Bacaterus / Film Edukasi Indonesia / 10 Film Dokumenter Indonesia yang Sayang Bila Dilewatkan

10 Film Dokumenter Indonesia yang Sayang Bila Dilewatkan

Ditulis oleh - Diperbaharui 26 Maret 2019

Kita tak pernah kehabisan film tanah air yang memiliki kualitas terbaik.  Film-film itu berasal dari berbagai genre. Salah satunya adalah dokumenter.

Film dokumenter merupakan film yang mendokumentasikan kehidupan nyata. Dari Indonesia, jenis film ini sering kali mendapat pujian dari dunia internasional dan bahkan menyabet penghargaan paling bergengsi.

Makanya, sayang sekali kalau kamu tidak tahu mengenai hal tersebut. Untuk itu, bawah ini, Bacaterus telah memilih 10 film dokumenter Indonesia terbaik yang patut kamu tonton.

10 Film Dokumenter Indonesia

1. Heaven for Insanity (2008)

Heaven for Insanity

* sumber: iffr.com

Heaven for Insanity adalah film dokumenter tentang lembaga kejiwaan (a documentary about a mental institution). Bercerita tentang Watmo, pria yang hidup sesuai kemauannya. Dilihat sekilas, ia terlihat seperti orang gila. Ia bisa teriak di mana dan ke siapa saja. Tetangganya sedikit resah dan benar-benar menganggap Watmo gila.

Sehingga, seorang bernama Bakti yang merupakan ketua administrasi lingkungan di sekitarnya menyarankan agar Watmo dibawa ke lembaga kejiwaan di pinggiran Jakarta.

Ketika hidup di lembaga tersebut, Watmo benar-benar terkekang. Jauh dari kehidupan sebelumnya. Ia harus menuruti peraturan lembaga. Mengikuti segala cara agar terlihat hidup lebih normal. Bahkan, sesekali ia harus dirantai agar diam.

Setelah satu minggu, ia pun dianggap sembuh dan diperbolehkan untuk meninggalkan tempat yang berbanding terbalik dengan imajinasinya.

Karena cerita Heaven for Insanity yang memukau, film garapan Dria Soetomo ini pun diganjar penghargaan film dokumenter pendek di Festival Film International Anuu-ru Aboro 2011 di New Caledonia, Prancis.

Tak hanya itu, film ini juga telah diputar di berbagai festival film internasional seperti Rotterdam International Film Festival, IDFA Amsterdam dan sebagai official selection di Melbourne International Film Festival.

2. Jagal (The Act of Killing) (2012)

Jagal (The Act of Killing)

Film yang satu ini cukup sensasional ketika pertama kali diputar. Bagaimana tidak, Jagal atau The Act of Killing ini menceritakan bagaimana kisah pelaku pembunuhan anti-PKI pada tahun 1965 – 1966. Kejadian itu adalah peristiwa pembantaian ratusan warga sipil yang diduga sebagai anggota Partai Komunis Indonesia.

Film yang menyoroti pelaku pembantaian ini, menampilkan Anwar Congo sebagai tokoh utama pendiri organisasi paramiliter sayap kanan Pemuda Pancasila (PP) pada masa itu.

Meski begitu tabu bagi masyarakat Indonesia, namun Jagal berhasil masuk penghargaan bergengsi dunia, Academy Awards, untuk nominasi film dokumenter terbaik. Selain itu, sejumlah penghargaan berhasil disabetnya, seperti dalam British Academy Film and Televisions Art 2013.

3. Senyap (The Lock of Silence) (2014)

Senyap (The Lock of Silence)

Setelah Jagal, sang sutradara asal Amerika Serikat bernama Joshua Oppenheimer kembali melanjutkan film dokumenternya. Kali ini, film itu diberi judul Senyap atau The Lock of Silence. Jika film sebelumnya mengambil sisi dari pelaku pembunuhan, sementara Senyap dari sisi sebaliknya.

Senyap menampilkan kisah salah satu korban bernama Adi. Ia adalah penyitas dan keluarga yang dituduh bagian dari PKI.

Untuk penghargaan, Senyap tak kalah dengan Jagal. Sejumlah penghargaan untuk film dokumenter berhasil disabet. Bahkan, Senyap menjadi film pertama Indonesia yang masuk dalam nominasi Oscar. Senyap diputar untuk pertama kalinya pada tanggal 10 Desember 2014 untuk memperingati hari HAM sedunia.

4. Jalanan (2013)

Jalanan

* sumber: www.dewimagazine.com

Jalanan adalah film dokumenter yang menceritakan tentang tiga pemusik jalanan atau pengamen di Jakarta. Film garapan Daniel Ziv ini menyoroti tentang potret kehidupan tiga pengamen Ibu kota yang menyambung hidupnya dengan susah payah.

Siapa sangka, film tahun 2013 ini mendapat banyak penghargaan, seperti Magnolia Award di Shanghai International Film Festival 2014, Macenant Award di Busan International Film Festival 2013, Edmonton International Film Festival, dan juga Melbourne International Film Festival.

5. Tarling is Darling (2017)

Tarling is Darling

* sumber: www.screendaily.com

Dangdut bisa dikatakan music rakyat Indonesia. Di berbagai wilayah dapat ditemukan dendangannya, termasuk di Indramayu, Jawa Barat. Namun untuk jenisnya, dangdut ini disebut tarling yang kental akan tarian erotis dari penyanyi dan pakaian yang mini.

Film ini menyoroti seorang penulis lagu tarling dangdut bernama Jaham dan Ipung yang merupakan seorang produser musik. Keduanya telah banyak mengorbitkan artis baru. Rata-rata, mereka adalah wanita muda yang ingin menjadi terkenal.

Karena tarian dan pakaiannya, tarling mendapat tentangan dari para ulama. Mereka menganggap aliran music tersebut tidak benar. Menyalahi aturan Islam. Jaham pun ditantang untuk menulis lagu tarling bernuansa islami, sehingga bisa menjadi sarana dakwah. Pada intinya, film ini menunjukkan Jaham yang pertama kalinya menulis lagu islami melalui bantuan seorang penyanyi erotis.

6. Turah (2016)

Turah

* sumber: www.layar.id

Turah berdurasi 79 menit. Film ini bercerita tentang Jagad, si pemabuk dari desa miskin bernama Desa Tirang. Jagad menganggap kemiskinan yang menimpa desanya itu diakibatkan pemimpinnya yang telah zalim dan tidak berlaku adil.

Hasilnya, tuduhan itu pun menimbulkan keributan antar warga. Karena ciri khas yang begitu lekat, Turah berhasil memenangkan Silver Screen Award kategori Asian Feature Film Competition pada Singapore Media Festival tahun 2016.

7. Sepanjang Jalan Satu Arah (2016)

Sepanjang Jalan Satu Arah

Bani Nasution membikin film yang bisa dikatakan terbaik yang memiliki durasi singkat, yakni 16 menit saja. Ceritanya begitu sederhana. Sepanjang Jalan Satu Arah bercerita tentang seorang anak yang disuruh untuk memilih gubernur berdasarkan agama yang dianut ibunya. Nah, ibunya meminta anggota keluarganya untuk memilih pemimpin sesuai keinginannya.

Sepanjang Jalan Satu Arah merupakan film pertama Bani, yang kemudian mengantarkannya mendapatkan special mention dari juri di Sea Short Film Festival Kuala Lumpur. Selain itu, film ini memperoleh penghargaan Piala Citra sebagai Film Dokumenter Pendek Terbaik di ajang Festival Film Indonesia pada tahun 2017.

8. Banda The Dark Forgotten Trail (2017)

Banda The Dark Forgotten Trail

Banda the Dark Forgotten Trail, mengambil latar di Maluku yang terkenal akan rempah yang sangat diminati para kolonial dari Eropa. Film berdurasi 99 menit ini menuai kontroversial. Bahkan sempat dilarang pemutarannya karena dianggap dapat memicu konflik. Terutama konflik antarsuku di Maluku.

Sejumlah orang berpendapat jika film ini memutarbalikkan sejarah yang terjadi sekitar 350 tahun yang lalu. Yang menjadi kontroversial, adalah ketika bercerita tentang terjadinya pembantaian massal terhadap warga lokal dan perbudakan pertama di Nusantara, tepatnya di Kepulauan Banda, Maluku.

Pembantaian terjadi karena perseturuan antar bangsa dalam memperebutkan rempah yang berharga ketimbang emas, yakni pala. Pala kemudian menjadi komoditas melimpah dari Banda.

9. Negeri Dongeng (2017)

Negeri Dongeng

Para pendaki pasti tidak pernah terlewat menonton film yang satu ini. Negeri Dongeng bercerita tentang pendakian tujuh gunung tertinggi di Indonesia. Memang, mendaki gunung di tanah air selain menikmati keindahannya, rasanya mampu membangkitkan nasionalis seseorang. Tak heran, semboyan pada film ini “Mencintai Indonesia lewat Negeri Dongeng”.

Gunung-gunung yang ditaklukkan adalah Gunung Carstensz di Papua, Gunung Bukit Raya di Kalimantan, Gunung Binaiya di Ambon, Gunung Rinjani di Lombok, Gunung Semeru di Jawa, dan Gunung Latimojong di Sulawesi.

Penggarapan film Negeri Dongeng cukup memakan waktu yang lama, sekitar tiga tahun. Tak hanya itu, film ini juga merupakan hasil ekspedisi tujuh sinematografer yang terdiri dari Anggi Frisca, Teguh Rahmadani, Rivan Haggarai, Jogie KM Nadeak, Yohanes Pattiasina, dan Wihana Erlangga.

Perjalanan dimulai dari Gunung Kerinci di Jambi pada bulan November 2014. Menurut Anggi dkk. Lewat film ini kita akan lebih mencintai tanah air Indonesia, tak hanya itu kita juga akan lebih belajar tentang pentingnya sebuah proses dan perjuangan.

10. Songbird: Burung Berkicau (2017)

Songbird Burung Berkicau

Film ini bercerita tentang dunia bisnis burung di Indonesia. Kita tahu, Indonesia begitu kaya akan spesies burung. Makanya, perburuan, penangkapan, dan pelatihannya menjadi bisnis menjanjikan. Ditambah, adanya kompetisi adu suara burung. Kalau menjuarai kompetisi, harganya langsung membumbung tinggi.

Film ini menyoroti anak muda bernama Agok. Ia mulai terjun ke dunia bisnis ini saat mengikuti mentornya bernama Edi. Edi tahu kalau untuk melatih burung tidaklah mudah. Makanya, ia begitu berharap kepada Agok untuk meneruskan mimpinya dalam dunia tersebut.

Bagaimana? Apakah kamu sudah menonton salah satu dari kesepuluh film di atas? Setelah menonton film-film tersebut, kamu pasti lebih peduli terhadap Indonesia.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on pinterest
Pinterest
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan komentar