Bacaterus / Kucing / Ini Dia Cara Merawat Kucing yang Benar dan Paling Mudah

Ini Dia Cara Merawat Kucing yang Benar dan Paling Mudah

Ditulis oleh - Diperbaharui 1 Juli 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Jika kamu berada di sini, kami asumsikan kamu telah memutuskan untuk menambah ‘seseorang’ ke Kartu Keluargamu. Ya, membawa seekor (atau mungkin lebih) kucing ke rumahmu adalah babak besar dalam hidupmu dan juga keluargamu.

Apalagi jika sebelumnya kamu dan keluarga belum pernah merawat kucing, atau hewan apapun juga, di rumah. Ini mungkin akan sulit pada minggu-minggu awal, tapi nanti juga kalian akan terbiasa.

Bacaterus untuk mengetahui tips berguna bagi para orang tua kucing yang masih baru. Di bawah ini juga bisa menambah wawasan bagi kamu-kamu yang ingin memoles keterampilan perawatan hewan peliharaan, khususnya kucing.

1. Litter Box

* sumber: www.chewy.com

Semua kucing rumahan akan membutuhkan litter box. Ini adalah kotak kotoran, tempat si meong pipis dan pup. Litter box harus disimpan di lokasi yang mudah diakses dan terlihat oleh kucing, tapi tenang. Jadi, jangan simpan litter box di dekat televisi, atau di lorong tempat orang-orang sering lewat, dan sebagainya.

Jika rumahmu berlantai dua, atau tiga, dan seterusnya, sebaiknya kamu menyimpan litter box di setiap lantai. Bayangkan mereka sedang asyik bersantai di rooftop a.k.a genteng dan tiba-tiba kebelet, tidak lucu kalau mereka harus pontang-panting lari ke lantai bawah sambil nahan pipis, kan. Kasihan mereka.

Terus, jangan biasakan memindahkan litter box, kecuali memang benar-benar diperlukan. Kalaupun kamu berencana memindahkannya, jangan langsung tok dari ujung ke ujung. Coba geser sedikit demi sedikit setiap harinya sampai ke tempat tujuan. Hal ini diperlukan agar kucing tidak bingung dan mencari-cari di mana litter box-nya.

Kamu juga harus rajin bebersih! Itu memang ‘toilet’ kucing, tapi kan tidak ada flush-nya, tidak ada septic tank-nya, jadi kamu harus membuangnya sendiri selaku orang tua si meong. Soalnya, kucing tidak suka litter box-nya bau ataupun berantakan.

Nanti mereka tidak mau pakai lagi, bagaimana, ayo? Kalau cuma pipis mungkin tidak harus rajin dibersihkan, tapi kalau kotoran sebaiknya langsung disisihkan agar kucing kamu tidak terkontaminasi bakteri juga.

Buang semua cat litter (pasir kucing) yang kotor, kecuali jika kamu pakai cat litter yang bisa dipakai ulang. Lalu, cuci litter box-nya setidaknya seminggu sekali. Pakai detergen saja, jangan pakai wewangian atau yang baru menyengat seperti amonia dan lemon, karena nanti kucing menciumnya dan tidak mau pakai litter box lagi. Dan, jangan lupa isi ulang pasir kucingnya dengan yang baru.

2. Tempat Tidur

* sumber: cdn.diys.com

Setelah pasir kucing dan boks litter, kucing membutuhkan tempat tidur. Tapi, tempat tidur di sini bukan berarti ranjang mewah, kok. Kamu bisa menggunakan apa saja sebagai alas kucing untuk bobo.

Misalnya keranjang bayi, bantal duduk, atau bahkan boks/kardus bekas. Yang penting tempat itu bersih, kering, dan nyaman buat si meong. Lapisi tempat tidur kucing dengan selimut atau handuk lembut agar mereka hangat.

