advertisements

Apa yang ada dibenak Anda ketika mendengar ‘Warga Negara Asing’? Bule? Tampan atau cantik? Atau bahkan Anda akan teringat masa penjajahan zaman dahulu? Indonesia adalah salah satu negara yang pernah dijajah oleh Warga Negara Asing seperti Belanda dan Jepang. Namun, tahukah Anda bahwa ternyata ada Warga Negara Asing yang peduli akan kemerdekaan Indonesia? Bahkan mereka ikut membantu para pahlawan Indonesia untuk meraih kemerdekaan, lho.

Tidak semua Warga Negara Asing yang datang ke Indonesia pada zaman dulu memiliki rencana untuk menjajah. Buktinya, beberapa diantara mereka ada di pihak Indonesia pada jaman penjajahan dulu, bahkan mereka dengan suka rela membantu melakukan apapun demi kemerdekaan Indonesia. Penasaran siapa saja? Yuk, simak 5 Warga Negara Asing yang berjasa membantu kemerdekaan Indonesia yang telah Bacaterus rangkum berikut ini:

Jan Cornelis Princen

Jan Cornelis Princen

Jan Cornelis Princen adalah seorang Warga Negara Asing asal Belanda yang lahir pada tahun 1925 dan meninggal dunia pada tahun 2002. Ia hidup ketika Nazi Jerman menguasai  Belanda. Jan Cornelis Princen lebih dikenal dengan nama Poncke Prince.

advertisements

Poncke Prince sangat benci dengan yang namanya penindasan. Pernah ia mencoba kabur karena tidak tahan akan penindasan Jerman di Belanda, tapi ia tertangkap dan dikirim ke camp konsentrasi di Vught dan Utretcht. Ternyata, tidak hanya ditahan di camp konsentrasi, ia pernah dipenjarakan lagi karena tidak mau mengikuti wajib militer.

Akhirnya Poncke Prince dikirim ke dinas militer, dan sampailah ia di Indonesia. Itulah awal mula ia berjuang dan ikut turut serta membantu kemerdekaan Indonesia, walaupun sebenarnya tugas Poncke Prince di Indonesia adalah untuk bergabung dengan KNIL (tentara kerajaan Hindia Belanda). Namun, ia meninggalkan KNIL dan lebih memilih bergabung dengan TNI.

Di TNI, Poncke Prince menjadi Prajurit Siliwangi Kompi Staf Brigade Infanteri 2, grup Purwakarta. Ia aktif bergeriliya bersama TNI ke Longmarch Jawa Barat. Karena Poncke Prince tidak menyukai penindasan, maka ia berjuang membantu untuk melepaskan Indonesia dari jeratan perbudakan. Selain menjadi tentara, ia juga dikenal aktif sebagai politikus dan pejuang Hak Asasi Manusia pada saat itu.

Laksamana Muda Maeda Takashi

Laksamana Muda Maeda Takashi

Awal mula Laksamana Muda Maeda Takashi berkenalan dan dekat dengan orang-orang Indonesia adalah dengan menjadi atase di Den Haag dan Berlin. Di sana, ia bertemu dengan banyak pelajar dari Indonesia seperti Nazir Pramuntjak, Achmad Subardjo, Bung Hatta, dan AA Maramis. Ia adalah utusan dari negara asalnya untuk mempelajari pergerakan Indonesia selama 10 tahun.

Ketika peristiwa Kalijati tanggal 8 Maret 1942, pada saat itu pula Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang. Saat itu Maeda sedang ditugaskan menjadi kepala penghubung Kaigun (angkatan laut Jepang) dengan Angkatan Darat di Jakarta. Kaigun dan Maeda lebih humanis dibandingkan Angkatan Darat Jepang pada saat itu.

Ketika terjadi peristiwa bom dahsyat di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang akhirnya terpaksa menyerah pada sekutu. Jepang harus menutupi dan merahasiakan kekalahannya kepada Indonesia, namun para pejuang Indonesia akhirnya mengetahui hal tersebut, dan informasi itu telah dibenarkan oleh Maeda.

Setelah Maeda membenarkan tentang kekalahan Jepang, ia membentuk PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) pada 6 Agustus 1945 bersama dengan para pejuang kemerdekaan lainnya.

Singkat cerita, setelah penculikan Bung Hatta ke Rengasdengklok, akhirnya Indonesia merdeka dan dapat membacakan proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945 sekitar pukul 10 pagi yang mendapatkan penjagaaan oleh para bawahan Maeda. Karena dukungan dari Maeda, Indonesia bisa merdeka dan Maeda diberi Bintang Jasa Nararya. Jasa Maeda diumumkan pada upacara Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1973.

Muhammad Amin Al-Hussaini

Muhammad Amin Al-Hussaini

Muhammad Amin Al-Hussaini adalah Mufti Besar Yerusalem pada tahun 1921. Ia merupakan penentang zionisme dan pendudukan Yahudi di Palestina. Berdasarkan buku Diplomasi Revolusi Indonesia, ia adalah salah satu orang yang mendukung kemerdekaan Indonesia pada saat dijajah.

advertisements

Amin Al-Hussaini mendukung kemerdekaan Indonesia melalui radio selama dua hari berturut-turut setelah kekalahan Jepang pada perang Pasifik. Ia juga menyambut kemerdekaan Indonesia dengan menyerukan selamat melalui radio pada 7 September 1944.

Rokus Bernadus Visser

Rokus Bernadus Visser

Rokus Bernadus Visser adalah seorang anak petani Tulip yang sukses. Ia dilahirkan di Kanada, namun, Visser tinggal di Belanda. Pada saat perang dunia II, Visser tidak bisa kembali ke Belanda karena Belanda telah dikuasai oleh Jerman. Akhirnya, ia memutuskan untuk menjadi tentara Belanda yang mengungsi ke Britania.

Visser dianggap sebagai seorang yang berprestasi sehingga ia dikirim ke Sekolah Pasukan Para di India. Setelah itu, ia memimpin sekolah yang bernama Sekolah Pasukan Terjun Payung (School voor Opleiding van Parachustisten) di Jayapura. Pada tahun 1947, sekolah di bawah pimpinan Djanbi berpindah tempat ke Cimahi.

Ketika akhirnya Belanda menyerah kepada Indonesia di tahun 1949, Visser tidak ingin kembali dan lebih memilih tinggal di Indonesia serta mengganti namanya menjadi Muhammad Idjon Djanbi.

Pengalaman Muhammad Idjon Djanbi menjadi komando ternyata diketahui oleh kolonel A. E. Kaliwarang. Akhirnya, Djanbi pun diangkat menjadi TNI dengan pangkat mayor dan dibentuklah sebuah pasukan istimewa dibawah pimpinan Djanbi. Pasukan istimewa ini kita kenal sekarang dengan KOPASUS (komando pasukan khusus).

Bobby Earl Freeberg

Bobby Earl Freeberg

Bobby Earl Freeberg atau lebih sering dipannggil Bob ini adalah seorang Warga Negara Amerika Serikat serta pilot untuk Angkatan Laut Amerika pada perang dunia II yang kemudia menjadi pesawat komersial CALI (Commercial Air Line Corporated). Namun, berkat  hubungannya dengan Opsir udara III, Petit Muharto Kartodirdjo, Bob dapat menjadi pilot Indonesia untuk penerbangan komersial yang siap menembus blokade udara Belanda pada saat Indonesia dijajah.

Bob bertugas dalam penerbangan untuk berinteraksi antara Indonesia dengan negara luar. Ia juga bertugas dalam penerbangan membawa persenjataan, obat-obatan, serta misi terjun payung dan juga membawa orang-orang pemerintahan Indonesia.

Bob pertama kali bertugas menerbangkan pesawat di Indonesia pada Maret 1947. Bob dipandu Muharto untuk terbang ke Yogyakarta. Penghasilannya dari menerbangkan pesawat komersial ditabung oleh Bob untuk membeli pesawat Dakota C-47 yang menjadi pesawat pertama Bob.

Sayangnya, tanggal 1 Oktober 1948 merupakan hari terakhir Bob menerbangkan pesawat. Bob beserta awak pesawat dikabarkan menghilang sampai akhirnya pesawat Bob diketahui terjatuh di sekitar Bukit Pungur, Lampung Utara. Bangkai pesawatnya baru ditemukan pada April 1978.

Meskipun bangkai peswat ditemukan, namun jasad Bob tidak pernah ditemukan. Bob adalah seorang yang lembut dan memiliki sifat disiplin yang sangat tinggi. Bagi Presiden Soekarno, Bob adalah temannya dari Amerika yang idealis dan ditakdirkan datang untuk membantu perjuangan Indonesia.

Itulah 5 Warga Negara Asing yang berkontribusi dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Mereka mungkin orang asing, namun mereka peduli terhadap penjajahan yang terjadi di Indonesia pada saat itu. Mereka juga termasuk pahlawan yang ikut serta dalam memperjuangkan Indonesia. Sebagai warga negara asli Indonesia, kita jangan mau kalah dengan para Warga Negara Asing untuk terus memperjuangkan Indonesia, ya.

Artikel Menarik Lainnya: