advertisements

Flash-mob, break-dancing, atau Harlem shake pasti sudah tidak asing lagi di telinga kita. Tarian-tarian yang telah mengglobal itu mulai melekat dalam kehidupan kita.

Di era globalisasi ini, tak jarang kita mencoba untuk berlomba-lomba jadi kekinian, yang berarti mencoba mengikuti perkembangan zaman yang semakin maju dan modern. Nah, sebelum jauh-jauh mengenali tarian-tarian internasional dan kekinian di atas, yuk kita kenal salah satu tarian warisan bangsa kita sendiri!

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang unik dengan beragam budayanya, salah satunya tarian. Jika di artikel sebelumnya kita disuguhkan pengetahuan tentang tarian-tarian dari Maluku, di artikel ini kita akan mengenal tarian dari daerah Priangan, yaitu tari merak.

Asal-usul Tari Merak

Tari merak

Tari merak merupakan salah satu ragam kebudayaan masyarakat Sunda yang diciptakan oleh Raden Tjetje Somantri pada tahun 1950. Raden Tjetje Somantri menciptakan tari merak berdasarkan ketertarikannya terhadap burung merak jantan yang tengah memikat merak betina pada musim kawin.

Namun, pada tahun 1985,  koreografi dari tari merak direvisi oleh Irawati Durban Ardjo (2011) yang menilai bahwa gerakan tari merak tersebut terlalu kaku. Maka dari itulah, murid dari Raden Tjetje Somantri tersebut mengubah beberapa gerakan agar menjadi lebih anggun dan gemulai, lebih menggambarkan keindahan dan pesona burung merak.

Nilai keindahan tari merak menjadi salah satu alasan mengapa tarian ini dijadikan sebagai sambutan bagi tamu besar, sambutan bagi mempelai pria dalam upacara pernikahan, atau dalam pentas untuk memperkenalkan budaya Indonesia, khususnya budaya Sunda, ke tingkat nasional.

Tari merak mengisahkan burung merak jantan yang menampilkan keindahan bulu ekor, sayap serta gerak-geriknya dalam memikat hati merak betina. Pada umumnya, tari merak dimainkan oleh seorang atau beberapa orang penari wanita. Kostum penari juga terinspirasi dari burung merak itu sendiri, lho!

Kostum Penari

Perlengkapan kostum ini terdiri dari beberapa bagian, yaitu perlengkapan bagian kepala, bagian atas badan, dan bagian bawahan badan. Perlengkapan bagian kepala berbahan kulit sapi muda, kulit kerbau, atau bahan fiber yang ekonomis dan lebih mudah didapatkan.

Bagian-bagian perlengkapan kostum tari merak bagian kepala adalah mahkota atau siger, garuda mungkur, dan susumpingan.

Siger adalah mahkota yang diikatkan di kepala, menyimbolkan kepala merak. Motif bulu merak dan motif parang pada bagian kepala diperjelas dengan bagian-bagian pahatan berhias payet dan mute untuk memperindah kostum.

siger

Selain siger, ada juga garuda mungkur, yaitu hiasan sanggul di belakang mahkota. Garuda mungkur berbentuk burung merak jantan dari arah depan yang tengah menggoda merak betina, yakni dengan memperlihatkan keindahan ekornya.

Garuda mungkur

Bagian kepala yang terakhir adalah susumpingan. Susumpingan dipakaikan di telinga, berbentuk menyerupai kumpulan bulu merak yang didesain agar terlihat menarik secara visual dan menambah nilai perlengkapan kostum tari, mulai dari payet dan mute di motif yang dipahat serta hiasan mutiara.

susumpingan

Sementara itu, perlengkapan kostum bagian atasan badan terdiri dari apok, penutup dada, sayap, kilat bahu, dan gelang.

Apok adalah bagian penutup badan, dimulai dari leher hingga bagian atas dada, dengan bahan dasar sutra Jepang atau kain saten. Motif bulu merak dominan dengan bordiran benang-benang emas. Bentuk dasar apok adalah lingkaran yang diubah selayaknya bunga bermahkota dengan jumlah lebih dari lima buah.

Apok

Yang kedua adalah penutup dada, berbahan kain saten dan berbentuk seperti kemben atau kain yang digunakan wanita zaman dulu sebagai penutup bagian dada hingga pinggul dengan cara melilitkannya pada badan. Terdapat bentuk penutup dada lain untuk kostum tari merak yang menyerupai rompi, yaitu dengan tali untuk dipakai di bahu namun masih terdapat bagian pengait di punggungnya.

penutup dada

Selain itu, perlengkapan kostum bagian atasan badan lainnya dalah sayap. Perlengkapan mirip sayap merak ini memberikan ciri khas burung merak yang paling dominan, yaitu menggambarkan cara merak melebarkan sayapnya demi menarik perhatian betina atau demi memamerkan keindahan dengan pejantan lainnya.

Bahan perlengkapan kostum ini adalah kain sifon dengan motif yang diperjelas oleh bordiran benang-benang emas dengan warna-warni mencolok, layaknya kuning emas, merah muda, biru tua, biru muda, dan hijau.

dalah sayap  

Selanjutnya adalah kilat bahu, yaitu perlengkapan yang diikatkan pada lengan. Bentuknya semakin mengerucut ke atas, menyerupai bentuk bulu merak yang disusun dengan pahatan-pahatan yang dihiasi oleh payet dan mute.

kilat bahu

Perlengkapan kostum badan bagian atas yang terakhir adalah gelang. Gelang dipakai untuk penambah estetika keindahan kostum tari merak. Aksesoris ini terdiri dari payet dan mute yang disusun berjajar dua baris dengan warna-warni mencolok, serta bordiran benang emas sebagai bingkai gelang.

gelang

Selain dua bagian di atas, terdapat satu bagian terakhir yaitu bagian bawahan badan. Bagian bawahan badan terdiri dari sabuk dan rok. Berikut adalah gambar dari keduanya:

sabuk

Sabuk terbuat dari kain saten, dengan motif-motif berhiaskan payet dan mute yang menyerupai sisik ular, serta bordiran benang emas di bagian pinggir sabuk. Kegunaan sabuk adalah sebagai pengencan kostum penutup dada.

Sementara itu, rok dihias oleh motif bulu merak yang  dibentuk dengan payet dan mute. Fungsinya untuk dipakai para penari sebagai pelengkap serta penyempurna kostum.

rok

Perlengkapan-perlengkapan kostum tersebut merupakan penggambaran burung merak jantan. Nah, penggambaran ini akan terlihat lebih nyata jika dipadukan dengan tarian.

Gerakan Tari

advertisements

Gerakan tarian merak terdiri dari empat gerakan dasar, yaitu gerakan bagian kepala, bagian tangan, bagian kaki, dan bagian gerakan gabungan. Gerakan bagian kepala terdiri dari Galier (yaitu gerakan memutarkan kepala) dan Gilek (gerakan menggoyangkan kepala ke kanan dan kiri).

Selain itu, terdapat gerakan tangan. Gerakan tangan itu sendiri terdiri dari gerakan dasar yakni:

  1. Ukel, yaitu gerakan memutarkan tangan
  2. Selut, yaitu gerakan tangan kiri yang digerakkan ke depan atau ke atas dengan cara bergantian
  3. Tepak bahu, yakni gerakan menepuk-nepuk bahu baik oleh satu atau dua tangan secara bergantian
  4. Capang, yakni gerakan tangan dengan satu tangan dibengkokkan
  5. Nyawang, yakni gerakan tangan sebagai penanda tengah melihat keadaan jauh
  6. Lontang kiri atau kanan, yaitu gerakan dua tangan dengan saling bergantian

Gerakan ketiga dari tarian merak adalah gerakan bagian kaki. Gerakan ini terdiri dari:

  1. Deku, yaitu duduk dengan melipat dua kaki ke dalam
  2. Seser, yaitu gerakan kaki bergeser ke arah kanan dan kiri
  3. Sirig, yaitu gerakan menggoyang-goyangkan kedua kaki secara bersamaan

Ketiga gerakan di atas kemudian digabungkan menjadi mincid, yakni gabungan gerakan kepala, tangan, dan kaki yang digerakkan bersamaan dengan kaki dan tangan berbeda: kaki kanan dengan tangan kiri dan sebaliknya.

advertisements

Tari merak tidak hanya menampakkan keindahan, namun juga mengandung filosofi bangsa yang begitu kental, terutama filosofi suku Sunda yaitu filosofi Sunda Wiwitan. Contohnya, penerapan unsur Cara Ciri Manusia yakni welas asih atau cinta kasih. Unsur ini direpresentasikan melalui kisah merak jantan yang menarik perhatian merak betina.

Nah, pemaparan di atas hanya salah satu dari sekian banyak tarian tradisional negeri kita tercinta. Satu tarian saja sudah mengandung makna budaya yang dalam. Kurang keren apa, coba, Indonesia?

Maka dari itu, yuk, kenali lebih jauh tarian-tarian dalam negeri sebelum kita mengakrabkan diri dengan tarian-tarian luar negeri. Lagi pula, siapa bilang tarian dalam negeri tidak kekinian? Tidak mengenal tarian negeri sendiri, itu baru ketinggalan zaman! Hihi.

Menarik, bukan, tarian tradisional kita? Yuk, jangan ragu untuk share tarian tradisional daerah kalian dengan menuliskannya di kotak komentar!

Artikel Menarik Lainnya: