hujan-2

Hujan makin deras, percikannya mengenai rok warna pastel yang aku kenakan. Shelter ini semakin sesak dengan manusia yang mencoba untuk melindungi dirinya dari derasnya hujan. Jarum jam sudah menunjukkan pukul empat sore, “Ah payah.. sudah hampir dua jam aku disini tapi dia tak kunjung datang.” Keluhku dalam hati. Tapi tiba-tiba telepon genggamku berbunyi. “Ah, aku tak mengenal nomor itu.” Kubiarkan untuk beberapa waktu, telepon berhenti. Tapi beberapa detik kemudian, nomor yang sama menghubungiku kembali. Oke, Baiklah aku memilih untuk mengangkat telepon dari nomor yang tak kukenali itu.

advertisement
advertisement
advertisement

“Halo?” Aku bertanya, tidak ada jawaban, hening sekali diseberang sana.

“Halo?” Aku mengulang kata yang sama untuk memastikan bahwa ada orang diseberang sana. Tak lama sebuah suara mengejutkanku. “Rina? Ini kamu?” Suara terdengar berat diseberang sana. Suara seorang laki-laki tua yang sangat familiar ditelingaku. “A-Ayah?” Ucapku terbata, mataku tampak berkaca-kaca, suara ini sudah lama kurindukan, suara ayah yang sangat kurindukan.

“Nak, apa kabar mu? Ayah rindu.” Ucap suara diseberang sambungan telepon, suaranya masih sama, berat dan sendu.

“Ayah, Kabar baik, yah, Rina pun rindu Ayah.” Jawabku menahan tangis, teman-temanku bilang aku ini wanita kuat tapi jika mendengar suara Ayah, ntah kenapa air mata kurasa tak dapat kutahan. Aku menarik nafas lelu menghembuskannya sebelum kembali berbincang dengan Ayah.

“Bagaimana dengan kabar Ayah sendiri?” Tanyaku pada suara diseberang sana, hening, tidak ada jawaban.
“Baik nak, tumben sekali kau menanyakan kabar ayah, hahaha.” Suara berat nan sendu itu tertawa, aku tersenyum.

Ayah, lelaki tua satu satunya keluarga yang kumiliki di dunia ini, Ia yang selama ini hidup terpisah denganku. Hidup sendiri di kota kelahiranku di Pamulang lantas tak membuat lelaki ini selalu menyendiri, ia punya banyak teman meski aku tau sebenarnya ia kesepian. Aku yang kini hidup mandiri di Jakarta untuk mencari rezeki agar bisa kukirim kepada Ayah sebagai balasan karena telah merawatku sejak kecil hingga sekarang tanpa Ibu atau keluarga lainnya meski, ya, ia bahkan tak pernah memintaku untuk mengiriminya uang atau barang apapun. Keberadaanku di Jakarta saat ini bukan ingin menjadi Anak durhaka yang meninggalkan ayahnya yang sudah renta. Tapi, lelaki ini, yang mengajarkanku arti kemandirian ini menerapkan kemandirian pada hidupnya sendiri sehingga kupikir pilihanku untuk pergi merantau ke Jakarta bukan masalah besar bagi Ayah. Ayah pernah membuatku terpukau dengan kemandiriannya, banyak hal yang aku pelajari dari Ayah, ia bagai guru sekaligus Ayah yang mengayomi anaknya dengan baik dan selalu menanamkan nilai-nilai moral kepadaku meski kami hidup tak berkecukupan. Hingga akupun berfikir, jika aku tidak bisa mandiri seperti ayah tentu aku akan malu dengan diriku sendiri.

“Ayah baru dapat nomormu dari kartu pos yang kau kirim, nak.” Ujarnya sembari tertawa kecil.

“Iya, Ayah, maaf aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku sampai-sampai lupa menghubungimu, Yah.” Balasku cepat. Ayah tertawa dengan suaranya yang berat dan sendu.

“Tak apa, Nak! Ayah hanya ingin mengabari, ayah baru saja menjual tahan untuk membeli sapi, ayah ingin berternak sapi.” Ungkapan yang lagi-lagi membuatku malu. Ayah menjual tanah untuk menyambung hidup disana, bahkan di usianya yang sudah tidak lagi muda, ia masih giat ingin berusaha. Begitulah ayah, aku bahkan masih tak percaya jika lelaki tua ini memiliki energi dan keinginan yang kuat bahkan dimasa-masa tuanya.

“Baik, Ayah. Kuharap usaha ternakmu lancar ya, yah. Jaga selalu kesehatanmu. Aku akan pulang ke pamulang jika ada cuti minggu depan.” Ucapku cepat, mengingat untuk setahun ini aku belum menggunakan jatah cutiku  seharipun, mungkin aku bisa menggunakannya minggu depan.

“Iya, nak. Ayah tunggu kedatanganmu.” Tak lama berselang, suara ayah menghilang bersamaan dengan putusnya sambungan telepon itu. Aku mendesah pelan, “Ayah aku merindukanmu.”

advertisement
advertisement

Hujan yang turun semaking menipis, hanya terlihat benang-benang bening yang jatuh dari langit. Shelter Bus yang tadinya penuh sesak kini hanya tinggal aku sendiri.

Aku menunduk, menitikkan air mataku yang sedari tadi kutahan hingga mata ini memanas dan akhirnya tangisku pecah,

Aku menangis.

Tersadar.

Ini, hanya, ingatanku saja?

“Ayah..” Ucapku pelan.

DINN DINN

Suara klakson mobil menghentikan tangisku seketika. “Rin? Kamu ga papa?” Seorang laki-laki dengan kemeja flanel keluar dari mobil dengan sebuah payung digenggamannya. Aku menyeka sisa sisa air mata di pipiku. “Ah, Faiz, iya aku gak papa. Ayo!” Faiz mengangguk dan membimbingku memasuki mobilnya dan pergi menjauh dari shelter bus itu.

Kaki ku baru saja memasuki Area Pemakaman yang tampak sepi ini, hijau rerumputan dan warna-warni bunga menghiasi tempat ini. Pandanganku tertuju pada sebuah makam tepat dibawah pohon kamboja disudut tempat ini. Makam yang tampak bersih dengan bunga layu diatasnya.

“Selamat sore, Ayah. Ini Rina.” Aku mengusap-usap batu nisan yang ada dihadapanku ini, menaburinya dengan bunga berwarna-warni dan meletakkan sebuket bunga yang sedari tadi kubawa. Ya, ini makam ayah. Beberapa hari lalu ayah menghembuskan nafas terakhirnya karena sakit ginjal yang sudah lama dideritanya. Aku salah, kukira ayah akan selamanya menemaniku. Tapi ternyata tuhan lebih menyayangi ayah. Ia sudah tenang sekarang, Ia tidak sendirian lagi sekarang ada ibu dan adikku yang menemani ayah di surga.

“Ayah aku merindukanmu..” Ucapku lagi, aku tersenyum pada batu nisan itu, aku tau ayah juga sedang tersenyum diatas sana jika melihatku tersenyum.

Ayah, lelaki yang mengajarkanku banyak hal. Kemandirian, kerja keras, sabar, pantang menyerah, dan selalu mengingat sang pencipta. Mungkin aku belum bisa membalas semua jasa-jasamu, Ayah. Tapi aku berjanji doa-doaku tidak akan pernah putus untukmu.