Bacaterus / Film Kriminal / 10 Film Berlatar Ruang Sidang Terbaik Sepanjang Masa

10 Film Berlatar Ruang Sidang Terbaik Sepanjang Masa

Ditulis oleh - Diperbaharui 29 Mei 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Ruangan sidang pengadilan adalah lokasi dimana banyak mengundang ketegangan, baik itu yang menjadi pelaku sidang ataupun hanya yang menonton saja.

Banyak kasus yang melewati beberapa kali persidangan hanya karena bukti atau saksi masih tidak kuat bagi hakim untuk mengambil keputusan atau vonis bagi tersangka. Karena memang peraturan di tiap negara berbeda, maka sistem hukum dan peradilan juga sangat berbeda. Tetapi semua mencari satu tujuan, yaitu keadilan.

Tensi yang tinggi, kerumitan kasus yang minim bukti, pengerahan kemampuan maksimal dari para pengacara dalam membela kliennya, dan masih banyak lagi peristiwa menarik di ruang persidangan membuat banyak sineas ternama mencoba menampilkan film-film yang mengambil seting persidangan pada sebuah kasus.

Semakin rumit kasus itu, semakin pusing penonton dibuatnya, tetapi disitulah kualitas film itu sesungguhnya terbukti. Berikut ini kami pilihkan sepuluh film tentang persidangan yang sangat monumental di dunia sinema sejauh ini.

10 Film Berlatar Ruang Sidang Terbaik

1. 12 Angry Men [1957]

12 angry men

Film ini menceritakan seorang juri yang mengajak 11 orang rekannya untuk membela seorang tersangka atas asas praduga tak bersalah. Henry Fonda yang menjadi aktor utama mampu membuat courtroom drama ini menjadi menarik dan membuat orang penasaran.

Pembelaannya terhadap bocah berusia 18 tahun yang diduga telah membunuh ayahnya membuat kita larut terbawa oleh emosi yang ditampilkannya.

Film ini menjadi unik, karena tidak ada satupun karakter yang diberi nama, hanya nomor sesuai urutan posisi duduk dan nama panggilan, seperti “the boy” dan “old man”. Dari durasi total film selama 96 menit, hanya 3 menit adegan saja yang berada di luar ruang persidangan. Sampai saat ini, belum ada yang bisa menandingi film ini sebagai film persidangan terbaik.

2. Anatomy of a Murder [1959]

anatomy of a murder

Dalam sebuah sidang pembunuhan, sang terdakwa mengatakan bahwa dia mengalami “temporary insanity” setelah korban memperkosa istrinya. Bagaimana kebenarannya? Dan apakah dia akan memenangi kasus ini? Itulah pertanyaan yang selalu diusung dan menggantung dalam benak kita saat menyimak film yang diadaptasi dari novel karya John D. Voelker, seorang hakim asal Michigan.

Untuk mengetahuinya, kita harus menunggu hingga akhir film, apa yang terjadi dengan keputusan hakim atas kasus ini. Film klasik ini adalah yang pertama kali mengangkat tema pemerkosaan ke layar lebar mainstream dan hasilnya masuk di tujuh nominasi Oscar.

3. Inherit the Wind [1960]

inherit the wind

Film yang berdasarkan pada kasus nyata di tahun 1925 ini menceritakan tentang dua pengacara hebat yang beradu argumen dan fakta pada aktivitas tersangka yang mengajarkan teori evolusi Darwin yang berseberangan dengan Alkitab tentang kejadian manusia. Kasus ini memang sangat sensitif karena bersinggungan langsung dengan wahyu Tuhan dan ilmu pengetahuan.

Spencer Tracy yang berperan sebagai Henry Drummond membela kliennya, sang guru, dengan berbagai macam argumen hingga bisa membuat keimanan seseorang rapuh karenanya. Maka dia pun dinominasikan Oscar di kategori Best Actor bersama tiga nominasi lainnya dari film ini.

4. Judgment at Nuremberg [1961]

judgement

Setelah sukses dengan Inherit the Wind [1960], Stanley Kramer membesut sebuah film drama persidangan lagi masih dengan aktor favoritnya, Spencer Tracy. Kali ini kasusnya adalah fiksionalisasi salah satu persidangan dari 12 rangkaian persidangan di Nuremberg tentang kejahatan perang oleh Nazi.

Banyak hal diungkap disini, mulai dari tindakan rasialis, agama, ideologi, metode dan masih banyak lagi lainnya yang diolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan film yang bagus dengan pemaparan yang baik akan dunia pengadilan.

Maximillian Schell yang berperan sebagai defense counsel, berhasil meraih Oscar sebagai Best Actor dan satu kategori lagi yang berhasil dimenangkan dari total 11 nominasi di Academy Awards.

5. To Kill a Mockingbird [1962]

to kill a mocking bird

Di adaptasi dari novel karya Harper Lee terbitan 1960 yang berhasil meraih penghargaan Pulitzer Prize, film karya Robert Mulligan ini adalah salah satu film terbaik yang pernah ada, dimana diakui secara kualitas dan juga berhasil meraih pendapatan sebesar sepuluh kali lipat dari total bujet produksi filmnya sendiri.

Gregory Peck yang berperan sebagai Atticus Finch berhasil meraih Oscar sebagai Best Actor dari total 8 nominasi. Bahkan karakternya juga dianggap sebagai salah satu “greatest movie hero” versi AFI. Kisahnya sendiri memang terfokus pada karakter Atticus Finch, seorang pengacara di era depresi yang membela seorang pria kulit hitam yang dituduh melakukan pemerkosaan.

6. In Cold Blood [1967]

in a cold blood

Film yang diangkat dari buku karya Truman Capote, yang merupakan sahabat dekat Harper Lee, tentang kasus pembunuhan satu keluarga yang dilakukan oleh dua orang, mulai dari persidangan hingga eksekusi mati mereka berdua.

Uniknya, film yang memang berdasarkan kisah nyata ini, benar-benar melakukan proses syuting di lokasi-lokasi aslinya, termasuk kamar tahanan terdakwa, kamar eksekusi mati dan rumah tempat pembunuhan terjadi. Sehingga keotentikan cerita sangat lekat terasa, meski ada seorang karakter fiktif tambahan sebagai bumbu cerita. Film ini dinominasikan di Academy Awards pada empat kategori.

7. Kramer vs. Kramer [1979]

Kramer vs kramer

Film yang dibintangi oleh Dustin Hoffman dan Meryl Streep ini mengangkat tema perceraian dalam persidangan yang panjang dan rumit, yang ternyata membawa banyak efek lainnya, terutama bagi anak mereka.

Perdebatan argumen mereka dalam persidangan tentang hak asuh anak sangat keras dan bertensi tinggi, yang pada akhirnya dimenangkan oleh sang ibu, karena dengan alasan bahwa anak akan lebih baik diasuh oleh ibunya. Film ini berhasil membawa pulang Oscar di kategori Best Picture, Best Director, Best Actor, Best Supporting Actress dan Best Adapted Screenplay.

8. The Verdict [1982]

the verdict

Seorang pengacara alcoholic yang sedang terpuruk menerima kasus pengobatan malpraktek, awalnya hanya untuk mengisi kekosongan pendapatan, tetapi ternyata membuat dirinya sadar dan yakin jika kasus ini membuat dirinya berada pada kebenaran yang harus dia buktikan dan menangkan.

Paul Newman berperan sebagai Frank Galvin, sang pengacara, bermain cukup maksimal dan mengantarkannya masuk nominasi Oscar di kategori Best Actor. Selain itu, film karya Sidney Lumet ini juga masuk di empat nominasi lainnya.

9. JFK [1991]

jfk

Salah satu film terbaik karya Oliver Stone ini menyorot tentang perjuangan seorang district attorney yang mengajukan tuntutan kepada bisnisman asal New Orleans, Clay Shaw, atas dugaannya ikut berpartisipasi dalam konspirasi pembunuhan Presiden AS, John F. Kennedy.

Film ini berdasarkan dari adaptasi dua buah buku, yaitu On the Trail of the Assassins oleh Jim Garrison dan Crossfire: The Plot That Killed Kennedy oleh Jim Marrs. Oliver Stone sendiri menganggap karyanya sebagai “fictional myth” karena mengandung banyak kontroversi seputar pembunuhan John F. Kennedy.

10. Denial [2016]

denial

Film ini berdasarkan kisah nyata yang terjadi di rangkaian persidangan dengan kasus pencemaran nama baik seorang ahli sejarah yang menolak teori Holocaust, yang ternyata membuatnya kalah dalam sidang tersebut karena dirinya memang memaparkan bukti-bukti yang tidak kuat dan teori-teori konspirasi tanpa validasi yang utuh.

Film ini terasa tenang di awal dan semakin memuncak tensinya dengan pemenggalan adegan yang baik untuk menambah rasa penasaran kita untuk mengetahui keputusan final dari hakim.

Rachel Weisz yang berperan sebagai Deborah Lipstadt, seorang ahli sejarah yang dituntut oleh David Irving karena bukunya tentang Holocaust mencatut namanya sebagai penyangkal, berperan cukup baik dan mampu membuat emosi penonton terbawa olehnya.

Semakin rumit sebuah kasus, apalagi dengan barang bukti yang minim dan kesaksian palsu yang sering terjadi meski para saksi sudah berada di bawah janji, adalah faktor-faktor yang sangat baik untuk diolah dalam sebuah film dengan jenis ini.

Pemaparan fakta dan bukti otentik hanyalah serpihan teori yang harus dikumpulkan kembali dengan berbagai argumen dan keahlian permainan pikiran oleh para pengacara, sehingga yang bersalah pun bisa menang dalam pengadilan. Tetapi tetap saja, keadilan harus ditegakkan dan harus dijunjung tinggi dalam hidup bermasyarakat dan bernegara.

Topik Terkait:

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *