Pulau Sulawesi. Diperkirakan bahwa populasi maleo saat ini tidak lebih dari 10.000 ekor.

5. Beruk Hitam Sulawesi

Beruk Hitam Sulawesi

Masih dari Pulau Sulawesi, ada satu lagi hewan unik yang khas Indonesia. Hewan tersebut adalah beruk hitam sulawesi. Beruk atau macaque dalam bahasa Inggrisnya adalah spesies yang mirip dengan kera sehingga oleh orang Indonesia, kata beruk disinonimkan dengan monyet.

Dalam sistem taksonomi makhluk hidup, hewan ini bernama Macaca nigra; Macaca berarti ‘beruk’ dan nigra adalah kata bahasa latin untuk ‘hitam’. Nama hewan ini sesuai dengan deskripsinya. Tinggi tubuhnya sekitar setengah meter dan berat badanya 7-15 kilogram sehingga tampak lebih besar dari kebanyakan beruk sulawesi lainnya. Tubuh itu ditutupi oleh kulit berwarna hitam legam dan bulu hitam mengilat, kecuali pada wajah, telapak tangan, dan pantat, sehingga dinamailah beruk hitam.

Ciri lain yang membedakannya dari spesies lain adalah bagian mulut yang lebih menonjol dibandingkan kera jenis lain. Selain itu, kepalanya memiliki jambul dengan gaya “mohawk”. Pantatnya berwarna merah muda dan memiliki ekor yang pendek, hanya 20 cm sehingga sekilas tampak seperti tidak memiliki ekor.

Populasinya saat ini endemik di Pulau Sulawesi, terutama Sulawesi bagian utara. Mereka kini tinggal di wilayah Cagar Alam Tangkoko Batuangus. Selain itu bisa ditemukan pula di Cagar Alam Dua Saudara, Pulau Bacan, Manembonembo, Mobagu, dan Modayak. Oleh penduduk setempat, kera ini dikenal dengan sebutan yaki atau wolai.

6. Babirusa

Babirusa

Penamaan babirusa mungkin berdasarkan penampilannya yang unik. Bagian kepalanya mirip dengan babi, dengan moncong panjang bagian kakinya lebih mirip rusa karena panjang dan kurus.

Ciri khasnya yang lain adalah adanya gigi atas yang tumbuh terbalik, panjang dan melengkung sehingga tampak lebih mirip tanduk daripada gigi. Taring ini berukuran lebih besar pada spesies jantan daripada betina. Dari bentuknya, taring ini seperti tidak terlalu berfungsi sebagai alat pencernaan, namun berfungsi sebagai pelindung mata dari duri semak dan rotan.

Makanan babirusa utamanya adalah buah-buahan dan tumbuhan yang dapat ditemukan di hutan. Mereka juga senang berburu pada malam hari untuk menghindari predator lain. Akan tetapi, karena babirusa sering mencari makanan di perkebunan warga, kebanyakan masyarakat desa yang berkebun atau bertani menganggap babirusa sebagai hama. Maka tidak heran jika hewan ini kerap diburu.

Saat ini, ada tiga spesies babirusa yang masih hidup. Spesies itu adalah sebagai berikut.

  • Babyrousa babyrussa yang hanya ada di Pulau Buru dan Taliabu. Ukurannya paling kecil, rambutnya panjang dan tebal, dengan warna emas atau krem pucat.
  • Babyrousa togeanensis berada di Kepulauan Togian yang terletak di antara semenanjung utara dan Sulawesi Tengah. Ukurannya paling besar.
  • Babyrousa celebensis yang diketahui hanya berada di semenanjung dan bagian timur laut daratan Sulawesi. Spesies ini tubuhnya seolah telanjang karena bulu-bulu rambutnya berukuran sangat pendek.

7. Komodo

Komodo

* sumber: www.tripadvisor.co.za

Meskipun tidak banyak orang yang pernah berkunjung ke pulau habitatnya, komodo adalah spesies unik Indonesia yang paling terkenal. Oleh penutur bahasa Inggris, komodo disebut sebagai komodo dragon karena dianggap mirip dengan hewan legendaris naga meskipun tanpa sayap dan tidak bisa menyemburkan api, tentunya.

Di Indonesia, komodo dikenal sebagai sejenis biawak sehingga beberapa orang menyebutnya sebagai biawak komodo. Penduduk asli Pulau Komodo sendiri menyebutnya sebagai ora.

Komodo adalah spesies terbesar di genus Varanus yang berisi jenis-jenis biawak. Maka dari itu, komodo juga disebut sebagai kadal terbesar di dunia. Panjang rata-ratanya dari ujung kepala sampai ujung ekor bisa mencapai 3 meter. Beratnya bisa mencapai 100 kilogram. Kulitnya berwarna abu-abu gelap atau merah batu-bata dengan tekstur bersisik dan kasar.

Hal yang paling menakutkan dari komodo adalah air liur komodo karena disebut-sebut sangat beracun dan mematikan jika sampai menginfeksi tubuh manusia. Komodo juga hewan karnivor. Hidungnya mampu mencium bau bangkai daging sampai jarak 9 kilometer.

Meskipun menjadi hewan yang sangat berbahaya jika didekati manusia, pada kenyataannya komodo adalah salah satu hewan yang saat ini terancam kelestariannya. Sedikitnya populasi komodo ini diduga akibat semakin luasnya wilayah habitat mereka yang dirambah oleh manusia. Diperkirakan bahwa kini tinggal sekitar 4.000—5.000 ekor komodo yang masih hidup di alam liar. IUCN memasukkan hewan ini ke dalam red list mereka sebagai hewan yang rentan punah.

Nah, itu tadi ketujuh hewan unik dan langka yang hampir punah. Dari ketujuh hewan tadi, apakah Anda pernah melihat salah satunya? Atau tahu hewan unik lainnya? Yuk, tuliskan di kolom komentar!

Topik Terkait:
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on pinterest
Pinterest
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan komentar