Pastikan untuk sering mencuci tempat tidurnya. Kalau kamu pakai kardus tentu harus sering diganti (karena tidak mungkin dicuci), soalnya siapa tahu kucing belum terbiasa menggunakan litter box, sehingga mereka pipis dan kotoran di dalam tempat tidurnya. Kalaupun mereka tidak buang air di kasur kardusnya, bukan berarti itu bersih selamanya dan tetap harus diganti sesekali dengan yang baru.

Oh ya, yang paling penting simpan tempat tidurnya di dalam ruangan. Menurut penelitian, kucing yang tinggal di luar (walaupun itu kucing yang dipelihara di rumah), memiliki hidup yang lebih pendek dibandingkan kucing yang tinggal di dalam ruangan.

Hal ini karena kucing yang tidur dan menghabiskan banyak waktu di luar lebih terancam stres akibat suara kendaraan, berkelahi dengan kucing lain, hingga bisa menjadi mangsa hewan yang lebih besar seperti anjing liar, misalnya. Kucing yang ada di luar ruangan juga lebih rentan terinfeksi kutu dan penyakit menular.

3. Makanan

* sumber: www.pfma.org.uk

Jika kamu peduli dengan kesehatan si miaw, sangat disarankan untuk membeli makanan kucing berkualitas tinggi dan bermerek. Untuk menentukan diet (pola makan) yang baik, faktor-faktor seperti usia, tingkat aktivitas, dan kesehatan kucing perlu diperhatikan. Kamu bisa juga berkonsultasi pada dokter hewan untuk hal ini.

Kucing membutuhkan taurin, yaitu asam amino esensial, untuk kesehatan jantung dan matanya. Makanan yang kamu pilih harus seimbang untuk tahap hidup kucing atau anak kucing, karena berbeda usia berbeda juga makanannya. Kamu juga harus menyediakan air bersih yang segar untuk mereka minum.

Dan, cuci serta isi ulang mangkuk air minum kucing setiap hari. Untuk treats (snack) tidak boleh lebih dari 10% makanan harian kucing, kalau berlebihan, mereka nanti mendapatkan nutrisi yang tidak cukup. Cek artikel ini untuk tahu merk makanan kucing yang paling baik di pasaran.

4. Tunjukkan Kasih Sayang

* sumber: petcentral.chewy.com

Kucing adalah hewan peliharaan yang manja dan suka diperlakukan dengan penuh kasih sayang. Jadi, sering-sering lah melakukan hal seperti mengusap kepala, belly rub, memeluknya, cuddling di kasur, cium wajahnya, ajak mengobrol, ajak bermain, pijat-pijat, dan lainnya.

Tapi, hal yang paling sederhana dan perlu diketahui adalah, jangan mengangkat kucing dengan tekuknya, jangan pernah. Hal ini mungkin sering kamu lihat, tapi itu tidak baik.

Untuk mengambil kucing Anda, letakkan satu tangan di belakang kaki depan dan tangan lainnya di bawah kaki belakang. Angkat dengan lembut. Jangan juga mengangkat kucing dengan kaki depannya. Ini berlaku untuk anak kucing maupun kucing dewasa, ya.

Perlakukan mereka seperti hewan yang ringkih, ok! Cara mengangkat kucing yang benar adalah sebagai berikut: pegang kepala dan pantatnya dengan tangan, gendong dan posisikan tanganmu pada bagian perut dan punggungnya. Dan, ingat, jangan pernah mencengkeram apalagi meremas kucing, ya!

5. Grooming

* sumber: felinewellness.com

Grooming berarti merawat kucing, mulai dari kesehatannya, kebersihannya, hingga penampilannya. Grooming akan mengurangi terjadinya hairball (bulu kucing yang kusut dan menggumpal), mempercepat proses penyembuhan jika ada luka, mengurangi kemungkinan adanya kutu, dan kamu juga bisa lebih mudah memantau kesehatan si meong.

Sebenarnya kucing adalah hewan yang bersih, mereka suka kebersihan, makanya mereka suka jilat-jilat tubuh mereka sendiri. Tapi, kamu bisa membantu kucing untuk menjaga kecantikan dan kesehatan mereka dengan berkontribusi untuk perawatan rutin mereka. Seperti memandikan, menyisir, menyikat gigi, memotong kuku, massaging, dan lain sebagainya.

