Bacaterus / Serba Serbi / 10 Cara Membentuk Karakter Anak dengan Tepat & Sederhana

10 Cara Membentuk Karakter Anak dengan Tepat & Sederhana

Ditulis oleh - Diperbaharui 6 Desember 2018

Memiliki anak dengan karakter baik merupakan idaman semua orang tua. Namun, membentuk karakter baik pada anak tidak semudah memasak sebuah resep masakan yang bisa diprediksi waktu, bahan, dan caranya. Membentuk karakter anak adalah proses yang membutuhkan waktu yang lama dan tidak bisa instan.

Karakter anak juga merupakan cerminan karakter kita (orang tua) sebagai pengasuh utamanya. Jika demikian, apakah usaha yang dapat kita lakukan untuk menumbuhkan karakter baik pada anak?

10 Cara Membentuk Karakter Anak

1. Berikan Teladan

* sumber: www.delawareshc.org

Teladan memiliki kekuatan berkali-kali lipat daripada kata-kata. Banyak orang tua yang terlalu fokus pada memberikan nasihat ketika anak tidak memiliki karakter yang baik, padahal anak adalah peniru ulung. Jika kita menginginkan anak kita memiliki karakter yang baik, maka hal tersebut berlaku sebaliknya, yakni orang tua harus memberikan contoh terlebih dahulu.

Pembentukan karakter baik anak dimulai dengan pembentukan karakter baik orang tua. Meskipun kata-kata dibutuhkan, namun teladan tetap nomor satu dalam pembentukan karakter.

2. Perbaiki Komunikasi dengan Pasangan

Perbaiki Komunikasi dengan Pasangan

* sumber: www.lernerchilddevelopment.com

Tidak jarang anak memiliki kebingungan akan nilai karena orang tuanya tidak kompak. Menurut Ayah A adalah benar namun menurut Bunda A itu salah. Ketika sebuah nilai diterapkan, maka kesatuan frekuensi dari Ayah dan Bunda adalah sebuah keharusan.

Karakter anak dibentuk dari kebiasaannya merespon sesuatu. Jika anak melihat nilai yang diterapkan di dalam keluarganya tidak konsisten, maka dia pun cenderung tidak memiliki keteguhan di dalam karakternya. Saat Ayah dan bunda tidak memiliki kekompakan, anak menjadi bingung dan tertekan. Dia tidak tahu harus mengikuti siapa.

3. Terapkan Mindset: “Tidak ada anak yang dilahirkan nakal”

Terapkan mindset

* sumber: www.shoppinglifestyle.com

Sebelum kita melakukan yang lain, maka ubahlah persepsi bahwa anak kita adalah kertas kosong. Milikilah mindset bahwa anak adalah sebuah benih yang memiliki kecenderungan untuk tumbuh berbuat baik.

Tidak ada anak yang nakal, yang ada adalah orangtua yang memiliki pola asuh yang tidak tepat, sehingga menyimpangkan fitrah anak untuk berbuat baik. Misalnya, di saat anak memiliki adik (sedangkan pada saat itu sang adik masih bayi dan belum saatnya digendong), dia memiliki kecenderungan untuk menolong adiknya yang menangis dengan cara menggendongnya.

Di saat demikian, seringkali orang tua memarahi anak untuk tidak menggendong, tanpa bertanya terlebih dahulu mengapa anak melakukan hal tersebut. Sehingga ketika adik sudah besar, sang kakak tidak pernah mau lagi dekat atau bahkan membantu adiknya karena hal itu dianggap akan mengundang kemarahan orang tua.

Dia memiliki kesan negatif tentang membantu adik. Inisiatif anak untuk berbuat baik menjadi terhambat karena kurangnya pengetahuan orang tua tentang cara memberitahu yang benar.

4. Bercerita

Bercerita

* sumber: www.kidsworldfun.com

Bercerita adalah salah satu cara yang sangat efektif untuk menanamkan karakter positif pada anak. Anak sering mengasosiasikan dirinya dengan tokoh di dalam cerita ataupun menirunya di dalam kehidupan nyata.

Di samping itu, saat anak melakukan hal yang buruk atau memiliki karakter buruk, maka mengingatkan anak secara langsung terkadang tidak berpengaruh. Akan tetapi, jika kita menceritakan sesuatu yang terkait dengan keburukan anak melalui karakter-karakter di dalamnya, maka anak secara tidak sadar melihat ke dalam dirinya, apakah dia lebih mirip tokoh yang baik atau tokoh yang buruk.

Anak cenderung mengimitasi karakter baik. Misalnya, anak cenderung ingin menjadi karakter pahlawan daripada menjadi penjahat. Kenalkan melalui cerita bahwa setiap perbuatan ada balasannya. Jika seseorang berkarakter buruk atau berbuat buruk maka konsekuensi yang akan diterimanya pun buruk. Jika dia berkarakter baik, maka konsekuensinya juga baik.

5. Memuji Perbuatan Baik

* sumber: www.parents.com

Sebagai manusia adalah hal yang wajar jika kita merasa senang mendapat pujian dan bersedih ketika mendapat cacian. Walaupun pujian bukanlah tujuan dari berbuat atau berkarakter baik, namun anak yang sering dipuji perbuatan baiknya akan memiliki persepsi yang baik tentang membiasakan karakter yang baik di rumah.

Anak yang terbiasa mendapat pujian akan perbuatan baiknya cenderung akan mempertahankan karakter baik dan tidak menjadi pemaki-maki. Anak akan terbiasa mengapresiasi temannya atau siapapun yang berbuat atau berkarakter baik karena telah mendapat pembiasaan di rumahnya.

6. Membangun Kedekatan

Membangun Kedekatan

* sumber: www.parentsplacewi.org

Apa yang orang tua katakan atau ajarkan tidak akan pernah berbekas di dalam diri anak jika mereka tidak pernah menginvestasikan waktu mereka untuk menjalin kedekatan dengan anak. Banyak anak yang membalas perlakuan orang tua dengan mengabaikan karena saat kecil pun mereka sering diabaikan.

Misalnya, di saat anak ingin bermain dengan kita, kita sibuk dengan gadget dan selalu mengatakan “nanti”. Jangan heran anak menjadi semakin menjauh karena kita sebagai orang tua tidak rajin menjalin kedekatan yang tidak bisa terjadi dengan tiba-tiba.

Investasikanlah waktu Anda yang berharga dengan anak yang jauh lebih berharga. Lalu, anak pun akan dengan mudah mendengar ucapan kita dan mengikuti karakter baik kita.

7. Perbanyak Kenangan Manis Bersama Anak

Perbanyak Kenangan Manis Bersama Anak

* sumber: lenta.inform.kz

Sebagai orang tua, kita tentu berharap anak memiliki karakter positif, namun karakter positif tidak akan hadir tanpa kesan positif anak terhadap orang tuanya sendiri. Jika di dalam benak anak yang ada hanya orang tua yang rajin membentak, memarahi, dan memerintah saja, maka kecil kemungkinan memiliki karakter yang positif.

Kenangan yang positif akan memotivasi anak untuk juga berbuat baik, karena anak-anak cenderung meniru orang-orang terdekatnya. Jika anak hendak melakukan kesalahan, dia akan mengingat orang tuanya yang punya banyak kenangan manis dan takut akan mengecewakan orang tua yang telah mengajarkan mereka dengan hal yang baik.

8. Banyak Mendoakan

Banyak Mendoakan

* sumber: www.desiringgod.org

Anak dilahirkan dari kita, namun kita tidak pernah bisa benar-benar memilikinya. Dia dibesarkan oleh kita, namun pemikiran dan tindakannya, dialah yang pada akhirnya menentukan. Usaha yang optimal wajib dilakukan, namun sebagai orang tua adakalanya kita merasa yang kita lakukan belum mendapatkan hasil yang diharapkan.

Maka perbanyaklah mendoakan kebaikan bagi anak, sehingga kita selalu memiliki optimisme bahwa anak yang terlanjur membiasakan karakter buruk dapat mengubah karakternya menjadi positif sesuai doa kita. Jika perlu, doakan anak di saat ia berada di sisi kita dan kita kencangkan suara kita di depannya. Doa yang baik akan menjadi impian dan berkesan bagi anak saat diucapkan.

9. Berikan Latihan Pembiasaan Karakter Sesuai dengan Tahapan Usia

* sumber: www.futurelearn.com

Dalam tahap perkembangannya, ada saat anak ingin mencoba ini-itu. Seringkali karena tidak mengetahui tahapan perkembangan anak, orang tua merasa anak memiliki karakter buruk. Misalnya, saat anak usia balita di mana ia sedang mengeksplorasi motorik kasarnya dengan berlari, memanjat, melempar barang-barang tertentu yang sangat normal bagi anak seusianya.

Orang tua yang alfa akan hal ini akan menganggap anak yang terkesan aktif sebagai anak yang nakal dan tidak mau diatur. Padahal, dalam tahapan perkembangannya, hal-hal tersebut adalah hal yang normal dan bahkan harus terjadi sehingga tidak mengakibatkan lambatnya perkembangan anak di kemudian hari.

10. Hindari Panggilan yang Buruk

Hindari Panggilan yang Buruk

* sumber: www.express.co.uk

Seringkali saat anak melakukan hal yang salah atau buruk di mata kita sebagai orang tua, kita tidak sengaja mengucapkan panggilan yang buruk seperti ‘bandel’ atau ‘nakal’ dan panggilan negatif lainnya. Secara langsung ataupun tidak, label kepada anak semacam itu akan melekat di hatinya.

Lambat laun anak merasa percaya dan yakin bahwa memang dia berkarakter seperti itu. Oleh karena itu, hindari panggilan yang buruk kepada anak sekesal apapun kita sebagai orang tuanya, karena ucapan bisa menjadi kenyataan.

Karakter tidak terbentuk dengan sendirinya. Ia adalah proses panjang yang terjadi di dalam diri anak dan dipengaruhi oleh orang tua dan lingkungan. Orang tua hanya perlu menyediakan niat waktu dan kesungguhan agar karakter baik yang anak miliki dapat tumbuh dengan dukungan penuh.

Selain membentuk karakter anak, sebagai orang tua juga harus bisa membuat kesepakatan dengan anak. Dengan membuat kesepakatan, maka anak bisa menjadi lebih disiplin. Nah, untuk mengetahui manfaat lainnya dalam membuat kesepakatan dengan anak, bisa baca artikel 10 Manfaat dalam Membuat Kesepakatan dengan Anak secara tepat ini.

Baca juga artikel lainnya tentang atau tulisan menarik lainnya dari .

About the Author:

Seorang Ayah dari 2 orang anak, pencinta dunia pendidikan, parenting dan family project. Selain itu, beliau adalah salah satu founder di White Bee School of Life, Bandung.

Leave A Comment