bacaterus web banner retina

8 Fakta Menarik Soal Film The Theory of Everything

Mendiang Stephen Hawking dikenal oleh masyarakat banyak sebagai fisikawan yang mengungkap banyak teori yang kosmologi. Kisah hidupnya pun diabadikan oleh James Marsh dalam film The Theory of Everything pada tahun 2014.

Menariknya, film ini tidak mengusung kisah Hawking meneliti kosmologi secara dalam, namun film ini menilik kisah cinta sang fisikawan.

Film ini menceritakan kisah percintaan Stephen Hawking dengan Jane Hawking, yakni istri pertama Stephen Hawking. Mulai dari pertemuannya dengan Jane, intrik di dalamnya, hingga akhirnya memilih untuk menjalani hidup masing-masing.

Tidak hanya menarik dari segi cerita, film ini juga menyimpan fakta menarik di dalamnya. Untuk itu, berikut fakta menarik dari film The Theory of Everything!

1. Telah Mendapat Restu dan Dukungan Penuh dari Stephen Hawking

https://en.wikipedia.org/wiki/Stephen_Hawking

Mengingat film ini hadir sebelum kepergian sang fisikawan, The Theory of Everything sendiri memang didukung dan direstui penuh oleh mendiang Stephen Hawking.

Bahkan di salah satu wawancara, Hawking mengatakan jika plot film ini “broadly true” atau hampir sepenuhnya akurat. Sehingga bagi yang ingin menilik kisah asmara sang fisikawan, film ini bisa menjabarkan sepenuhnya.

Apalagi, saat film ini khawatir jika suara mesin khas Hawking terkena masalah copyright, Stephen Hawking dengan senang hati meminjamkan suaranya di bagian akhir film.

Untuk menunjang visual film ini, sang fisikawan pun meminjamkan medal dan thesis miliknya sebagai properti film. Tidak menyangka kan beliau sangat suportif untuk film ini?

2. Stephen Hawking Merasa Eddie Redmayne Adalah Aktor Pilihan yang Tepat

theory-of-everything-2_

Sebelumnya, sang sutradara James Marsh sempat bertanya dan meminta pendapat pada Hawking soal Eddie Redmayne yang memerankan dirinya. Saat pertanyaan tersebut terkirim lewat email, jawaban Hawking cukup mengejutkan.

Ternyata Hawking senang dengan pilihan cast-nya. Beliau mengatakan Eddie Redmayne berhasil bermain sebagai dirinya karena pada hal-hal tertentu dia sering mengira kalau dia sedang melihat dirinya sendiri. Jadi bisa dikatakan Redmayne sukses besar nih memerankan sang fisikawan jenius ini!

3. Eddie Redmayne dan Stephen Hawking Bertemu Sebelum Syuting

theory-of-everything-3_

Demi totalitas peran, Redmayne pun menyempatkan diri untuk bertemu dengan Stephen Hawking. Di sebuah wawancara bersama Redmayne, dirinya berkata jika dia berbincang dengan Hawking selama tiga jam.

Redmayne berkata, selama bertemu, Hawking hanya mengatakan kurang lebih 8 kalimat saja. Di waktu yang sama dia bilang, selama itu dia pun tidak bisa menanyakan hal-hal yang lebih intim.

Perbincangan ini dilakukan agar dirinya bisa lebih total dan mengenal bagaimana rasanya menjadi Stephen Hawking. Sayangnya pertemuan ini kurang efektif bagi Redmayne, namun tentunya ini juga jadi momen baik sebelum akhirnya Hawking menghembuskan napas terakhirnya pada tanggal 14 Maret 2018.

4. Eddie Redmayne Mengurangi Bobot Tubuhnya Hingga Mempelajari ALS

theory-of-everything-4__1

Dirasa pertemuannya kurang efektif, Redmayne pun mencari metode lain untuk memainkan peran ini dengan bertemu pasien penderita ALS. Redmayne mempelajari postur dari pasien ALS kemudian dia berlatih mengerutkan wajah, berdiri di depan cermin berjam-jam. Sampai mencoba membungkuk berlama-lama.

Hingga seorang ahli osteopati mengatakan jika Redmayne bisa saja mengalami perubahan pada tulang belakangnya. Hal ini juga dibarengi dengan pengurangan bobot tubuhnya hingga 15 kg. Sehingga wajar saja jika hasilnya, Redmayne berhasil memvisualisasikan Stephen Hawking ke layar lebar dengan sempurna.

5. Butuh 10 Tahun untuk Merampungkan Cerita

theory-of-everything-4_

Film ini ditulis secara apik dan sempurna oleh Anthony McCarten, beliau mengaku jika film ini membutuhkan waktu yang cukup lama sampai akhirnya dibungkus sempurna, yakni 10 tahun.

Jika dilihat lagi, film ini diangkat dari buku Travelling to Infinity: My Life with Stephen karya Jane Wilde Hawking, yang tak lain adalah mantan istri Stephen Hawking.

Dirasa buku milik Jane Hawking ini memiliki potensi cerita yang bagus untuk diangkat ke layar lebar, McCarten pun meminta restu Jane Hawking untuk menggunakan bukunya untuk ditulis ulang sebagai skenario.

Sayangnya, butuh 3 tahun lamanya untuk meyakinkan dan mendapat restu Jane Hawking agar MCarten bisa mengadaptasi bukunya ke layar lebar.

Restu yang didapatkan tidak semerta-merta tanpa batasan, Jane Hawking meminta sang penulis untuk tidak menampilkan atau menambahkan adegan sex antara dirinya dan Stephen Hawking di film. Alasan inilah yang membuat di film ini memiliki cerita romantis yang sederhana tanpa diberi bumbu sensual apapun.

6. Felicity Jones adalah Pilihan Pertama untuk Memerankan Jane

theory-of-everything-5.png_

Biasanya untuk mencari aktor atau aktris dalam satu peran, setidaknya ada beberapa opsi yang dipilih. Namun, saat pemilihan cast untuk memerankan Jane Hawking, nama Felicity Jones adalah kandidat pertama dan langsung dipilih tanpa ada opsi aktris lain.

Baik Redmayne dan Jones ternyata adalah pilihan yang tepat dan sangat cocok memerankan kedua tokoh besar tersebut hingga pada perhelatan Academy Awards 2015, baik Eddie Redmayne maupun Felicity Jones mendapatkan nominasi aktor dan aktris utama terbaik.

Bahkan The Theory of Everything merupakan satu-satunya film yang masuk ke dalam kategori aktor dan aktris utama terbaik.

7. Eddie Redmayne dan Stephen Hawking Satu Almamater

theory-of-everything-6_

Baik Eddie Redmayne maupun Stephen Hawking, mereka berdua adalah alumni dari University of Cambridge. Redmayne sebelumnya bersekolah di Eton College, di tahun yang sama Redmayne pun satu angkatan dengan Pangeran William. Kemudian setelah lulus, Redmayne melanjutkan studinya di Cambridge dengan ambil jurusan Seni.

Sementara itu, Stephen Hawking bersekolah di University College Oxford. Kemudian, Hawking merasa jika bobot Pendidikan di sana terasa mudah. Karena itu, seluruh studi yang beliau tempuh cepat dan membuatnya mampu menembus jenjang Pendidikan lebih jauh di University of Cambridge dan mengambil jurusan kosmologi.

Setelah lulus, beliau pun meniti karir sebagai fisikawan dan beliau pun adalah seorang profesor matematika di Cambridge. Selama hidupnya, Hawking dikenal sebagai fisikawan yang ahli di ranah teori relativitas dan gravitasi kuantum.

8. Seluruh Pakaian Hingga Properti Lainnya Dirancang Sesuai Aslinya

theory-of-everything-7_

Percaya atau tidak, seluruh aspek yang ada di film ini benar-benar dirancang persis seperti aslinya. Semua sesuai dengan setiap kejadian yang dialami Stephen dan Jane Hawking.

Mulai dari setiap pakaian yang dikenakan Jane dan Stephen, hingga properti yang berada di rumahnya, semua sama. Desain gaun yang dikenakan Felicity Jones saat adegan di pesta adalah salah satu pakaian yang dirancang khusus dari gaun asli yang pernah dikenakan Jane Hawking.

Tempat tidur susun yang muncul di setiap adegan berada di dalam rumah pun dirancang sama persis dengan ranjang milik Stephen Hawking.

Maka wajar saja jika Hawking benar-benar tersanjung dengan film ini yang digarap hampir akurat. Bahkan saat pemutaran filmnya, asisten Stephen Hawking harus menyeka wajah Hawking karena terharu.

Itu dia beberapa fakta mengenai film The Theory of Everything. Film ini memang tidak bisa hanya dibilang film bagus saja karena segala aspek yang disiapkan mulai dari visual, properti, hingga kualitas akting setiap cast nya justru membuat The Theory of Everything tidak cukup hanya dikatakan sebagai film bagus.

Film ini adalah contoh dari film yang rapi dan patut diapresiasi lebih, apalagi untuk masalah akurasi cerita. The Theory of Everything mampu menyuguhkan kisah cinta dengan bumbu yang sederhana, namun menyentuh hati.

Apakah film adalah salah satu film drama romantic kesukaan kamu? Coba sini fakta mana yang bikin kamu terkejut? Komen di kolom komentar ya!

cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram