Bacaterus / Burung / 14 Jenis Burung Langka di Indonesia yang Hampir Punah

14 Jenis Burung Langka di Indonesia yang Hampir Punah

Ditulis oleh - Diperbaharui 29 Mei 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Indonesia memiliki spesies burung yang cukup banyak, dan sebagian dari burung tersebut kini menjadi langka karena populasinya kian menurun. Ulasan berikut ini akan memperlihatkan beberapa burung yang telah menjadi langka dari begitu banyak burung yang juga terancam untuk mengalami kepunahan di Indonesia. Simak yuk!

Daftar Merah IUCN

Daftar Merah IUCN

Sebelum membaca ulasannya kamu harus tahu bagaimana burung-burung ini dikategorikan menjadi burung-burung langka. Ada yang disebut dengan Daftar Merah IUCN, sebuah standar daftar status hewan dan juga upaya konservasi yang dilakukan untuk menjaga keberlangsungannya

Kategorinya adalah EX – Extinct / punah, EW – Extinct in The Wild/ Punah di alam liar, CR – Critically Endangered/ Kritis, EN- Endangered/Genting, VU-Vunerable/Rentan, NT – Near Threatened/Hampir terancam, LC – Least Concern/ Resiko rendah, DD – Data Deficient/Kekurangan data, dan NE – Not Evaluated/ Tidak dievaluasi. Nah, sekarang kita ulas burung mana saja yang telah menjadi langka berikut ini! 

1. Burung Jalak Bali (CR – Critically Endangered)

Burung Jalak Bali – Leucopsar rothschildi (CR – Critically Endangered)

Burung Jalak Bali adalah burung endemik yang menjadi lambang dari Provinsi Bali, habitat mereka biasanya di semak terbuka, pohon, dan sabana. Saat ini diperkirakan kurang dari 50 burung dewasa yang ada di alam liar. Keistimewaannya adalah kicauannya yang merdu.

Burung ini memiliki bulu yang berwarna cerah dan terdapat garis biru pada bagian matanya, Pada bagian Ujung ekor dan sayapnya terdapat warna hitam. Spesies burung ini menjadi langka karena adanya penangkapan ilegal yang masih berjalan hingga sekarang.

2. Sikatan Aceh (CR – Critically Endangered)

Sikatan Aceh – Cyornis ruckii (CR – Critically Endangered)

Burung ini juga salah satu burung endemik dari Indonesia tepatnya dari Aceh. Populasinya di alam liar belum diketahui. Burung ini menjadi langka di alam liar dikarenakan habitatnya yang hilang terutama dengan banyaknya eksploitasi hutan yang berlebihan.

Burung ini memiliki ciri, sebagian besar bulunya berwarna biru, kecuali pada bagian perutnya terdapat gradasi warna kuning ke putih. Untuk betinanya bulunya didominasi oleh warna coklat dengan gradasi warna kuning ke putih.

3. Trulek Jawa (CR – Critically Endangered)

Trulek Jawa – Vanellus macropterus (CR – Critically Endangered)

Burung Trulek jawa adalah burung endemik Indonesia yang hanya terdapat di pulau Jawa. Habitat mereka adalah daerah basah seperti rawa-rawa dan delta sungai. Burung ini menjadi langka karena banyak perubahan pada habitat mereka. Burung ini dilindungi hukum Indonesia sejak 1978.

Ciri burung ini adalah kakinya yang panjang. Kepalanya berwarna hitam, dengan sayap berwarna coklat, dan bagian perutnya berwarna putih. Ciri khas burung Trulek Jawa adalah adanya gelambir berwarna kuning. Saat ini populasinya di alam liar diperkirakan jumlahnnya sangat sedikit.

4. Tokhtor Sumatera (CR – Critically Endangered)

Tokhtor Sumatera – Carpococcyx viridis (CR – Critically Endangered)

Burung ini adalah burung endemik Indonesia yang berasal dari daerah Sumatera, sebagian besar burung ini berada di Bukit Barisan. Populasi dari burung ini di alam liar mengalami penurunan dengan jumlah burung dewasa sekitar 50-249 ekor.

Burung ini kepalanya berwarna hitam, dan paruhnya berwarna hijau. Sedangkan sayapnya berwarna abu kehijauan dan ekornya panjang  berwarna hitam, dan terdapat garis-garis coklat di badannya. Burung ini merupakan pemakan serangga. 

5. Gagak Banggai (CR – Critically Endangered)

Gagak Banggai – Corvus unicolor (CR – Critically Endangered)

Gagak Banggai adalah burung endemik dari Indonesia yang berasal dari Sulawesi, saat ini burung yang masih bertahan berada di Pegunungan Peleng Barat. Populasi mereka diperkirakan sekitar 500 ekor, termasuk 50-200 yang berada di Gunung Peleng Barat.

Seperti halnya semua burung gagak, seluruh tubuhnya berwarna hitam. Burung ini memiliki ukuran 39 cm termasuk burung dengan ukuran sedang. Burung ini sempat dianggap punah hingga pada survei tahun 2007-2008 burung ini ditemukan kembali di Pulau Peleng.

6. Kehicap Boano (CR – Critically Endangered)

Kehicap Boano – Symposiachrus boanensis (CR – Critically Endangered)

Burung Kehicap berada di Pulau Boano yang terletak di barat laut Pulau Seram, Maluku Selatan, sebuah tempat yang sangat terbatas, tidak lebih dari 2% tempat yang mereka diami. Populasi mereka diperkirakan sekitar 100 – 200 ekor, dengan jumlah burung dewasa sekitar 70 – 130 ekor.

Burung memiliki bulu sayap, ekor, kepala berwarna hitam, dan bagian tubuhnya berwarna putih, dan ukurannya sekitar 16 cm. Kelangkaan burung ini diakibatkan adanya eksploitasi hutan yang digunakan untuk keperluan manusia.

7. Kakatua Jambul Kuning (CR – Critically Endangered)

Kakatua Jambul Kuning – Cacatua sulphurea (CR – Critically Endangered)

Kakatua Jambul Kuning adalah salah satu burung endemik dari Indonesia yang biasanya banyak ditemukan di hampir selurung Nusa Tenggara, Bali dan juga di Timor Leste. Populasi mereka saat ini kurang dari 3.000 dengan jumlah burung dewasa sekitar 1.000 – 2,499 ekor.

Burung ini memiliki ciri yang khas yaitu jambul dan ekornya yang berwarna kuning, dan seluruh badannya  berwarna putih. Burung yang cantik ini menjadi langka diakibatkan adanya penangkapan ilegal untuk diperdagangkan secara lokal maupun internasional.

8. Pleci Sangihe (CR – Critically Endangered)

Pleci Sangihe – Zosterops nehrkorni (CR – Critically Endangered)

Burung yang berasal dari Sangihe ini terkenal karena kicaunya yang merdu yang pernah terdengar di Gunung Sahendaruman dan sahengbalira di tahun 1999. Populasinya saat ini diperkirakan kurang dari 50 dengan jumlah burung dewasa sekitar 1-49 ekor.

Burung kecil ini berwarna hijau zaitun pada bagian atasnya dan sayap, kuning pada dagu dan dekat ekor, serta badannya berwarna putih. Seperti kebanyakan burung lain, burung ini pun menjadi langka di akibatkan habitatnya yang beralih fungsi menjadi lahan pertanian.

9. Elang Jawa (EN – Endangered)

Elang Jawa – Spizaetus bartelsi (EN – Endangered)

Elang Jawa adalah burung yang habitatnya sangat terbatas hanya berada di pulau Jawa. Penampilan yang gagah membuatnya menjadi bahan perburuan liar. Elang Jawa habitatnya menyusut selain karena dijadikan hewan peliharaan, juga karena habitanya yang berubah menjadil lahan pertanian.

Jika kamu memperhatikan burung elang ini sangat mirip dengan lambang negara kita burung Garuda. Burung ini memiliki warna coklat yang kemerahan, dan memiliki jambul yang mencuat di atas kepalanya, banyaknya biasanya sekitar 2-4 helai.

10. Merak Hijau (EN – Endangered)

Merak Hijau – Pavo muticus (EN - Endangered)

Merak hijau adalah satu dari tiga jenis merak yang ada di dunia, untuk merak hijau atau Pavo muticus adalah spesies yang merupakan hewan endemik dari Indonesia, selain itu keberadaannya di alam liar di  Malaysia, Bangladesh, dan India diperkirakan telah  mengalami kepunahan.

Burung ini terkenal karena ekornya yang cantik berwarna kehijauan. Terdapat warna biru pada sayapnya, serta ada jambul dikepalanya. Merak dengan ekor yang besar adalah merak jantan sedangkan merak betina ukurannya lebih kecil. Burung ini dapat terbang walaupun ekornya panjang.

11. Maleo Senkawor (EN – Endangered)

Maleo Senkawor – Macrocephalon maleo (EN – Endangered)

Burung Maleo adalah burung endemik Indonesia dari Sulawesi dan Pulau Buton. Burung ini populasinya mengalami penurunan hingga 90% sejak tahun 1950.  Hal itu diakibatkan karena habitatnya berkurang dan  juga ada manusia yang mengambil telur-telurnya.

Burung ini memiliki bulu berwarna hitam, sedangkan untuk bagian bawahnya berwarna putih ke merahan. Pada bagian kepala terdapat seperti jambul atau tanduk yang keras berwarna hitam. Di sekitar mata ada kulit yang berwarna kuning. 

12. Punai Timor (EN – Endangered)

Punai Timor – Treron psittacea (EN – Endangered)

Burung yang panjangnya sekitar 28 cm ini adalah burung yang sejenis dengan merpati hanya saja berwarna hijau. Burung ini adalah burung endemik dari Timor Leste dan Indonesia yang terdapat di Nusa Tenggara Timur, di Pulau Roti, Semau. Populasinya diperkirakan sekitar 10.000 – 3.000 ekor.

Kerusakan lingkungan seperti deforestasi adalah hal yang mengakibatkan burung ini masuk dalam kategori satwa yang langka. Kebiasan burung ini yang sering berkelompok membuatnya rentan terhadap perburuan.

13. Mentok Rimba (EN – Endangered)

Mentok Rimba (EN – Endangered)

Burung Mentok adalah binatang yang masih sekeluarga dengan bebek. Di Indonesia mentok rimba terdapat di Taman Nasional Way Kambas dan jumlahnya sekitar 150 ekor.  Jumlah mentok rimba yang menurun diakibatkan kerusakan pada ekosistem sungai, seperti adanya limbah.

Mentok adalah hewan air yang memiliki bulu berwarna coklat pada tubuh dan sayapnya. Pada Kepalanya yang dominan berwarna putih terdapat corak berbentuk bercak-bercak berwarna hitam. Mentok rimba senang memakan tumbuhan air juga juga binatang seperti siput atau ikan kecil. 

14. Kuau Kerdil Kalimantan (EN – Endangered)

Kuau Kerdil Kalimantan (EN – Endangered)

Burung Kuau kerdil adalah sejenis burung merak yang merupakan burung endemik dari Malaysia dan Indonesia tepatnya di daerah Kalimantan. Burung dengan bulu berwarna coklat ini pada ujung bulunya terdapat bentuk bulat-bulat dengan warna hijau kebiruan.

Populasinya saat ini sekitar 1.000 – 2.1499 ekor dengan jumlah burung dewasa sekitar 667 – 1.700 ekor. Penebangan hutan serta kebakaran hutan berdampak pada keberlangsungan burung kuau kerdil ini di alam liar.

Itulah beberapa burung yang kini telah menjadi langka. Kebanyakan dari mereka menjadi langka dikarenakan mereka kehilangan habitatnya karena pembalakan liar ataupun karena alih fungsi lahan. Sebagian lagi juga menjadi langka karena menjadi hewan buruan untuk suaranya yang merdu. Kita juga harus ikut serta menjaga agar habitat mereka tidak rusak agar kicau merdu mereka tetap ada.

Topik Terkait:

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *