advertisements

Post-apocalyptic, atau dalam bahasa Indonesianya seringkali diterjemahkan sebagai pasca-kiamat, adalah suatu keadaan kehidupan umat manusia yang berjalan setelah terjadinya bencana besar secara global atau kiamat. Istilah ini memang hanyalah sebuah fiksi yang mungkin tidak akan jadi kenyataan, karena pada hakikatnya, setelah kiamat tidak akan ada kehidupan umat manusia lagi di bumi.

Menurut para ahli science-fiction, ide ini muncul karena kisah Nabi Nuh yang terdapat di dalam kitab suci Islam, Yahudi dan Kristen, dimana dia diperintahkan oleh Tuhan untuk membuat sebuah bahtera yang mampu menampung segala jenis kehidupan untuk diselamatkan dari banjir besar yang akan terjadi.

advertisements

Sejak itu, umat manusia memulai lagi peradabannya dari awal. Kisah ini kemudian menginspirasi legenda Gilgamesh yang terdapat di kebudayaan Mesopotamia, juga kisah yang sama terdapat di beberapa kitab Hindu dan Budha meski dengan karakter legenda yang lain.

Tema ini kemudian menjadi populer sejak akhir 1800an lewat beberapa novel, seperti The Last Man karya Mary Shelley dan After London karya Richard Jefferies. Dengan perkembangan dunia perfilman, terutama di Hollywood, para sineas kemudian membuat banyak sekali film tentang kehidupan umat manusia di era post-apocalyptic ini. Berbagai sebabnya juga dipaparkan secara singkat dan sangat variatif hingga saat ini. Berikut ini adalah 10 film post-apocalyptic terbaik versi Bacaterus.

The Terminator [1984]

Di film ini yang mengambil setting tahun 1984, umat manusia masa depan di tahun 2029 mengirimkan cyborg untuk membunuh Sarah Connor, ibu dari John Connor yang kelak menjadi pemimpin umat manusia melawan dominasi robot canggih. The Terminator mengangkat karir perfilman bagi sutradara James Cameron dan aktor Arnold Schwarzenegger yang kemudian melahirkan beberapa sequel, serial televisi, komik dan novel.

The Terminator

Terminator 2: Judgment Day (1991) tampil lebih baik dari film pertamanya, Terminator 3: Rise of the Machines (2003) besutan sutradara Jonathan Mostow tampil tanpa ada campur tangan James Cameron sebagai pencetusnya.

Terminator Salvation (2009) dengan sutradara McG tidak lagi menggunakan time travel sebagai kelangsungan cerita, tetapi hanya bersetting di tahun 2018 dengan mengedepankan perjuangan John Connor melawan robot Skynet tanpa ada Arnold Schwarzenegger.

Terminator Genisys (2015) menghadirkan kembali Arnold Schwarzenegger yang disambut baik oleh moviegoers dan kritikus film, meski secara keseluruhan menuai cibiran. Rencananya, film ini akan menjadi awal trilogy baru bagi franchise Terminator.

12 Monkeys [1995]

12 Monkeys film post apocalyptic terbaik

Bumi dijangkiti oleh virus mematikan di tahun 1996 yang membuat sisa umat manusia hidup di bawah tanah. Di tahun 2027, para ilmuwan mengirimkan James Cole kembali ke tahun 1996 melalui mesin waktu untuk mencari tahu sebab-musabab datangnya virus tersebut.

Tetapi perhitungan mesin tersebut meleset dan Cole terkirim ke tahun 1990. Cole kemudian ditangkap oleh pihak berwajib dan dikirim ke rumah sakit jiwa karena dianggap gila, hingga akhirnya dia menemui Dr. Kathryn Rally yang melakukan riset tentang virus yang dia cari.

Film yang digarap oleh sutradara visioner Terry Gilliam dan dibintangi oleh Bruce Willis, Madeleine Stowe dan Brad Pitt ini memiliki ketegangan yang cukup baik, terutama adegan-adegan di rumah sakit jiwa. Maka tidak heran, jika 12 Monkeys selalu masuk daftar film sci-fi terbaik.

Waterworld [1995]

advertisements

Bagaimana jika seluruh gunung es di Kutub Utara dan Selatan mencair akibat global warming? Film ini menampilkan perkiraan bumi setelah kejadian pencairan es itu, dimana permukaan laut naik menjadi 25 ribu kaki membuat banyak daratan tenggelam sehingga mayoritas umat manusia yang tersisa hidup di kota-kota buatan yang dibangun dari kayu-kayu.

Karakter utamanya adalah manusia mutan yang memiliki insang di dekat telinganya dan dijuluki The Mariner. Film ini pernah menjadi film yang memiliki bujet termahal kala itu dan merugi karena tidak mendapatkan box-office sesuai harapan.

Perilisannya dibarengi dengan sebuah novel, video game dan 3 wahana di Universal Studios Hollywood, Singapore dan Japan. Bagi penonton yang mabuk laut, kemungkinan besar akan mual melihat lautan yang begitu banyak selama 2 jam lebih durasi filmnya.

A.I. Artificial Intelligence [2001]

Di akhir abad 21 terjadi banjir di pantai-pantai AS akibat efek dari global warming yang akhirnya mengurangi jumlah umat manusia secara drastis. Manusia yang tersisa kemudian membuat robot, humanoid dan android.

A.I. Artificial Intelligence

Di beberapa tahun pengembangannya, akhirnya tercipta sebuah robot android yang bisa memiliki perasaan seperti manusia. 2000 tahun setelah itu, umat manusia telah punah dan bumi dihuni oleh para robot pintar ini.

Steven Spielberg mengarahkan film ini setelah mendapat warisan dari sutradara maestro Stanley Kubrick yang telah memulai pra-produksi sejak tahun 1970an. Haley Joel Osment namanya terangkat sejak berperan sebagai robot android cilik dan diprediksi sebagai aktor terbaik masa depan, yang sejauh ini ternyata masih meleset.

Ceritanya sendiri lebih mirip kisah Pinocchio dalam fisik robot yang ingin menjadi manusia. Film ini mendapat respon positif dan masuk sebagai nominasi di Academy Awards untuk Best Visual Effects dan Best Original Score.

Dawn of the Dead [2004]

Remake dari film karya sutradara George A. Romero produksi 1978 ini disutradarai oleh sineas debutan Zack Snyder, yang saat ini telah menjelma sebagai sutradara papan atas Hollywood. Setting yang terjadi mengambil waktu yang tidak jauh di masa depan, dimana telah tersebar virus yang membuat manusia menjadi zombie jika terinfeksi oleh darah zombie lainnya, baik itu lewat gigitan, ludah atau tetesan dan cipratan darah zombie.

Dawn of the Dead

Berlokasi mayoritas di sebuah mall di sebuah kota kecil di Wisconsin, membuat penonton juga merasa seperti terisolasi bersama para survivor dari serbuan zombie yang semakin ganas.

Children of Men [2006]

Di tahun 2027, manusia tidak bisa melahirkan secara normal lagi. Tingkat kesuburan manusia telah hilang sejak 2 dekade yang lalu yang membuat umat manusia berada di ambang kepunahan. Tiba-tiba seorang wanita dinyatakan hamil dan mengandung bayi yang sehat. Kemudian banyak pihak dengan kepentingan berbeda bermaksud memiliki bayi yang dikandung itu.

Seorang petugas negara melindungi ibu dan kandungannya itu supaya jatuh ke pihak yang memang memiliki niat baik untuk kelangsungan umat manusia yang saat itu dipenuhi dengan orang-orang licik, rakus dan egois.

Children of Men

Setelah melewati perjuangan dan petualangan yang panjang, akhirnya mereka berhasil menemukan The Tomorrow, sebuah organisasi kemanusiaan yang mengemban niat menghidupkan kembali umat manusia yang beradab.

Children of Men yang diangkat dari novel berjudul sama karya P.D. James ini berhasil masuk sebagai nominasi di beberapa kategori di Academy Awards dan BAFTA Awards, juga Saturn Award, dan mendapat respon positif dari para kritikus film meski tidak berhasil meraih box-office sesuai harapan.

I Am Legend [2007]

I Am Legend

Di tahun 2009, sebuah virus merebak membuat banyak manusia menjadi mutan yang mengerikan dan hanya berkeliaran di malam hari. Awalnya virus ini dibuat untuk menyembuhkan kanker, tetapi malah membuat dunia menjadi terjangkit pandemic yang cepat.

Robert Neville adalah ilmuwan yang meneliti virus tersebut dan di sepanjang film sepertinya hanya dia manusia yang masih tinggal di kota New York yang sudah porak-poranda dan lebih terlihat seperti hutan belantara. Jika siang hari tampak sepi dan aman, tetapi sangat berbeda jika matahari sudah terbenam, dimana para mutan keluar mencari mangsa hingga pagi menjelang.

I Am Legend yang disutradarai oleh Francis Lawrence dan dibintangi oleh Will Smith ini merupakan adaptasi ketiga dari novel berjudul sama karya Richard Matheson. Yang pertama adalah The Last Man on Earth (1964) dan The Omega Man (1971).

Film ini menghabiskan bujet yang besar, terutama untuk pengambilan syuting di kota New York yang memakan biaya hingga $5 juta untuk salah satu adegannya. Untungnya film ini sukses secara komersial di AS dan seluruh dunia, sehingga modal yang dikeluarkan bisa kembali dengan keuntungan berlipat.

The Road [2009]

The Road

Seorang ayah dan putranya berjalan di daerah yang sekelilingnya porak-poranda dan berwarna kelabu. Mereka harus bisa selamat dari kelompok-kelompok yang rela membunuh sesama manusia demi kepentingan sendiri. Kisah perjuangan hidup setelah sebuah bencana global yang tidak diketahui penyebabnya ini merupakan adaptasi dari novel peraih Pulitzer Prize karya Cormac McCarthy.

Penampilan Viggo Mortensen dan Kodi Smit-McPhee banyak menuai pujian dari kritikus. Sepanjang film, penonton akan dibuat terikat kepada karakter ayah-anak ini dan akan dibuat terharu ketika memasuki ending-nya.

Dawn of the Planet of the Apes [2014]

Dawn of the Planet of the Apes

Film sequel dari reboot franchise Planet of the Apes ini mengambil setting 10 tahun setelah virus mematikan memusnahkan mayoritas umat manusia di seluruh dunia. Di San Francisco, bangsa kera yang dipimpin oleh Caesar menguasai sebuah wilayah di seberang jembatan besar dan manusia yang tersisa berada di seberangnya. Kedamaian yang ingin dimiliki oleh bangsa kera terusik karena sebuah riset yang dilakukan oleh manusia untuk mencari antivirus dari pandemic yang terjadi.

Dawn of the Planet of the Apes tampil lebih baik dari film sebelumnya, Rise of the Planet of the Apes (2011) yang mengawali kisah perseteruan bangsa kera dan manusia ini. Banyak kritikus memuji visual effects, cerita, pengarahan, akting dan kedalaman emosinya. Sepertinya kisah ini akan ditutup oleh sebuah film lagi sebagai pelengkap trilogy.

Mad Max: Fury Road [2015]

Film yang merupakan bagian dari franchise Mad Max ini, memasang Tom Hardy sebagai Max yang sebelumnya diperankan oleh Mel Gibson. Setting-nya mengambil lokasi di Australia, dimana saat itu minyak dan air adalah bahan langka yang sangat diperebutkan oleh berbagai kelompok.

Film ini menampilkan adegan action yang panjang di setiap adegannya yang banyak dilakukan di jalanan, meski hanya sedikit jalan raya dan selebihnya berjalan di gurun yang tandus. Semua bayangan akan kegilaan sebuah film action ditampilkan dengan sangat apik dan teliti, terutama aksi-aksi yang dilakukan oleh para stuntman-nya. Para kritisi memuji film ini dari segi akting, pengarahan, naskah, penggambaran cerita, musik, visual effects, stunt dan adegan action-nya.

Itulah 10 film post-apocalyptic terbaik, yang semuanya menceritakan perjuangan untuk hidup di masa yang susah karena kekurangan sumber daya alam setelah terjadinya bencana alam global. “Harapan” adalah satu kata yang menguatkan umat manusia dalam menjalaninya. Pada kenyataannya, marilah kita semua berharap semoga kehidupan umat manusia tidak sampai seperti yang ditampilkan di film-film tersebut, tetapi sebaliknya, menjadi lebih baik dalam segala bidang.

Artikel Menarik Lainnya: