Bacaterus / Dunia Mistis / 10 Cerita Urban Legend Dunia yang Paling Menyeramkan

10 Cerita Urban Legend Dunia yang Paling Menyeramkan

Ditulis oleh

Don’t go after the dark or you’ll never come back home…‘ Masih ingat dengan penggalan kata menyeramkan ini? Kami yakin teman-teman pasti tahu. Baik di Indonesia maupun di luar sana, urban legend yang menyuruh kita untuk tidak keluar malam hari beredar di kalangan orang tua dan sampai ke telinga kita dari mulut ke mulut. Tujuannya sih untuk menakuti anak-anak supaya tetap diam dirumah karena waktu bermain mereka sudah habis.

Nah bila melanggar petuah ini, ada yang bilang nanti kita diajak main marcopolo atau sejenis petak umpet oleh ‘sesuatu’ yang tak kasat mata dan tidak akan pernah kembali lagi ke rumah. Di Indonesia sendiri, kasus hilangnya anak pada sore menjelang malam secara misterius disebabkan oleh Wewe Gombel.

Benar atau tidaknya hal tersebut masih belum bisa dibuktikan, sebab itu semua hanya dianggap sebagai mitos belaka. Tapi… Apa kalian yakin kalau semuanya hanya mitos?

Walau Urban Legend memang tidak bisa dianggap benar atau salah, masih banyak saja urban legend menyeramkan dari berbagai negara yang sukses membuat semua orang bergidik setelah mendengarnya.

Tak sedikit dari mereka yang mempercayai dan membenarkan hal tersebut sehingga merasa ketakutan dan tidak mau lagi berbuat hal-hal yang sifatnya sama persis seperti yang ada di dalam urban legend tertentu. Tapi ada pula yang hanya mengibaskan tangan menandakan mereka tidak percaya.

Itu semua tergantung masing-masing orang sih… Kalau memang dasarnya penakut, ya mereka akan percaya. Sebaliknya, kalau dasarnya sudah kebal sama hal berbau mistis, mereka akan lenggang kangkung mendengar urban legend mengerikan tersebut.Penasaran apa saja cerita urban legend dunia mengerikan yang dimaksud? Yuk simak ceritanya!

1. The Fifth

The Fifth

Pada zaman dulu, ada sebuah pesawat komersil yang jatuh di pegunungan bersalju. Akibat kerasnya hantaman, hanya 5 orang saja yang selamat; 4 luka ringan dan seorang yang lainnya dalam keadaan kritis.

Belum sempat mereka mencari bantuan, survivor yang kelima tadi akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. Usut punya usut, 5 orang tersebut merupakan sahabat dekat yang sama-sama duduk di ekor pesawat hingga nyawa mereka selamat, walaupun tidak semua.

Karena solidaritas mereka sangat tinggi, ke 4 lainnya tidak mau membiarkan jenazah sang sahabat terkubur begitu saja bersama reruntuhan pesawat dan salju, sehingga mereka memutuskan untuk membawa jenazah sahabatnya itu bersama mereka dan dikubur dengan layak.

Ternyata, membawa jenazah di saat badai salju bukanlah perkara mudah. Terlebih lagi, ke 4 orang itu dalam keadaan terluka, membuat semuanya menjadi sulit. Dalam keadaan yang putus asa, mereka akhirnya menemukan sebuah pondok tua tak terurus dan memutuskan untuk diam di dalamnya hingga bantuan datang.

Setelah mereka masuk ke dalam pondok, jenazah sahabat mereka ditaruh di tengah, sedangkan mereka mengelilinginya. Rasa takut kian menghampiri, selain pondok yang gelap gulita dan diam bersama jenazah, badai salju yang terjadi pun terus menerpa mereka membuat suhu menjadi turun semakin drastis.

Mereka putar otak supaya bisa tetap hangat, karena kalau mereka  kedinginan dan kelelahan hingga terlelap, hyporthemia akan menyerang dan membunuh mereka semua. Tak lama berpikir, salah satu diantara mereka mencetuskan untuk bermain sebuah permainan.

Caranya begini: 4 orang yang selamat tersebut diam di setiap sisi penjuru pondok yang berbentuk kotak, nanti si A akan berlari ke pos B dan menepuk pundaknya, dilanjut B berlari ke pos C dan menepuk pundaknya, dilanjut lagi C berlari ke pos D dan menepuk pundaknya dan yang terakhir D akan berlari ke pos A dan menepuk pundaknya. Intinya, mereka berlari mengelilingi pondok itu.

Permainan tersebut akhirnya dimulai. Mereka semua memainkannya hingga pagi menjelang. Berhasil! Mereka semua bertahan di dalam kedinginan sepanjang malam hingga keesokan hari. Saat bantuan datang, mereka akhirnya bernapas lega, karena selain selamat, jenazah sahabat mereka juga bisa diurus dengan baik.

Namun saat salah seorang dari ke 4 akan keluar menuju ambulans, mukanya langsung pucat pasi, keringat dingin, pupil matanya pun membesar. Dia ingat satu hal yang mengerikan. Dalam permainan semalam, tidak mungkin mereka bermain hanya berempat saja.

Dia lantas segera bertanya pada sahabatnya yang ada di pos D, ‘apa kau berlari dua putaran untuk menepukku?’, dan jawabannya… ‘Aku tidak lari dua putaran. Aku menepuk pundakmu hanya dalam sekali berlari saja’.

Apabila teman-teman sadar, kalau saja A berlari ke pos B dan diam disana saat B lari ke pos C dan C lari ke pos D. Orang yang terakhir (D) seharusnya lari dua putaran untuk meraih kembali pundak si A kan? Mengingat pos A kosong.

Jadi kenapa si D mengaku hanya berlari sekali saja untuk menepuk pundak si A? Berarti ada orang lain diantara mereka yang ikut bermain… Dalam keadaan ketakutan, ke 4 sahabat itu menatap kosong kantung mayat yang ada di depan mereka. Mungkin sahabat mereka ingin bermain bersama-sama untuk terakhir kalinya.

2. In The Middle, Forever…

In the middle

Akhir pekan digunakan oleh 5 sahabat dekat untuk kemping di sebuah hutan belantara. Keempat sahabat ini sudah berteman sejak kecil. Bahkan mereka berjanji untuk tetap setia dan selalu bersama selamanya. Tingkah anak kecil masih terlihat dalam diri mereka walau sudah dewasa membuat suasana kemping saat itu sangat menyenangkan.

Namun semuanya berubah pada suatu malam. Salah seorang dari 5 sahabat itu tiba-tiba saja bergumam dengan serius; ‘Jika suatu saat aku meninggal, apa kalian masih menjadi temanku?’, sahabat lainnya langsung memukul pelan pundak sahabatnya yang tidur di tengah itu. ‘Kau bicara apa sih? Walaupun kau meninggal nanti, kita akan tetap menjadi temanmu! Ingat kan? Kita akan bersama selamanya. SELAMANYA!’, ucapnya lantang. Ujaran lantangnya tersebut menutup malam mereka. Mereka akhirnya tertidur.

Keesokan harinya, mereka memutuskan untuk mandi sekaligus berenang di sebuah sungai. Salah satu sahabat mereka yang semalam mengatakan ‘jika suatu saat aku meninggal’ menyiapkan baju terlebih dahulu sehingga ditinggal oleh sahabatnya yang lain.

Tapi dirinya tak keberatan, toh letak sungai dengan area kemah mereka tidak terlalu jauh. Akhirnya setelah selesai menyiapkan baju, dia segera menyusul para sahabatnya ke sungai. Dalam perjalanan, ada sebuah air terjun yang harus ia sebrangi.

Sial, saat dia menginjak sebuah batu, kakinya terpeleset hingga tercebur ke dalam aliran air yang mengarah ke air terjun. Teriakan minta tolong tak terdengar karena bercampur dengan suara gemuruh air terjun. Hingga suara itu menghilang…

Ke 4 orang lainnya merasa sahabatnya itu terlalu lama, akhirnya mereka kembali ke kemah. Mereka bingung mendapati baju dan sendal yang sahabatnya siapkan sebelumnya untuk mandi di sungai sudah tidak ada. Tapi mereka tak ambil pusing, mereka pikir sahabatnya tersebut pergi ke tempat lain untuk mandi.

Saat malam tiba, akhirnya rasa khawatir muncul. Keempat orang itu mulai mencari sahabat mereka. Namun nihil, berjam-jam mereka mencari, sahabat mereka tidak juga ketemu. Akhirnya mereka memutuskan untuk mencari lagi esok pagi.

Saat mereka terlelap, salah seorang terbangun saat dirinya merasa ada genangan air yang membasahi tubuhnya. Ketika berbalik badan, dirinya kaget setengah mati melihat sahabatnya yang hilang telah kembali.

Ia duduk di tengah, menatapnya dengan mata merah, kepalanya terputar dan badannya terus menerus mengelurakan air. ‘Maaf aku tak bisa menyusul kalian. Tapi sekarang aku sudah di sini bersama kalian lagi. Selamanya…’

3. Don’t Answer That

dont answer that

Satu keluarga kecil baru saja membeli sebuah rumah mewah yang berada di pinggir kota. Rumah tersebut terletak di lahan yang luas membuat sang anak gadis bisa bermain sepuasnya di halaman rumah.

Sayang, rasa bahagianya hilang saat tahu Ayahnya harus segera pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan. Padahal hari itu seharusnya menjadi malam pertama mereka bersama-sama di rumah baru. Walau dengan berat hati, gadis tersebut akhirnya mengijinkan Ayahnya pergi. Hingga tinggal ibu dan gadis itu saja di rumah.

Sebelum beristirahat, ibu dan gadis itu menyantap makan malam. Ibunya bercerita banyak untuk menghibur sang anak. Usahanya tidak sia-sia. Gadis itu akhirnya bisa tertawa kembali. Setelah makan malam selesai, mereka tertidur. Sang ibu berada di kamar utama yang ada dekat tangga, sedangkan kamar gadis tersebut berada di ujung lorong lantai 2.

Ketika dini hari, sang gadis terbangun karena mendengar ada suara denting piring di dapur juga suara ibunya yang memanggil namanya terus menerus. Dirinya heran, mengapa ibunya beres-beres rumah selarut ini. Dengan langkah gontai, ia keluar kamar dan menuju tangga untuk turun ke dapur.

Saat akan menjawab panggilan ibunya, tiba-tiba dari dalam kamar utama, seorang perempuan menahan badannya juga membungkam mulutnya. ‘Sssshhh! Jangan dijawab! Ibu juga mendengar suara panggilan itu…’

Baca juga artikel lainnya tentang atau tulisan menarik lainnya dari .

About the Author:

Gerryaldo
Pluviophile; (n) a lover of rain; someone who finds joy and peace of mind during rainy days

9 Comments

  1. Barangdiskon at - Reply

    So scared .

  2. Tiara Rahma Dhani at - Reply

    So scare

  3. Galuh at - Reply

    seram banget

  4. JUEN PAIKI R!dS at - Reply

    semua kelihatan seram apalagi kalau sendiri bacanya auhhhhhhhhh SERAMMMMM

    • Bacaterus
      Bacaterus at - Reply

      Kalau begitu, bacanya bareng pacar saja. 🙂

  5. JUEN PAIKI R!dS at - Reply

    THE LIVER AND WHO THAT’S GIRL SUNGGUH MENYERAMKAN AUH APALAGI GUE BACANYA SENDIRIAN PULA

    • Bacaterus
      Bacaterus at - Reply

      Tapi habis baca jadi ga berasa sendiri ya?? 🙂

  6. anonymous at - Reply

    jgn takut takut itu berat biar aq saja

    • Bacaterus
      Bacaterus at - Reply

      Penggemar Dilan ya… 🙂

Leave A Comment