Ditulis oleh - Diperbaharui 6 Februari 2019

Orang tua terkadang merasa frustrasi ketika memberikan nasihat pada anak. Orang tua pastilah mencintai anak-anaknya, ingin melindungi dan memberikan yang terbaik untuk mereka. Namun terkadang, anak berontak atau marah ketika diberi nasihat oleh orang tua.

Perlu trik khusus agar nasihat orang tua dapat diterima oleh anak tanpa merasa terpaksa. Berikut ini 10 cara yang bisa digunakan orang tua ketika menasihati anak-anak.

10 Cara Menasihati Anak yang Benar

1. Beri Nasihat Sesuai dengan Pertanyaan Mereka

* sumber: evangelio.blog

Ketika anak meminta nasihat atau saran pada Bunda atau Ayah, berilah nasihat atau saran mengenai hal yang mereka tanyakan saja. Misalnya, jika anak meminta nasihat tentang tugas sekolah yang harus dikerjakan, berilah nasihat tentang tugas sekolah itu saja. Hindari untuk ikut membantu menyelesaikan tugas sekolahnya.

Umumnya, anak-anak ingin melakukan sesuatu sesuai dengan keinginannya. Yang dia inginkan dari Bunda atau Ayah adalah memberikan nasihat tentang tugas sekolahnya. Dia tidak meminta nasihat tentang bagaimana menyelesaikan tugas sekolahnya. Hal itu hanya akan membuat anak kehilangan kesenangan dalam menyelesaikan tugas sekolah.

Jika akhirnya tugas sekolah diselesaikan dengan cara yang diinginkan oleh Bunda atau Ayah, tugas sekolah yang awalnya merupakan hal yang menyenangkan menjadi seperti sebuah pekerjaan. Nantinya, jika dia memiliki tugas lain dari sekolah, dia tidak akan meminta nasihat dari Bunda dan Ayah. Dia akan menjauh tiap kali ada tugas yang ingin dia kerjakan sesuai dengan keinginannya.

Perhatikan juga ekspresi wajahnya ketika berbicara. Jika ketika diberikan nasihat, dia nampak bosan, Bunda atau Ayah harus tahu kapan berhenti bicara. Beri juga kesempatan untuk anak berbicara ketika berdiskusi tentang pertanyaan yang dia ajukan. Jika anak lebih banyak diam, hentikanlah diskusi agar diskusi itu tidak berakhir menjadi sebuah ajang memberi ceramah.

2. Jawab Pertanyaan dengan Pertanyaan

Cara menasehati orangtua Father and Son

* sumber: www.kiplinger.com

Mungkin anak-anak akan datang kepada Bunda atau Ayah untuk meminta nasihat. Namun ketahuilah, umumnya anak-anak tahu apa yang mereka ingin lakukan sebelum mereka mendatangi Bunda atau Ayah. Perlu diingat bahwa memberikan jawaban untuk pertanyaan mereka tidak akan membantu mereka karena mereka tidak akan belajar membuat keputusan sendiri.

Contohnya, jika anak bertanya apakah dia harus mengikat rambutnya atau menggerainya, maka tanyakan padanya mana yang dia lebih sukai. Bunda atau Ayah juga bisa ungkapkan sebuah candaan bahwa jika orang tua meminta anaknya memakai A, anak akan melakukan yang sebaliknya.

3. Ceritakan Tentang Apa yang Dilakukan Ayah atau Bunda

* sumber: blog.chocchildrens.org

Daripada memberikan nasihat, cara terbaik untuk menolong anak Bunda dan Ayah agar mampu membuat keputusan yang baik adalah dengan berbicara tentang bagaimana Bunda atau Ayah membuat keputusan. Ceritakan bagaimana usaha Bunda dan Ayah untuk membuat keputusan yang benar dalam suasana percakapan yang santai.

Misalnya, bicarakan bagaimana Bunda atau Ayah membuat keputusan di tempat kerja. Ceritakan bagaimana proses pembuatan keputusan tersebut. Apa yang menjadi dasar dari pengambilan keputusan dan bagaimana akhirnya bisa memutuskan memilih A atau B.

4. Pikirkan Manfaat dan Risiko dari Segala Tindakan

* sumber: www.hksfp.com.au

Banyak buku dan artikel yang sudah menjelaskan bahaya dari sikap orang tua yang memproteksi anak secara berlebihan. Umumnya, apa yang dikatakan dalam buku dan artikel tersebut benar adanya. Ketika bermain, anak-anak mengekspos dirinya terhadap bahaya secara alamiah dan adaptif.

Ketika anak memanjat pohon tinggi atau bermain skateboard di pegangan tangga, mereka sedang mengalami sensasi bahaya. Alam mendorong anak-anak untuk melakukan hal-hal yang berbau bahaya tersebut untuk belajar menghadapi bahaya dan mengatasinya jika mereka ingin menjadi orang sukses di masa depan nanti.

Alam memberkati anak-anak dengan dorongan untuk terlibat dalam permainan yang berbahaya dan dengan akal sehat untuk mengetahui batas kemampuan mereka sendiri. Anak-anak mengukur sendiri kadar bahaya yang bisa mereka tangani dan itulah cara mereka mengatasi bahaya dan rasa takut yang akan mereka hadapi selama hidup mereka.

Kebanyakan rasa takut orang tua akan anaknya tidak rasional, biasanya didorong oleh media. Misalnya, di lingkungan yang paling aman di Amerika masih terlihat orang tua menunggu di halte bus karena takut anaknya diculik. Peluang anak meninggal karena kecelakaan ketika naik bus untuk jarak yang dekat, daripada berjalan bersama temannya, lebih besar daripada kemungkinan anak diculik.

Sebelum melarang sebuah aktivitas karena berbahaya, pikirkan tentang pertanyaan mengenai seberapa bahayakah aktivitas itu, dan bandingkan bahaya tersebut dengan aktivitas fisik, keahlian, rasa percaya diri, dan kontrol emosi, dan jangan lupa kesenangan, yang akan didapat oleh anak-anak dengan terlibat dalam aktivitas tersebut.

Pikirkan tentang akibat yang dihasilkan dari tindakan Anda dan hindari pemikiran pada anak-anak bahwa mereka tidak memiliki kompetensi untuk membuat keputusan sendiri atau untuk melakukan sesuatu sendiri tanpa perlindungan orang tua.

5. Hitung Sampai Sepuluh Sebelum Menasehati

Hitung Sampai Sepuluh Sebelum Menasehati

* sumber: www.medicalnewstoday.com

Bagi kebanyakan orang tua, memberikan nasihat bersifat refleksif, impulsif. Orang tua melakukannya tanpa memikirkan konsekuensinya. Pepatah lama untuk menghitung sampai sepuluh sebelum marah berhasil menunda amarah sehingga memberikan kesempatan untuk kita berpikir tentang pemicu dan pengendalian amarah.

Hal yang sama juga berlaku ketika memberi nasihat. Sebelum Bunda atau Ayah memberitahukan apa yang harus dilakukan anak ketika bertemu teman, apa yang harus dipakai ketika keluar rumah, harus makan apa, bagaimana anak harus bertingkah laku atau berbicara, hitunglah sampai sepuluh. Kemungkinan Bunda dan Ayah akan berpikir bahwa nasihat itu tak akan berhasil atau tak penting.

Jika nasihat itu dirasa penting, Bunda atau Ayah akan memberitahukannya pada anak. Namun, jeda 10 hitungan itu akan menuntun Bunda dan Ayah untuk memikirkan cara menyampaikan nasihat yang baik dan beralasan daripada terkesan seperti sebuah perintah yang impulsif.

6. Tawarkan Ide Baru

* sumber: www.esrb.org

Ketika memberikan nasihat, Bunda dan Ayah bisa menggunakan strategi baru, yaitu menawarkan ide baru yang tidak mengikat. Biarkan anak tahu bahwa anak mungkin bisa memiliki gagasan yang lebih baik dan dia seharusnya hanya melakukan apa yang dia rasa benar. Bicara secara singkat dan tak berbelit-belit, hindari berceramah. Bicaralah secara positif tentang solusi tanpa menghakimi.

7. Berikan Kata-kata yang Memotivasi

* sumber: afamily.vn

Ketika anak-anak kelihatan kebingungan atau putus asa, mereka akan kehilangan kepercayaan diri untuk mengutarakan solusinya sendiri. Bunda dan Ayah dapat memberikan kata-kata yang mendorong atau memotivasi seperti, “Kamu tahu yang terbaik untukmu”, atau, “Kamu bisa mempercayai dirimu sendiri”.

Jika anak belum juga bisa menemukan solusi setelah berpikir beberapa saat, tawarkan ide alternatif baru, dan akhiri dengan kata-kata seperti, “dan kamu mungkin memiliki ide yang lebih baik.”

8. Jadilah Teman Bukan Lawan

* sumber: m.dailyhunt.in

Ketika hal yang Bunda atau Ayah percayai sebagai sesuatu yang lebih baik ternyata berbeda dengan apa yang anak percayai, bahkan setelah Bunda dan Ayah benar-benar memikirkannya, cobalah untuk tidak menjadikan perbedaan tersebut menjadi sebuah konfrontasi.

Cobalah untuk memahami apa yang diinginkan anak dan apa alasannya. Jadilah teman bukan lawan. Adopsi sudut pandang anak. Mungkin Bunda dan Ayah bisa membantu memikirkan cara agar anak bisa mendapatkan apa yang diinginkannya tanpa anak harus mengalami risiko berbahaya yang dikhawatirkan oleh Bunda dan Ayah.

9. Hindari Mengatakan “Apa Bunda/Ayah bilang”

* sumber: hopeforhurtingparents.wordpress.com

Adalah hal yang alami jika orang tua ingin melindungi anaknya dan terkadang sangat sulit untuk tidak mengatakan “Apa Bunda/Ayah bilang” ketika anak melakukan kesalahan yang sebenarnya bisa dihindari.

Berikut ini contoh ungkapan yang lebih lembut untuk membantu anak memahami kesalahannya dan kembali ke jalan yang benar. Alih-alih mengatakan, “Sudah Bunda/Ayah bilang, kamu harusnya periksa tasmu sebelum pergi”, coba katakan “Tadi tiba-tiba Bunda/Ayah ingat kamu. Kamu ingin sekali membawa krayon itu ke sekolah, jadi pasti kamu tak akan lupa menaruhnya di tas besok.” Lebih nyaman didengar, bukan?

10. Ingat! Anak Memiliki Kepribadian Sendiri, Bukan Cerminan Orang Tua

* sumber: expertbeacon.com

Kita mengatakannya reproduksi, tapi ketika memiliki anak, orang tua tidak mereproduksi diri mereka sendiri. Bunda atau Ayah bahkan tidak mereproduksi sesuatu yang merupakan campuran dari Bunda dan Ayah. Karena fenomena genetika dari gen-gen yang saling-silang dan acak, tiap anak yang dikandung akan lahir sebagai manusia baru yang benar-benar berbeda.

Tugas orang tua untuk mencoba memahami manusia baru tersebut dan membantunya sesuai dengan cara yang dia inginkan. Orang tua membuat kesalahan ketika mencoba membentuk anak menjadi replika dari diri orang tua, atau jika orang tua menganggap mereka sebagai ekstensi atau refleksi dari diri orang tua. Karena mereka berbeda maka prioritas dan kebutuhannya pun berbeda.

Bunda dan Ayah perlu membantu anak menjadi diri sendiri dan cobalah untuk tidak menjadikan mereka menjadi Bunda atau Ayah atau menjadi  seseorang yang membuat Bunda dan Ayah terlihat lebih baik. Setidaknya, Anda sebagai orang tua bisa membentuk karakter anak tanpa harus menjadikannya sama persis seperti Anda. Bingung cara membentuk karakter anak? Baca artikel 10 Cara Membentuk Karakter Anak ini.

Memberikan nasihat pada anak tidaklah mudah. Bagi orang tua, belajar menahan diri adalah hal yang sulit tetapi hal itu adalah hal yang terbaik bagi anak. Orang tua harus mendorong anak untuk berani mengambil keputusan. Menurutmu, dari semua cara di atas, manakah yang yang paling sulit untuk dilakukan?