Bacaterus / Burung / 12 Burung Kicau Langka dengan Kicauannya yang Merdu

12 Burung Kicau Langka dengan Kicauannya yang Merdu

Ditulis oleh - Diperbaharui 29 Mei 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Mendengarkan kicau burung dipagi hari bisa membuat pagi kamu menjadi lebih bersemangat. Setuju? Tapi tahukah kamu banyak dari burung kicau ini yang kini keberadaannya semakin kritis?

Kali ini Bacaterus akan mengulas beberapa burung kicau yang keberadaannya langka atau semakin sulit ditemui di alam liar. Ingin tahu apa saja? Simak daftar burung kicau yang sudah langka berikut ini yuk!

1. Burung Tahiti Monarch – Pomarea nigra

Burung Tahiti Monarch

Burung Tahiti Monarch merupakan burung endemik dari dari Tahiti. Biasanya mereka mendiami lembah di dataran rendah. Burung yang memiliki kicauan seperti seruling ini hanya dapat kamu temukan pada tempat-tempat yang terpencil.

Burung ini memiliki panjang 15 cm, dan keseluruhan bulunya berwarna hitam dengan rona kebiruan. Burung ini mengalami kepunahan dikarenakan adanya penyebaran dari tikus dan tanaman yang menginvasi habitat mereka. Saat ini hanya ada sekitar 49 ekor burung dewasa di alam liar.

Saat ini Société d’Ornithologie de Polynésie MANU mencoba untuk merestorasi habitat dari burung Tahiti Monarch. Mereka mencoba mengontrol laju pertumbuhan dari tikus yang dilakukan sepanjang tahun.

2. Jalak Putih – Acridotheres melanopterus 

Jalak Putih

Burung jalak putih merupakan burung endemik dari pulau Jawa. Burung jalak putih banyak mendiami hutan yang kering, semak yang kering dan basah, serta daerah padang rumput. Tetapi kini mereka pun dapat hidup di tempat yang telah dimodifikasi seperti halaman rumput, dan kebun.

Burung jalak putih memiliki panjang tubuh 23 cm, dengan hampir seluruh tubuh berwarna putih kecuali pada bagian ekor dan sayap memiliki warna hitam yang mengkilat. Kulit pada bagian mata berwarna kuning dan tidak terdapat bulu, dan paruhnya juga berwarna kuning.

3. Burung Stresemann’s Bristlefront – Merulaxis Stresemanni 

Burung Stresemann’s Bristlefront

Burung ini hanya dapat kamu temukan di hutan atlantik Brasil. Mereka mendiami hutan yang lembab di dataran rendah di utara selatan Brasil. Mereka mengalami kepunahan diakibatkan karena habitat mereka hilang dikarenakan hutan yang dibuka untuk lahan pertanian.

Burung ini memiliki ukuran panjang 20 cm, dan terdapat ekor yang panjang serta terdapat bulu lancip pada dahinya. Burung berwarna coklat gelap ini memiliki kicauan yang semi musikal, dengan durasi sekitar 10-20 detik.

Setelah dianggap hilang pada tahun 2017, dikarenakan adanya kekeringan, harapan mucul lagi pada tahun 2018. Para peneliti menemukan seekor burung berjenis kelamin perempuan di luar cagar alam Mata do Passarinho di bulan Desember.

4. Burung Antioquia Brushfinch – Atlapetes blancae 

Burung Antioquia Brushfinch

Burung jenis ini sayangnya kurang dikenal, dan pada tahun 2007 dinyatakan sebagai spesies yang baru. Spesies ini merupakan burung yang berasal dari wilayah Andes tengah di Kolombia. Karena burung ini baru ditemukan kembali sehingga tidak banyak yang bisa dipahami dari perilakunya.

Burung ini memiliki warna bulu abu-abu yang lebih gelap pada bagian punggung, sayap dan juga wajahnya. Pada bagian dada depan warna abu-abunya lebih terang, dan yang menonjol adalah bulu pada bagia atas kepala yang berwarna kecoklatan.

Burung ini hampir selama 47 tahun tidak terlihat dan akhirnya ditemukan kembali oleh Rodolfo Correa Pena pada 7 Januari  2018. Pada Saat Rodolfo sedang berjalan untuk menghadiri misa dihari minggu, saat itulah dia mengamati burung tersebut dan mendokumentasikannya.

5. Burung Taita Apalis – Apalis fuscigularis 

Burung Taita Apalis

Burung ini saat ini hanya terdapat di beberapa hutan Dabiba, pegunungan Mbololo, dan di Bukit Taita dengan jumlah yang sangat kecil di Kenya. Burung ini biasa menangkap serangga ditempat yang terdapat semak belukar yang tebal di hutan pegunungan bagian bawah.

Burung Taita memiliki ukuran sedang, panjangnya sekitar 14 – 16 cm dan beratnya sekitar 10 – 12 gr. Kepala, sayap, serta ekor dari burung Taita memiliki warna abu yang gelap, sedangkan bagian bawah badannya berwarna putih. Duet dari suara jantan dan betina menghasilkan lagu dengan nada tinggi.

Alasan yang menjadikan burung ini menjadi langka adalah kehilangan habitatnya di alam liar dikarenakan berubahnya fungsi hutan menjadi lahan bercocok tanam. Kebakaran hutan juga menjadi ancaman bagi kelangsungan burung ini.

6. Burung Regent Honeyeater – Anthochaera phrygia

Burung Regent Honeyeater

Burung ini merupakan burung endemik dari Australia sebelah tenggara dengan persebaran yang tidak merata, yang membentang dari Queensland tenggara hingga ke Victoria tengah. Jumlah burung ini di alam liar di perkirakan sekitar 350 – 400 ekor burung dewasa.

Burung ini memiliki warna hitam mengkilat pada bagian kepala dan lehernya, sedangkan pada bagian dadanya dihiasi dengan bintik kuning pucat. Sayap berwarna hitam dengan corak berwarna kuning pucat, sedangkan ekornya berwarna kuning terang.

Burung ini merupakan burung yang memakan nektar dari pohon kayu putih dan mistletoe, selain itu mereka juga makan serangga dan buah. Habitat mereka yang telah berubah menjadi perumahan dan lahan pertanian adalah hal yang menyebabkan keberadaan mereka dalam kondisi yang kritis.

7. Burung Seriwang Sangihe – Eutrichomyias rowleyi 

Burung Seriwang Sangihe

Burung Seriwang merupakan hewan endemik dari pulau Sangihe di Sulawesi. Awalnya burung ini telah dianggap punah disekitar tahun 1985-1986, lalu pada tahun 1998 spesies burung ini kembali terlihat di pegunungan Sahedaruman disebelah selatan pulau Sangihe.

Burung ini memiliki dominan biru tua pada bagian kepala dan sayapnya. Sedangkan pada bagian bawah warnanya biru keabuan yang tampak lebih pucat. Burung ini memiliki suara yang lebih keras, ukurannya sekitar 18 cm.

Jumlah burung ini sekitar 21 -100 ekor burung dewasa di alam liar. Biasanya mreka mendiami daerah dasar lembah yang terdapat aliran sungai dan daerah lereng lembah yang curam. Mereka akan menangkap mangsanya di saat sedang terbang. Biasanya mereka memangsa serangga.

8. Burung Liben Lark – Heteromirafra archeri 

Burung Liben Lark

Burung ini dapat kamu temukan di somalia serta Ethiopia. Mereka biasanya mendiami daerah semak belukar di daerah tropis dan subtropis. Selain itu, mereka juga biasanya mendiami padang rumput  kering di dataran rendah di daerah tropis dan subtropis.

Burung Liben Lark memiliki kepala yang besar dan tubuh yang pendek dan montok, ukuran dari burung ini sekitar 14 cm. Bulunya sebagian besar berwarna coklat dengan corak coklat kemerahan pada sayapnya, ekornya tipis dan pendek. Kicauanya pendeknya merdu sekitar 3-5 kicauan.

Burung ini populasinya di alam liar sekitar 50 -250 ekor burung dewasa. Habitatnya banyak beralih fungsi menjadi lahan pertanian, selain itu juga perubahan cuaca seperti kebakaran dan cuaca ekstrim menjadi ancaman bagi kelangsungan burung Liben ini.

9. Burung Bugun Liocichla – Liocichla bugunorum

Burung Bugun Liocichla

Burung ini adalah burung dengan populasi yang sangar sedikit dan rentang persebarannya yang sangat terbatas. Burung ini dapat kamu temukan di daerah Arunachal Pradesh India. Mereka biasa mendiami daerah semak dan pohon-pohon kecil.

Burung kicau ini memiliki ukuran yang kecil sekitar 20 cm, bulunya berwarna hijau zaitun dan terdapat jambul berwarna hitam di atas kepalanya. Pada bagian sayapnya terdapat warna kuning yang cerah dengan corak hitam dan oranye. Pada ujung ekor hitamnya terdapat warna oranye.

10. Burung White-bellied cinclodes – Cinclodes palliatus 

Burung White-bellied cinclodes

Burung ini merupakan hewan endemik dari Negara Peru. Mereka biasanya mendiami daerah berawa di dataran tinggi di wilayah Junin dan Huancavelica. Tetapi survei terbaru mengatakan bahwa di kedua tempat tersebut jenis burung ini sulit untuk ditemukan.

Burung ini memiliki warna putih pada perutnya, dan ekor yang panjang. Bagian kepalanya berwarna abu kecoklatan, sedangkan sayapnya memiliki warna coklat yang kehitaman dan saat dibentangkan pada sayapnya kamu dapat melihat garis putih pada bagian tengah sayapnya.

11. Burung Palila – Loxioides bailleui

Burung Palila 

Burung ini hanya dapat kamu temukan di kepulauan Hawaii Amerika Serikat. Kebanyakan dari burung ini mendiami daerah Mauna kea pada lereng sebelah barat. Populasi burung ini mulai mengalami penurunan yang cepat semenjak tahun 2003.

Burung Palila memiliki kepala  dan dada yang berwarna kuning menyala, sedangkan perutnya berwarna putih keabuan. Sayap dan ekor burung Palila berwarna abu yang lebih gelap dan terdapat corak yang berwarna kuning. Ukuran panjang dari burung ini sekitar 19 cm.

12. Burung Gagak Hawaii – Corvus hawaiiensis 

Burung Gagak Hawaii

Pada tahun 2002 keberadaan  dua burung gagak terakhir  ini di alam liar telah menghilang, beberapa yang masih ada hidup di penangkaran, dan program untuk memperkenalkan kembali saat ini sedang dalam pengembangan. Maka burung ini diklasifikasikan sebagai hewan yang telah punah di alam liar.

Burung yang berbulu seluruhnya berwarna coklat kehitamanan ini memiliki ukuran panjang sekitar  48 – 50 cm. Burung ini dikenal karena memiliki akal yang hebat dan kemampuan terbangnya. Kepunahannya di alam liar bukan hanya hanya kehilangan habitat tetapi juga karena penyakit.

Agar kamu dapat selalu dapat mendengarkan kicauan indah burung-burung ini, maka menjaga habitat mereka adalah hal yang harus kamu lakukan. Kehilangan habitat dan sumber makanan adalah hal-hal yang dapat mengakibatkan kicau mereka tak dapat kita dengar lagi. Jagalah lingkungan alam kita untuk kicau mereka yang merdu.

Topik Terkait:

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *