Bacaterus / Sastra / 6 Cara Membuat Puisi yang Bagus dan Indah bagi Pemula

6 Cara Membuat Puisi yang Bagus dan Indah bagi Pemula

Ditulis oleh - Diperbaharui 29 Mei 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Pecahkan saja gelasnya biar ramai’ adalah sepotong baris puisi karangan Rako Prijanto yang juga terkenal di film layar lebar Ada Apa dengan Cinta. Mungkin sudah tidak asing lagi telinga kita mendengarnya. Puisi ini, dalam filmnya, membuat Rangga memenangkan lomba puisi di sekolahnya, sekaligus menarik perhatian Cinta. Hihihi. Bagus, kalau begitu, ya, puisinya?

Nah, tenang, kita juga bisa kok menulis puisi bagus seperti Rangga, atau Rako Prijanto di dunia nyatanya. Di sini, Bacaterus akan memberi tips-tips yang mungkin bisa membantu kalian untuk membuat puisi dan mengembangkan kemampuan menulis puisi kalian. Tips di sini bisa untuk dipraktikkan membuat puisi cinta atau pun puisi bebas. Baca terus, yuk!

1. Judul Puisi

judul puisi

* sumber: inchoo.net

Judul merupakan salah satu daya tarik yang berperan penting untuk menarik minat pembaca. Jadi, ada baiknya jika kita memilih judul menarik, catchy, indah dan berkesan sehingga pembaca berminat dan akhirnya memutuskan untuk membaca puisi kita.

Biasanya, pembaca akan lebih tertarik dengan judul-judul yang unik dan tidak biasa. Kita bisa berkreasi untuk membuat judul sekreatif mungkin. Namun, tetap ingat relevansinya dengan isi puisi kita, ya!

2. Diksi

diksi

* sumber: t3ea.com

Diksi atau pemilihan kata menjadi keunikan sebuah puisi. Banyak puisi bagus yang terdiri dari pemilihan kata-kata sederhana, dipakai di keseharian dan tidak asing di telinga. Banyak juga puisi bagus dengan pemilihan kata-kata yang jarang dipakai atau didengar orang.

Sebenarnya, hal ini bergantung pada selera masing-masing. Tidak ada yang menuntut kita harus menggunakan diksi seperti apa. Tetap ikuti saja keinginan jari dan hati kita, ekspresikan diri sendiri; tergantung gaya menulis kita masing-masing.

Jika gaya menulis kita memang sederhana, tuliskanlah puisi dengan bahasa yang sederhana. Jika kita lebih suka menulis puisi dengan kata-kata yang rumit dan ‘bersayap’, tidak usah ragu untuk menuliskannya juga.

3. Rima

rima

* sumber: www.theodysseyonline.com

Ingat pelajaran Bahasa Indonesia, yang menerangkan rima a-b-a-b? Yup, rima juga sangat berguna untuk pembacaan puisi yang lebih tertata. Tidak jarang, memang, para penulis puisi mengabaikan keberadaan rima, terutama pada puisi baru, tapi rima menjadi esensial untuk menambah lantunan membaca.

Pembuatan rima juga merangsang sisi kreativitas kita untuk mencari kata-kata lain agar dapat memenuhi lantunan di kata sebelumnya. Tidak ada salahnya juga, kan, kita sebagai penulis puisi mengeksplor kata-kata baru?

Untuk pembaca, ternyata membaca kata-kata berima cukup signifikan. Pembaca disuguhkan permainan kata-kata, membuat mereka memiliki jalan dan cara lain untuk membaca suatu karya, terutama puisi. Rima juga membuat baik pembaca, maupun penulis sebagai pembaca, mempunyai kemampuan untuk mempersepsikan suara bahasa dan memiliki kesadaran fonologis.

4. Bait

bait

Eits, jangan samakan bait puisi dengan baris/larik puisi, ya! Perbedaannya, baris/larik puisi adalah satu kalimat atau satu baris di dalam bait. Yup, baris/larik adalah bagian dari bait. Bait sendiri adalah kumpulan baris/larik yang tersusun rapi.

Puisi lama biasanya membatasi satu bait terdiri dari empat larik. Namun, dalam kasus puisi baru, larik yang terdapat dalam sebuah bait tidak dibatasi. Contohnya bisa dilihat dari puisi dalam ilustrasi gambar di atas.

Bait biasanya digunakan sebagai cara penulis untuk berpindah topik atau fokus puisi. Misalnya, dalam bait pertama, penulis menyampaikan kasih sayangnya pada seorang tokoh bernama Leila. Di bait kedua, penulis ganti menyampaikan rindu dendamnya pada Leila.


Kita bisa membuat bait sesuai kemauan atau mengikuti jenis-jenis bait yang sudah ada, yaitu distikon (puisi dengan masing-masing dua baris di tiap bait), terzina (terdiri dari tiga baris per bait), kuatren (empat baris per bait), kuint (lima baris per bait), sekstet (enam baris per bait), septima (tujuh baris per bait), oktaf atau stanza (dobel kutrain; terdiri dari delapan baris per bait), atau sonata (terdiri dari empat baris di masing-masing dua bait pertama dan tiga baris di masing-masing dua bait terakhir).

5. Penutup Puisi

penutup puisi

Puisi biasanya akan lebih mengena jika ditutup dengan akhiran yang dramatis dan ‘menusuk’ pembacanya, memungkinkan puisi agar bisa dibaca lebih dari satu kali. Pemilihan akhir puisi ini menjadi taktik yang bisa dimanfaatkan sebagai ungkapan ‘save the best for the last’, atau ‘siapkan yang terbaik di bagian akhir’.

Selain dengan dramatis, kita juga bisa melebarkan kreativitas dan memilih akhir puisi yang justru tidak dapat dibayangkan oleh pembaca kita, atau membuat sebuah twist di akhir.

Jikapun tidak memiliki akhiran dramatis, kita harus bisa mengimbangi susunan puisi di awal, sehingga tidak menyebabkan ketimpangan yang membuat puisi kita justru jadi kehilangan maknanya sepenuhnya. Alur penuturan puisi diusahakan agar mengalir tetapi konstan berfokus pada hal yang ingin kita bicarakan, ditutup pula dengan alur yang sama.

6. Keterbacaan

keterbacaan

Setelah mengikuti tips-tips di atas, kita juga harus ingat bahwa kita harus menyampaikan maksud dan tujuan puisi kita dengan cara yang dapat dimengerti oleh orang lain.

Lantaran karakteristik utama puisi yang penuh dengan bahasa kiasan, kita sebagai pembaca memang seringkali nyaris tidak dapat menghindari kebingungan tersendiri ketika selesai membaca puisi. Akan tetapi, puisi tidak hanya berkisar pada majas dan ungkapan yang terlalu banyak tanpa makna berarti. Puisi tetap harus mempunyai makna tersendiri, yang konsisten dan koheren.

Nah, sekarang, coba terapkan tips-tips di atas sebelum mulai menuliskan puisi. Namun, perlu diingat bahwa salah satu tujuan puisi adalah sebagai ekspresi hati kita yang dituangkan ke dalam kata-kata. Maka, jangan terlalu terpaku pada ‘rumus-rumus’ yang ada, jadikanlah sebagai arahan untuk mempermudah proses penulisan.

Kalian ada saran, tips, atau teknik menulis puisi lain agar hasilnya lebih bagus? Jangan sungkan untuk berbagi dan berdiskusi di kolom komentar, ya!

Oh iya, selain tips untuk menulis puisi, kami juga pernah membahas seputar tips menulis cerpen agar cerpen yang dibuat menjadi lebih menarik. Untuk mengetahui penjelasan lengkapnya, silakan baca artikel ini.

Topik Terkait:

Artikel Terkait

Baca Juga

22 Responses

  1. Kita untuk membuat puisi perlu juga ketenangan jiwa dan waktu yang bersahabat. Seperti, malam hari, atau ketika waktu-waktu senyap dan sunyi.

    1. Terima kasih atas masukannya. 🙂

  2. membuat puisi tidak harus dalam kondisi senyap

  3. membuat puisi sesuai dengan gejolak jiwa

  4. puisi perlu jg kenagan jiw dn raga

  5. NIAT..
    paling penting dalam membuat puisi..hehehehe

  6. Menulis puisi juga butuh teman.. Siapa lagi kalo bukan rokok dan kopi

  7. Kak, boleh ngk dalam satu puisi, jumlah bait dalam satu larikan/baris berbeda beda? Misalnya yg bait yg pertama 6 baris bait yg kedua 4 baris

  8. Membuat puisi dengan pengalaman yang diperumpamaan

  9. Kalo aku mulai suka nulis puisi gara gara ketolak sama dia, terus aku tuangin semua rasa kecewaku, sedihku, rinduku kedalam sajak sajak puisi, jadi, ya aku harus berterimakasih sama dia karna dah nolak aku

  10. Kalo aku mulai suka nulis puisi gara gara ketolak sama dia, terus aku tuangin semua rasa kecewaku, sedihku, rinduku kedalam sajak sajak puisi, jadi, ya aku harus berterimakasih sama dia karna dah nolak aku.Sekarang gara gara sering nulis puisi temen temen kadang sering minta dibuatin.Mksh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *