Bacaterus / Review Film Barat / Review & Sinopsis Call Me by Your Name, Film Coming-of-Age

Review & Sinopsis Call Me by Your Name, Film Coming-of-Age

Ditulis oleh - Diperbaharui 12 September 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

“Call Me by Your Name” adalah film drama romantis remaja yang rilis pada tahun 2017. Film ini didasarkan pada novel dengan judul yang sama karya André Aciman.

Garis besar film ini menceritakan kisah percintaan antara seorang lelaki berusia 17 tahun, Elio Perlman dan Oliver, mahasiswa pascasarjana berusia 24 tahun yang bekerja sebagai asisten ayah Elio yang merupakan profesor arkeologi.

Berlatar musim panas tahun 1983 di Italia Utara, nampaknya tahun ini pun ayah Elio mengundang satu muridnya untuk membantu pekerjaannya sebagai arkeolog. Biasanya, orang-orang yang datang tidak ada yang menarik perhatian Elio maupun teman-temannya. Tapi, yang kali ini berbeda.

Oliver adalah perwujudan ‘cowok ganteng Amerika’, beda banget dengan cowok-cowok yang ada di Italia, atau setidaknya yang ada di daerah mereka yaitu di Crema dan Moscazzano, Italia Utara. Dan, Elio pun merasakan cinta pertamanya, layaknya remaja pada umumnya.

Sinopsis

  • Tahun rilis: 2017
  • Genre: Romansa, Drama, Coming-of-Age
  • Produksi: Frenesy Film Company, La Cinéfacture, RT Features, M.Y.R.A. Entertainment, Water’s End Productions
  • Sutradara: Luca Guadagnino
  • Pemeran: Armie Hammer, Timothée Chalamet, Michael Stuhlbarg, Amira Casar, Esther Garrel, Victoire Du Bois

Jatuh cinta adalah hal lumrah, itu terjadi pada hampir semua orang di dunia. Tapi, ada juga kisah cinta yang transenden, yang kadang sulit bahkan sampai tidak bisa diterima oleh masyarakat. Seperti cerita tentang Elio dan Oliver.

Elio adalah seorang anak lelaki berusia 17 tahun yang sedang menikmati liburan musim panas di vila keluarganya. Ia menghabiskan waktunya dengan membaca, memainkan piano, hangout dengan teman-temannya, dan berkencan dengan temannya yang bernama Marzia.

Keluarga Elio sendiri sangat harmonis, ia sangat dekat dengan orang tuanya terutama ayahnya. Elio merupakan anak yang lebih cepat dewasa daripada seharusnya.

Istilahnya ia ‘sudah dewasa sebelum waktunya’, baik tingkat intelektualitas hingga postur tubuhnya. Tapi, ia masih memiliki kepolosan layaknya anak remaja pada umumnya, yang ingin eksplor dan menyukai petualangan.

Suatu hari, Oliver, seorang mahasiswa pascasarjana berusia 24 tahun asal Amerika datang ke vila untuk magang menjadi asisten ayahnya Elio. Selama enam minggu yang singkat, Elio dan Oliver membangun pertemanan yang tadinya dipenuhi praduga menjadi hubungan yang sangat dekat. Bahkan, terlalu dekat.

Suasana di Italia yang Kental

Menonton film”Call Me By Your Name” seakan-akan menarik kita langsung untuk merasakan suasana khas kota kecil di Italia Utara, yaitu Crema. Soalnya, sang sutradara yaitu Luca Guadagnino sering menyorot pemandangan dan area sekitar juga, tak hanya orang-orangnya saja.

Luca membawa setiap detil yang ada di sana bisa penonton rasakan, bahkan lalat yang hinggap di Elio dan berseliweran di beberapa scene pun bisa terdengar kalau kamu benar-benar memerhatikan filmnya.

Tapi, ternyata lalat-lalat itu bukan cuma tidak sengaja lewat, loh. Lalat, apalagi dalam bentuk mereka sebelumnya yaitu belatung, merupakan makhluk hidup yang bisa memakan apa saja, bukan? Buah, sayuran, sampah, bahkan daging manusia.

Dengan seringnya lalat-lalat ini nongol di scene film CMBYN, bisa saja menggambarkan sesuatu. Seperti keinginan duniawi yang tidak tersampaikan, dan akhirnya membusuk.

Gambaran Keluarga yang Harmonis

Elio sangat beruntung, ia memiliki kedua orang tua yang keren. Ayahnya bekerja sebagai profesor arkeologi dan ibunya sebagai penerjemah. keluarganya juga harmonis, selalu makan bersama, tidak pernah bertengkar, bahkan ketika mengetahui perasaan anaknya pada si mahasiswa magang, mereka tidak marah.

Coming-of-Age Story

Pada saat Oliver baru sampai ke vila, Elio diminta orang tuanya untuk menemani dan mengenalkan Oliver pada area sekitar juga pada teman-teman Elio. Oliver pun mengikuti kegiatan Elio dan teman-temannya berenang bersama.

Ternyata Oliver memiliki kepribadian yang menyenangkan dan cepat akrab dengan teman-teman Elio, sedangkan dengan Elio-nya sendiri ia malah angkuh dan dingin.

Tapi, lambat laun, Elio dan Oliver sering hangout berdua. Itu karena mereka tinggal bersama di vila, dan kamar mereka bersebrangan juga. Mereka bersepeda mengelilingi kota, berenang dan berjemur di sungai dekat vila, dan mengeksplor tempat rahasia di vila.

Hubungan mereka pun semakin dekat, lebih dari sekedar teman. Elio pun sadar kalau ia telah jatuh hati pada Oliver, begitu pula sebaliknya. Tapi, bagaimanapun juga, kisah cinta mereka tidak bisa abadi. Dan, mereka tahu akan itu.

Makanya, sejak awal Oliver menghindari Elio dan mengatakan kalau mereka tidak bisa seperti ini. Tapi, namanya juga cinta, kadang kita jadi melakukan hal-hal yang gila karenanya.

Kita bisa melihat sisi coming-of-age (pendewasaan) dari semua karakter di dalam film ini, tapi tentu saja terutama dari Elio sang protagonis.

Menceritakan di awal film, Elio sebagai remaja yang ceria dan percaya diri, tapi juga moody dan penuh gairah, setelah mengenal cinta ia pun berubah. Ia merasakan sakit, ia merasakan malu, ia merasakan cinta, ia merasakan kehilangan, dan itu semua membuat dirinya jadi lebih dewasa lagi.

Scene yang Implisit

Jika kamu khawatir untuk menonton film ini karena takut ada scene vulgarnya, tenang saja, film ini sangat implisit. Memang ada scene di mana Elio berhubungan seksual dengan teman wanitanya, Marzia, itu sewaktu Elio belum mengeksplor seksualitasnya.

Lalu, ada beberapa sex scene juga antara Elio dan Oliver, tapi itu justru lebih implisit lagi daripada ketika scene Elio dan Marzia. Jadi, film ini sfw alias save for work.

Ada adegan yang ikonik yang bakal membuat kamu teringat terus akan film ini, yaitu ketika Elio dan Oliver berhubungan intim untuk pertama kali. Oliver mengatakan, “Call me by your name, and I’ll call you by mine“. Inilah kalimat yang menjadi judul dari sang film.

Bukan cuma sekedar ‘romantis’ dengan memanggil pasangan pakai nama kita sendiri, tapi ada maknanya juga. Yaitu menggambarkan kalau batasan antara Elio dan Oliver sudah kabur, alias sudah tidak ada lagi.

Elio adalah milik Oliver, dan Oliver adalah milik Elio. Terus, ada juga scene dengan buah persik. Buah ini sangat penting, baik di novel maupun filmnya. Buah persik berlaku sebagai metafora, tapi juga jembatan fisik antara Elio dan Oliver.

OST. yang Ngena

*Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=e0930Iix1hA

Soundtrack film CMBYN ada banyak, kebanyakan dengan bahasa Italia tapi ada juga yang berbahasa Inggris. Dua OST. dari film ini yang paling terkenal adalah yang dinyanyikan oleh Sufjan Stevens.

Yang pertama ada lagu “Mystery Of Love”. Lagu ini menggambarkan waktu singkat yang Elio dan Oliver miliki untuk bisa bersama. Karena, perpisahan itu tidak terelakkan. Lirik lagu yang dalam dan membuat siapa saja merasa relate ini bahkan mendapatkan nominasi Academy Award dan Grammy.

Sedangkan Lagu yang berjudul “Visions of Gideon” muncul di detik-detik akhir film. Kamera mulai menyorot keadaan di vila, di mana Elio dan keluarganya sedang menyiapkan perayaan Hanukkah. Tiba-tiba telepon berdering, ternyata itu dari Oliver.

Mereka yang sudah tidak bertemu lama sekali berbincang singkat, hingga akhirnya Oliver mengungkapkan tujuannya menelepon, yaitu untuk mengabari kalau ia akan menikah dengan seorang perempuan di tempat asalnya.

Elio pun terkejut, sedih, tapi ia tidak bisa apa-apa karena “Ayahku tidak setuju”, begitu menurut Oliver. Panggilan telepon itu pun menjelaskan akhir dari hubungan Elio dan Oliver yang menggantung.

Elio yang patah hati meratapi perapian dan akhirnya menitikkan air mata. Scene ini cukup lama, sepanjang lagu “Visions of Gideon” saja. Sambil mendengarkan liriknya, kita juga disuguhi kemampuan akting Timothée Chalamet yang luar biasa.

Menggambarkan Keterbukaan Orang Italia akan LGBT?

Hampir menuju akhir film, ada percakapan yang dilakukan Elio dengan ayahnya setelah Oliver kembali ke Amerika. Ayahnya sangat bijak, bahkan dialog percakapan ini sempat viral pada saat filmnya keluar.

Mr. Perlman tidak menyudutkan, memarahi, atau pun menghakimi anaknya karena memiliki perasaan yang ‘menyimpang’ dari norma. Menurutnya, perasaan itu hal yang natural.

Justru, sang ayah mengatakan Elio beruntung karena bisa merasakan pengalaman ini, karena tidak setiap hari kita bertemu orang yang kita cintai dan tidak setiap hari juga kita kehilangan mereka, bukan?

When you least expect it, nature has cunning ways of finding our weakest spot.

Just remember: I am here. Right now, you may not want to feel anything — maybe you never wished to feel anything and maybe it’s not to me that you’ll want to speak about these things. But feel something, you obviously did.”

You had a beautiful friendship. Maybe more than a friendship. And I envy you..

I’ll say one more thing. It’ll clear the air: I may have come close, but I never had what you two have. Something always held me back, or stood in the way. How you live your life is your business.”

Ibu Elio juga tidak menunjukkan tanda-tanda marah ataupun kecewa terhadap anaknya. Elio menghubungi ibunya dan minta dijemput dari stasiun setelah mengantarkan Oliver pulang. Di perjalanan, Elio memilih bungkam seribu bahasa dan sang ibu memakluminya.

Lalu ibunya mengajak Elio berbincang di bawah pohon rindang. Ibunya bertanya “Apakah kamu suka Oliver?”. Elio menjawab, “Semua orang suka Oliver”. Sang ibu hanya tersenyum, “You like him“.

Ibunya melihat Elio mengenakan dua kalung, padahal ia tahu Elio hanya punya satu kalung star of David. Mungkin ibu Elio beranggapan kalau Oliver yang  memberikannya sebagai hadiah perpisahan, (kita bisa melihat Oliver tidak menggunakan kalungnya di scene kereta api, jadi kemungkinan anggapan ini benar).

Ibu Elio pun memegang kalung tersebut dan menepuk-nepukkannya pada dada Elio. Ini seperti menggambarkan kalau Mrs. Perlman juga tidak memiliki masalah dengan perasaan anaknya yang menyukai lelaki.

Lalu, pertanyaanya, apakah semua orang di Italia memang seterbuka itu tentang LGBT? Dan, pula, setting film ini cukup lampau yaitu pada 1983.

Ternyata, sejak tahun 1890, aktivitas seksual sesama jenis (baik antar sesama pria maupun sesama wanita) sudah legal di Italia. Tapi, di sisi lain, pada tahun 1980-an marak terjadi wabah HIV-AIDS yang dianggap oleh masyarakat Italia akibat orang-orang LGBT.

Jadi, bisa saja karakter orang tua Elio yang nampak mendukung LGBT ini merupakan harapan dari sang penulis novel, André Aciman, kalau beginilah cara mendidik dan membesarkan anak.

Kedua orang tua Elio juga digambarkan sebagai orang yang berpendidikan tinggi, mungkin sekali jika latar belakang pendidikan ini yang membuat mereka menjadi lebih progresif dan open minded.

Baik Mr. dan Mrs. Perlman juga Elio beragama Yahudi, yang mana seharusnya tidak mengindahkan penyuka sesama jenis. Di Italia juga sudah tersebar agama Katolik. Tapi, sebelum itu, ada budaya yang berkembang dan sangat menempel dengan orang-orang Italia, yaitu kebudayaan Romawi.

Dan, jika kita gali lagi, kebudayaan Romawi itu diadopsi dari kebudayaan Yunani Kuno yang mana cukup sering ditemukan pelaku homoseksual.

Kita kembali lagi ke Mr. Perlman, ia merupakan seorang profesor arkeologi dan budaya, lalu Mrs. Perlman adalah seorang penerjemah yang ahli dalam beberapa bahasa. Sehingga, bisa diambil kesimpulan kalau pasangan ini tidak asing dengan hal ini, yang mungkin menjadi salah satu alasan mereka mendukung hubungan Elio.

Mengajarkan, Kalaupun Cinta, Tetap Harus Realistis

Sedangkan bagi Oliver yang orang Amerika, menjadi gay pada masa itu tidaklah mudah. Judgement masyarakat lebih besar, dan ia pun tidak berani mengaku kepada orang tuanya kalau ia mencintai seorang anak lelaki di Italia sana.

Tapi, tidak diceritakan secara jelas juga, apakah Oliver sudah mengatakan tentang ini pada orang tuanya, lalu ayahnya marah, atau ia tidak berani sama sekali dan ketika disuruh menikah dengan seorang gadis yang ia sudah kenal, ia manut-manut saja. Karena, baik dari novel maupun film kita disuguhkan point of view orang pertama saja yaitu Elio.

Mungkin orang-orang ada yang berpikir, Oliver tidak gentleman, jahat, dan sumpah serapah lainnya. Tapi, selain gay masih tabu, Oliver juga sudah jauh lebih dewasa (mereka terpaut usia tujuh tahun).

Saat menelepon Elio, berarti ia diperkirakan sudah mengantongi gelar doktoralnya, dan mungkin sudah memiliki karir yang stabil. Makanya orang tuanya meminta ia untuk segera menikahi seorang gadis.

Sedangkan Elio berada jauh di Italia sana, mereka sesama jenis, dan Elio juga masih sangat muda! Jika kamu di posisi Oliver, apakah kamu akan meninggalkan kehidupanmu demi seseorang yang masih belum menjadi ‘orang’?

Secinta apapun Oliver pada Elio, mungkin Oliver juga ingin Elio meng-explore lebih dalam kehidupannya sendiri, bertemu orang-orang baru, mengembangkan bakatnya, jangan terus menunggu hal yang tidak pasti karena Oliver tidak bisa memberikannya.

Call Me By Your Name” adalah film yang ikut membawa kita bertransformasi untuk mengetahuui jati diri dan agar kita mampu mengejar hasrat tersemnbunyi di dalam diri kita. Ini bukan sekedar film, ini sebuah pengalaman. Kamu mungkin akan merasa film ini sangat berpengaruh untuk kehidupanmu kelak.

Film ini mengajarkan kita tentang cinta pertama, tentang how to let go, dan bagaimana menyentuhnya percakapan antar orang tua dan anak seharusnya. Itulah beberapa alasan film ini memenangkan banyak penghargaan, seperti Film Terbaik Academy Awards ke-90, British Academy Film Awards ke-71, dan masih banyak lagi.

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *