advertisements

Don’t go after the dark or you’ll never come back home…‘ Masih ingat dengan penggalan kata menyeramkan ini? Kami yakin teman-teman pasti tahu. Baik di Indonesia maupun di luar sana, urban legend yang menyuruh kita untuk tidak keluar malam hari beredar di kalangan orang tua dan sampai ke telinga kita dari mulut ke mulut. Tujuannya sih untuk menakuti anak-anak supaya tetap diam dirumah karena waktu bermain mereka sudah habis.

Nah bila melanggar petuah ini, ada yang bilang nanti kita diajak main marcopolo atau sejenis petak umpet oleh ‘sesuatu’ yang tak kasat mata dan tidak akan pernah kembali lagi ke rumah. Di Indonesia sendiri, kasus hilangnya anak pada sore menjelang malam secara misterius disebabkan oleh Wewe Gombel.

advertisements

Benar atau tidaknya hal tersebut masih belum bisa dibuktikan, sebab itu semua hanya dianggap sebagai mitos belaka. Tapi… Apa kalian yakin kalau semuanya hanya mitos?

Walau Urban Legend memang tidak bisa dianggap benar atau salah, masih banyak saja urban legend menyeramkan dari berbagai negara yang sukses membuat semua orang bergidik setelah mendengarnya.

Tak sedikit dari mereka yang mempercayai dan membenarkan hal tersebut sehingga merasa ketakutan dan tidak mau lagi berbuat hal-hal yang sifatnya sama persis seperti yang ada di dalam urban legend tertentu. Tapi ada pula yang hanya mengibaskan tangan menandakan mereka tidak percaya.

Itu semua tergantung masing-masing orang sih… Kalau memang dasarnya penakut, ya mereka akan percaya. Sebaliknya, kalau dasarnya sudah kebal sama hal berbau mistis, mereka akan lenggang kangkung mendengar urban legend mengerikan tersebut.Penasaran apa saja cerita urban legend dunia mengerikan yang dimaksud? Yuk simak ceritanya!

The Fifth

Pada zaman dulu, ada sebuah pesawat komersil yang jatuh di pegunungan bersalju. Akibat kerasnya hantaman, hanya 5 orang saja yang selamat; 4 luka ringan dan seorang yang lainnya dalam keadaan kritis.

Belum sempat mereka mencari bantuan, survivor yang kelima tadi akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. Usut punya usut, 5 orang tersebut merupakan sahabat dekat yang sama-sama duduk di ekor pesawat hingga nyawa mereka selamat, walaupun tidak semua.

The Fifth

Karena solidaritas mereka sangat tinggi, ke 4 lainnya tidak mau membiarkan jenazah sang sahabat terkubur begitu saja bersama reruntuhan pesawat dan salju, sehingga mereka memutuskan untuk membawa jenazah sahabatnya itu bersama mereka dan dikubur dengan layak.

Ternyata, membawa jenazah di saat badai salju bukanlah perkara mudah. Terlebih lagi, ke 4 orang itu dalam keadaan terluka, membuat semuanya menjadi sulit. Dalam keadaan yang putus asa, mereka akhirnya menemukan sebuah pondok tua tak terurus dan memutuskan untuk diam di dalamnya hingga bantuan datang.

Setelah mereka masuk ke dalam pondok, jenazah sahabat mereka ditaruh di tengah, sedangkan mereka mengelilinginya. Rasa takut kian menghampiri, selain pondok yang gelap gulita dan diam bersama jenazah, badai salju yang terjadi pun terus menerpa mereka membuat suhu menjadi turun semakin drastis.

Mereka putar otak supaya bisa tetap hangat, karena kalau mereka  kedinginan dan kelelahan hingga terlelap, hyporthemia akan menyerang dan membunuh mereka semua. Tak lama berpikir, salah satu diantara mereka mencetuskan untuk bermain sebuah permainan.

advertisements

Caranya begini: 4 orang yang selamat tersebut diam di setiap sisi penjuru pondok yang berbentuk kotak, nanti si A akan berlari ke pos B dan menepuk pundaknya, dilanjut B berlari ke pos C dan menepuk pundaknya, dilanjut lagi C berlari ke pos D dan menepuk pundaknya dan yang terakhir D akan berlari ke pos A dan menepuk pundaknya. Intinya, mereka berlari mengelilingi pondok itu.

Permainan tersebut akhirnya dimulai. Mereka semua memainkannya hingga pagi menjelang. Berhasil! Mereka semua bertahan di dalam kedinginan sepanjang malam hingga keesokan hari. Saat bantuan datang, mereka akhirnya bernapas lega, karena selain selamat, jenazah sahabat mereka juga bisa diurus dengan baik.

Namun saat salah seorang dari ke 4 akan keluar menuju ambulans, mukanya langsung pucat pasi, keringat dingin, pupil matanya pun membesar. Dia ingat satu hal yang mengerikan. Dalam permainan semalam, tidak mungkin mereka bermain hanya berempat saja.

Dia lantas segera bertanya pada sahabatnya yang ada di pos D, ‘apa kau berlari dua putaran untuk menepukku?’, dan jawabannya… ‘Aku tidak lari dua putaran. Aku menepuk pundakmu hanya dalam sekali berlari saja’.

Apabila teman-teman sadar, kalau saja A berlari ke pos B dan diam disana saat B lari ke pos C dan C lari ke pos D. Orang yang terakhir (D) seharusnya lari dua putaran untuk meraih kembali pundak si A kan? Mengingat pos A kosong.

Jadi kenapa si D mengaku hanya berlari sekali saja untuk menepuk pundak si A? Berarti ada orang lain diantara mereka yang ikut bermain… Dalam keadaan ketakutan, ke 4 sahabat itu menatap kosong kantung mayat yang ada di depan mereka. Mungkin sahabat mereka ingin bermain bersama-sama untuk terakhir kalinya.

In The Middle, Forever…

Akhir pekan digunakan oleh 5 sahabat dekat untuk kemping di sebuah hutan belantara. Keempat sahabat ini sudah berteman sejak kecil. Bahkan mereka berjanji untuk tetap setia dan selalu bersama selamanya. Tingkah anak kecil masih terlihat dalam diri mereka walau sudah dewasa membuat suasana kemping saat itu sangat menyenangkan.

Namun semuanya berubah pada suatu malam. Salah seorang dari 5 sahabat itu tiba-tiba saja bergumam dengan serius; ‘Jika suatu saat aku meninggal, apa kalian masih menjadi temanku?’, sahabat lainnya langsung memukul pelan pundak sahabatnya yang tidur di tengah itu. ‘Kau bicara apa sih? Walaupun kau meninggal nanti, kita akan tetap menjadi temanmu! Ingat kan? Kita akan bersama selamanya. SELAMANYA!’, ucapnya lantang. Ujaran lantangnya tersebut menutup malam mereka. Mereka akhirnya tertidur.

In the middle

Keesokan harinya, mereka memutuskan untuk mandi sekaligus berenang di sebuah sungai. Salah satu sahabat mereka yang semalam mengatakan ‘jika suatu saat aku meninggal’ menyiapkan baju terlebih dahulu sehingga ditinggal oleh sahabatnya yang lain.

Tapi dirinya tak keberatan, toh letak sungai dengan area kemah mereka tidak terlalu jauh. Akhirnya setelah selesai menyiapkan baju, dia segera menyusul para sahabatnya ke sungai. Dalam perjalanan, ada sebuah air terjun yang harus ia sebrangi.

Sial, saat dia menginjak sebuah batu, kakinya terpeleset hingga tercebur ke dalam aliran air yang mengarah ke air terjun. Teriakan minta tolong tak terdengar karena bercampur dengan suara gemuruh air terjun. Hingga suara itu menghilang…

Ke 4 orang lainnya merasa sahabatnya itu terlalu lama, akhirnya mereka kembali ke kemah. Mereka bingung mendapati baju dan sendal yang sahabatnya siapkan sebelumnya untuk mandi di sungai sudah tidak ada. Tapi mereka tak ambil pusing, mereka pikir sahabatnya tersebut pergi ke tempat lain untuk mandi.

Saat malam tiba, akhirnya rasa khawatir muncul. Keempat orang itu mulai mencari sahabat mereka. Namun nihil, berjam-jam mereka mencari, sahabat mereka tidak juga ketemu. Akhirnya mereka memutuskan untuk mencari lagi esok pagi.

Saat mereka terlelap, salah seorang terbangun saat dirinya merasa ada genangan air yang membasahi tubuhnya. Ketika berbalik badan, dirinya kaget setengah mati melihat sahabatnya yang hilang telah kembali.

Ia duduk di tengah, menatapnya dengan mata merah, kepalanya terputar dan badannya terus menerus mengelurakan air. ‘Maaf aku tak bisa menyusul kalian. Tapi sekarang aku sudah di sini bersama kalian lagi. Selamanya…’

Don’t Answer That

Satu keluarga kecil baru saja membeli sebuah rumah mewah yang berada di pinggir kota. Rumah tersebut terletak di lahan yang luas membuat sang anak gadis bisa bermain sepuasnya di halaman rumah.

Sayang, rasa bahagianya hilang saat tahu Ayahnya harus segera pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan. Padahal hari itu seharusnya menjadi malam pertama mereka bersama-sama di rumah baru. Walau dengan berat hati, gadis tersebut akhirnya mengijinkan Ayahnya pergi. Hingga tinggal ibu dan gadis itu saja di rumah.

dont answer that

Sebelum beristirahat, ibu dan gadis itu menyantap makan malam. Ibunya bercerita banyak untuk menghibur sang anak. Usahanya tidak sia-sia. Gadis itu akhirnya bisa tertawa kembali. Setelah makan malam selesai, mereka tertidur. Sang ibu berada di kamar utama yang ada dekat tangga, sedangkan kamar gadis tersebut berada di ujung lorong lantai 2.

Ketika dini hari, sang gadis terbangun karena mendengar ada suara denting piring di dapur juga suara ibunya yang memanggil namanya terus menerus. Dirinya heran, mengapa ibunya beres-beres rumah selarut ini. Dengan langkah gontai, ia keluar kamar dan menuju tangga untuk turun ke dapur.

Saat akan menjawab panggilan ibunya, tiba-tiba dari dalam kamar utama, seorang perempuan menahan badannya juga membungkam mulutnya. ‘Sssshhh! Jangan dijawab! Ibu juga mendengar suara panggilan itu…’

Who’s that girl?

Di Jepang, ada cerita urban legend mengenai sebuah sekolah dasar yang konon katanya dihuni hantu gadis kecil. Gadis kecil itu meninggal gantung diri di kelas karena malu akibat nilai ulangannya selalu jelek sehingga membuat dirinya diejek terus menerus oleh teman-temannya.

Selang 10 tahun, sekolah tersebut dipugar menjadi lebih bagus dan besar. Sekolah itu diisi oleh ratusan anak SD dari berbagai kalangan; kelas 1 hingga kelas 6 terisi penuh oleh murid-murid pilihan. Namun di kelas 6, ada seorang gadis pintar yang lagaknya sombong sekali.

whos that girl

Selain pintar, dirinya juga berasal dari orang kaya; membuatnya semakin congkak. Gadis ini sangat disegani. Ayahnya merupakan donatur terbesar dan Ibunya sering memimpin PTA di sekolah. Saat ulangan tiba, gadis itu merupakan satu-satunya siswa yang mendapat nilai baik.

Ketika dipuji teman-temannya, dengan angkuhnya gadis itu berkata ‘Tidak ada yang bisa mengalahkanku! Orang pintar seperti kalian saja tidak selevel denganku, bagaimana dengan orang bodoh yang nilainya selalu jelek?!’.

Dua hari setelah ujian selesai, gadis itu merasa ada yang mengikuti dan mengawasi. Di dalam ruang ganti, toilet, kantin, perpustakaan, bahkan di kelas sekalipun. Ini membuat dirinya agak paranoid. Dirinya selalu ketakutan.

Tingkahnya jadi aneh membuat teman-teman menjauhinya satu per satu. Orang tuanya pun bingung. Sampai suatu waktu, dia tidak masuk sekolah. Empat temannya yang masih dekat dengan dia menjenguk ke rumah gadis tersebut.

Betapa terkejutnya teman-teman gadis itu ketika melihat keadaan si gadis. Mukanya putih, seakan darahnya tidak ada, kantung matanya menghitam, sedangkan matanya tak berkedip. Selalu melihat keatas seakan sedang melihat sesuatu. Dirinya juga tak mau bicara.

Ketika ibunya datang membawakan minuman untuk para penjenguk, gelas minuman kelebihan satu. Seorang teman gadis itu lantas memberitahu pada ibu sang gadis. ‘Loh? Gelasnya kelebihan satu. Apa buat tante?’, tanya seorang teman. ‘Eh? Kalian kan berlima? 1,2,3,4….’, Ibu sang gadis menghitung teman anaknya. ‘Dan… 5, tuh dibelakang tempat tidur anak tante…’

Photograph

Jenna merupakan gadis cantik yang senang sekali berpetualang dan mengambil gambar. Sampai suatu hari, dirinya memutuskan untuk bermalam di gunung yang terbilang sangat liar. Teman-teman Jenna sudah memperingatkannya supaya tidak pergi, namun Jenna berhasil meyakinkan mereka semua untuk tidak khawatir. Pasalnya dia sudah sering bermalam di hutan, gunung, pantai sendirian.

photograph

Upaya teman-teman Jenna menghalau kepergiannya musnah. Walau masih ragu, teman-teman Jenna akhirnya mengijinkan dia pergi. Mereka percaya kalau Jenna bisa menjaga dirinya sendiri. Singkat cerita, Jenna pergi ke hutan dan mulai mengambil beberapa foto lewat kameranya.

Ada sekitar 400 foto yang ia ambil; mulai dari foto bunga, pemandangan hingga satwa liar yang berkeliaran bebas di hutan. Menjelang malam tiba, Jenna kelelahan dan memutuskan untuk beristirahat di dalam tenda.

Esok paginya Jenna kembali dari gunung dan disambut oleh teman-temannya. Jenna tidak sabar memperlihatkan gambar-gambar fantastis yang ia ambil di gunung kepada semua temannya. Namun apa yang terjadi? Jenna bergidik. Bulu kuduknya berdiri. Diantara 400 foto yang ada, sekitar 4 buah foto bukan gambar flora atau fauna yang ia ambil. Melainkan potret wajahnya yang tertidur pulas.

The Liver

Ada seorang anak lelaki bernama Tommy. Dirinya baru saja mendapat amukan dari ibunya karena nilai rapotnya merah, ini membuatnya dihukum untuk tetap diam di rumah selama akhir pekan. Saat sedang menjalani hukumannya, ibu Tommy menyuruhnya untuk membeli hati sapi untuk makan malam.

Ibu Tommy menginginkan makanan lezat untuk menyambut CEO perusahaan dimana suaminya bekerja. Dirinya harus membuat kesan baik di kunjungan pertama sang bos besar. Tommy pun segera membelinya, namun saat dalam perjalanan, ada teman Tommy yang mengajaknya bermain kasti.

Tanpa pikir dua kali, Tommy mengiyakannya, padahal Ibunya sudah memperingati untuk tidak mampir kemana-mana dulu. Namun Tommy melanggarnya, ‘kalau hanya telat 15 menit saja, ibu tidak akan marah’ pikirnya.

Tak terasa, Tommy sudah telat setengah jam dan belum membeli hati sapi yang diminta oleh Ibunya. Panik, Tommy pun mengayuh sepedanya ke pertokoan terdekat. Sayang, seluruh toko sudah tutup. Tommy bingung bukan kepalang.

Dia tidak mau lagi dimaki oleh Ibunya karena ini. Pikiran licik Tommy pun muncul. Dia ingat kalau beberapa hari yang lalu, Kakeknya baru saja meninggal; Tommy ingin mengambil hati kakeknya saja untuk mengganti hati sapi yang lupa dibelinya.

Lantas, ia mengendap kerumah, mengambil cangkul dan pergi ke kuburan Kakeknya yang masih basah. Setelah berhasil menggali dan menemukan mayat Kakeknya, Tommy segera mengoyak badan Kakeknya itu sehingga dia bisa mengambil hatinya. Berhasil! Tommy akhirnya pulang ke rumah, memberi ‘hati’ sapi pada Ibunya.

cerita urban legend dunia The Liver

Tak selang berapa lama hati sapi pun selesai dimasak dan siap dihidangkan. Seluruh anggota keluarga mulai makan malam bersama dengan bos besar Ayah Tommy. Rasa hati sapi buatan Ibu Tommy diacungi jempol oleh semuanya. Kecuali Tommy yang enggan memakannya.

Setelah malam mulai larut, Tommy pun tidur. Dalam tidurnya, Tommy samar-samar mendengar suara rintihan ‘dimana hatiku? Dimana hatiku?’ terus menerus. Saat Tommy membuka mata, alangkah terkejutnya dia mendapati Kakeknya ada di depannya dengan isi perut yang terburai dan mengeluarkan bau busuk.

Tommy tidak bisa menjerit saking takutnya. Kakeknya pun bertanya sekali lagi, ‘dimana hatiku?’, lantas dengan terbata-bata, Tommy menjawab, ‘kami memakannya…’ Malam pun berlalu. Tiba-tiba keesokan paginya, suara melengking terdengar nyaring dari kamar Tommy. Ibu Tommy menemukan anaknya sudah terbujur kaku dengan perut terkoyak dan hatinya sudah hilang.

Human Can Lick Too, Honey!

Seorang gadis remaja ditinggal orang tuanya pergi ke luar kota karena ada urusan keluarga. Dirinya diminta untuk menjaga rumah. Gadis ini tidak keberatan karena ada anjing kesayangannya yang siap menemani sepanjang waktu. Belum lagi dia bisa bebas melakukan apa saja tanpa larangan dari kedua orang tuanya.

humans-lick-too

Malam pun datang. Sehabis menonton beberapa film, gadis ini pun sikat gigi dan tidur. Anjingnya mempunyai kebiasaan untuk menjilati jari jemari tuannya sampai tertidur. Gadis ini pun segera menjulurkan tangannya untuk dijilati hingga tertidur.

Gadis ini sempat terbangun karena mendengar suara tetesan air di wastafel kamar mandi. Dirinya bingung, ‘Mengapa airnya terus keluar? Padahal setelah sikat gigi tadi aku sudah mematikan kerannya’. Rasa kantuk membuatnya enggan untuk memeriksa kamar mandi, ia pun kembali tidur.

Jari-jemarinya kembali dijilati. Sampai keesokan harinya, gadis ini melongok ke kamar mandi dan… Anjing kesayangannya sudah mati tergantung kabel shower di atas wastafel. Darah dari mulutnya menetes ke dalam bak wastafel. Di kaca tertulis, ‘Manusia juga bisa menjilat, sayangku’.

Claps

Sepasang suami istri sedang hiking dan tak sengaja masuk terlalu dalam ke hutan sehingga mereka tersesat. Hari pun semakin gelap, ini membuat mereka tidak bisa berjalan lebih jauh karena akan membahayakan mereka. Dengan asa yang tersisa sedikit, sepasang suami istri tersebut mencoba menapaki jalur setapak secara perlahan. Mereka harap ada jalan keluar yang bisa mereka temui.

Beruntung, saat sedang meraba dalam kegelapan, mereka bisa melihat sekilas bayangan pondok di tengah hutan. Mereka pun segera masuk. Pondok itu masih terlihat kokoh walaupun sudah tua. Banyak perabotan yang tersusun rapih namun berdebu.

claps

Sang Istri bingung lantas berpikir mengapa penghuninya meninggalkan barang-barang bagus seperti ini, namun sang Istri tak ambil pusing. Dia beranggapan kalau pemilik pondok itu adalah orang kaya yang tak terlalu memikirkan soal furniture miliknya. Karena lelah, sang istri mengajak suaminya segera tidur supaya besok pagi mereka bisa keluar hutan.

Saat akan terlelap, sang suami mendengar ada derap kaki yang mengelilingi rumah. Sang suami pun membuka jendela dan berteriak, ‘Siapa di sana?’. Namun keadaan sepi, tidak ada yang membalas pertanyaannya. Akhirnya sang suami kembali berbaring. Belum ada semenit, suara langkah itu terdengar lagi, kini semakin keras.

Sang suami kembali membuka jendela dan bertanya untuk kedua kalinya, ‘Apa di sana ada orang?’. Lagi-lagi hanya angin yang menjawab. Melihat hal itu, sang istri mengutarakan pikirannya ‘Mungkin dia tidak bisa berbicara’. Merasa perkataan sang istri benar, sang suami mencari ide untuk berkomunikasi dengan sesorang diluar sana.

‘Apa ada seseorang di situ?” kata sang suami yang mendapatkan ide, “Tepuk tanganmu sekali jika ‘ya’ dan tepuk tanganmu dua kali bila ‘tidak’.

Tak lama, terdengar suara tepukan ‘claps!’

Lalu ia bertanya lagi, ‘Apa kamu pemilik pondok ini?’

‘Claps. Claps’,

‘dia bukan pemilik pondok ini’, bisik sang istri sembari menoleh ke arah suaminya.

Sang suami bertanya kembali, ‘Apa kamu laki-laki?’

‘Claps. Claps’

‘Apa kau perempuan?’

‘Claps. Claps’

Mereka bingung. Dengan sedikit ketakutan, sang suami mencoba bertanya lagi.

‘A, apa kau manusia?’

‘Claps. Claps’

Sang suami kaget bukan kepalang, istrinya langsung merengkut suaminya. Keringat dingin mulai menetes.

‘Apakah kau sendirian?’, tanya sang suami dengan suara bergetar.

‘Claps. Claps’

‘Ada berapa banyak teman yang bersamamu saat ini? Satu tepukan untuk setiap temanmu…’

Dan jawabannya…

‘Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps. Claps.’

I Know

Seorang bocah sedang tertidur lelap saat suara gaduh terdengar dari luar pintu kamarnya. Pertama, si bocah lelaki ini tidak menghiraukannya, namun lama kelamaan, suara ini semakin keras sehingga membangunkan bocah tersebut. Penasaran, bocah tersebut bangun lantas mencoba mengintip lewat lubang kunci untuk mencari tahu suara apa itu.

Betapa terkejutnya bocah itu saat dirinya melihat seseorang yang asing sedang memanggul Ayahnya yang sudah dibantai. Merasa tak percaya, bocah tersebut menunggu lagi orang asing tersebut. Tak lama menunggu, pembunuh itu kembali ke lantai 2 dan turun lagi ke lantai 1. Kali ini dia menggotong mayat Ibunya.

I Know

Bocah tersebut tercekat. Dia tak bisa menjerit. Dia sangat ketakutan. Bocah tersebut akhirnya lari ke tempat tidur dan menyelimuti seluruh badannya. Nafasnya kini menderu. Beberapa saat setelah dirinya berbaring, ada suara garukan di pintu, terdengar seperti ada yang sedang menulis.

Bocah malang tersebut menangis. Suhu badannya turun drastis. Tak selang berapa lama, pembunuh tadi masuk ke kamar bocah tersebut. Bocah lelaki itu berpura-pura tertidur dan berharap pembunuh itu segera pergi. Namun harapannya pupus sudah; bukannya pergi, pembunuh tersebut malah merangkak dan masuk ke kolong tempat tidur sang bocah tersebut.

Suara nafas pembunuh itu bisa terdengar dari bawah tempat tidur, membuat keadaan semakin mencekam. Dalam keadaan super takut, sang bocah memberanikan diri membuka sedikit selimut yang menutupi seluruh badannya. Apa yang ia lihat menjadi tulisan terakhir yang ia baca.

Aku tahu kau sudah bangun

Clown

Ini adalah cerita urban legend yang diambil dari kejadian nyata. Seorang rookie bernama Lee Da-In sedang berusaha untuk memulai debut pertamanya sebagai aktris. Dia tidak henti-hentinya berlatih supaya bisa menampilkan kualitas aktingnya yang mumpuni.

Clown

Setelah latihan, tiba-tiba ada sms masuk ke ponsel miliknya dari nomor yang tak dikenal. Isinya, ‘The Best Actress of The Year: Lee Da-In – 486’. Melihat isi sms itu, Lee Da-In merasa tersanjung. Maklum saja, saat itu dia belum terlalu terkenal, namun sudah ada seseorang yang menyemangatinya sampai seperti itu.

Tanpa ragu, Lee Da-In membalas pesan singkat tersebut. ‘Kau baik sekali. Terima kasih. Tapi apa yang kau maksud dengan ‘486’?’. Tak lama kemudian sms balasan tiba; ‘itu artinya aku mencintaimu’.

Sms pun sering masuk kedalam ponsel Lee Da-In. Awalnya sms tersebut berisi kalimat yang membuat dirinya semangat. Tapi, beberapa lama kemudian, isi sms tersebut menjadi mengerikan. Suatu hari, Lee Da-In ada sebuah wawancara, dia memakai baju warna merah.

Apa kalian tahu apa yang dilakukan oleh si ‘486’? Dia mengirim pesan; ‘Kau cantik sekali dengan baju warna merah – 486’. Merasa ketakutan, Lee Da-In meminta managernya selalu menemaninya hingga dia pulang.

Sms lainnya pun masuk; ‘Kau sudah pulang? Hati-hati yah… Tapi, siapa pria yang bersamamu itu? – 486’. Ini membuat Lee Da-In ketakutan setengah mati. Pasalnya selama ini ada yang terus mengikuti dan memperhatikan dirinya.

Merasa terancam, Lee Da-In mengganti nomor ponselnya. Tak selang berapa lama, ada sms masuk; ‘Selamat atas nomor barunya – 486’. Karena sudah terlalu takut, Lee Da-In pindah ke rumahnya sendiri. Di sana dia merasa aman. Dia pun bisa kembali melakukan aktifitasnya. Sms teror itu pun berhenti… Hanya sementara.

Sehabis mandi, ada lagi pesan yang masuk. Namun kali ini berupa pesan gambar (MMS). Dengan takut, Lee Da-In membuka MMS tersebut. Isinya adalah seseorang memakai topeng badut sedang berputar-putar dalam ruangan. Lee Da-In tercekat; bukan karena ketakutan melihat badut. Melainkan melihat ruangan yang dipakai si badut untuk berputar-putar. Kamar Lee Da-In sendiri.

Artikel Menarik Lainnya: