Bacaterus / Film Perang / 10 Film Drama, Komedi, Sampai Parodi yang Bertema Nazi

10 Film Drama, Komedi, Sampai Parodi yang Bertema Nazi

Ditulis oleh - Diperbaharui 3 April 2020

Eropa di masa 1939 sampai 1945 adalah Eropa yang sangat berbeda dari zaman sekarang. Di masa itu, berkecamuk Perang Dunia II yang meskipun pusatnya di Eropa, efeknya merambah ke berbagai belahan dunia lainnya. Kota-kota hancur, bangsa-bangsa saling membunuh, beberapa dipersekusi, bahkan berusaha dipunahkan.

Perang Dunia II dipicu oleh tindakan Jerman yang kala itu dikuasai oleh Partai Nazi. Perang Dunia II bukan sekadar pertempuran antara dua bangsa yang bersengketa, tetapi juga melibatkan represi dan diskriminasi sosial, pelanggaran atas hak asasi manusia, pembunuhan massal dan sistematis, serta berbagai hal mengerikan lainnya.

Maka dari itu, kebanyakan film yang bertema Perang Dunia II dan Jerman Nazi memiliki suasana seram, tegang, atau tragis.

Namun begitu, Meskipun tema yang diangkat terbilang “berat” dan menggugah perasaan penonton—terutama mereka yang menganggap bahwa Nazi Jerman telah menorehkan memori mengerikan dalam sejarah manusia, tidak semua film di bawah ini merupakan film yang menyeramkan. Beberapa di antaranya justru film bergenre komedi. Yang jelas, semuanya patut untuk anda coba tonton!

1. Triumph des Willens

Triumph des Willens (Copy)

Bahkan bagi para pencinta film di Indonesia, judul “Triumph des Willens” mungkin tidak begitu dikenal oleh banyak orang. Namun begitu, bagi para pencinta sejarah, terutama mereka yang menyukai sejarah Perang Dunia II dan Jerman Nazi, tentu tahu film ini.

Film yang berarti ‘kemenangan atas kemauan’ adalah karya monumental dari Leni Riefenstahl, seorang sutradara perempuan dari Jerman. Film ini adalah sebuah film propaganda yang dianggap sebagai salah satu media propaganda paling efektif sepanjang sejarah.

Kalau kamu pernah melihat potongan klip film hitam putih tentang Jerman Nazi yang menampilkan Hitler yang sedang berpidato berapi-api dan para pendukung Nazi berbaris dan berkumpul dengan rapi, kemungkinan besar itu adalah potongan dari film “Triumph Des Willens”.

Bahan-bahan film ini diambil dari rekaman-rekaman selama Kongres Akbar Partai Nazi di Nuremberg  Meskipun berisi propaganda ideologi Partai Nazi, film ini berhasil menggaet banyak penghargaan baik di Jerman maupun di luar negeri. Alasan dari keberhasilan itu adalah berbagai teknik sinematografi dan tata suara yang klop untuk membuat pencitraan keagungan dan kehebatan Partai Nazi.

Saat ini “Triumph des Willens” tentu dicap sebagai film kontroversial karena hubungannya dengan sejarah kelam Jerman Nazi. Namun begitu, pemutaran film ini masih diizinkan, bahkan di Jerman sendiri, asal berada dalam konteks pendidikan dan didampingi oleh pendidik yang berkompeten.

Kalau di Indonesia, film kontroversial semacam ini pasti sudah dibredel dan dilarang. Kalau pun ada pihak yang berani memutarnya pasti sudah dibubarkan, entah oleh polisi atau sekumpulan orang-orang gelisah.

2. The Pianist

The Pianist (Copy)

The Pianist adalah sebuah film bergenre drama biografis. Plot dalam cerita ini berfokus pada sosok seorang pemain piano stasiun radio di Warsawa, Ibu Kota Polandia bernama Wladyslaw Szpilman.

Pertama kali mengenal nama Adrien Brody dari film ini, dia memainkan peran utama sebagai Wladyslaw Szpilman. Film ini menceritakan kehidupan Szpilman yang berubah dari damai menjadi mencekam dan tragis selama okupasi tentara Jerman di Polandia. Szpilman yang seorang Yahudi Polandia tentu harus mengalami persekusi dan diskriminatif oleh militer Jerman Nazi.

Szpilman dan keluarga mereka digelandang ke perkampungan Yahudi Warsawa yang sangat padat. Kehidupan di sana sangat buruk. Selanjutnya Szpilman harus terpisah dari keluarganya. Ia diseret menjadi pekerja paksa sementara keluarganya dibuang ke Treblinka.

Bersama para pekerja paksa, ia membantu usaha Pemberontakan Warsawa, namun gagal. Setelah itu ia berpindah-pindah tempat persembunyian sampai bertemu dengan seorang perwira Jerman yang memberikannya makanan dan pakaian.

Setelah Perang Dunia II selesai, Szpilman tetap hidup dan kembali menjadi pemain piano, sedangkan sang perwira Jerman yang menolongnya meninggal dalam tahanan Soviet.

3. The Book Thief

The Book Thief (Copy)

Film ini diangkat dari sebuah novel sejarah yang berjudul sama karya pengarang Australia, Markus Zusak. Novel ini pertama kali terbit 2005, sedangkan adaptasi filmnya baru rilis pada 2013 silam. Cerita The Book Thief masih bertema Perang Dunia II dan implikasi penegakan hukum persekutif dan diskriminatif Jerman Nazi terhadap orang-orang Yahudi di Jerman.

Tokoh utama novel dan film ini adalah Liesel Meminger, seorang gadis berusia 12 tahun yang diadopsi oleh sepasang suami istri Hans dan Rosa Hubermann. Setelah pindah rumah ke kediaman Hubermann, terungkap bahwa Liesel buta huruf dan tidak bisa membaca. Sang ayah angkat mengajarinya membaca huruf demi huruf sampai Liesel terpukau dengan kekuatan kata-kata dan bacaan.

Ia sangat suka membaca dan buku dan sedih ketika suatu hari buku-buku yang tidak sesuai dengan ideologi Jerman Nazi dibakar. Kesukaannya akan buku ditemukan oleh Ilsa Hermann, istri wali kota tempatnya tinggal. Selanjutnya, ia diperbolehkan untuk datang dan “meminjam” (dalam artian mengambil) buku-buku koleksi Ilsa dan suaminya.

Ini adalah salah satu film bertema Perang Dunia II dan Nazi favorit saya. Alasannya, film ini mampu menyajikan warna berbeda dari tema yang biasanya digambarkan suram, kejam, dan tragis.

4. The Great Dictator

The Great Dictator (Copy)

Membaca kata Great Dictator di judulnya pasti membuat orang-orang berpikir bahwa film ini adalah semacam biografi atau propaganda pencitraan sosok diktator terkenal dari Jerman yaitu Adolf Hitler. Film ini memang mengangkat Hitler sebagai tokoh utama. Namun begitu, genre filmnya sendiri adalah komedi parodi dan satire politik.

Komedian terkenal Charlie Chaplin adalah aktor yang memainkan tokoh Adolf Hitler. Plotnya sendiri cukup menarik dan agak twist. Kualitas Chaplin sebagai seorang aktor teruji dan terbukti di sini; dia memerankan dua tokoh utama sekaligus, yaitu Hitler dan Tukang Cukur Yahudi yang dulunya seorang prajurit Jerman.

Ada banyak pesan satire dan kritik di dalam film parodi ini. Namun begitu, film ini tidak terlepas dari framing Hollywood sebagai produsen film Amerika, bahwa demokrasi lebih baik dari ideologi lain.

5. Judgment at Nuremberg

Judgment at Nuremberg (Copy)

Judul film ini berarti ‘Persidangan di Nuremberg’. Film ini adalah sebuah dokumenter tentang jalannya persidangan atas kriminal perang di Nuremberg dengan tambahan dramatisasi ala drama persidangan. Film ini disutradarai Stanley Kramer, seorang sutradara independen yang sering mengangkat isu-isu sosial.

Film ini berpusat pada pengadilan militer yang dipimpin oleh hakim Dan Haywood yang mengadili para kriminal perang atas kejahatan perang dan kemanusiaan yang dilakukan oleh tentara Jerman sepanjang Perang Dunia II, termasuk holocaust.

6. Er Ist Wieder Da

Er Ist Wieder Da (Copy)

Film yang satu ini bisa dibilang berbeda dari film tentang Nazi yang lain. Kalau kebanyakan film tentang Nazi bergenre drama atau aksi yang memperlihatkan sosok kekejaman Adolf Hitler, holocaust, atau propaganda, “Er Ist Wieder Da” adalah sebuah film bergenre komedi yang mengimajinasikan bagaimana kalau Adolf Hitler kembali ke Jerman abad XXI dan berinteraksi dengan dunia modern pasca-Perang Dunia II.

Film ini diangkat dari novel bestseller berjudul sama yang dikarang oleh Timur Vermes. Diceritakan bahwa Adolf Hitler yang terbangun di sebuah taman terkejut ketika menyadari bahwa ia tidak berada di masa ketika ia hidup. Di masa depan (menurutnya) ini, ia bertemu dengan teknologi-teknologi zaman informasi seperti alat transportasi personal (segway), internet, dan tentunya Google.

Karakter Adolf Hitler yang diperankan oleh Oliver Mascucci awalnya ditampilkan sebagai sosok yang polos, namun tetap ambisius, dan kadang-kadang menampakkan sifat arogan serta tanpa belas asihnya.

Er Ist Wieder Da adalah sebuah komedi satire yang cukup kontroversial, terutama tentunya di Jerman sendiri. Beberapa orang menganggapnya sebagai propaganda Neo-Nazi, tetapi ada pula yang mengganggapnya sebagai representasi kritik terhadap permasalahan sosial di Jerman masa kini.

7. Valkyrie

Valkyrie (Copy)

Film yang dibintangi oleh banyak aktor dan aktris ternama ini sempat ramai ketika rilis. Bukan saja karena bintang utamanya, Tom Cruise, sempat ditolak oleh keluarga tokoh utama yang kisahnya diceritakan di film ini, tetapi juga karena membuka banyak mata orang awam bahwa tidak semua bangsa Jerman mendukung langkah-langkah Adolf Hitler, sang führer.

Valkyrie juga merupakan sebuah film bergenre aksi biografis dengan beberapa bumbu dramatisasi. Kisahnya mengangkat tokoh Claus von Stauffenberg, seorang perwira patriotik tentara Jerman berpangkat kolonel yang jengah dengan tingkah laku dan cara Hitler menjalankan operasinya di Perang Dunia II.

Hatta, plot “Valkyrie” adalah representasi dari Resistansi Jerman, yaitu gerakan di internal orang Jerman sendiri yang menolak Adolf Hitler. Lebih spesifiknya, “Valkyrie” mengungkit sejarah tentang percobaan pembunuhan Hitler. Claus von Stauffenberg adalah orang yang terpilih untuk mengeksekusi rencana tersebut.

Di film ini diceritakan pergolakan batin von Stauffenberg untuk melaksanakan rencana itu, termasuk ketakutannya bahwa rencana telah diketahui orang dekat Hitler, dan pikirannya tentang nasib keluarganya nanti.

8. Schindler’s List

Schindler’s List (Copy)

Bagi para penyuka film bertema Perang Dunia II, judul yang satu ini pasti sudah tidak asing. “Schindler’s List” adalah sebuah film bergenre drama biografis yang menceritakan sosok Oskar Schindler, seorang pengusaha dan industrialis Jerman yang kaya-raya sekaligus pendukung Partai Nazi yang akhirnya justru menghabiskan seluruh harta kekayaannya demi menolong 1.100 Yahudi dari hukuman mati di kamp kosentrasi.

Film ini mendapat banyak rating tinggi, di antaranya dari Rotten Tomatoes yang memberi skor 97% approval dari 95 pengulas. Belum lagi puluhan penghargaan berhasil didapatnya. Beberapa kritikus menyebut bahwa film ini salah satu yang terbaik di antara film bergenre drama yang mengangkat kehidupan di masa kekuasaan Nazi.

9. Kelly’s Heroes

Kelly’s Heroes (Copy)

Satu lagi film bertema Perang Dunia II yang bergenre komedi. Film ini mengangkat kisah sekelompok tentara Amerika Serikat yang bertindak di luar perintah demi mengejar simpanan 14.000 batang emas murni milik Nazi Jerman. Informasi ini didapatkan dari seorang perwira intelijen yang diculik oleh salah seorang serdadu AS bernama Kelly.

Emas-emas itu ternyata disimpan di Clermont, Prancis. Kelly dan kelompoknya bersepakat untuk bertempur di luar perintah atasan, menembus pertahanan musuh sampai ke Clermont. Mereka dibantu oleh seorang komandan batalion tank bernama Oddball.

Ketika sampai di Clermont, mereka ternyata harus bertempur dengan tentara Jerman yang berjaga. Oddball juga harus menghancurkan dua dari tiga tank yang mengamankan kota tersebut. Akhirnya, pasukan infanteri Kelly mengepung kota, tetapi tank Jerman masih bertahan, sedangkan tank Oddball rusak. Pertempuran menjadi buntu. Kelly menyarankan gencatan senjata dengan pasukan jerman.

Ketika gencatan senjata antara pasukan Kelly dan tentara Jerman, Kelly dan para tentara Jerman bersepakat untuk sama-sama membawa kabur emas batangan tersebut kemudian berpisah jalan tanpa harus saling membunuh.

Pada akhirnya film ini menyampaikan pesan bahwa bagaimanapun perintah atasan, uang bisa memenangi segalanya. Kedua belah pihak yang bertikai akhirnya berdamai demi membagi kekayaan. Money wins!

10. Der Untergang

Der Untergang (Copy)

Siapapun yang tertarik dengan sosok Hitler, Jerman Nazi, dan Perang Dunia II wajib menonton film ini. “Der Untergang” atau dalam judul berbahasa Inggrisnya “Downfall” adalah sebuah drama biografis tentang hari-hari terakhir menjelang tewasnya Hitler di bunkernya sendiri, dan tentunya kekalahan Jerman dalam Perang Dunia II.

Karakter Hitler diperankan oleh Bruno Ganz, seorang aktor senior kelahiran Swiss yang sudah terkenal di dunia perfilman Jerman. Di film ini, kita bisa melihat sosok Hitler yang agak berbeda dari yang biasanya ditampilkan di film-film lain.

Hitler yang biasanya ditampakkan sebagai monster kejam tanpa perasaan, diperlihatkan sering mengamuk seperti seorang anak kecil, bahkan semakin hari semakin terpedaya oleh halusinasi bahwa perangnya berjalan dengan baik.

Tak bisa dimungkiri bahwa film ini adalah sebuah film bagus yang wajib untuk ditonton, tentunya dengan pemikiran yang dewasa dan terbuka.

Meskipun begitu, beberapa orang kreatif telah membuat berbagai meme dan video parodi yang bisa ditemukan bertebaran di internet dari adegan-adegan film ini. Adegan parodi legendaris di Youtube yang menampilkan Hitler marah-marah di depan anak buahnya berasal dari film ini.

“Der Untergang” juga unik karena cerita yang disajikan tidak sekadar berfokus pada tokoh utamanya, Hitler, tetapi juga kepada tokoh-tokoh pendamping yang masing-masing memiliki jalan cerita sendiri; jalan cerita yang hampir semuanya berakhir ketika tentara sekutu menaklukkan Berlin dan menyudahi Perang Dunia II, sekaligus Jerman Nazi.

Meskipun manfaat utamanya adalah hiburan, ada banyak manfaat lain dari film. Dari filim-film yang disebut di atas, kita bisa belajar tentang kondisi dan peristiwa yang pernah terjadi dari sejarah. Lantas, dari kesepuluh film tersebut, film mana saja yang sudah pernah pembaca tonton? Adakah film menarik lainnya yang bertema Nazi dan belum disebutkan dalam daftar ini? Coba sebutkan di kolom komentar, ya!

Topik Terkait:
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on pinterest
Pinterest
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Baca Juga

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *