Bacaterus / Bayi / Inilah 4 Jenis Alergi yang Paling Sering Dialami Pada Bayi

Inilah 4 Jenis Alergi yang Paling Sering Dialami Pada Bayi

Ditulis oleh - Diperbaharui 11 Desember 2018

Beberapa dari Anda mungkin pernah mengalami alergi dengan berbagai reaksi, dari ringan sampai berat atau dirasa parah. Reaksi hipersensitivitas inilah yang disebut alergi. Lebih jelasnya lagi, yaitu suatu respon imun yang tidak sesuai terhadap suatu hal namun tidak membahayakan.

Sistem imun merupakan sistem pertahanan tubuh dalam melawan antigen (benda asing). Reaksi alergi terjadi pada beberapa individu, sistem imun dapat bereaksi berlebihan terhadap antigen (benda asing) tertentu, dimana semestinya tidak berbahaya bagi kebanyakan orang. Kebanyakan orang dewasa bisa cepat mengetahui jika ada reaksi alergi pada tubuh mereka. Namun, bagaimana dengan bayi dan anak-anak?

Bayi dan anak-anak lebih rentan mengalami alergi karena sistem imun yang dimiliki masih belum matang dan masih dalam tahap beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Alergen ini dapat menimbulkan reaksi alergi jika mengalami kontak dengan kulit, dihirup, dimakan, atau diinjeksi.

Lalu, apa yang menjadi penyebab bayi mengalami alergi dan gejala apa yang bisa dijadikan tanda agar dapat diwaspadai? Jenis alergi apa saja yang biasa dialami bayi? Simak jenis-jenis alergi dan anjuran pencegahan yang dapat Anda lakukan di artikel ini.

4 Jenis Alergi Pada Bayi

1. Alergi Susu

Alergi Susu

* sumber: www.anaphylaxis.org.uk

Bayi mungkin mengalami alergi susu, dengan respon imun yang abnormal terhadap susu atau produk yang mengandung susu. Jika bayi mengalami alergi susu, gejalanya akan muncul sesudah bayi disusui. Gejala yang biasa terjadi biasanya bentol-bentol, gatal (seringkali di seputar mulut), nyeri perut, mual dan muntah, atau dapat juga mengalami diare.

ASI merupakan makanan terbaik untuk bayi dan jarang sekali menyebabkan alergi, sehingga berikan ASI pada bayi selama sekurang-kurangnya 6 bulan. Ada baiknya selama menyusui, ibu menghindari makanan alergenik, seperti susu, ikan, dan kacang-kacangan. Jika bayi memiliki riwayat keluarga alergi, sebaiknya jangan diperkenalkan dulu dengan jenis-jenis makanan alergenik hingga bayi mencapai usia tertentu.

2. Alergi Makanan

* sumber: www.momjunction.com

Bayi mungkin mengalami alergi makanan dengan respon imun abnormal terhadap beberapa jenis makanan tertentu. Gejala dan tanda yang dialami bayi sama seperti alergi susu, yakni bayi mengalami bentol-bentol, gatal (seringkali di seputar mulut), nyeri perut; mual dan muntah, atau diare. Namun, gejalanya dapat terjadi sesudah bayi diberi makanan yang mengandung susu, kacang, kedelai, gandum, dan atau kacang pohon (misalnya kenari).

Makanan alergenik, seperti susu sapi dan yang berasal dari susu sapi dapat diberikan pada usia 12 bulan ke atas. Lalu, telur dan makanan yang mengandung telur dapat diberikan pada usia 24 bulan ke atas. Sedangkan untuk kacang-kacangan, ikan, seafood dapat diberikan pada usia 38 bulan ke atas.

3. Alergi Obat

* sumber: www.babycenter.com

Tanda dan gejala yang terlihat saat bayi mengalami alergi obat adalah bentol-bentol, kemerahan, mual dan muntah, hingga diare. Bayi mungkin mengalami alergi obat yang terjadi akibat respon abnormal tubuh terhadap obat-obatan tertentu.

Anda dapat memastikan bayi sedang menggunakan obat-obatan atau tidak. Bayi bisa saja alergi terhadap obat seperti antibitik (penisilin, sulfonamid), antikonvulsan (phenytoin, carbamazepine), yang menimbulkan gejala kemerahan dan pembengkakan wajah.

Penghentian obat-obatan yang memicu alergi adalah bentuk dari pencegahan. Segera hubungi dokter kembali ketika terdapat gejala bahwa bayi mengalami alergi obat, sehingga dokter dapat memberikan terapi yang tepat.

4. Rinitis Alergi

Rinitis Alergi

* sumber: www.parents.com

Bayi mungkin mengalami rinitis alergi yang terdiri dari sekumpulan gejala-gejala yang umumnya melibatkan hidung dan mata. Adapun alergi ini bisa menimbulkan ciri-ciri seperti, bersin dan batuk, bentol-bentol dan kemerahan pada kulit, mata merah gatal, dan berair, atau hidung meler.

Hal ini dapat terjadi akibat reaksi sistem imun yang tidak biasa terhadap suatu zat (alergen), seperti serbuk bunga atau tumbuhan, bulu binatang, debu, asap, lumut, tungau, dan kutu binatang, serta parfum atau pewangi, dan serat. Reaksi alergi dapat juga terjadi sebagai bagian dari alergi musiman, misalnya seperti hay fever.

5. Alergi Anafilaktik

* sumber: www.healthline.com

Reaksi alergi yang paling berbahaya adalah Anafilaktik, disebut juga shock anafilaktik yakni reaksi alergi yang memengaruhi seluruh bagian tubuh dan dianggap sebagai kondisi medis darurat. Reaksinya berpotensi mengancam jiwa dan bisa terjadi dimana saja hanya dengan beberapa detik hingga menit setelah terpapar alergen.

Pada kasus shock anafilaktik dapat memiliki banyak gejala, karena reaksinya yang berbeda dan sejumlah gejala dapat muncul sekaligus. Gejalanya mungkin termasuk kulit kemerahan dan gatal, mulut dan tenggorokan gatal, kesulitan menelan, bibir dan lidah bengkak, wajah panas dan kemerahan, serta drooling (ngiler). Jika tanda dan gejala anafilaktik muncul bawa segera ke rumah sakit terdekat, karena sudah termasuk keadaan gawat darurat.

Cara Mencegah Alergi Pada Bayi

Kelima alergi di atas dapat dicegah, sehingga tidak terulang kembali di lain waktu. Cara pencegahan alergi yang terbaik adalah sedapat mungkin menghindari kontak dengan alergen. Seperti menempatkan binatang peliharaan di luar rumah, memasang saringan air, tidak memberikan makanan tertentu yang dicurigai dapat menimbulkan alergi, serta menghentikan penggunaan obat-obatan yang memicu alergi. Beberapa tips mencegah alergi pada bayi dibawah ini bisa Anda lakukan.

1. Membersikan Kasur, bantal, dan Selimut

Membersikan Kasur

* sumber: steamdrycanada.com

Jika bayi alergi terhadap debu rumah, Anda perlu menyingkirkan benda-benda yang dapat menjadi sarang debu. Mengganti seprei, bed cover, dan sarung bantal atau guling secara berkala agar tidak dihinggapi debu dan tungau. Masih bingung membersihkan kasur dari tungau? Langsung cek artikel Cara Membersihkan Kasur ini.

2. Jauhkan Bayi dari Binatang

* sumber: www.onhealth.com

Cara efektif untuk mengurangi pemaparan terhadap alergen dari binatang adalah dengan memindahkan binatang peliharaan keluar rumah. Anda juga perlu menjaga agar rumah tidak dimasuki serangga dan tikus. Kecoa seringkali dianggap sebagai salah satu pemicu asma pada anak-anak yang hidup di perkotaan. Anda juga bisa baca artikel Cara Membasmi Kecoa di Rumah untuk menghindari kecoa dari anak Anda.

3. Hindari Pemaparan Jamur dan Lumut

* sumber: www.thespruce.com

Menghindari pemaparan terhadap jamur dan lumut yang biasanya terdapat pada tempat-tempat penampungan air adalah pencegahan yang tepat. Mengapa? Karena jamur bisa menjadi sumber bakteri.

Bersihkan saluran air dan perbaiki pipa air yang bocor atau rusak, simpan makanan dengan baik, dan tetap menjaga kebersihan secara rutin merupakan metode yang dianjurkan agar serangga dan tikus tidak masuk ke dalam rumah.

4. Menjaga Kebersihan Rumah Secara Berkala

* sumber: makassar.sindonews.com

Selain itu, bersihkan karpet, korden, tempat sampah, dan kamar mandi secara berkala dengan larutan detergent dan larutan pemutih 5%. Anda juga bisa meningkatkan kebersihan udara di dalam rumah dengan mengurangi atau membatasi faktor-faktor yang dapat mencemari udara, seperti asap rokok, dan lain-lain.

5. Konsultasikan dengan Dokter

* sumber: www.nutramigen.co.uk

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa bayi dan anak-anak memiliki sistem imun yang masih rentan dan belum matang, karenanya dibutuhkan perhatian ekstra untuk tindakan apa yang seharusnya diambil atau dilakukan, agar tidak memperburuk alerginya.

Setelah mengetahui gejala yang terjadi pada bayi, hal pertama yang baik untuk dilakukan adalah mengunjungi dokter spesialis anak. Supaya jenis alergi dan terapi pengobatan yang diberikan tepat dan aman. Selain memberikan terapi yang tepat, dokter akan menjelaskan kondisi serta langkah apa yang bisa Anda lakukan supaya hal serupa tidak lagi terjadi di kemudian hari.

Menangani hal yang bersangkutan dengan bayi dan anak-anak memang sudah seharusnya serba hati-hati karena keselamatan adalah hal yang utama. Semoga artikel kali ini dapat menambah pengetahuan Anda semua. Jika Anda memiliki pertanyaan dan saran mengenai alergi, jangan sungkan menuliskannya di kolom komentar, ya.

Topik Terkait:
Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on pinterest
Pinterest
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan komentar