Bacaterus / Binatang Langka / Kamu Wajib Tahu Nih, 8 Hewan Langka dan Unik di Sulawesi

Kamu Wajib Tahu Nih, 8 Hewan Langka dan Unik di Sulawesi

Ditulis oleh - Diperbaharui 9 September 2019

Kalau ada yang bilang Indonesia merupakan surganya keanekaragaman hayati. Hal ini tidak salah karena Indonesia adalah salah satu negara dengan angka keanekaragaman hayati yang tinggi.

Indonesia menempati ranking kedua setelah Brazil, dalam jumlah variasi spesies yang dimilikinya. Namun sayangnya, dari jumlah variasi spesies yang sangat banyak ini tidak sedikit di antaranya yang ternyata merupakan spesies langka bahkan sebagian menjadi berstatus terancam punah.

Yang lebih menyedihkan, kebanyakan dari spesies langka tersebut juga tetap menjadi incaran para kolektor dari dalam negeri maupun luar negeri sehingga perburuan terhadap mereka masih sulit ditekan.

Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau. Dari pulau-pulau itu, kita mengenal ada lima pulau besar: Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Hewan dan tumbuhan langka di Indonesia tidak hanya ditemukan di Pulau Jawa yang terkenal dengan Badak Jawa dan Sumatra dengan Harimau Sumatra. Sulawesi juga memiliki kekayaan alam berupa hewan langka.

Dikarenakan begitu langkanya hewan itu, bahkan orang Indonesia sendiri belum tentu tahu dan pernah melihatnya secara langsung. Beberapa mungkin bahkan baru mendengar namanya nanti setelah membaca artikel ini.

1. Wolai

Wolai (Copy)

Nama ilmiah hewan ini adalah Macaca nigra. Masyarakat setempat menyebut hewan ini Wolai atau Yaki. Namun begitu, secara umum hewan ini juga dikenal dengan sebutan Beruk Hitam Sulawesi. Wolai atau Yaki adalah sejenis beruk, yang memiliki ciri khas diliputi bulu hitam mengilat di sekujur tubuhnya—kecuali bagian pantat yang berwarna merah muda—dan memiliki rambut serupa jambul di kepalanya.

Wolai atau Yaki memiliki ekor 20 cm sehingga tampak lebih pendek jika dibandingkan jenis kera lainnya. Namun begitu, tinggi tubuhnya sekitar 44—60 cm dan bobot 7—15 kilogram. Ini membuatnya tampak cenderung lebih besar daripada kera-kera lainnya.

Seperti kebanyakan hewan kelompok kera-keraan lainnya, Beruk Hitam Sulawesi memakan berbagai tumbuhan dan buah. Namun begitu, mereka juga bisa memakan serangga, siput, atau invertebrata kecil.

Populasi wolai saat ini terbatas di sekitar Cagar Alam Tangkoko, Bitung, mulai Cagar Alam Tangkoko Batuangus bagian utara hingga ke sungai Onggak Dumoga. Selain itu, mereka juga bisa ditemukan di berbagai hutan lindung di Sulawesi Utara, seperti Cagar Alam Dua Saudara, Pulau Bacan, Manembo Nembo dan Kota Mobagu.

2. Anoa

Anoa (Copy)

Anoa adalah hewan yang sangat unik. Penampilannya sekilas seperti kerbau atau banteng yaitu mirip dari bentuk kepala, tubuh dan kaki. Kulitnya berwarna gelap kecokelatan. Namun begitu, Anoa memiliki ukuran tubuh yang jauh lebih kecil daripada kerbau biasa, sehingga kadang disebut Kerbau Mini atau Kerbau Cebol.

Nama Anoa sebenarnya merujuk ke sebuah genus, bukan spesies. Dua spesies di dalam kelompok Bubalus adalah Bubalus depresicornis yang disebut sebagai anoa dataran rendah dan Bubalus quarlesi yang disebut sebagai Anoa dataran tinggi.

Dari sebutan dataran rendah dan dataran tinggi, kita bisa mengasumsikan bahwa perbedaan di antara kedua spesies tersebut adalah habitannya. Namun begitu, Groves (1969) juga menyebutkan bahwa perbedaan antara kedua spesies Anoa itu adalah di ukuran tubuhnya. Anoa dataran rendah cenderung lebih besar daripada Anoa dataran tinggi.

Sejatinya Anoa bisa ditemukan di berbagai wilayah seantero Pulau Sulawesi. Namun sayangnya, karena perubahan fungsi lahan dan berbagai perubahan kondisi alam, populasi Anoa kini menurun. Kita bisa menemukan Anoa di sekitar Pulau Buton, atau di hutan-hutan di Bolaang Mongondow dan Gorontalo.

3. Ikan Boto Boto

Ikan boto boto (Copy)

Nama Ikan Boto Boto mungkin asing di mata pembaca yang bukan berasal dari Pulau Sulawesi. Bahkan, tidak semua orang di Pulau Sulawesi sendiri masih mengenal sebutan ikan ini. Nama ilmiahnya Glossogobius matanensis.

Genus Glossogobius adalah anggota dari famili Gobiidae. Artinya, secara taksonomi Ikan Boto Boto masih ada hubungan keluarga dengan kelompok Ikan Gobi. Tubuh ikan ini berukuran sekitar 42 cm sehingga terbilang lebih besar daripada gobi biasa yang hanya sekitar 10—11 cm.

Boto Boto saat ini hanya bisa ditemukan di Danau Matano, Danau Towuti dan Danau Mahalona. Saat ini, status kelestarian Ikan Boto Boto menurut IUCN berada di daftar near threatened sehingga mulai dikategorikan endemik. Meskipun begitu, industri perikanan masih banyak yang menangkap boto boto karena ikan ini disukai untuk dimasak rica rica.

4. Tarsius

Tarsius (Copy)

Tidak banyak orang yang pernah melihat Tarsius secara langsung. Pertama, karena jumlahnya yang memang sudah sangat terbatas. Tarsius yang ada sekarang adalah satu-satunya penyintas dari Ordo Tarsiiformes. Kedua, habitatnya yang kini semakin menyempit sekaligus menyebabkan populasinya semakin berkurang.

Tarsius adalah nama genus dari sekelompok spesies. Tarsius dulunya memiliki populasi dan penyebaran yang sangat luas karena bisa ditemukan di seluruh Asia Tenggara. Sayangnya, sekarang jumlah dan persebaran itu sangat mengecil. Tarsius kini hanya bisa ditemukan di Pulau Sulawesi dan kepulauan-kepulauan kecil di sekitarnya.

Meskipun termasuk kelompok primata, Tarsius memiliki ciri yang tidak begitu mirip dibanding primata lain. Tubuhnya kecil, kepalanya juga kecil, dengan ukuran mata yang sangat besar sehingga tampak tidak proporsional dengan tengkoraknya. Maka dari itu, tarsius dikenal sebagai primata terkecil di dunia.

5. Babirusa

Babirusa (Copy)

Nama Babirusa juga sepertinya tidak begitu dikenal di luar Pulau Sulawesi. Hewan unik ini dinamakan Babirusa karena penampilannya yang mirip seperti babi hutan, namun memiliki kaki yang lebih panjang dan kurus seperti rusa, daripada pendek gemuk seperti babi hutan.

Ada empat jenis spesies Babirusa: (1) Babirusa Buru (B. babyrussa) yang bulunya berwarna coklat keemasan, (2) Babirusa Bola Batu (B. bolabatuensis), (3) Babirusa Sulawesi Utara (B. celebensis), dan Babirusa Togean (B. togeanensis).

Sebagai hewan liar, Babirusa sebenarnya hidup di hutan yang jauh dari pemukiman manusia. Namun begitu, tidak jarang Babirusa keluar hutan dan merusak ladang masyarakat di pedesaan. Maka dari itu, sempat marak perburuan babirusa di berbagai daerah di Sulawesi.

Kini, status Babirusa tergolong vulnerable oleh IUCN dan sudah ada beberapa upaya konservasi untuk mempertahankan populasi hewan khas Sulawesi ini agar tidak sampai punah. Namun begitu, perburuan liar di pedesaan tetap marak dan seringkali tidak terkontrol sehingga populasinya tetap terancam.

6. Kuskus Beruang

Kuskus Beruang (Copy)

Ada dua jenis Kuskus unik yang endemik di Pulau Sulawesi. Salah satunya bernama Ailurops ursinus atau dalam bahasa Indonesianya disebut kuskus beruang karena penampilannya seperti seekor beruang. Namun, tentu ukurannya tentu jauh lebih kecil daripada beruang sesungguhnya.

Kuskus beruang sendiri terdiri dari dua spesies, yaitu Ailurops Melanotis atau Kuskus Beruang Talaud dan Ailurops Ursinus atau Kuskus Beruang Sulawesi. Kuskus Beruang Talaud ukurannya lebih kecil dan bulunya lebih kecokelatan sedangkan Kuskus Beruang Sulawesi berukuran lebih besar dan bulunya kehitaman.

7. Kuskus kerdil

Kuskus kerdil (Copy)

Satu lagi adalah Kuskus kerdil Strigocuscus celebensis. Kuskus ini berukuran lebih kecil daripada kebanyakan kuskus biasa. Karena termasuk ke dalam genus Strigocuscus, Kuskus kerdil masih sekeluarga dengan Kuskus Banggai (Strigocuscus pelengensis).

Dari nama genusnya kita bisa menyimpulkan bahwa Kuskus Kerdil dan Kuskus Beruang tidak tergolong satu genus. Namun begitu mereka masih terikat satu keluarga dalam tataran famili Phalangeridae.

8. Burung Maleo

Burung maleo (Copy)

Indonesia punya banyak sekali jenis burung eksotik dan salah satunya adalah Burung Maleo. Burung yang penampilannya sekilas mirip ayam hutan ini adalah hewan terlindungi yang dikategorikan endangered oleh IUCN.

Penampilan khasnya, seperti yang tadi disebutkan sekilas seperti ayam hutan. Tinggi tubuhnya 55-60 cm dengan bulu hitam, namun tubuh bagian depannya tampak tidak berbulu dengan kulit berwarna merah muda pucat.

Ciri khasnya yang lain adalah kepalanya yang tampak memiliki tonjolan besar di bagian belakangnya. Tonjolan inilah yang menjadikan nama ilmiahnya Macrocephalon maleo. Kata Macro berarti ‘besar’ dan Cephalon berarti ‘kepala’.

Demikianlah delapan hewan unik dan terlindungi dari Pulau Sulawesi. Setelah mengetahui hewan-hewan unik ini tugas kita adalah melestarikannya. Sebagai warga dari negara yang dianugerahi Tuhan kekayaan alam yang berlimpah kita sepatutnya bersyukur. Rasa syukur itu bukan sekadar ucapan di lisan, tetapi juga tindakan nyata dengan menjaga kelestariannya. Bagaimana menurut pembaca? Berikan komentar, ya!

Topik Terkait:
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on pinterest
Pinterest
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan komentar