hujan

Hujan makin deras, percikannya mengenai rok warna pastel yang aku kenakan. Shelter ini makin sesak dengan manusia yang mencoba untuk melindungi dirinya dari derasnya hujan. Jarum jam sudah menunjukkan pukul empat sore, “Ah payah.. sudah hampir dua jam aku disini tapi dia tak kunjung datang” keluhku dalam hati. Tapi tiba-tiba telepon genggamku berbunyi… Ah, aku tak mengenal nomor itu.. Kubiarkan untuk beberapa waktu, telepon terhenti. Tapi beberapa detik kemudian, nomor yang sama menghubungiku kembali. Oke, baiklah…

advertisements
advertisement
advertisement
advertisement

Tanpa gairah untuk berbicara, terpaksa kutekan tombol angkat kemudian terdengar suara nyaring yang tak ayal lagi khas di telingaku. “Mar, bagaimana pertemuan kau dengan si Nara itu?” tanya Rahel sahabatku yang bela-belain menelponku pakai telepon seluler ayahnya karena saldo pulsanya habis. “Sial, sudah hampir dua jam aku menunggunya disini namun belum nampak batang hidungnya hingga sekarang.” jawabku agak kesal. “Sabarlah.. mungkin dia terjebak hujan di jalan. Pokoknya kalau kau sudah selesai bertemu dengannya kau harus cepat-cepat menghubungiku ya, Mar!” balas Rahel. “Iya pasti.. bawel kau ini. Sudah.. aku akan masih menunggunya disini.” jawabku. Ku tutup telepon selulerku dan tiba-tiba terdengar suara seseorang dari arah belakangku beradu dengan suara gemericik air hujan yang sejak tadi belum juga reda. “Marsya? Sudah lama menunggu ya?”

Kubalikan badan, kuperhatikan mulai dari bawah hingga ke atas setiap detil wujud yang saat ini sedang berdiri tepat dua langkah dari jararakku. Dari apa yang dikenakannya−sneaker warna crimson, denim biru navy, kaos warna hijau tosca bertuliskan Allegria, sebuah kosakata Italia yang hampir bermakna “kebahagiaan” namun sedikit berbeda. “Akhirnya.. Nara menemuiku.” Antusiasmeku dalam hati. “Oh, hai, Nar? Iya nih.. lumayan juga nunggunya. Hehehe.. Kamu pasti kehujanan ya? balasku agak kaku. “Iya, Mar, sorry banget nih udah bikin kamu nunggu kelamaan. Jadi.. enaknya mau ngobrol-ngobrol dimana nih? Emm.. gimana kalau disebrang situ aja, Mar?” jawab Nara sekaligus menunjukkan opsi tempat ngobrol ke sebuah kedai pastry di sebrang shelter.

Kami pun akhirnya menyebrang dan agak kebasahan karena nekat menerobos hujan. Di kedai pastry ini, aku dan Nara akhirnya bisa menghabiskan waktu bersama walau dengan hanya sekadar ngobrol saja. Bagiku tak masalah bagaimana momen-momen ini akan kuhabiskan. Aku tak pernah muluk-muluk dengan kesempatan yang kupunya. Dapat bertatapan langsung saja sudah cukup mengobati rasa rindu tertahanku pada Nara. Meski demikian, aku tetap ingin kesempatan ini tak kusia-siakan dengan gelagat kekikukanku yang sejak dari shelter kutunjukan. Ah.. semoga Nara tak menyadari itu.

Setahun lalu, aku bertemu Nara. Ia adalah seorang mahasiswa ilmu geografi yang sedang melakukan field trip di kawasan konservasi flora di dekat kampusku. Nara dan teman-temannya saat itu mendapatkan kesempatan untuk dapat menggali informasi perihal konservasi flora disana dari seorang profesor ahli flora di kampusku bernama Profesor Luther. Prof Luther adalah orang berkebangsaan AS yang lebih tepatnya berasal dari Louisiana. Meski sudah berkontribusi di kampusku khususnya di jurusan ilmu geografi sebagai penelaah riset selama lebih dari delapan tahun, ia belum fasih berbahasa Indonesia. Oleh karena itu, pihak yang mengurus kedatangan Nara dan teman-temannya ke konservasi flora yang akan dibimbing oleh Prof Luther menginginkan adanya seorang interpreter yang bisa membantu jalannya komunikasi antara Prof Luther dan tamu mahasiswa ilmu geografi dimana Nara termasuk di dalamnya. Satu minggu sebelum field trip Nara dan teman-temannya ke konservasi flaura, aku mendapatkan tawaran interpreting dari jurusan ilmu geografi di kampusku. Tak pelak memang bahwa kampusku memiliki jurusan Bahasa dan Sastra Inggris yang pastinya diharapkan menyimpan mahasiswa/i dengan keterampilan-keterampilan berbahasa Inggris yang hebat khususnya dalam bidang interpreting. Singkat cerita, aku dan temanku Afrizal menjadi dua mahasiswa/i terpilih untuk mewakilkan prodi Bahasa dan Sastra Inggris sebagai interpreter Prof Luther dari jurusan ilmu geografi. Diriku akhirnya terpilih berdasarkan tes interpreting seputar wawasan geografi yang dibimbing oleh salah seorang dosenku. Begitulah kronologisnya aku dapat masuk ke zona jurusan ilmu geografi di kampusku−berkehormatan untuk mendampingi Prof Luther dalam menyampaikan materi-materi yang akan diberikannya perihal konservasi flora kepada tamu mahasiswa ilmu geografi.

Singkat cerita lagi, aku berkesempatan untuk saling berkenalan dengan tamu mahasiswa ilmu geografi termasuk Nara. Awal perkenalanku dengan Nara sebenarnya tampak biasa-biasa saja seperti perkenalanku dengan teman-temannya yang lain. Hanya saja dibandingkan dengan teman-temannya yang lain, aku dan Nara terlibat percakapan yang cukup intens yang membuat kami jauh dari sekadar memberi tahu nama satu sama lain. Kami mengobrol sedikit seputar pribadi masing-masing dan pastinya background ilmu satu sama lain. Topik inilah yang membuatku saat itu ingin mengenalnya jauh lebih dalam. Nara lebih dari sekadar pesona bagiku. Bukan soal parasnya saja namun intelektualitasnya. Ia berhasil memikatku dengan senjata itu. Intelektualitas diatas pesolek dan penampilannya.

Perjumpaanku dengan Nara yang begitu amat membahagiakanku hanya terjadi sehari itu saja. Namun diakhir perjumpaan, kami saling bertukar nomor telepon seluler dan seperti yang bisa dibayangkan kami tetap saling terhubung satu sama lain baik via pesan singkat maupun telepon, meski amat jarang bagiku atau baginya berkomunikasi via telepon karena kami terlalu grogi−barangkali. Dan pertemuan hari ini−di kedai pastry ini adalah momentum penting yang takkan pernah kulupakan. “Nara.. andai saja kita bisa lebih sering bertemu dari ini.” Anganku dalam hati.

Artikel Menarik Lainnya: