Review & Sinopsis Call Me by Your Name, Film Coming-of-Age

Ditulis oleh Syuri
Call Me by Your Name
4.5
/5
PERHATIAN!
Artikel ini mengandung spoiler mengenai jalan cerita dari film/drama ini.

"Call Me by Your Name" adalah film drama romantis remaja yang rilis pada tahun 2017. Film ini didasarkan pada novel dengan judul yang sama karya André Aciman.

Garis besar film ini menceritakan kisah percintaan antara seorang lelaki berusia 17 tahun, Elio Perlman dan Oliver, mahasiswa pascasarjana berusia 24 tahun yang bekerja sebagai asisten ayah Elio yang merupakan profesor arkeologi.

Berlatar musim panas tahun 1983 di Italia Utara, nampaknya tahun ini pun ayah Elio mengundang satu muridnya untuk membantu pekerjaannya sebagai arkeolog. Biasanya, orang-orang yang datang tidak ada yang menarik perhatian Elio maupun teman-temannya. Tapi, yang kali ini berbeda.

Oliver adalah perwujudan 'cowok ganteng Amerika', beda banget dengan cowok-cowok yang ada di Italia, atau setidaknya yang ada di daerah mereka yaitu di Crema dan Moscazzano, Italia Utara. Dan, Elio pun merasakan cinta pertamanya, layaknya remaja pada umumnya.

Sinopsis

Jatuh cinta adalah hal lumrah, itu terjadi pada hampir semua orang di dunia. Tapi, ada juga kisah cinta yang transenden, yang kadang sulit bahkan sampai tidak bisa diterima oleh masyarakat, seperti cerita tentang Elio dan Oliver.

Elio adalah seorang anak lelaki berusia 17 tahun yang sedang menikmati liburan musim panas di vila keluarganya. Ia menghabiskan waktunya dengan membaca, memainkan piano, hangout dengan teman-temannya, dan berkencan dengan temannya yang bernama Marzia.

Keluarga Elio sendiri sangat harmonis, ia sangat dekat dengan orang tuanya terutama ayahnya. Elio merupakan anak yang lebih cepat dewasa daripada seharusnya.

Istilahnya ia 'sudah dewasa sebelum waktunya', baik tingkat intelektualitas hingga postur tubuhnya. Tapi, ia masih memiliki kepolosan layaknya anak remaja pada umumnya, yang ingin eksplor dan menyukai petualangan.

Suatu hari, Oliver, seorang mahasiswa pascasarjana berusia 24 tahun asal Amerika datang ke vila untuk magang menjadi asisten ayahnya Elio. Selama enam minggu yang singkat, Elio dan Oliver membangun pertemanan yang tadinya dipenuhi praduga menjadi hubungan yang sangat dekat. Bahkan, terlalu dekat.

Suasana di Italia yang Kental

Menonton film"Call Me By Your Name" seakan-akan menarik kita langsung untuk merasakan suasana khas kota kecil di Italia Utara, yaitu Crema. Soalnya, sang sutradara yaitu Luca Guadagnino sering menyorot pemandangan dan area sekitar juga, tak hanya orang-orangnya saja.

Luca membawa setiap detil yang ada di sana bisa penonton rasakan, bahkan lalat yang hinggap di Elio dan berseliweran di beberapa scene pun bisa terdengar kalau kamu benar-benar memerhatikan filmnya.

Tapi, ternyata lalat-lalat itu bukan cuma tidak sengaja lewat, loh. Lalat, apalagi dalam bentuk mereka sebelumnya yaitu belatung, merupakan makhluk hidup yang bisa memakan apa saja, bukan? Buah, sayuran, sampah, bahkan daging manusia.

Dengan seringnya lalat-lalat ini nongol di scene film CMBYN, bisa saja menggambarkan sesuatu. Seperti keinginan duniawi yang tidak tersampaikan, dan akhirnya membusuk.

Gambaran Keluarga yang Harmonis

Elio sangat beruntung, ia memiliki kedua orang tua yang keren. Ayahnya bekerja sebagai profesor arkeologi dan ibunya sebagai penerjemah. Keluarganya juga harmonis, selalu makan bersama, tidak pernah bertengkar, bahkan ketika mengetahui perasaan anaknya pada si mahasiswa magang, mereka tidak marah.

Coming-of-Age Story

Pada saat Oliver baru sampai ke vila, Elio diminta orang tuanya untuk menemani dan mengenalkan Oliver pada area sekitar juga pada teman-teman Elio. Oliver pun mengikuti kegiatan Elio dan teman-temannya berenang bersama.

Ternyata Oliver memiliki kepribadian yang menyenangkan dan cepat akrab dengan teman-teman Elio, sedangkan dengan Elio-nya sendiri ia malah angkuh dan dingin.

Tapi, lambat laun, Elio dan Oliver sering hangout berdua. Itu karena mereka tinggal bersama di vila, dan kamar mereka bersebrangan juga. Mereka bersepeda mengelilingi kota, berenang dan berjemur di sungai dekat vila, dan mengeksplor tempat rahasia di vila.

Hubungan mereka pun semakin dekat, lebih dari sekedar teman. Elio pun sadar kalau ia telah jatuh hati pada Oliver, begitu pula sebaliknya. Tapi, bagaimanapun juga, kisah cinta mereka tidak bisa abadi. Dan, mereka tahu akan itu.

Makanya, sejak awal Oliver menghindari Elio dan mengatakan kalau mereka tidak bisa seperti ini. Tapi, namanya juga cinta, kadang kita jadi melakukan hal-hal yang gila karenanya.

Kita bisa melihat sisi coming-of-age (pendewasaan) dari semua karakter di dalam film ini, tapi tentu saja terutama dari Elio sang protagonis.

Menceritakan di awal film, Elio sebagai remaja yang ceria dan percaya diri, tapi juga moody dan penuh gairah, setelah mengenal cinta ia pun berubah. Ia merasakan sakit, ia merasakan malu, ia merasakan cinta, ia merasakan kehilangan, dan itu semua membuat dirinya jadi lebih dewasa lagi.

Scene yang Implisit

Jika kamu khawatir untuk menonton film ini karena takut ada scene vulgarnya, tenang saja, film ini sangat implisit. Memang ada scene di mana Elio berhubungan seksual dengan teman wanitanya, Marzia, itu sewaktu Elio belum mengeksplor seksualitasnya.

Lalu, ada beberapa sex scene juga antara Elio dan Oliver, tapi itu justru lebih implisit lagi daripada ketika scene Elio dan Marzia. Jadi, film ini sfw alias save for work.

1 23»
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram