Bacaterus / Film Barat / 10 Film Monster Klasik Terbaik Produksi Universal Studio

10 Film Monster Klasik Terbaik Produksi Universal Studio

Ditulis oleh - Diperbaharui 7 Februari 2019

Universal Pictures adalah salah satu studio film tertua di Hollywood yang hingga sekarang masih berjaya. Mulai dari era film bisu, studio ini tidak pernah berhenti untuk terus menelurkan film-film berkualitas yang saat ini pastinya sudah menjadi klasik. Salah satu karya film yang mudah diingat dari studio Universal adalah rentetan film-film monsternya.

Dari era 1920an hingga 1950an, Universal Studio banyak menelurkan film-film monster dengan genre horror, suspense dan science-fiction. Bermula dari film-film bisu hingga menggunakan teknologi audio dan visual yang cukup maju di era 1950an, film-film monster ini selalu ditunggu oleh para fans-nya.

Tercatat ada 90 film yang telah dirilis dalam rentang waktu 50 tahun. Memang tidak semuanya memiliki kualitas yang baik, tetapi film-film ini banyak meninggalkan bekas dalam ingatan moviegoers yang pernah menyaksikannya. Berikut ini kami pilihkan 10 film terbaik di antaranya.

10 Film Monster Klasik Universal Studio

1. The Hunchback of Notre Dame [1923]

* sumber: www.allmovie.com

Film drama romance dengan nuansa sedikit horror ini adalah film pertama yang mengawali kemunculan film-film monster dari Universal Studio. Diangkat dari novel klasik karya Victor Hugo, film ini dibintangi oleh Lon Chaney yang pada saat itu sudah dikenal sebagai aktor watak, tetapi kebintangannya semakin bersinar setelah berakting dalam film ini.

Dianggap sebagai “Super Jewel”-nya Universal Studio karena menjadi film bisu terlaris dengan raihan pendapatan sebesar $3,5 juta. Karakter Quasiomodo yang menjadi tokoh utama adalah seorang yang memiliki kelainan fisik, yaitu berpunuk dan buruk rupa, sehingga dimasukkan ke dalam status monster.

2. The Phantom of the Opera [1925]

* sumber: www.allmovie.com

Lon Chaney kembali dipercaya untuk menjadi pemeran utama di film horror yang bernuansa gothic ini. Hal unik yang membuat film ini menjadi terkenal adalah karena make-up yang dilakukan sendiri oleh Chaney setiap melakukan syuting. Dan hal ini baru diketahui setelah film dirilis.

Diangkat dari novel klasik berbahasa Prancis karya Gaston Leroux yang berjudul asli Le Fantome de l’Opera, film ini menjadi salah satu film bisu tersukses di masanya. Set lokasi yang dibangun di studio Universal setelah sebelumnya sukses di film The Hunchback of Notre Dame (1923), tampil lebih detil  akan gambaran kota Paris.

Film remake yang digarap dengan skala lebih besar dirilis pada tahun 1943. Jalan ceritanya tetap mengikuti alur kisah di novel dan film versi tahun 1925, hanya saja kali ini ditampilkan dalam teknologi Technicolor yang menjadikan film ini memiliki warna. Dan versi ini berhasil meraih Oscar sebagai Best Art Direction dan Best Cinematography.

3. Dracula [1931]

* sumber: www.allmovie.com

Film horror yang menjadikan Bela Lugosi sebagai icon horror terkenal ini merupakan adaptasi dari novel karya Bram Stoker. Count Dracula dalam film ini tampil sangat misterius, bahkan banyak kisah mistis yang terjadi selama proses syutingnya.

Film arahan Tod Browning ini selalu masuk ke dalam daftar film-film horror terbaik, salah satunya adalah AFI’s 100 Years…100 Heroes & Villains untuk Count Dracula. Poster filmnya pun saat ini sangat bernilai, di mana salah satunya dibeli oleh Nicolas Cage dengan harga $310,700.

Pada saat itu, Universal Studio membuat film ini dalam versi bahasa Spanyol yang jadwal syutingnya bersamaan dengan film versi bahasa Inggrisnya, dan lokasinya pun sama. Tim produksi film versi bahasa Inggris melakukan syuting di siang hari dan tim produksi film versi bahasa Spanyol melakukan syuting di malam harinya.

Film ini kemudian memunculkan beberapa sequel, yaitu Dracula’s Daughter (1931) yang menceritakan kisah putri dari Count Dracula dan Son of Dracula (1943) yang menceritakan putra dari Count Dracula yaitu Count Alucard. Sosok Dracula ini kemudian muncul dalam dua film crossover dengan monster Universal lainnya.

4. Frankenstein [1931]

* sumber: www.allmovie.com

Film yang mengangkat nama aktor Boris Karloff ini merupakan adaptasi dari novel karya Mary Shelley yang kemudian diadaptasi oleh Peggy Webling ke dalam pentas teater. Sosok Frankenstein ini menjadi salah satu icon horror terkenal dalam sejarah perfilman.

Film sequel-nya, The Bride of Frankenstein (1935), tampil lebih baik dan menuai sukses melebihi film pertamanya. Bahkan hingga kini, film ini dianggap sebagai karya masterpiece dari sutradara James Whale. Kemudian Son of Frankenstein (1939) dirilis dengan menambahkan actor Bela Lugosi sebagai salah satu bintangnya.

The Ghost of Frankenstein (1942) melanjutkan kisah monster ini dengan Lon Chaney, Jr. sebagai pengganti Boris Karloff. Setelah itu, karakter Frankenstein tampil dalam empat film crossover dengan monster Universal lainnya. Karakter Frankenstein merupakan sosok monster yang paling sering ditampilkan dalam serial film monster Universal ini.

5. The Mummy [1932]

* sumber: www.allmovie.com

Tidak hanya sebagai Frankenstein, Boris Karloff juga dikenal perannya sebagai mummy Imhotep yang bangkit kembali dan mencari cintanya yang hilang dalam film karya Karl Freund ini. Visualisasi film horror ini dalam menampilkan mummy bisa dibilang cukup baik pada masanya, bahkan masih terus menginspirasi film-film bertema serupa setelahnya.

The Mummy’s Hand (1940) hadir bukan sebagai sequel, tetapi film dengan karakter mummy yang baru, yaitu Kharis. Karakter baru ini muncul kembali dalam film-film sequel-nya, yaitu The Mummy’s Tomb (1942), The Mummy’s Ghost (1944), dan ditutup dengan The Mummy’s Course (1944).

6. The Invisible Man [1933]

* sumber: www.allmovie.com

Film horror dengan sentuhan science-fiction ini mengambil ceritanya dari dari novel karya H.G. Wells. Claude Rains berperan sebagai tokoh utamanya yang selalu tampil dalam balutan kain hampir di sepanjang film, dan film ini merupakan penampilan perdananya di perfilman Hollywood.

Dengan teknologi yang sedikit lebih maju, The Invisible Man Returns (1940) hadir sebagai kelanjutan kisah film pertamanya. Vincent Price tampil menggantikan peran Claude Rains. The Invisible Woman (1940) juga dihadirkan hanya saja dalam genre comedy.

Invisible Agent (1942) hadir sebagai film propaganda untuk memotivasi para tentara di medan perang yang bercerita tentang Nazi. The Invisible Man’s Revenge (1944) ditangani oleh tim yang berbeda meski masih dari sumber novel yang sama.

7. The Wolf-Man [1941]

The Wolf-Man [1941]

* sumber: www.allmovie.com

Diawali dengan film Werewolf of London (1935), karakter manusia serigala ini mulai dikenal. The Wolf Man (1941) membangkitkan kembali karakter ini yang diperankan oleh Lon Chaney, Jr. Kemudian muncul She-Wolf of London (1946) yang kembali kepada setting film pertamanya tetapi dengan nuansa noir yang kental.

Lon Chaney, Jr. adalah salah satu aktor andalan Universal dalam film-film bertema monster, bahkan Chaney juga berperan sebagai Wolf-Man dalam dua film crossover-nya, yaitu House of Frankenstein (1944) dan House of Dracula (1945), yang menampilkan deretan monster Universal lainnya dalam satu film.

8. Abbott and Costello Meet Frankenstein [1948]

* sumber: www.wikipedia.org

Film bergenre horror comedy ini adalah film perdana pasangan Abbott dan Costello di mana dalam setiap filmnya mereka akan bertemu dengan para monster dari Universal Studio. Nuansa horror dan comedy yang ditampilkan berimbang dan lebih mengedepankan unsur slapstick comedy.

Di film pertamanya ini, mereka berdua berjumpa dengan Count Dracula, monster Frankenstein dan The Wolf Man. Bela Lugosi kembali menghidupkan peran Count Dracula setelah 17 tahun tidak memerankannya. Film ini disambut meriah oleh semua pihak dan telah menjadi klasik saat ini.

Kemudian beberapa film hadir sebagai sequel-nya, yaitu Abbott and Costello Meet the Killer, Boris Karloff [1949], Abbott and Costello Meet the Invisible Man [1951], Abbott and Costello Meet Dr. Jekyll and Mr. Hyde [1953], dan Abbott and Costello Meet the Mummy [1955].

9. Creature from the Black Lagoon [1954]

Creature from the Black Lagoon [1954]

* sumber: www.wikipedia.org

Film monster yang memperkenalkan karakter The Gill-man ini termasuk salah satu film yang maju pada masanya. Di tahun 1950an format film 3D sudah dimulai, salah satu film yang ditampilkan dalam format tersebut adalah film ini, meskipun di akhir tahun 1954 format 3D ditinggalkan karena dianggap flat oleh penonton, mungkin karena kacamata yang digunakan pada saat itu belum mampu untuk menghadirkan gambar 3D yang baik.

Meski kurang direspon dengan baik, sebuah sequel masih dalam format 3D dirilis, Revenge of the Creature [1955], yang menjadi satu-satunya film 3D yang dirilis di tahun tersebut. Kemudian, The Creature Walks Among Us [1956] merupakan film terakhir dari serial ini yang hanya tampil dalam format biasa, alias 2D.

10. The Incredible Shrinking Man [1957]

The Incredible Shrinking Man [1957]

* sumber: www.allmovie.com

Diangkat dari novel karya Richard Matheson yang di saat film ini dirilis mendapatkan penghargaan sebagai “guest of honor” pada World Science Fiction Convention di mana film ini pertama kali ditayangkan, menuai banyak pujian dari para kritikus. Dan saat ini film ini telah menyandang status klasik.

Meski mengecap kesuksesan, sayangnya kelanjutan film ini tidak pernah berhasil diwujudkan. Hanya satu film remake dalam genre comedy, The Incredible Shrinking Woman [1981], yang dirilis terkait film ini, dan hasilnya mengecewakan banyak pihak karena tidak membawa nuansa film aslinya.

Itulah sepuluh film terbaik yang menampilkan deretan monster klasik dari Universal Studio. Dalam perjalanan produksi film ini, terdapat beberapa aktor dan aktris yang sering tampil di film-filmnya, yaitu Boris Karloff, Bela Lugosi, Lon Chaney, Jr., dan masih banyak lagi.

Untuk membangkitkan nostalgia akan film-film monster ini, Universal Studio membuat film-film remake, antara lain Dracula [1979] yang dibintangi Frank Langella dan Laurence Olivier, kemudian trilogy The Mummy: The Mummy [1999], The Mummy Returns [2001] dan The Mummy: Tomb of the Dragon Emperor [2008].

Masih ada lagi dua spin-off, yaitu The Scorpion King [2002] dan Van Helsing [2004]. Tiga film terakhir yang bisa dibilang gagal dalam merepresentasikan nostalgia ini adalah The Wolfman [2010], Dracula Untold [2014], dan The Mummy [2017]. Meski dibintangi oleh aktor papan atas, faktor ini tidak menjamin kesuksesan sebuah film jika tidak didukung oleh faktor cerita dan visualisasi yang bagus juga.

Topik Terkait:
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on pinterest
Pinterest
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan komentar