6. Scratching Post

Scratching post adalah garukan kucing. Ini merupakan sebuah aksesoris hewan peliharaan yang biasanya terbuat dari kayu yang dilapisi sesuatu berbahan kasar/berserat. Fungsinya ya buat kucing menggaruk-garuk kukunya.

Ini penting, loh! Mungkin kamu sering menemukan kasus di mana kucing menyabet jok motor, sofa, atau bantal. Itu karena mereka tidak ada pelampiasan untuk menggaruk kukunya yang terus tumbuh.

Menggaruk-garuk bukan sekedar pelampiasan kucing saja, tapi memang dibutuhkan untuk ‘memangkas’ kuku mereka secara natural. Kucing liar bisa menggaruk ke mana saja, seperti jalanan, pohon, dll. Kalau kucing rumahan di mana, coba? Daripada mengorbankan furnitur, lebih baik kamu sediakan scratching post sejak awal. Kamu bisa membelinya di di Shopee lewat link ini.

7. Name Tag

Bukan cuma manusia saja yang butuh identitas, tapi kucing peliharaan juga. Walaupun kucing rumahan, mungkin kamu tetap membiarkannya bergaul di luar juga, atau bisa saja mereka kabur.

Untuk antisipasi supaya mereka tidak hilang, sebaiknya kamu mengalungkan name tag pada leher kucing. Name tag yang ada di pasaran (yang berkualitas baik) dibuat dari bahan elastis yang tidak akan menyakiti kucing.

Ada juga teknologi yang lebih mumpuni, yaitu implan microchip untuk hewan. Canggih banget, ya, kayak di film-film? Tapi, ini sungguhan ada. Chip yang seukuran butir beras ini menggunakan teknologi identifikasi frekuensi radio pasif yang berisi data hewan peliharaan dan siapa pemiliknya.

Nanti, kalau si hewan tersesat, mereka bisa langsung diantarkan ke rumah oleh orang yang menemukannya. Tidak sakit, kok, saat memasukkan chipnya. Seperti ‘disengat lebah kecil’, begitu katanya perumpamaan sensasinya. Tapi, kalau menurut kamu itu berlebihan, name tag saja sudah cukup, sih. Kamu bisa membelinya di link ini.

8. Rutin Cek Kesehatan

Tips yang terakhir adalah, jangan lupa mengecek kesehatan si meong secara rutin. Kucing harus mengunjungi dokter hewan setidaknya setahun sekali untuk pemeriksaan dan suntikan tahunan. Tentunya mereka harus segera dibawa ke rumah sakit juga jika sakit atau terluka.

Perhatian: jangan pernah memberi obat pada kucing yang belum diresepkan oleh dokter hewan. Jika kamu curiga si mpus menelan zat beracun atau benda asing, segera hubungi dokter hewan juga.

Kesehatan kucing mencangkup vaksinasi. Dokter hewan akan membuat rekomendasi berdasarkan usia dan kesehatan setiap kucing untuk mencegahnya terkena penyakit serius. Lalu, ada spaying dan neutering juga. Kucing betina harus di-spray dan kucing jantan di-neuter (disterilkan) di atas usia lima bulan jika kamu tidak berencana untuk memiliki ‘cucu’.

Walaupun ada beberapa orang yang menganggap ini kejam karena membuat kucing kehilangan gairahnya, jadi kembali lagi pada kamu sebagai orang tua kucing mau bagaimana.

Jadi, merawat kucing itu tidaklah sulit. Tapi, jika ada kesulitan memang lebih baik untuk menanyakan ke ahlinya, misalnya dokter hewan. Selain itu, peralatan untuk kucing pun harus lengkap agar kucing nyaman dan tetap terjaga kebersihannya. Ada tips lainnya soal merawat kucing? Berikan saran kamu di kolom komentar, ya!

Topik Terkait:

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *