Bacaterus / Tips Microsoft Office / Tutorial Cara Membuat Kutipan untuk Karya Ilmiah di Ms.Word

Tutorial Cara Membuat Kutipan untuk Karya Ilmiah di Ms.Word

Ditulis oleh - Diperbaharui 23 Mei 2019

Ada yang bilang membuat tugas akhir kuliah seperti skripsi, tesis, apalagi disertasi, adalah hal yang sulit. Menurut saya sendiri, kesulitan penulisan tugas akhir itu relatif dan berbeda-beda antara satu orang dengan orang lain. Saya sudah berjumpa dengan banyak mahasiswa yang merasa bahwa menulis skripsi itu sulit. Ketika saya tanya, sulitnya di mana, jawabannya adalah “Semuanya.”

Kalau menemukan jawaban seperti itu, saya biasa berkomentar setengah bercanda, “Ya sudah, tidak usah skripsi dulu kalau memang semuanya sulit. Kamu mengulang kuliah lagi saja dari semester satu supaya kamu betul-betul tahu apa yang mau diteliti dan bisa membuat analisis.” Namun begitu, jelas tidak ada yang mau seperti itu.

Menurut saya, penyusunan tugas akhir itu tidak sulit-sulit amat apabila kita sudah paham tiga hal penting. Pertama, kita harus sudah tahu dan paham tentang apa yang ingin kita teliti dan jadikan bahan untuk penyusunan tugas akhir. Kedua, kita sudah terbiasa menyusun karya tulis ilmiah dalam bentuk lain; tidak perlu artikel jurnal ilmiah, makalah dan kertas kerja pun sudah bisa menjadi modal. Ketiga, kita semestinya sudah paham teknis penulisan karya ilmiah yang berlaku di lingkungan akademik kita.

Dari tiga hal ini ada dua hal yang seringkali membuat bahkan mahasiswa yang cerdas sekalipun kesulitan ketika menyusun tugas akhir. Hal itu adalah poin kedua dan ketiga.

Tidak sedikit mahasiswa yang belum terbiasa membuat makalah dengan baik ketika diberi tugas oleh dosennya. Ada juga yang masih nekat membuat makalah yang bahannya copy-paste langsung dari internet atau sumber lain. Banyak mahasiswa yang masih menganggap remeh keterampilan menulis serta pengetahuan bahasa Indonesia baku di tingkat perguruan tinggi sehingga mereka terkendala ketika menyusun naskah karya ilmiah.

Bagi saya, teknis pengutipan dan pengetahuan bahasa Indonesia itu semestinya menjadi hal menyulitkan sekunder dalam penulisan skripsi. Akan tetapi, pada kenyataannya, tidak sedikit mahasiswa yang sudah memiliki penelitian dan hasil penelitian yang solid, namun tidak mampu menuangkan gagasan dan hasil penelitiannya ke dalam bentuk karya tulis ilmiah yang solid, bernas, mangkus, dan sangkil.

Mengapa Pencantuman Sumber Kutipan itu Vital dan Fatal?

Mengapa Pencantuman Sumber Kutipan itu Vital dan Fatal

Di dalam lingkungan akademisi, gagasan, apalagi yang sudah diterima sebagai sebuah dalil atau teori, adalah hal yang penting. Penyusunan gagasan apalagi dalil atau teori bukan proses remeh yang bisa dilakukan dalam sekejap mata. Sebuah teori atau dalil harus disusun dengan logis dan dapat dibuktikan agar diterima sebagai teori yang valid. Ada upaya yang tidak sedikit dan tidak kecil dalam menyusun suatu gagasan ilmiah.

Maka dari itu, kaum akademisi semestinya bisa saling menghargai usaha sesamanya dalam menyusun sebuah gagasan. Cara menghargai usaha tersebut adalah dengan adanya crediting atau penyebutan atau pencantuman sumber dari pernyataan atau gagasan yang bersangkutan. Dalam konteks karya tulis ilmiah, pencantuman sumber dari pernyataan atau gagasan disebut sitasi (citation) atau pengutipan.

Jadi pada intinya, ketika kita menulis sebuah karya ilmiah dan kita harus mengutip pernyataan, gagasan, teori, atau bahkan data yang telah dikemukakan sebelumnya oleh orang lain, kita harus mencantumkan sumber dari kutipan tersebut agar menunjukkan bahwa hal yang dikutip itu bukan pernyataan kita, melainkan pernyataan orang lain. Dengan begitu, kita menunjukkan bahwa kita mengakui gagasan tersebut dari orang lain serta menghormati upaya yang telah dilakukan orang lain tersebut dalam rangka menyusun pernyataan atau gagasan tersebut.

Lalu, bagaimana jika kita tidak mencantumkan sumber dari kutipan di dalam karya tulis? Pertama, hal itu berarti kita tidak menghormati atau mengakui gagasan tersebut dari orang lain.

Kedua, di dalam lingkungan akademik, seseorang yang mengutip gagasan atau teori orang lain dan tidak mencantumkan sumber akan dituduh sebagai plagiator. Naskah karya ilmiahnya akan disebut naskah berplagiasi. Dalam kasus seorang akademisi membuat karya ilmiah yang terindikasi plagiat, akademisi tersebut biasanya mendapat sanksi.

Sanksi tersebut bisa berupa sanksi ringan seperti teguran, penurunan pangkat, dan sebagainya, sampai sanksi berat seperti pencabutan gelar atau pemutusan hubungan kerja. Jika hal-hal ini terjadi, tentu bukan hanya karier yang rusak, melainkan juga reputasi. Maka dari itu, banyak akademisi yang sangat menjaga reputasi dan kariernya dengan menjaga naskah karya ilmiahnya bebas dari indikasi plagiarisme.

Nah, agar tidak terkendala dengan masalah plagiarisme ketika membuat karya ilmiah, berikut ini saya jelaskan beberapa aturan dan teknik umum ketika mengutip suatu pernyataan ke dalam karya ilmiah.

Jenis-Jenis Teknik Pengutipan

Jenis-Jenis Teknik Pengutipan

Secara garis besar, ada dua jenis teknik pengutipan yang biasa digunakan dalam naskah karya ilmiah. Teknik-teknik itu adalah pengutipan langsung dan pengutipan tidak langsung. Kedua teknik ini sebenarnya memiliki aturan standar yang diterapkan di banyak institusi atau lingkungan akademik.

Namun begitu, ada pula lingkungan akademik atau kampus tertentu yang menggunakan aturan yang berbeda, baik sedikit maupun banyak. Maka dari itu yang akan dipaparkan di sini adalah aturan yang paling umum digunakan dan disepakati oleh banyak lingkungan akademik.

1. Pengutipan Langsung

Pengutipan langsung adalah pengutipan yang langsung menyalin pernyataan dari sumber kutipan, secara apa adanya, dengan atau tanpa penghilangan dan penambahan. Kalaupun harus ada penghilangan atau penambahan yang dilakukan, tujuannya agar kutipan tersebut dapat dipahami lebih jelas maksudnya, serta harus dilakukan seminimal mungkin agar tidak mengubah gagasan asli.

Ciri dari pengutipan langsung adalah sebagai berikut.

  1. Bagian yang dikutip ditandai dengan tanda baca petik (“…”) sebagai penanda.
  2. Kutipan langsung biasanya dimuat dalam satu kalimat majemuk. Ini berarti dalam satu kalimat ada dua klausa, yaitu klausa pengantar (yang menyebutkan sumber kutipan) serta klausa yang memuat pernyataan yang dikutip. Klausa pengantar bisa berada di depan atau di akhir kalimat.
  3. Setiap kutipan harus diberi tanda identitas kutipan dan sumber kutipan. Penanda identitas kutipan biasanya ditandai dengan nama penulis serta tahun terbit dan nomor halaman dari karya ilmiah yang dikutip.

Format yang digunakan biasanya berupa: Nama belakang (tahun terbit:nomor halaman)

Sebagai contoh:

Pengutipan Langsung

Format lainnya bisa berupa: (Nama belakang, tahun terbit:nomor halaman)

Sebagai contoh:

pengutipan langsung 2

Namun begitu, perlu dipahami bahwa memang ada beberapa lingkungan akademik yang hanya mencantumkan nama penulis dan tahun terbit saja sebagai penanda kutipan. Penulisan seperti ini biasanya dilakukan jika lingkungan akademik  tempat si penulis berkecimpung menggunakan gaya pengutipan MLA atau APA.

Tempat pencatatan sumber kutipan sendiri bisa menggunakan catatan kaki (footnote), catatan akhir (endnote), atau daftar pustaka (bibliografi).

Contoh format klausa pengantar dalam kalimat kutipan adalah sebagai berikut. Klausa pengantar yang memuat identitas sumber kutipan ditandai dengan highlight kuning.

  • Safina (2020:12) menyatakan, “Meskipun guru adalah ujung tombak pendidikan dan transfer ilmu, kesuksesan anak dalam pendidikan justru ditentukan oleh perhatian dan dukungan orang tua.”
  • “Meskipun guru adalah ujung tombak pendidikan dan transfer ilmu, kesuksesan anak dalam pendidikan justru ditentukan oleh perhatian dan dukungan orang tua,” (Safina, 2020:12).
  • “Meskipun guru adalah ujung tombak pendidikan dan transfer ilmu, kesuksesan anak dalam pendidikan justru ditentukan oleh perhatian dan dukungan orang tua,” demikian menurut Safina (2020:12).
  • Hal ini sejalan dengan pernyataan Safina (2020:12) yang menyebutkan, “Meskipun guru adalah ujung tombak pendidikan dan transfer ilmu, kesuksesan anak dalam pendidikan justru ditentukan oleh perhatian dan dukungan orang tua.”

2. Kutipan Langsung yang Lebih dari Empat Baris

Selain dalam bentuk satu kalimat majemuk, kutipan langsung juga bisa memuat beberapa kalimat atau beberapa baris. Namun begitu, karena memuat informasi lebih banyak, bentuk pengutipannya akan sedikit berbeda dari pengutipan dengan satu kalimat majemuk biasa.

Aturan yang berlaku untuk pengutipan langsung lebih dari empat baris hampir sama dengan pengutipan yang kurang atau sampai empat baris, seperti yang dipaparkan di bagian sebelumnya. Namun, ada beberapa aturan tambahan.

  1. Bagian kutipan tersebut harus dipisahkan dari paragraf asalnya.
  2. Bagian kutipan menggunakan justified alignment dengan margin yang menjorok ke dalam sebanyak satu tabulasi.
  3. Bagian kutipan menggunakan single spacing (spasi 1 poin).

Agar lebih jelas, bandingkan dan cermati contoh pengutipan langsung lebih dari empat baris berikut.

Contoh 1—Kutipan langsung yang kurang dari empat baris

Contoh 1—Kutipan langsung yang kurang dari empat baris

Contoh 2—Kutipan langsung yang lebih dari empat baris

Contoh 2—Kutipan langsung yang lebih dari empat baris

Pengutipan Tidak Langsung

Pengutipan tidak langsung adalah pengutipan pernyataan dari suatu sumber kutipan tanpa menyalin secara verbatim alias secara kata per kata pernyataan yang dimaksud. Oleh karena tidak mengutip secara kata per kata, pengutipan tidak langsung biasanya menggunakan teknik parafrase atau penyaduran.

Namun begitu, harus dicamkan bahwa parafrase yang dibuat tidak boleh melenceng dari gagasan asli dari pernyataan yang dikutip. Suyono, dkk. (2015:50) juga menyebutkan bahwa dengan melakukan pengutipan tidak langsung berarti ada penyaringan informasi dari rujukan aslinya.

Ciri-ciri kutipan tidak langsung adalah sebagai berikut.

  1. Tidak ada tanda petik (“…”) yang mengapit bagian yang dikutip.
  2. Kalimat yang digunakan tetap berupa kalimat majemuk, namun biasanya menggunakan konjungsi bahwa sebagai penanda pernyataan yang mengutip gagasan.
  3. Identitas sumber kutipan tetap dicantumkan dalam kalimat yang dikutip.
  4. Kalimat kutipan bukan berupa salinan langsung dari sumber yang dikutip melainkan sebuah kalimat saduran atau parafrase.

Berdasarkan ketentuan-ketentuan tersebut berikut ini dicontohkan kalimat pengutipan secara tidak langsung.

Pengutipan Tidak Langsung

Parafrase dan Penyimpulan untuk Kutipan Tidak Langsung

Untuk membuat kutipan tidak langsung, kita harus bisa membuat parafrase. Dalam KBBI V, parafrase didefinisikan sebagai “pengungkapan kembali suatu tuturan dari sebuah tingkatan atau macam bahasa menjadi tuturan yang lain tanpa mengubah pengertian”. Kutipan tidak langsung dengan teknik parafrase biasanya digunakan ketika kita harus mengutip dalam kondisi:

  1. mengutip pendapat yang dielaborasikan secara detail dalam banyak kalimat;
  2. membuat simpulan dari data-data yang dipaparkan dalam sumber kutipan; atau
  3. membuat ringkasan dari pernyataan yang dipaparkan secara panjang lebar dari suatu sumber kutipan.

Sebagai contoh, berikut ini disajikan sepotong teks dari buku Perencanaan Pembangunan Daerah: Pendekatan Pertumbuhan Ekonomi, Disparitas Pendapatan dan Kemiskinan yang disusun Wahyu Hidayat dan diterbitkan UMM Press pada 2017.

Parafrase dan Penyimpulan untuk Kutipan Tidak Langsung

Di dalam teks tersebut terdapat informasi tentang tiga hal penyebab kemiskinan secara ekonomi dan tujuh faktor penyebab kemiskinan di kabupaten/kota di Jawa Timur. Informasi-informasi ini bisa kita kutip menjadi sebuah kalimat dengan merangkum teks tersebut, seperti berikut ini.

  • Hidayat (2017:94) memaparkan bahwa ada tiga kelompok faktor ekonomi yang memengaruhi kemiskinan dan dari tiga kelompok faktor ekonomi tersebut, ada tujuh faktor penyebab kemiskinan di kabupaten/kota di Jawa Timur.

Parafrase tersebut tidak menyebutkan satu per satu faktor penyebab kemiskinan, tetapi hanya menyebutkan jumlah faktor-faktor yang dipaparkan. Namun begitu, gagasan tentang tujuh faktor tersebut diungkapkan oleh Hidayat, maka penulis mesti menuliskan Hidayat sebagai penulis yang dikutip.

Penerjemahan Kutipan dari Teks Bahasa Asing

Saifuddin, dkk. (2018:49) mengingatkan bahwa ketika kita mengutip dari sumber yang berbahasa asing, hendaknya diterjemahkan. Aturan penulisan sumber kutipan dari bahasa asing mengikuti ketentuan yang dikemukakan Saifuddin, dkk (2018:49). seperti berikut.

  1. Seluruh teks terjemahan ditulis setelah teks asli yang berbahasa asing.
  2. Posisi dan jarak tikan sama teks terjemahan mengikuti teks aslinya.
  3. Sebelum teks terjemahan, diberikan kata penanda seperti “yang berarti” atau “yang diartikan”.

Berdasarakan ketentuan tersebut, berikut adalah contoh pengutipan teks dari bahasa asing yang diikuti dengan penerjemahan.

Penerjemahan Kutipan dari Teks Bahasa Asing

Demikianlah beberapa aspek penting yang semestinya pembaca ketahui tentang teknik pengutipan dalam karya ilmiah. Hal-hal yang saya kemukakan di atas, yaitu pengutipan langsung, pengutipan tidak langsung, dan penerjemahan kutipan dari teks bahasa asing. Apabila ada hal-hal yang ingin ditanyakan, silakan isi di kolom komentar. Semoga bermanfaat!

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on pinterest
Pinterest
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan komentar