advertisements
advertisements

Dunia tulis-menulis sudah berlangsung sejak zaman dahulu kala, dimana telah ditemukan huruf dan tinta sebagai media penerjemah ide dalam otak penulis menjadi sesuatu yang bisa dibaca dan dipahami oleh orang lain. Setiap kebudayaan di seluruh dunia memiliki karya tulis yang berupa cerita, baik itu berasal dari cerita rakyat, legenda atau kisah yang sama sekali baru dibuat oleh penulisnya.

Novel adalah bentuk karya tulis modern yang mulai ada dan berkembang sejak abad ke-1 Masehi. Dimulai dari bahasa Latin oleh bangsa Yunani, Sansekerta oleh bangsa India, hingga bahasa Jepang dan Arab, yang mengusung kisah-kisah folklore, legenda, mitos dan cerita-cerita rakyat lainnya. Bentukan dan definisi novel sendiri baru diabsahkan oleh bangsa Eropa sekitar tahun 1600an.

advertisements
advertisements

Sejak itu, banyak penulis legendaris hadir dengan novel-novel yang mengusung kisah-kisah terbaik yang pada akhirnya membuat sineas perfilman tertarik mengangkat kisah tersebut ke layar lebar. Terkadang, sebuah novel hingga berkali-kali di filmkan dengan sutradara dan aktor/aktris yang berbeda dalam kurun waktu beberapa dekade setelah film sebelumnya dirilis. Hal ini mungkin dilakukan untuk mengingatkan kembali kebesaran kisah novel itu untuk setiap generasi.

Berikut ini Bacaterus pilihkan 10 film yang merupakan adaptasi dari novel-novel klasik dimana novelnya sendiri sudah dikenal luas oleh masyarakat dan mayoritas diantaranya menjadi literatur wajib di sekolah-sekolah di seluruh dunia.

Moby Dick [1956]

Moby Dick film adaptasi novel klasik

Novel yang dianggap sebagai karya terbaik romanticism era American Renaissance ini diterbitkan pada tahun 1851. Di awal penerbitannya, novel ini kurang mendapat respon positif hingga wafatnya sang penulis, Herman Melville, di tahun 1891. Tetapi lambat laun kepopuleran novel ini semakin meningkat hingga masuk sebagai salah satu novel Amerika terbaik.

Adaptasinya yang dirilis di tahun 1956 disutradarai oleh John Huston dengan menerjemahkan isi novel yang menceritakan petualangan Kapten Ahab dalam memburu paus putih raksasa yang di ekspedisi sebelumnya telah menghancurkan kapal dan menewaskan seluruh awak kapalnya.

Film Moby Dick versi 1956 adalah versi terbaik dari sebelumnya yang dirilis pada tahun 1926 dan 1930, bahkan versi setelahnya pun, versi 1971, 1978 dan 2010, masih belum sanggup menyamai kualitas film adaptasi novel klasik yang dibintangi oleh Gregory Peck ini.

Dracula [1992]

Dracula

Count Dracula jatuh cinta kepada istri dari penulis yang mewawancarainya di kastil miliknya sendiri. Kemiripan antara istri sang penulis dengan kekasih Count Dracula adalah motivasi utama mengapa bangsawan penghisap darah ini terus memburu sang wanita.

Film yang diadaptasi dari novel karya Bram Stoker yang diterbitkan di tahun 1897 ini disambut dengan respon positif dari semua pecinta film, hanya saja akting Keanu Reeves yang kaku yang mendapat kritikan. Aktornya pun tidak main-main. Dua aktor watak diadu disini oleh sutradara Francis Ford Coppola, yaitu Gary Oldman sebagai Count Dracula dan Anthony Hopkins sebagai Abraham Van Helsing.

Wuthering Heights [1992]

Wuthering Heights

Keluarga Bronte memiliki tiga putri yang semuanya adalah penulis. Selain Charlotte Bronte, Emily Bronte yang merupakan adiknya, menulis juga sebuah novel yang menjadi karya satu-satunya dengan judul Wuthering Heights. Diterbitkan pertama kali pada tahun 1847 dengan nama alias Ellis Bell, kemudian diterbitkan ulang setelah direvisi oleh kakaknya di tahun 1850 dengan nama aslinya.

advertisements
advertisements

Pada adaptasi filmnya di tahun 1992 karya sutradara Peter Kosminsky, aktor Ralph Fiennes dipertemukan dengan Juliette Binoche. Karir mereka mulai terangkat lewat film ini dan kemudian dipertemukan kembali di film The English Patient (1996).

Novelnya sendiri menuai pujian meski cenderung kontroversial di masanya karena mengusung tema yang masih tabu saat itu, seperti penyetaraan gender, moralitas, kelas sosial dan kritikan terhadap agama.

The Three Musketeers [1993]

Film yang di tahun perilisannya sangat populer ini merupakan adaptasi dari novel klasik karya Alexandre Dumas, yang menceritakan perjalanan D’Artagnan untuk menjadi The Musketeers, julukan bagi pasukan khusus penjaga sang raja. Tagline yang sering diucapkan oleh The Musketeers di film ini, “One for All and All for One”, menjadi salah satu tagline paling memorable dalam dunia perfilman di tahun 1990an.

The Three Musketeers

Meskipun ceritanya tidak mentah-mentah mengambil isi novelnya dan memiliki sedikit alur yang berbeda, tetapi film yang diisi soundtrack-nya oleh lagu “All for Love” ciptaan Bryan Adams ini tetap menjadi adaptasi film The Three Musketeers terbaik hingga saat ini.

Little Women [1994]

Little Women

Kisah perjuangan hidup 4 saudari di era American Civil War ini ditulis oleh Louisa May Alcott yang berdasarkan pengalamannya sendiri bersama 3 saudarinya. Novel ini diterbitkan pada tahun 1868.

Setelah beberapa adaptasi dari era film bisu, versi 1994 ini merupakan yang terbaik dengan taburan bintang papan atas Hollywood sebagai pemerannya. Mulai dari Susan Sarandon, Winona Ryder, Claire Danes, Kirsten Dunst, Christian Bale dan Gabriel Byrne. Gillian Armstrong menyutradarai film yang berhasil masuk nominasi Oscar di kategori Best Actress bagi Winona Ryder, Best Costume Design dan Best Original Score.

Sense and Sensibility [1995]

Sense and Sensibility

Jane Austen selalu menonjolkan emansipasi wanita dalam setiap novelnya, termasuk Sense and Sensibility yang diterbitkan pada tahun 1811. Bercerita tentang dua saudari yang berbeda watak dan pola pikir dalam menjaga kelangsungan keluarganya setelah ayahnya yang kaya wafat.

Adaptasi filmnya yang dirilis di tahun 1995 karya sutradara Ang Lee dengan naskah adaptasi oleh Emma Thompson yang juga menjadi pemeran utama bersama Kate Winslet, Hugh Grant dan Alan Rickman ini disebut oleh para penggemar novel-novel Jane Austen sebagai adaptasi novelnya yang terbaik. Naskah yang ditulis Emma Thompson mengantarkannya sebagai peraih Best Adapted Screenplay di Academy Awards dan sebagai nominator di kategori Best Actress.

The Count of Monte Cristo [2002]

The Count of Monte Cristo

Novel klasik terpopuler karya Alexandre Dumas ini sudah berkali-kali diadaptasi, baik ke drama panggung ataupun layar lebar. Adaptasi yang dirilis di tahun 2002 adalah yang terbaik. Diperankan oleh Jim Caviezel dan Guy Pearce, petualangan hidup seorang pedagang dari dasar kehancuran hingga sukses menuntaskan dendamnya kepada sahabatnya yang berkhianat, ditampilkan dengan lugas dan tuntas.

Adaptasi film ini hanya menceritakan kisah Edmond Dantes saja, tidak dengan karakter-karakter lainnya seperti di novelnya yang tebal. Hal ini menjadi wajar, mengingat keterbatasan durasi film. Tetapi esensi dan pesan moral novel tidak hilang, meski film garapan Kevin Reynolds ini memiliki sedikit perbedaan pada ending-nya.

Pride & Prejudice [2005]

Pride & Prejudice

Novel yang diterbitkan pada tahun 1813 ini merupakan salah satu karya terbaik Jane Austen, penulis asal Inggris. Berkisah tentang Mr. Darcy dan rekannya yang datang dari kalangan bangsawan terhormat, yang dikenalkan kepada keluarga Bennett yang memiliki 5 orang putri yang belum menikah. Kisah cinta mereka tidak mudah karena status sosial yang berbeda dan masih menjadi tabu pada saat itu bagi bangsawan menikahi seorang wanita di bawah strata sosialnya, meski hati berbicara lain.

Adaptasi terbaiknya adalah karya sutradara Joe Wright yang memasang Keira Knightley dan Matthew Macfadyen sebagai pemeran utama. Film ini dinilai para kritikus film dan penggemar novel Jane Austen sebagai adaptasi terbaik yang mengusung kisah dari perspektif Elizabeth. Keira Knightley dinominasikan di kategori Best Actress pada Academy Awards lewat film ini.

Jane Eyre [2011]

Jane Eyre

Novel karya Charlotte Bronte yang diterbitkan pada tahun 1847 ini mengusung tema perbedaan kelas sosial, seksualitas, agama dan proto-feminism, hal-hal yang pada saat itu masih dianggap tabu. Tema inilah yang kemudian membuat novel yang aslinya hanya diterbitkan di Inggris ini kemudian dicetak ulang dan diterbitkan di AS dan mendapat respon yang sangat positif.

Kisah perjuangan hidup Jane Eyre sedari kecil yang dibuang oleh ibu tirinya hingga dimasukkan asrama wanita sehingga menjadi dayang bagi seorang wanita muda yang akan dinikahi oleh seorang bangsawan. Intrik percintaan mulai terjadi meski hal ini terlarang, hingga Jane memilih melarikan diri dari rumah itu dan mendapati dirinya mendapatkan warisan yang banyak dari pamannya yang baru saja wafat.

Adaptasi terbaru dan terbaik adalah yang dirilis di tahun 2011 dengan bintang Mia Wasikowska dan Michael Fassbender yang disutradarai oleh Cary Joji Fukunaga dan berhasil masuk nominasi Oscar untuk kategori Best Costume Design.

Far from the Madding Crowd [2015]

Far from the Madding Crowd

Kisah drama romantis ini terjadi di Inggris era Victorian dan ditulis oleh Thomas Hardy yang diterbitkan pada tahun 1874. Perjuangan jatuh bangun seorang wanita berjiwa independen dalam menjalankan peternakan warisan pamannya yang kemudian terlibat kisah cinta dengan 3 pria berbeda karakter yang membuat jalan hidupnya semakin rumit.

Versi 2015 yang dibesut oleh sutradara Thomas Vinterberg dengan bintang Carey Mulligan, Matthias Schoenaerts, Michael Sheen dan Tom Sturridge ini sangat efektif dalam bercerita dan memiliki alur yang lumayan stabil untuk sebuah film drama. Meski pernah salah dalam menjalin cinta, pada akhirnya, niat yang tulus akan memenangkan kembali hati yang penuh cinta itu. Begitulah kira-kira pesan yang disampaikan oleh film ini.

Itulah 10 film adaptasi novel klasik terbaik yang mayoritas berasal dari abad ke-19 dan hampir memiliki tema serupa yaitu emansipasi wanita. Film-film diatas merupakan adaptasi kesekian dari novel-novel yang diterjemahkannya ke layar lebar, menunjukkan jika novel-novel tersebut memiliki isi yang berbobot untuk selalu ditampilkan di setiap pergantian generasi para penikmat film.

Mungkin saja, kesepuluh film ini akan di buat versi barunya di tahun-tahun ke depan dengan aktor-aktor yang berbeda. Yang menjadi keunikan film-film jenis ini adalah keseriusan tim kostum dalam mempersiapkan keseluruhan kostum yang dikenakan oleh para aktornya yang sangat detil agar serupa atau minimal mendekati dengan fashion masyarakat pada saat novel-novel itu ditulis dan diceritakan.

Artikel Menarik Lainnya: